Filsafat

Filsafat (φιλοσοφια, secara etimologis berarti cinta akan kebijaksanaan). Secara tradisional filsafat adalah studi tentang logika, dasar-dasar sains, metafisika, etika, dan estetika. Dalam pengertian yang lebih luas, prinsip-prinsip dasar dari bidang apapun dapat disebut filsafat. Sementara itu, mendekati penyalahgunaan terhadap kata tersebut, filsafat pendidikan berarti kebijakan administrasi sekolah; dan “filsafat atau falsafah kehidupan” berarti preferensi setiap individu, terlepas sistematis tidaknya preferensi tersebut. Terlepas dari kenyataan bahwa Kitab Pengkhotbah adalah hasil inspirasi, Kitab ini merupakan contoh filsafat dalam makna yang populer dan tidak ada hubungan sama sekali dengan bidang filsafat teknis profesional.

Alasan bagi perbedaan makna ini adalah kenyataan bahwa berfilsafat berarti melakukan generalisasi, dan tidak ada otoritas yang dapat menetapkan tingkatan generalisasi yang pantas untuk mendapatkan nama ‘filsafat’.

Makna kata filsafat dalam Kolose 2:8 sulit untuk ditentukan. Kata itu bisa merujuk kepada Gnostisisme atau mungkin hanya berarti etika, karena pada abad pertama aliran filsafat Yunani telah mencapai titik terendah dan sedikit sekali berbicara tentang hal lain selain etika.

Elemen umum yang terdapat dalam semua generalisasi adalah klaim akan pengetahuan. Karena itu, pertanyaan penting dalam filsafat adalah — Bagaimana pengetahuan memungkinkan? Upaya melakukan justifikasi terhadap pengetahuan disebut epistemologi.

Metafisika, yaitu teori tentang keberadaan (bukan keberadaan tumbuhan atau botani, bukan keberadaan hewan atau zoologi, bukan pula keberadaan materi tak bernyawa, melainkan keberadaan tanpa kualifikasi—keberadaan an sich), kadang-kadang disebut sebagai bidang dasar filsafat. Namun demikian, bahkan keberhasilan dan kegagalan Thomisme yang mengemukakan klaim demikian tergantung pada teori pembelajarannya. Jawaban terhadap pertanyaan “Apa yang anda ketahui?” menimbulkan pertanyaan lebih lanjut yaitu “Bagaimana anda tahu?” Di luar pertanyaan ini, tidak ada pertanyaan lain yang dapat diajukan. Karena itu, epistemologi merupakan dasar filsafat.

Secara umum terdapat dua jenis epistemologi. Yang pertama adalah empirisisme, yang tesisnya adalah pengetahuan didasarkan pada pengalaman. Mayoritas penganut empirisisme menyamakan pengalaman dengan sensasi inderawi; sedangkan yang lain mempercayai pengalaman non estetis dan religius non inderawi.

Jenis epistemologi umum yang kedua tidak memiliki nama tunggal yang tepat. Mungkin nama rasionalisme sama baiknya dengan nama-nama lain. Kepelbagaian dalam epistemologi ini dipersatukan oleh prinsip bahwa tidak semua pengetahuan didasarkan pada pengalaman. Dengan satu cara atau cara lain, pengetahuan diperoleh dari sumber lain selain sensasi inderawi, terutama pikiran itu sendiri. Karena itu sebagian dari para filsuf ini menegaskan keberadaan gagasan melekat/bawaan (dalam pikiran manusia). Sebagai contoh, dikatakan bahwa hukum kontradiksi atau gagasan tentang Allah sudah ada sejak lahir. Kant mengajarkan bahwa pikiran memiliki bentuk-bentuk a priori tersendiri. Sensasi inderawi pada dasarnya bersifat kacau-balau; dan sensasi tersebut hanya dapat dipahami setelah pikiran mengatur sensasi inderawi berdasarkan bentuk-bentuk a priorinya. Pengikut ajaran Augustinus dan Plato mengandalkan intuisi intelek. Titik kuat ajaran ini adalah bahwa logika, etika, dan estitika tidak dapat disimpulkan dari pengalaman karena pengalaman hanya dapat memberi tahu kita apa yang terjadi, bukan apa yang seharusnya terjadi. Lebih jauh lagi, semua pengalaman terbatas, namun pengetahuan harus melibatkan pertimbangan universal.

Pada saat tulisan ini dibuat, aliran filsafat yang paling aktif adalah filsafat Positivisme Logis, yaitu aliran yang sangat kuat berorientasi ilmiah; filsafat Analysis, yaitu aliran yang dibatasi pada pembahasan mengenai semantik; dan eksistentialisme, yaitu keputusan individu yang secara mutlak kacau. Aliran-aliran lain selain aliran tersebut sedikit banyak sudah memudar.

Kitab Suci tidak membahas hal-hal ini secara eksplisit dan teknis. Banyak filsuf Kristen percaya bahwa kita dapat melihat adanya prinsip-prinsip filosofis yang dipraanggapkan oleh teks Kitab Suci. Kaum Thomis misalnya, berpendapat bahwa Roma 1:20 membutuhkan empirisisme dan menjustifikasi argumen kosmologis. Kalvinis secara historis menjadikan pengetahuan akan Allah—bukan pengetahuan akan obyek inderawi — sebagai dasar, dan percaya bahwa Kejadian 1:26 dan Roma 2:15 mempraanggapkan adanya gagasan bawaan atau bentuk-bentuk a priori.

G. H. CLARK

Sumber: 1975, Zondervan Pictorial Encyclopedia of the Bible. Merrill C. Tenney, ed. Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House.

Diambil dari situs The Gordon Clark Foundation.

Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Gordon H. Clark, Terjemahan, Zondervan Pictorial Encyclopedia of the Bible. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s