Sesat Pikir Kebetulan – Revisi

Sesat pikir kebetulan/accident terjadi saat faktor-faktor kebetulan yang tidak relevan dengan sebuah argumen dijadikan sebagai faktor esensial dalam argumen tersebut. Contohnya berasal dari kehidupan kalangan kerajaan di Jerman pada abad pertengahan.

Seorang bangsawan mengundang seorang tamu terhormat untuk makan malam. Untuk menghormati sang tamu, tuan rumah menyuruh juru masaknya menyajikan bangau panggang. Si tukang masak adalah tukang masak ulung dan dia memanggang bangau tersebut dengan sempurna. Saking enaknya aroma panggangan, si tukang masak tidak dapat menahan diri lalu memotong salah satu kakinya dan memakannya. Kemudian dia mengatur penyajian panggangan bangau sedemikian sehingga yang tampak dari atas adalah bagian sisinya. Si bangsawan mencoba tetap tenang dan mengabaikan mutilasi yang dialami bangau, lalu melayani tamu seperti biasanya. Namun dia berjanji dalam hati untuk membuat juru masaknya bingung setelah tamu pergi.

Keesokan harinya dia membawa juru masaknya keluar ke halaman istana lalu menunjukkan seekor bangau yang sedang berdiri di sana untuk mengajarnya. Dia berkata kepada si juru masak, “Coba kamu lihat! Bangau punya dua kaki. Kamu apakan kaki Bangau yang satunya tadi malam?” Si juru masak kemudian membalas, “Tapi bangau cuma punya satu kaki. Coba liat itu!” Seperti kebiasaan bangau pada umumnya, bangau tersebut sedang berdiri dengan satu kaki saja. Merasa dia sedang dikerjain dan demi mengalahkan tipuan si juru masak, sang bangsawan bertepuk tangan dan bangau itupun menurunkan kaki yang satunya lalu terbang. Si bangsawan berkata, “Lihat sendiri, bangau punya dua kaki!” Si juru masak membalas, “Tapi tadi malam tuan tidak bertepuk tangan.”

Diterjemahkan dari buku Logic, halaman 18 – 19, oleh Ma Kuru

______________________________________________________________

Informasi lebih lanjut tentang buku ini dapat diperoleh di tautan ini.
Sampel buku ini dapat diunduh dari tautan ini.
Cara mendapatkan buku ini dapat dibaca pada tautan ini.

Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Gordon H. Clark, Kebetulan, Logic, Logika, Terjemahan. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s