Menemukan Premis dan Kesimpulan

Argumen adalah pernyataan yang menggunakan premis dan kesimpulan yang biasanya mencoba meyakinkan orang akan sesuatu.

Ibu Bingo: Bingo, ibu harap kau tetap mengenakan sepatumu saat berada di mobil. Tidak ada orang yang suka baunya. Di samping itu, kalau kita keluar mobil kamu juga harus mengenakannya.
Bingo: Baiklah bu!

Perhatikan bahwa ibunya menggunakan argumen sederhana demi meyakinkan Bingo agar kembali mengenakan sepatunya. Argumennya terdiri dari dua bagian: 

  1. Premis – (1) Tidak ada orang yang suka bau sepatu, dan (2) mungkin kita harus keluar mobil dan kalau kita keluar mobil kau harus mengenakan sepatu.
  1. Kesimpulan – ibu harap kau tetap mengenakan sepatumu. . . .

Ibu Bingo ingin meyakinkan anaknya bahwa kesimpulannya benar. Sedangkan premis adalah petunjuk atau bukti atau alasan yang dikemukakan untuk meyakinkan Bingo. Seringkali argumen yang dikemukakan lebih rumit dari argumen di atas. Namun kalau kita dapat mengingat dua bagian mendasar argumen tersebut, maka akan mudah memahaminya.

Menemukan premis dan kesimpulan dalam sebuah argumen adalah langkah awal memahami argumen yang orang kemukakan. Kadang-kadang kesimpulan muncul di bagian awal argumen, kadang-kadang di akhir, dan jarang sekali muncul di bagian tengah argumen. Premis lebih sulit lagi ditemukan.

Peringatan: Sebisa mungkin lestarikan hutan. Penggundulan hutan dapat menyebabkan bumi berputar lebih cepat. Seperti halnya putaran tubuh peseluncur es meningkat ketika mendekatkan tangannya ke tubuh, demikian juga kalau kita menebang pohon tinggi, maka planet kita dapat berputar sekencang mungkin. Kita dapat menyelamatkan planet kita sama-sama.

Argumen yang dikemukakan sederhana saja. Kesimpulannya adalah kombinasi antara kalimat pertama dan terakhir yaitu, “Selamatkan planet kita dengan cara melestarikan hutan.” Premis tunggal yang dikemukakan adalah “Pohon tinggi mirip dengan lengan seorang peseluncur es dan kalau kita memotong pohon tinggi, maka bumi akan berputar sekencang mungkin.”
Gambar di atas professorProfessor Etimologi di Oxbridge: “Masuk kandang kambing mengembik, masuk kandang kerbau menguak.” Ini adalah prinsip yang sangat penting untuk diingat. Saya selalu memulai pelajaran di kelas dengan menyebutkan frasa ini. Ada banyak dan beragam alasan mengapa saya melakukannya. Mengutip kata-kata seorang bijak, “Hidup atau mati, itu yang penting.” Memang demikianlah adanya. Karena bagaimana kita menjalani kotak kehidupan yang penuh misteri tanpa frasa seperti, “Masuk kandang kambing mengembik, masuk kandang kerbau menguak”? Mengapa? Tanpa peribahasa itu hidup akan sangat membosankan. Kita dapat mempertanyakan semua pepatah bertele-tele orang terpelajar. Namun tanpa peribahasa “Masuk kandang kambing mengembik, masuk kandang kerbau menguak,” kita akan tertinggal di pinggir aliran kecerdasan manusia. Pendidikan klasik hanyalah kebangaan bagi sudut pandangan dunia kerja yang gencar atau lebih tepatnya berbisa atau penuh khayalan. Bahkan penyair yang banyak dicibir Horatio Haldeger sering berkata . . .”

Jangan panik. Paragraf seperti itu biasanya tidak bermakna. Bahkan kalaupun bermakna, di bawah ini adalah beberpa hal yang membantu anda mencoba memahaminya.

  1. Pertama-tama, temukan kesimpulannya. Ajukan pertanyaan: apa yang hendak diutarakan penulis? Kata-kata seperti “karena itu” dan “jadi” merupakan petunjuk bahwa pernyataan yang mengikuti kata-kata tersebut adalah kesimpulan.
  1. Temukan satu atau dua premis. Ajukan pertanyaan: apakah penulis menggunakan fakta atau penalaran untuk meyakinkan kita?
  1. Garis bawahi kalimat atau tuliskan angka pada pinggir halaman untuk menandai premis.

Seorang penulis yang baik akan mempermudah anda menemukannya.

Dalam paragraf di atas yang berisi perkataan sang Professor Etimologi, kesimpulanya mungkin adalah “Hidup akan menjadi sangat membosankan tanpa frasa seperti ‘Masuk kandang kambing mengembik, masuk kandang kerbau menguak.’” Salah satu premis yang mungkin adalah “Tanpa peribahasa ‘Masuk kandang kambing mengembik, masuk kandang kerbau menguak.,’ kita akan tertinggal di pinggir aliran kecerdasan manusia.” Sebuah premis lain yang tersembunyi di balik kutipan “Hidup atau mati, itu yang penting,” dapat dikembangkan menjadi “Jika kita tidak memiliki frasa seperti ini, maka tidak ada alasan untuk hidup.” Namun demikian, premis terakhir itu sulit untuk diketahui.

Paragraf di atas mungkin sulit. Namun melalui paragraf tersebut, kami ingin menunjukkan bahwa terkadang sulit menemukan premis dan kesimpulan. Jika anda dapat menemukan premis dan kesimpulan, maka anda dapat memahami argumen yang dikemukakan.

Diterjemahkan oleh Ma Kuru dari Buku Thinking Toolbox, tulisan Nathaniel dan Hans Bluedorn.

Pos ini dipublikasikan di Logika, Terjemahan, The Thinking Toolbox. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s