Zeno

Zeno

Namun demikian, bagaimana kalau gerak dan perubahan merupakan sebuah kemustahilan? Bagaimana kalau konsep gerak ini merupakan sebuah kekonyolan? Karena paruh terakhir abad kelima merupakan masa gejolak filosofis yang besar dan karena masa hidup para filsuf tersebut saling tumpang tindih, maka sulit untuk secara ketat menuliskan sejarah secara kronologis pada dasawarsa-dasawarsa ini. Walaupun Demokritus hidup sampai abad keempat, bagian ini dapat diakhiri dengan pembahasan mengenai seorang yang lebih muda yang mengemukakan pandangan penutup di antara para filsuf Pra Sokrates. Walaupun Zeno si penduduk Elea, murid Parmenides, tidak memiliki teori positif lebih lanjut, secara langsung dia menyerang kaum atomis dengan sebuah argumen temuan sendiri yang cemerlang. Dalam upayanya untuk membela pandangan bahwa Keberadaan adalah Satu, dia berusaha membuktikan bahwa gerak adalah sebuah kemustahilan, bahwa sensasi inderawi adalah kemustahilan, dan bahwa ruang tidak ada. Dalam pandangan orang moderen, upaya demikian pasti gagal. Namun demikian, Zeno berhasil untuk sekurang-kurangnya mengharuskan sejarah setelahnya menghadapi dan seringkali terantuk pada argumennya.

Argumen pertama membantah gerak berasal dari sebuah kisah. Achilles merupakan bintang lari pada jaman kuno sedangkan kura-kura tidak ada apa-apanya. Walaupun mengalami kekurangan dalam hal kecepatan, si kura-kura memiliki kecerdasan yang tinggi. Karena itu dengan menggantungkan diri pada kecerdasannya, dia menantang Achilles beradu lari dengannya. Si kura-kura tahu bahwa dia dapat mengatasi Achilles melalui syarat dan ketentuan pertandingan. Syaratnya adalah bahwa kura-kura dibiarkan berlari terlebih dahulu sampai jarak tertentu, dan Achilles tidak dapat dianggap sebagai pemenang kecuali dia dapat melewati si kura-kura. Setelah pistol berbunyi, pelari melesat. Ketika dengan kecepatannya Achilles mencapai titik dimana si kura-kura mulai bergerak, si kura-kura tidak lagi berada di sana. Sebelumnya dia sudah berpindah sedikit. Memang si kura-kura berpindah jauh, tetapi tak dapat disangkali bahwa dia sudah bergerak maju. Namun demikian, pertandingan tersebut tidak melambat walaupun kita harus perlahan-lahan memahami situasi yang ada. Para pelari itu terus melanjutkan pertandingan dengan kecepatan yang sama. Ketika kaki Achilles yang cepat itu tiba pada titik dimana kura-kura berada saat Achilles berada pada titik mulai si kura-kura, jelas sekali bahwa si kura-kura sudah tidak berada di sana lagi. Ketika waktu berlalu, si kura-kura sudah berpindah sedikit. Tak dapat disangkal bahwa perpindahan tersebut tidak jauh. Namun tidak dapat disangkal pula bahwa si kura-kura telah berpindah. Namun demikian, pertandingan tersebut tidak melambat walaupun kita harus perlahan-lahan memahami situasi yang ada. Kedua pelari melanjutkan pertandingan dengan kecepatan yang sama. Ketika Achiles yang kecepatan kakinya tidak sepadan dengan kecerdasan si kura-kura tiba di titik dimana kura-kura berada ketika Achilles sendiri berada pada titik dimana si kura-kura berada saat Achilles berada pada titik mulai si kura-kura, jelas sekali bahwa si kura-kura tidak lagi berada di sana. Namun cerita panjang ini dapat diringkas menjadi: setiap waktu Achilles sampai di tempat dimana si kura-kura sebelumya berada, si kura-kura sudah tidak berada lagi di tempat tersebut. Dan jika setiap saat Achilles gagal sampai ke posisi si kura-kura, maka tidak ada waktu dimana si Achilles yang atomistik melewati lawannya dari Elea tersebut. Pelajaran dari kisah ini, selain dari kenyatan bahwa lebih baik menjadi seekor kura-kura yang cerdas daripada atlet yang bodoh, adalah bahwa konsep gerak mengakibatkan kekonyolan/kemustahilan.

Bahwa kekalahan Achilles didasari pada syarat dan ketentuan yang ditetapkan, dapat dilihat dari argumen kedua yang membebaskan diri dari perangkap [kata-kata] indah dan langsung membahas matematika yang terkait dengan hal ini. Sebagai ganti atlet, kita menggunakan atom demi memahami kesulitan perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Sebelum atom tersebut dapat mengarungi seluruh jarak yang harus ditempuh, maka dia arus mencapai titik tengah dari jarak tersebut. Sebelum mencapai titik tengah, atom harus mencapai titik seperempat jarak; dan sebelum mencapai seperempat dari jarak yang harus ditempuh, atom tersebut harus mencapai seperdelapan dari jarak yang harus ditempuh. Cerita ini juga akan terus berlanjut. Namun pelajaran yang dapat dipetik dari hal ini sudah jelas. Sebelum bisa mulai bergerak dari posisi asal, atom tersebut harus melewati sebuah rangkaian tak terhingga. Hal ini membahayakan konsep tentang gerak karena rangkaian tak terbatas tidak memiliki akhir, sehingga atom tidak dapat mulai bergerak. Dengan demikian tidak mengherankan kalau Achilles tidak dapat mencapai si kura-kura. Kalau si kura-kura tidak dapat bergerak, maka Achilles tidak dapat bergerak juga; dan si kura-kura cukup cerdas untuk mengakali si Achilles agar membiarkannya di depan.

Selain kedua argumen tersebut, terdapat argumen ketiga. Demokritus berkewajiban mendefinisikan diam dan gerak. Apakah seorang penumpang sebuah kereta api diam? Apakah seorang lelaki yang sedang tidur diam sementara Bumi bergerak delapan belas mil per detik? Pandangan umum menjawab pertanyaan-pertanyaan ini secara afirmatif. Artinya, sebuah benda diam ketika dua titiknya berada pada posisi yang tetap dibanding dengan dua titik lingkungan langsungnya. Coba renungkan tentang pergerakan sebuah anak panah. Sepanjang waktu geraknya, titik-titik ujungnya menempati dua titik dalam ruang. Dengan demikian, setiap saat ketika bergerak, anak panah berada dalam keadaan diam. Karena hal ini terjadi setiap saat, maka tidak terelakkan bahwa panah selalu berada dalam keadaan diam. Panah tidak bergerak. Gerak adalah sebuah konsep yang tidak masuk akal/konyol. Tak dapat diragukan bahwa kita melihat benda-benda bergerak. Namun bahkan Demokritus mengakui bahwa sensasi inderawi dan kualitas inderawi tidaklah nyata. Tidakkah seharusnya orang lebih mempercayai kecerdasannya daripada inderanya?

Namun demikian, walaupun Demokritus merendahkan kualitas inderawi, dia cukup mengakuinya sebagai nyata sehingga perlu direduksi menjadi atom-atom yang bergerak. Namun, bantah Zeno, berdasarkan teori atomistik, tidak mungkin ada sensasi inderawi sama sekali. Tidak ada apa-apa sama sekali untuk direduksi. Coba andaikan ada orang yang berdiri di pantai berbatu Attica atau Maine. Badai di laut mengirim ombak yang menabrak batu karang. Bunyinya sangat besar. Tetapi benarkah demikian? Jika orang berdiri di pantai itu dan sebuah semprotan kecil, yaitu atom badai menghantam pantai, seberapa besar suara yang terdengar? Bahkan kalau benda raksasa sekalipun (jika dibanding atom), seperti sepotong kapur tulis, tidak menghasilkan suara ketika jatuh ke lantai. Karena itu, setitik air tidak akan mengeluarkan bunyi sama sekali; tidak ada keributan. Kalau terhadap ketiadaan bunyi ini ditambahkan ketiadaan bunyi yang lain, maka hasilnyapun tetaplah ketiadaan bunyi. Singkatnya, penambahan nol sampai sepanjang apapun deretnya akan tetap menghasilkan nol. Sedangkan kita tahu bahwa ombak adalah hasil penjumlahan atom-atom air. Karena itu, jika teori Demokritus diterapkan secara konsisten, maka akan menjadikan reduksi pengalaman inderawi sebagai penentuan kuantitatif sebagai sesuatu yang konyol karena kualitas-kualitas seperti bunyi tidak mungkin dapat dihasilkan.

Demikian pula, ruang dimana atom bergerak, merupakan sebuah konsep yang mustahil. Jika harus ada ruang agar atom bisa ada, dan jika ruang itu ada, maka ruang itu juga harus berada dalam sesuatu – yaitu ruang perdana. Dan jika ada ruang perdana, maka harus ada ruang perdana ganda; demikian seterusnya sehingga muncul lagi cerita panjang serupa. Metode terbaik untuk memperpendek cerita sepanjang itu adalah dengan tidak pernah memulainya sama sekali. Karena itu, ruang tidak ada.

Akhirnya, konsep bahwa alam semesta bersifat pluralistik adalah konsep yang bertentangan dengan diri sendiri. Jika Keberadaan itu banyak, maka Keberadaan tersebut pastilah tak terhingga kecilnya dan tak terhingga besarnya. Keberadaan tak terhingga kecilnya karena setiap pluralitas merupakan kumpulan dari kesatuan-kesatuan. Namun kesatuan yang sebenarnya tidak dapat dibagi/dibelah, dan hal yang tidak dapat dibelah tidak memiliki besaran. Karena itu walaupun semuapluralitas dari partikel yang tak dapat dibagi/dibelah atau dari partikel yang tidak menempati ruang, digabungkan, maka tetap tidak akan menghasilkan dunia yang menempati ruang. Namun jika dunia dan bagian-bagiannya menempati ruang, maka setiap bagian harus terpisah dari bagian lain. Namun bagian yang melakukan pemisahan tersebut haruslah terpisah dari yang lain, demikian dan seterusnya, sehingga akhirnya dunia ini tak terbatas besarnya. Karena argumen ini dapat diterapkan kepada setiap atom, maka setiap atom tak terbatas kecilnya dan tak terbatas besarnya. Apakah ada kesimpulan yang lebih konyol daripada itu yang dapat ditarik dari sebuah teori?

Seringkali argumen-argumen ini membuat kita tertawa dan tidak berpikir lebih lanjut. Namun semua ini bukan sekedar cerita lucu. Argumen-argumen ini tidak hanya menunjuk kepada masalah rumit tentang ketakberhingaan dan kontinuitas, yaitu masalah yang masih membebani para filsuf, pakar fisika, dan matematikawan; namun juga menunjukkan bahwa kesimpulan-kesimpulan konyol ini ditarik secara valid dari premis pluralisme. Dalam hal ini, Eleatisme telah memberikan kata-kata penutup dan filsafat Pra Sokrates pun mencapai akhirnya.

Terjemahan dari Buku Thales to Dewey, tulisan Gordon H. Clark,hal 44 – 46. (oleh Ma Kuru)

Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Filsafat Kuno, Filsuf Pra-Sokrates, Gordon H. Clark, Sejarah Filsafat, Terjemahan, Thales to Dewey, Zeno. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s