Sesat Pikir Ambiguitas

Sesat Pikir Ambiguitas

Sesat pikir ambiguitas terjadi ketika kita merumuskan argumen menggunakan kata atau frasa rancu. Jumlah sesat pikir kelompok ini lebih sedikit dibanding sesat pikir relevansi. Sesat pikir ini terdiri dari sesat pikir ekuivokasi, amfibologi, aksen, komposisi, dan divisi. Definisi-definisinya akan dibahas di bawah ini.

Tabel 7.3 Sesat Pikir dari Ambiguitas
Nama Singkatan Penjelasan
ekuivokasi EKU Ketika dalam sebuah argumen orang mencampur-adukkan makna berbeda yang mungkin dimiliki suatu kata atau frasa.
amfibologi AMF Ketika makna sebuah pernyataan dalam sebuah argumen tidak jelas karena kejanggalan kombinasi kata-katanya.
aksen AKS Ketika kata-kata atau frasa-frasa sebuah statemen dalam argumen ditegaskan atau ditekankan sedemikian rupa sehingga menghasilkan makna yang berbeda dari yang makna asli.
komposisi KOM Ketika dalam berargumen, seorang secara salah menyimpulkan tentang ciri menyeluruh berdasarkan ciri sebagian atau berdasarkan sebagian ciri.
divisi DIV Ketika dalam argumen, seorang salah bernalar bahwa apa yang berlaku bagi keseluruhan juga pasti berlaku bagi bagian-bagiannya.

Tidak sulit untuk mengangkat contoh setiap sesat pikir di atas. Sebagian di antaranya kadang-kadang hanya hanya permainan kata-kata seperti “Bali adalah surganya para wisatawan. Karena itu, ketika para wisatawan meninggal, jiwanya pasti ke Bali.” Contoh yang lebih serius mungkin yang satu ini:

“Tujuan akhir dari sesuatu adalah kesempurnaannya; kematian adalah akhir dari kehidupan. Oleh karena itu, kematian adalah kesempurnaan hidup.” (EKU) (Periksa makna “akhir”).

Pada contoh berikut ini, ambiguitas terletak pada struktur atau sintaks kalimat:

“Dijual kursi bayi tanpa lengan[1].” (AMF). Sebenarnya, frasa “kursi bayi tanpa lengan” dan mungkin kata-kata lain perlu dipindah agar diperoleh makna yang tidak ambigu. Frasa kursi bayi tanpa lengan bermakna ambigu karena punya dua kemungkinan arti yaitu: kursi yang tanpa lengan atau bayi yang tanpa lengan.

Ketika pernyataan “Kita mestinya tidak menjelekkan teman-teman”, dikutip sebagai, “Kita mestinya tidak menjelekkan TEMAN-TEMAN” (AKS), maka akan terjadi penekanan pada kata yang tidak ditekankan dalam kalimat asli, sehingga menyampaikan arti yang berbeda dari pernyataan semula.

Komposisi dan divisi saling berhubungan erat. Sebagai contoh, jika seorang berargumen bahwa berdasarkan sifat-sifat masing-masing unsur penyusun NaCl (yang beracun), kita dapat menyimpulkan bahwa gabungan unsur-unsur penyusun tersebut dua kali lipat lebih beracun (KOM), maka kita harus mencurigai bahwa orang tersebut hanya sedikit sekali paham atau paham sama sekali tentang ilmu kimia atau dia tidak mengetahui bahwa sebenarnya gabungan kedua unsur itu adalah garam dapur. Sebaliknya, jika seseorang berargumentasi bahwa karena garam memiliki sifat menyehatkan; berarti secara terpisah masing-masing unsur-unsur penyusun garam (yaitu sodium dan klorida) pasti menyehatkan, maka dia harus belajar pengantar ilmu kimia atau belajar lebih banyak lagi tentang kimia.

[1] Contoh ini diambil dari Wikipedia, bukan terjemahan buku asli karena contoh yang asli tidak dapat diterjemahkan menjadi amfibologi ke dalam bahasa Indonesia

Dikutip dari buku Logic Primer-nya Dr. Elihu Carranza, yang diterjemahkan Ma Kuru, Dhan, dan Rony

Pos ini dipublikasikan di Elihu Carranza, Filosofi, Logic Primer, Logika, Sesat pikir, Terjemahan. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s