Parmenides

Parmenides

Aliran Elea bermarkas di pantai barat Italia Selatan. Salah satu dorongan bagi Parmenides untuk mengembangkan sistem-nya yang mengesankan itu berasal dari Xenophanes yang lahir di Colophon, Asia Kecil, mengembara di seluruh daerah berbahasa Yunani dan mungkin akhirnya tiba di Elea. Beban dari puisi-puisinya adalah kebodohan dan ketidakberimanan penganut politeisme. “Mereka yang menyatakan bahwa para dewa lahir sama tidak berimannya dengan mereka yang mengatakan bahwa para dewa mati, karena keduanya percaya bahwa ada waktu dimana para dewa tidak ada.” Dia begitu tegas menekankan kekonyolan gagasan tentang para dewa yang fana, sampai-sampai Rupert Brooke memasukkan gagasan Xenophanes ke dalam puisinya yang berjudul Heaven/Surga. Secara positif, Xenophanes berpendapat bahwa asal-usul para dewa adalah kemustahilan dan hanya ada satu Tuhan. Jika pandangan ini disederhanakan atau digeneralisir sehingga menjadi ‘asal-usul adalah mustahil dan yang ada hanya Satu’, maka akan menjadi pandangan Parmenides.

Xenophanes muncul jauh lebih awal. Dia lahir sebelum tahun 590 S.M. Tetapi dia hidup sampai umur yang sangat tua, sekurang-kurangnya sembilan puluh tahun, sehingga ada peluang Parmenides (ketika masih muda) mengenalnya. Karya utama Parmenides berasal dari sekitar tahun 475 S.M.

Logika and Ketidakmasukakalan

Parmenides melanjutkan dan mengintensifkan penegasan Xenophanes akan kesatuan; namun mungkin keyakinannya paling mendalam adalah bahwa seorang filsuf tidak boleh berbicara sesuatu yang tidak masuk akal. Jika dunia ini rasional, maka penjelasan tentang dunia juga harus rasional. Sebaliknya, jika penjelasan tidak rasional dan semua teori merupakan ketidakmasukakalan yang konyol, apakah ada harapan untuk filsafat? Kekonyolan/ketidakmasukakalan tidak menjelaskan apa-apa. Coba pikirkan sebuah lingkaran cantik yang memiliki empat sudut yang besarnya sembilan puluh derajat! Benda seperti itu tidak dapat dipikirkan. Pemikiran membutuhkan obyek, dan apa yang tidak dapat dipikirkan memang tidak ada. Jika orang mencoba berpikir tentang sesuatu yang tidak ada, misalnya, sebuah lingkaran persegi, maka orang tersebut berpikir tentang bukan apa-apa. Berpikir tentang bukan apa-apa sama dengan tidak berpikir. Seberapa pun rumit dan terpelajarnya pun tampaknya sebuah teori, jika obyeknya tidak ada, maka teori itu tidak berbicara tentang apa-apa. Geometri dari sebuah bangunan lingkaran persegi adalah sebuah ketidakmasukakalan.

Parmenides menyatakan bahwa para filsuf sebelum dia membicarakan ketidakmasukakalan dan mencoba menjelaskan bukan apa-apa. Thales berkata bahwa api dan bumi (sebenarnya) adalah air; dan Heraklitus mengatakan bahwa bumi dan air sebenarnya adalah api. Keduanya berbicara tentang lingkaran persegi. Coba kaji penegasan bahwa api adalah air. Kajian paling jelas menunjukkan bahwa pandangan tersebut salah. Api jelas bukan air. Karena kata api berarti satu hal dan kata air berarti hal lain, bukankah jelas bahwa keduanya tidak memiliki makna yang sama? Jika keduanya tidak sama, bagaimana orang menegaskan keidentikannya dan berkata bahwa air adalah api?

Karena begitu tertantang oleh kesulitan logis dalam teori-teori sebelumnya, Parmenides melanjutkan kritikannya. Tampaknya ada satu predikat yang dapat diberikan pada air dan api. Tidak dapatkah orang berkata bahwa air adalah yang ada dan api adalah yang ada? Sayangnya kesimpulan yang akan diperoleh adalah air bukan sesuatu yang ada; karena kata air berarti satu hal dan kata yang ada berarti hal lain. Apakah kurang jelas kalau keduanya tidak memiliki makna yang sama? Karena itu, adalah tidak masuk akal untuk mengatakan air adalah yang ada.

Tetapi tidak dapatkah dikatakan bahwa air adalah air? Tentunya air memang adalah air. Siapa yang dapat menyangkalinya? Parmenides dapat menyangkalinya, karena walaupun dalam hal ini air yang pertama dan air yang kedua memiliki makna yang sama, namun kata adalah harus diberi perhatian khusus. Penegasan itu menyatakan bahwa, “Air adalah”. Tidak terlalu masalah apa sebenarnya air itu; entah air itu api atau air itu hanya air. Yang menjadi masalah adalah gagasan “Air adalah”. Bagian argumen sebelumnya sudah menunjukkan bahwa air tidak ada. Dan jika “Air adalah bukan sesuatu”, maka air bukan air sama sekali.

Apakah analisa logis ini menyangkali semua keberadaan? Tidak sama sekali. Hal yang ada itu yang ada. Wujud/keberadaan adalah. Wujud/keberadaan adalah wujud/keberadaan. Tidakkah jelas bahwa apa yang ada itu ada? Kenyataannya, hanyalah yang ada itu yang ada. Apa yang tidak ada adalah tidak. Ketidakkeberadaan adalah bukan; hanya Keberadaan yang adalah.

Kesatuan Mutlak

Lebih penting lagi adalah gagasan bahwa Keberadaan adalah satu. Jika Keberadaan bukan satu, namun banyak, (artinya terdapat beberapa Keberadaan), maka beberapa Keberadaan ini pastilah berbeda satu dengan yang lain. Kalau tidak berbeda, maka pastilah mereka merupakan Keberadaan yang sama dan bukan Keberadaan beberapa. Namun jika terdapat beberapa (Keberadaan) dan mereka berbeda, maka perbedaan tersebut hanya akan ada dalam aspek keberadaan atau ketidakberadaan. Tidak ada aspek lain dimana berbagai Keberadaan berbeda. Namun berbagai keberadaan tersebut tidak dapat berbeda dalam aspek Keberadaan, karena hal ini diasumsikan sebagai titik kesamaan – artinya semua dianggap sebagai Keberadaan. Karena itu, berbagai Keberadaan tidak dapat berbeda dalam aspek keberadaan. Namun peluang untuk berbeda dalam aspek ketidakberadaan lebih kecil lagi, karena ketidakberadaan tidak ada, bukan apa-apa, dan tidak dapat mendukung perbedaan. Dengan demikian, tidak terelakkan bahwa beberapa Keberadaan sebenarnya tidaklah berbeda. Karena itu tidak ada banyak Keberadaan. Hanya ada satu Keberadaan.

Sejalan dengan ini, Keberadaan tidak mungkin punya asal-usul. Segala sesuatu yang punya asal-usul harus berasal dari sesuatu yang lain atau dari hal yang sama. Keberadaan tidak dapat berasal dari sesuatu yang lain, karena sesuatu yang lain adalah bukan keberadaan; dan bukan keberadaan tidak ada sehingga tidak bisa menjadi asal-usul dari hal lain. Namun Keberadaan tidak mungkin berasal dari hal yang sama, yaitu Keberadaan, karena Keberadaan selalu ada dan tidak perlu berasal dari apapun. Karena itu, tidak terbayangkan kalau Keberadaan itu punya asal-usul. Keberadaan itu abadi.

Jika Keberadaan tidak dapat berasal dari apapun, maka Keberadaan tidak dapat menjadi sesuatu yang lain, karena tidak ada hal yang menjadi tujuan berubahnya Keberadaan. Karena tidak ada perbedaan sama sekali, maka Keberadaan tidak bergerak dan tidak berubah sama sekali. Keberadaan tidak mengalami perubahan sama sekali.

Pada titik ini mahasiswa moderen dan orang Yunani kuno mungkin akan membantah [dengan menyatakan] bahwa Keberadaan-nya Parmenides sama sekali tidak mirip dengan dunia ini. Kita dapat melihat perbedaan warna; kita dapat mendengar perbedaan bunyi; serta planet yang bergerak. Pasti ada sesuatu yang salah di sini. Ya, ada sesuatu yang salah, jawab Parmenides dan perlu ditunjukkan masalahnya dimana. Sanggahan pemikiran-lazim bergantung pada sensasi inderawi. Argumen [Parmenides] bergantung pada akal budi. Terlepas dari apa yang kita bayangkan kita lihat, tidak ada justifikasi untuk berbicara sesuatu yang tidak masuk akal. Setiap teori yang menyatakan bahwa hal yang tidak ada itu ada, pastilah salah; dan fakta bahwa teori tersebut dirumuskan dengan kata-kata yang indah dan sesuai dengan pengalaman inderawi tidak mengurangi ketidakmasukakalan teori tersebut. Ketika anda melihat kelinci keluar dari topi seorang lelaki atau seorang laki-laki memanjat tali yang tidak tergantung pada apa-apa, anda mengetahui bahwa yang terjadi tidaklah seperti yang anda liat. Ketika akal budi dan sensasi inderawi saling bertentangan, maka sensasi inderawi harus tunduk.

Namun demikian, akal budi – setidak-tidaknya akal budi dari mereka yang baru pertama kali bertemu Parmenides – menuntut penjelasan lebih lanjut tentang Keberadaan ini. Apakah Keberadaan itu? Menyatakan bahwa Keberadaan adalah Keberadaan, tanpa ada tambahan [informasi] lain, tampaknya hanya akan mereduksi Keberadaan menjadi sekedar sebuah kata, sebuah bunyi yang tidak bermakna sama sekali. Tampaknya hal yang sama juga dipikirkan oleh Parmenides, terbukti dari upayanya yang sekuat tenaga untuk menggambarkan tentang Keberadaan, walaupun hal itu dilakukan dengan resiko bahwa dia berbicara sesuatu yang tidak masuk akal. Harus diingat bahwa Parmenides adalah seorang filsuf pra-Sokrates dan tidak bebas dari pandangan-pandangan pada jaman-nya. Akibat pengaruh monisme korporeal, dia juga berpandangan bahwa hanya benda-benda yang nyata. Karena itu Keberadaan-nya Parmenides adalah sebuah benda fisik, yang padat, homogen, dan menempati ruang. Benda ini harus homogen, supaya tidak ada perbedaan sama sekali. Dengan alasan yang sama, benda tersebut harus simetris; artinya ukurannya sama di kedua sisi masing-masing sumbu. Persyaratan ini dapat dipenuhi oleh sebuah benda yang besarnya tak terbatas. Namun demikian, ketidakterbatasan memiliki konotasi yang kurang menyenangkan bagi orang Yunani yaitu sesuatu yang tidak jelas dan tidak rampung. Karena itu Parmenides memilih satu-satunya pilihan lain selain benda tak terbatas untuk menggambarkan Keberadaan-nya, yaitu bulatan: bulatan atom materi yang padat dan tidak dapat ditembusi. Kita akan melihat bagaimana konsep ini mempengaruhi para filsuf Pra – Sokrates lainnya. Namun sebelum melanjutkan ke sana, akan disajikan sebuah rangkuman singkat.

Makna “Adalah”

Dari semua filsuf Pra-Sokrates, tak diragukan bahwa Parmenides adalah filsuf paling penting. Dia adalah orang pertama yang mengakui bahwa ada pertanyaan mendasar tentang logika yang terkait dengan teori fisika dan kosmologi. Dia menekuni masalah predikasi. Apa arti penting penyematan predikat kepada sebuah subyek? Ketika satu hal dikatakan sebagai hal lain, tidakkah itu berarti bahwa keduanya sebenarnya sama? Tidakkah kata ‘adalah’ menegaskan keidentikkan? Tidakkah kata itu juga menegaskan keberadaan? Jika misalnya, ketika kita katakan bahwa air adalah api atau Thales adalah orang Ionia, dan yang kita maksudkan adalah bahwa keduanya bukan hal yang sama atau keduanya tidak ada, maka bukankah kita sedang berbicara hal yang tidak masuk akal (omong kosong)? Bagaimanapun, untuk menemukan dan membela arti penting dari kata adalah membutuhkan kecerdasan yang tinggi. Masalah logika ini mendorong Parmenides untuk tidak mempercayai sensasi inderawi dan mengadopsi prosedur yang dapat disebut sebagai rasionalisme. Pandangan serupa muncul kembali dalam Plato, Spinoza, Hegel, dan sebenarnya sudah ada benihnya dalam Heraklitus, karena Heraklitus juga tidak mempercayai sensasi inderawi. Namun Parmenides mengikuti jalur ini dengan lebih konsisten dibanding para filsuf awal dan dengan kebulatan tujuan yang lebih baik daripada para filsuf sebelumnya.

Monisme Konsisten

Arti penting Parmenides juga terlihat dari perhatiannya terhadap logika, yang akhirnya memampukan dia untuk menunjukkan implikasi tak terhindarkan dari monisme korporeal. Sebuah alam semesta yang terbuat dari satu benda fisik, yaitu benar-benar satu, haruslah merupakan kesatuan seperti yang diungkap Parmenides. Karena kesatuan merupakan prinsip filsafat yang begitu penting, dan karena seperti dibahas sebelumnya bahwa penjelasan didefinisikan sebagai pernyataan kesatuan, maka sebuah teori rasional yang mengakui keberadaan perbedaan hanyalah merupakan pengakuan akan kegagalan teori tersebut. Bukankah para filsuf Pra-Sokrates mencari realitas tunggal? Kesalahan mereka adalah mereka menganggap realitas dapat berubah sekaligus tetap sama. Air menjadi api serta menjadi semua obyek yang dapat dilihat, namun pada saat yang sama tetap merupakan air. Bahkan Heraklitus, yang mengatakan “Semua hal mengalir,” pun mengindikasikan bahwa yang nyata tidak berubah. Keunggulan Parmenides terletak pada konsistensi logisnya: dia melihat secara jelas apa yang orang lain hanya mimpikan secara samar-samar. Kesatuan menyingkirkan kepelbagian.

Terdapat dorongan kuat menerima kesatuan dan para filsuf yang kemudian mencoba memahami Yang Satu tersebut. Plotinus, misalnya, mengklaim diri memiliki pengalaman mistik dengan Yang Satu yang begitu murni dan sederhana sehingga menghilangkan pembedaan antara subyek dan predikat. Namun demikian, dia juga mencoba untuk menarik kesimpulan tentang semua kerumitan yang kita lihat di dunia dari kesatuan murni tersebut. Hal ini tidak dilakukan Parmenides. Generasi-generasi selanjutnya bertanya-tanya bagaimana Yang Satu yang sederhana serta tidak memiliki perbedaan ini dapat membangkitkan kemajemukan/kepelbagaian. Karena itu, patut dipertanyakan apakah Parmenides belum menunjukkan sekali untuk selamanya bahwa jika kesatuan adalah sesuatu yang mendasar, maka gerak dan perbedaan tidak mungkin ada. Jika seorang memulai dengan kesatuan, tidakkah orang akan berakhir dengan kesatuan dan kesatuan semata?

Terjemahan dari Buku Thales to Dewey, tulisan Gordon H. Clark,hal 33 – 36. (oleh Ma Kuru)

Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Filsafat Kuno, Filsuf Pra-Sokrates, Gordon H. Clark, Parmenides, Sejarah Filsafat, Terjemahan, Thales to Dewey. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s