Penganut Ajaran Pitagoras

Penganut Ajaran Pitagoras

Karena tokoh-tokoh yang kita pelajari sejauh ini merupakan pendukung hilozoisme dan monisme korporeal, maka metode komparatif mendorong kita menganggap bahwa semua filsuf Pra-Sokrates awal memiliki pandangan yang sama. Setelah analisa Parmenides mengungkap kekonyolan dan implikasi pandangan para pendahulunya, para filsuf Pra-Sokrates yang muncul kemudian mengadopsi kepercayaan pluralisme korporeal. Tidak diragukan bahwa inilah arah umum sejarah ini dan para Penganut Ajaran Pitagoras paling awal yang pasti merupakan kaum korperialis, bisa jadi juga merupakan kaum monis. Walaupun kategori-kategori dasar mereka disusun dalam tabel pasangan berlawanan, sehingga tampaknya lebih menyerupai dualisme, yaitu kategori bilangan genap dan ganjil, namun satu dianggap sebagai sumber dari semua bilangan, sehingga tidaklah mustahil bahwa pandangan monisme masih dipegang. Namun karena para pengikut Pitagoras merupakan sebuah aliran tersendiri dengan sejarah panjang, dan tidak ada seorangpun yang masa hidupnya dapat ditempatkan antara sang guru dan para muridnya, maka sulit untuk membahas tentang mereka dalam sejarah Pra-Sokrates serta sekaligus mempertahankan alur kronologis yang mulus. Lebih jauh lagi, sebagian besar informasi yang tersisa tentang mereka berasal dari sumber-sumber informasi dari kemudian waktu yang mungkin tidak membahas tentang Penganut Ajaran Pitagoras awal atau tidak memberikan informasi yang akurat tentang mereka. Bahkan dengan bantuan sumber informasi dari Aristotle pun sulit untuk membedakan antara pengikut Pitagoras pra dan pasca pengikut Parmenides[1]. Namun karena Pitagoras sendiri mendahului Heraklitus dan mungkin telah mempengaruhi Heraklitus dalam hal rasio matematis, maka pembahasan tentang Penganut Ajaran Pitagoras dapat dilakukan setelah pembahasan tentang Heraklitus.

Agama Homerik dan Misteri

Aliran Pitagoras yang pusatnya berada di Italia Selatan, secara intelektual dan geografis, berada pada ujung lain dari peradaban berbahasa Yunani. Tentu saja, Pitagoreanisme tidak terlalu jauh berbeda sehingga boleh dikatakan telah meninggalkan pandangan Yunani dan menganut konsepsi Ibrani tentang Pencipta yang Mahakuasa. Namun aliran ini memiliki motivasi religius dan mendambakan keselamatan. Hal ini tidak ada sama sekali dalam filsafat lainnya. Walaupun agama Yunani yang ingin disempurnakan oleh Penganut Ajaran Pitagoras tidak bersifat naturalistik dalam pengertian moderen yang hampir sepenuhnya bersifat ateistik ini, namun makna dari istilah [agama] ini masih berbeda dengan makna Ibrani karena merupakan agama alami. Pada saat tertentu para dewa mungkin telah berkata/berfirman kepada manusia, dan percakapan seperti itu mungkin dapat disebut wahyu. Namun demikian orang Yunani tidak memiliki kitab seperti Alkitab yang otoritatif. Kalau Homer disebut Alkitab-nya orang Yunani, maka ungkapan tersebut harus dipahami dengan makna yang sudah berbeda. Cerita-cerita tentang para dewa tidak dianggap sebagai informasi akurat, dan seandainya ada beda versi dalam silsilah atau jalan cerita, tampaknya tidak ada penegasan tentang mana yang ortodoks dan mana yang sesat. Selain itu, agama Yunani dapat disebut agama alami karena para dewa itu sendiri sama dengan manusia. Mereka punya kekuasaan terbatas dan seringkali berperilaku tidak bermoral. Karena itu pemujaan terhadap mereka tidak akan membatasi tingkah laku buruk manusia, dan sedikit sekali memberi insentif untuk hidup yang secara bermoral. Orang-orang Yunani tentu memiliki gagasan tentang apa yang salah dan apa yang benar dalam kehidupan. Namun mereka tidak memiliki gagasan Ibrani tentang dosa dan tentang kebejatan manusia, sehingga gagal untuk melihat pentingnya kelahiran kembali. Mereka tidak mengakui kalau mereka memiliki hati yang keras seperti batu sehingga tidak dapat meminta Allah untuk memberi mereka hati yang taat. Pengembangan kemampuan alami manusia sepenuhnya dan bukan kelahiran atau ditanamkanya natur baru, merupakan kondisi ideal dan program mereka. Demikian juga, konsep [agama] Homerik tentang kehidupan yang akan datang tidak memberikan motivasi moral sama sekali. Hampir semua orang, entah baik atau jahat atau orang yang acuh tak acuh, akan memiliki nasib yang sama dalam kehidupan yang akan datang. Hanya para penjahat yang paling jahat yang melakukan kejahatan tertentu terhadap para dewa yang akan disiksa di Tartarus seperti Tantalus dan Sisipus. Beberapa pahlawan istimewa akan menjadi manusia setengah dewa, sedangkan semua orang lain akan berada dalam kekekalan di Hades. Hades bukan tempat penghukuman; namun tempat tinggal orang mati dimana roh orang yang sudah kelelahan melayang-layang. Ingatan memang masih ada, namun akal budi sudah punah. Kegelapan yang menyedihkan telah mengganti sinar matahari dan sukacita di dunia atas. Agama Homerik sering digambarkan sebagai agama antusiasme yang bahagia dalam permainan kehidupan yang keras. Namun kebahagiaan itu hanya bisa tetap ada melalui kesemberonoan. Jika orang berpikir tentang masa depan, atau jika kesulitan, masalah nasional, dan agresi asing mengganggu jalannya permainan, kebahagiaan itupun lenyap.

Kenyataannya bencana-bencana seperti itu terjadi. Dalam kasus kesulitan pribadi, agama yang umum [saat itu] sedikit sekali memberi jalan penghiburan ilahi. Setelah ritual-ritual menjadi semacam fungsi negara dan berubah menjadi sekedar masalah kesetiaan politik dari keyakinan pribadi, maka kerusakan kota-kota Yunani serta agresi Romawi di kemudian waktu cenderung menjadikan ibadah Homerik kosong dan tak bermakna. Karena itu, tidak mengherankan bahwa banyak orang, bahkan pada abad sebelumnya, mencari sesuatu yang lebih baik.

Kekurangan ini membuka jalan bagi agama misteri. Misteri adalah ritus rahasia yang mempertunjukkan obyek-obyek suci dan yang mengungkap informasi-informasi yang tidak dapat diperoleh dengan aman kecuali para penyembah sudah dimurnikan melalui ritus inisiasi. Salah satu agama misteri tersebut adalah penyembahan terhadap Dionysus. Di salah satu kaki gunung pada malam hari, para pemuja menjadikan dirinya histeris dengan musik yang liar serta menari-nari di sekeliling seekor banteng, yang adalah dewa mereka. Ketika sudah begitu terbawa oleh emosi, mereka akan menyerang banteng tersebut, memotong-motongnya, serta memakan daging mentahnya. Dengan demikian, si dewa tersebut berada dalam mereka. Inilah kontak dan persekutuan yang nyata dengan sang dewa. Mereka yang sudah terinisiasi diberi janji akan kehidupan yang penuh kebahagiaan di masa depan. Orpisme adalah agama misteri yang lebih bijak karena menekankan pendidikan dan bukan kemabukan, serta menunjukkan pemahaman moral yang lebih baik karena tidak hanya mengajarkan imbalan tetapi juga hukuman di masa depan bagi yang jahat. Terdapat agama misteri lain selain yang diungkap di atas.

Berbeda dengan agama Homerik, semua agama misteri ini, merupakan metode untuk mendapatkan keabadian yang bahagia. Perasaan kebutuhan dan keinginan akan keselamatan terus meningkat seiring waktu, dan mulai tahun 200 S.M. sampai tahun 100 M. terdapat banyak gelombang propaganda keagamaan.

Penganut Ajaran Pitagoras awal mengakui kebutuhan akan keselamatan dan keinginan akan keabadian yang bahagia. Untuk mendapatkannya, mereka mengajarkan sejumlah pantangan, misalnya, mereka tidak memakan kacang atau ayam jantan putih serta tidak mengenakan kain wol atau lenan. Mereka juga menghafal puisi yang merupakan arahan tentang apa yang harus dilakukan ketika tiba di dunia berikutnya. Di samping pantangan yang aneh ini, mereka menekankan kehidupan yang penuh kebajikan, khususnya persahabatan. Dari Pitagoreanismelah muncul kisah tentang persahabatan Damon dan Pythias. Namun pandangan utama mereka adalah bahwa keselamatan berasal dari pengetahuan, dan pencarian mereka akan pengetahuan menghasilkan matematika.

Matematika

Salah satu keberhasilan Pitagoreanisme adalah geometri. Pitagoras secara pribadi diberi penghargaan karena menghasilkan Teorema Pitagoras; dan jika seorang mahasiswa yang pernah belajar geometri bidang sudah lupa cara membuktikan Teorema Pitagoras, maka jelas bahwa penemuan pembuktian tersebut tanpa bantuan dari siapa-siapa merupakan keberhasilan yang patut dirayakan dengan pengorbanan seekor banteng untuk para dewa.

Di samping geometri, mereka mengembangkan apa yang sekarang kita sebut sebagai teori bilangan. Pertanyaan tertentu menggugah mereka. Pertama-tama, apa itu bilangan? Bahkan pertanyaan “Apa itu bilangan?” lebih sulit dijawab daripada yang diperkirakan. Tentu saja dua, tiga dan empat adalah bilangan. Namun apakah satu itu bilangan ataukah sumber dari semua bilangan lain? Apakah nol itu juga sebuah bilangan? Orang Yunani pada jaman itu cukup beruntung karena tidak perlu menjawab pertanyaan, “Apakah akar pangkat dua dari minus satu adalah bilangan?” Kalau urutan bilangan sudah ditentukan, maka ada pertanyaan tentang setiap bilangan. Apakah dua hanyalah merupakan bilangan yang menyusul satu, seperti halnya Jim mengikuti Jack untuk menjadi pemukul bola dalam permainan bisbol? Ataukah dua merupakan konsep abstrak yang mencakup semua hal yang berpasangan? Di samping pertanyaan tentang apakah setiap bilangan merupakan satu kelompok konsep atau tidak, terdapat pula pertanyaan tentang apakah terdapat kelompok bilangan serta apa saja sifat-sifatnya.

Pertanyaan terakhir tidak terlalu sulit untuk dijawab. Jelas bahwa terdapat dua kelompok bilangan, yaitu bilangan ganjil dan bilangan jamak. Karena bilangan ganjil tidak dapat dibagi dua, maka konsep ganjil terkait dengan konsep tentang keterbatasan, sedangkan konsep genap terkait dengan ketidakterbatasan. Keterbatasan atau kepastian adalah sesuatu yang baik, dan benar, serta maskulin; sedangkan ketidakterbatasan atau kekacauaan itu jahat, kiri, dan feminim. Dengan demikian, dibentuk sebuah tabel pasang-pasangan dan pasangan berlawanan ini untuk menjelaskan tentang kepelbagaian yang salin berlawanan yang diharmonikan dalam segala hal.

Di samping bilangan ganjil dan genap, terdapat bilangan-bilangan kuadrat, yaitu bilangan yang diperoleh dengan menjumlahkan bilangan-bilangan ganjil berurutan, misalnya satu tambah tiga adalah empat; satu tambah tiga tambah lima adalah sembilan; dan seterusnya. Ada pula bilangan persegi empat, yang diperoleh dengan menambahkan bilangan genap berurutan. Kemudian ada bilangan prima yang hanya memiliki faktor satu (selain dirinya sendiri). Bilangan sempurna adalah bilangan yang ketika faktor-faktornya dijumlahkan, akan menghasilkan bilangan itu sendiri. Enam dapat dibagi dengan satu, dua, dan tiga, dan jumlah dari ketiga faktor tersebut adalah enam. Dengan klasifikasi-klasifikasi seperti ini, Penganut Ajaran Pitagoras menemukan hubungan antara bilangan prima dan bilangan sempurna. Susun serangkaian angka yang dimulai dari satu dengan cara menggandakan angka sebelumnya: satu, dua, empat, delapan, enam belas, dan seterusnya. Sekarang silahkan jumlahkan rangkaian ini. Ketika jumlahnya adalah bilangan prima (seperti pada kasus satu ditambah dua sama dengan tiga, dimana tiga adalah bilangan prima), bilangan prima ini dikalikan dengan angka terakhir yang ditambahkan, demi mendapatkan bilangan sempurna (sebagai contoh: tiga, yang didapatkan dari penjumlahan satu dan dua, dikalikan dengan dua sehingga mendapatkan enam). Satu tambah dua tambah empat sama dengan tujuh, yaitu bilangan prima; tujuh kali empat sama dengan dua puluh delapan, yaitu sebuah angka sempurna. Kalau ditambahkan delapan, jumlahnya bukan bilangan prima. Tetapi kalau terus ditambahkan lagi enam belas, maka hasilnya adalah tiga puluh satu, yang merupakan bilangan prima. Tiga puluh satu kali kali enam belas adalah empat ratus sembilan puluh enam. Silahkan hitung sendiri apakah penjumlahan faktornya sama dengan empat ratus sembilan puluh enam.

Semua ini sudah cukup cemerlang, namun para Penganut Ajaran Pitagoras masih belum puas. Matematika menjadi kunci untuk Kosmologi. Pada jaman Einstein kita saat ini, arti penting fisika matematika tidak diperdebatkan. Namun Penganut Ajaran Pitagoras menggunakan bilangan dengan cara yang Einstein gagal untuk ikuti. Bagi mereka, dunia ini tidak terbuat dari air atau api, tetapi terbuat dari bilangan/angka. Bilangan/angka tidak dipandang sebagai konsep kelompok abstrak, atau sebagai simbol; tetapi sebagai entitas yang menempati ruang, dan benda-benda adalah campuran dari angka-angka. Rumus-rumus matematika dan Kimia untuk benda-benda bukanlah hal yang asing pada jaman ini. Namun kita menggunakan bilangan untuk mengindikasikan jumlah hidrogen atau atom lain dalam sebuah senyawa. Bagi Penganut Ajaran Pitagoras, bilangan tidak hanya mengindikasikan proporsi, tetapi bilangan itu sendiri adalah unsur-unsur dasar. Mereka berupaya menerapkan teori-teori bilangan ini pada masalah sosial, dimana mereka menjadikan keadilan sebagai angka empat, yang merupakan angka kuadrat; pernikahan sebagai angka lima karena merupakan angka persatuan antara angka ganjil yang pertama atau laki-laki dengan angka genap pertama yaitu perempuan.

Pertanyaannya adalah, dimana batas antara tahyul numerologi dan matematika yang bijak? Apakah ada rahasia yang mendalam di balik fakta bahwa harmoni musik merupakan pecahan-pecahan sederhana seperti satu per dua, satu per empat, satu per lima; sedangkan bunyi janggal ditemukan dalam pecahan-pecahan yang janggal seperti delapan per sembilan dan lima belas per enam belas? Bagaimana reaksi anda jika misalnya ditunjukkan bahwa perkiraan terbaik terhadap jarak antar planet adalah proporsi yang berada pada nada-nada dalam skala musik? Tidakkah harmoni dari bidang-bidang kelihatan ilahi?

Seperti biasanya, materi yang menarik seperti itu tidak dibahas dalam buku ini. Sebaiknya pembaca mempelajari bagaimana nol menjadi angka, dan jauh setelah itu, bagaimana akar pangkat dua dari minus satu menjadi angka. Namun demikian, semua ini adalah bagian pembahasan sejarah matematika. Anda dapat juga menelusuri jejak Neo-Pitagoreanisme mulai tahun 50 S.M. dan seterusnya, melalui Abad Pertengahan sampai ke Romola, yaitu novel tulisan George Eliot. Namun informasi sampingan yang sangat menarik demikian harus diabaikan demi melanjutkan pembicaraan tentang filsuf Pra-Sokrates terbesar, yaitu Parmenides.

[1] Kerumitan investigasi historis dan perbedaan pendapat dapat dilihat dengan membandingkan tulisan F. M. Cornford dan J. E. Raven.

Terjemahan dari Buku Thales to Dewey, tulisan Gordon H. Clark,hal 29 – 33. (oleh Ma Kuru)

Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Filsafat Kuno, Filsuf Pra-Sokrates, Gordon H. Clark, Sejarah Filsafat, Terjemahan, Thales to Dewey. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s