Sesat Pikir Informal

Argumen bisa tidak valid karena mengandung sesat pikir formal atau karena mengandung sesat pikir informal. Sesat pikir formal terkait dengan bentuk argumen. Hal yang dibahas dalam argumen-argumen tersebut bermacam-macam seperti politik, agama, atau olahraga. Namun walaupun beragam, semua argumen dapat direduksi menjadi hanya beberapa jenis atau bentuk. Bentuk-bentuk ini akan dibahas dalam bab-bab yang akan datang. Pada bagian ini cukuplah untuk dicatat bahwa kedua contoh di bawah ini memiliki bentuk yang sama. Contoh pertama adalah: Semua manusia adalah makhluk fana; Sokrates adalah manusia; karena itu Sokrates adalah makhluk fana. Contoh kedua: Semua anjing berwarna hitam; Fido adalah anjing; karena itu Fido berwarna hitam. Patut dicatat pula bahwa kata manusia pada argumen pertama memiliki makna yang sama dalam kedua kali pemunculannya. Demikian juga dengan kata anjing pada argumen kedua. Sesat pikir informal bukanlah sesat pikir bentuk, namun seringkali merupakan masalah bahasa yang buruk. Namun demikian, sesat pikir tersebut lebih menipu daripada kesalahan berbahasa yang lazim.

Menjelang bagian akhir bab sebelumnya, disebutkan tentang ambiguitas. Juga dicatat bahwa terdapat dua jenis ambiguitas. Ketika sebuah kata memiliki dua makna, kita menyebutnya sebagai ekuvokasi. Ketika makna ganda berlaku pada sebuah frasa, kita menyebutnya amfibologi. Beberapa buku pegangan logika menyebutnya amfiboli. Namun karena jarang disebut amfiboli, maka kita tetap menggunakan amfibologi.

Contoh ekuivokasi sudah diangkat sebelumnya. Ekuivokasi terjadi pada pernyataan yang berbunyi Hanya babi betina yang haram, karena hanya babi betina yang bisa mengandung babi[1]. Semua kata dalam kalimat tersebut memiliki satu makna yang kurang lebih tunggal. Tetapi kata mengandung memiliki lebih dari satu makna, bisa berarti mengandung bayi dan bisa juga berarti memiliki zat tertentu. Judul berita seringkali merupakan contoh ekuivokasi. Dalam rangka meringkas judul, kadang-kadang editor menghasilkan frasa yang para pembaca perlu baca dua atau tiga kali untuk bisa pahami. Pembaca diharapkan mencari judul-judul seperti itu dalam surat kabar [atau media online][2] yang ada.

Kadang-kadang ekuivokasi dilakukan secara sengaja dan jenaka. Pada saat penandatanganan Deklarasi Kemerdekaan Amerika, Benyamin Franklin konon mengatakan, “We must all hang together, or assuredly we shall all hang separately.[3]” Sebuah contoh ekuivokasi lain yang disusun secara disengaja namun jenaka adalah seorang remaja yang menjawab pertanyaan pertama Katekismus Kecil Westmister yang berbunyi, What is the chief end of man?[4] dengan jawaban “Pasti kepalanya.” Kata end memiliki makna ganda. Namun contoh ini mungkin kurang baik karena merupakan contoh dari satu abad lampau. Saat ini kata end, sudah tidak memiliki arti tujuan seperti yang sering digunakan satu abad lampau. Kita memang masih menggunakan kata end tetapi maknanya berbeda, seperti digunakan dalam ungkapan dead end atau jalan buntu.

Dalam pembahasan yang serius, lebih sulit untuk mendeteksi ekuivokasi. Para teolog dan penganut paham sekuler berselisih paham tentang wahyu dan akal budi/reason. Para teolog, atau lebih tepatnya sebagian dari mereka, menjunjung wahyu dan merendahkan akal budi manusia ‘semata’ dan logika. Keduanya sama-sama melakukan ekuivokasi. Saat ini ketika kaum sekuler mengagungkan akal budi/reason, yang mereka maksudkan dengan akal budi tidak sama dengan yang dimaksudkan oleh Agustinus, Descartes, dan Spinoza. Ketiga orang ini mendefinisikan akal budi sebagai kemampuan intelektual untuk berargumen. Kaum sekuler (hampir semuanya pada abad ke-20) adalah penganut empirisisme dan yang mereka maksudkan dengan akal budi adalah pengalaman inderawi. Saat ini tidak jelas apa yang para teolog maksudkan dengan kata tersebut karena mereka memiliki pandangan berbeda. Banyak dari mereka yang setuju dengan lawannya bahwa pengalaman inderawi dapat dipercaya dan sains merupakan hasil dari pengalaman inderawi. Namun mereka juga berpegang pada pandangan bahwa teologi tidak tergantung pada sensasi inderawi atau akal budi. Dengan demikian, mereka memiliki dua jenis [sumber] pengetahuan atau dua sumber informasi, yang tidak dapat mereka harmoniskan menjadi sebuah sistem tunggal. Sebagian yang sangat ekstrim, yang disebut Neo-Ortodoks, cukup jelas mengidentifikasi akal budi sebagai kemampuan berargumen secara meyakinkan tetapi kemudian mengklaim bahwa iman mengalahkan akal budi dan Kekristenan pasti merupakan sistem yang bertentangan dengan diri sendiri. Yang hendak diungkap paragraf ini adalah bahwa kadang-kadang sulit untuk menemukan dimana letak ekuivokasi. Argumen teologis seringkali rumit, dan pembaca harus rajin melakukan praktek analisa argumen.

Kalau yang bermakna ganda itu adalah sebuah frasa (bukan kata tunggal), maka kita menyebutnya sebagai amfibologi. Sebuah contoh kuno yang dapat dibaca pada banyak buku pegangan moderen adalah apa yang dilakukan Croesus. Croesus, Raja Lydia, ingin berperang melawan Persia. Namun dia begitu berhati-hati sehingga perlu bertanya pada Oracle of Delphi (Nubuat Delphi) tentang dampak dari perang tersebut. Si penubuat berkata bahwa jika Croesus berperang melawan Cyrus, maka dia akan menghancurkan sebuah kerajaan besar. Dengan gembira dia pergi berperang. Namun dia harus kecewa karena kerajaan besar yang dihancurkan akibat perang tersebut adalah kerajaannya sendiri yang besar.

Contoh lain adalah argumen yang sangat ‘Alkitabiah’ berikut ini: Seorang pencandu narkoba berkata kepada pencandu yang lain: Perbuatlah pada orang lain apa yang kau ingin orang lain perbuat padamu. Kau ingin orang memberimu heroin, karena itu kamu harus memberiku heroin.

Kadang-kadang tata bahasa menghasilkan amfibologi. Andaikan ada seorang ibu yang berkata kepada anaknya, Aku tidak akan membawamu ke kebun binatang karena hari ini Hari Sabtu. Pernyataan ini bisa berarti bahwa pada hari ini (yaitu Hari Sabtu) si ibu mempunyai tugas yang harus diselesaikan sehingga mereka tidak bisa pergi kebun binatang. Namun pernyataan tersebut juga bisa berarti bahwa si Ibu akan membawa anaknya ke kebun binatang tetapi bukan untuk berlibur di Hari Sabtu tetapi untuk belajar ilmu zoologi, jadi si anak harus mempersiapkan semua peralatan belajarnya.

Kesalahpahaman mengenai kebun binatang tersebut dapat saja dihindari dengan menambahkan kata lain atau dengan memberi aksen yang tepat. Si ibu tersebut bisa juga berkata, “Kita pergi ke kebun binatang bukan karena Hari Sabtu.” Atau dengan sedikit merubah aksen, si ibu dapat berkata, “Kita tidak pergi ke kebun binatang besok” berhenti sebentar dan melanjutkan, “karena besok Hari Sabtu.” Modifikasi intonasi ini membawa kita kepada sebuah sesat pikir yang disebut aksen.

Ada sebuah ungkapan yang lazim bahwa kita hanya membicarakan kebaikan orang yang meninggal. Jika kalimat itu diucapkan dengan nada yang datar dan tenang, maka akan mengungkap makna yang sebenarnya. Tetapi andaikata kita memberi penekanan pada kata kita, sehingga menjadi “Kita seharusnya tidak membicarakan keburukan orang yang meninggal”, maka kalimat itu berarti bahwa orang lain boleh seenaknya melakukan itu, walaupun kita tidak boleh melakukannya. Kemungkinan berikut adalah penekanan pada kata seharusnya sehingga menjadi “Kita seharusnya tidak membicarakan keburukan orang yang meninggal” yang berarti bahwa memang seharusnya itu yang kita lakukan, tetapi kita tetap saja melakukan yang bertentangan dengan keharusan itu. Kemungkinan lain adalah penekanan pada membicarakan sehingga menjadi “Kita seharusnya tidak membicarakan keburukan orang yang meninggal”, yang berarti bahwa tidak masalah kalau kita mempublikasikan keburukan orang meninggal di surat kabar [atau di Facebook][5]. Kemungkinan terakhir adalah penekanan pada kata orang yang meninggal sehingga menjadi “Kita seharusnya tidak membicarakan keburukan orang yang meninggal” yang berarti tidak masalah kalau kita menjelekkan reputasi saudaranya yang masih hidup.

Sumber salah paham seperti ini sering terjadi antara penulis dan pembaca buku. Jika seorang penulis memiliki kemampuan berbicara di depan umum yang baik, maka dia terus-menerus menggunakan perubahan intonasi saat berpidato dan pendengarnya dapat dengan mudah memahaminya. Tetapi jika dia menerbitkan pidatonya, maka pembaca yang belum pernah mendengar dia berpidato tidak mengetahui perubahan nada suaranya sehingga mengakibatkan kesalahpahaman serius. Coba kita ambil contoh yang lazim dimana seorang mengemukakan sebuah pernyataan dan setelah itu orang yang lainnya membalasnya dengan ‘Ya’. Kalau ungkapan itu dinyatakan dengan nada mengejek, maka ya berarti tidak.

Sesat pikir aksen dan ekuivokasi sedikit tumpang tindih satu dengan yang lain. Namun sesungguhnya banyak contoh dalam bab ini dapat dikelompokkan menjadi jenis sesat pikir lain termasuk yang belum kita angkat. Klasifikasi sesat pikir informal tidaklah sistematis. Pembagian jenis sesat pikir tersebut tidaklah ketat. Tentu saja ada sesat pikir yang bukan ekuivokasi tetapi sesat pikir seperti itu bisa jadi juga termasuk dua atau lebih sesat pikir lainnya.

Namun demikian, mari kita mencoba membahas sebuah sesat pikir aksen lagi. Dalam perayaan Perjamuan Malam Kudus, pendeta mengatakan “Minumlah kamu semuanya” Jika penekanannya pada kata semua, maka yang dimaksudkan adalah semua anggur harus dihabiskan. Tetapi kalau diucapkan secara datar berarti bahwa semua yang ikut perjamuan harus minum.

Untungnya bahasa Yunani Perjanjian Baru tidak seambigu bahasa Indonesia (dan Bahasa Inggris). Memang ada kata-kata bahasa Yunani yang ambigu, tetapi tidak sebanyak bahasa Inggris/Bahasa Indonesia. Dalam kasus di atas, karena bentuk deklensinya bersifat maskulin plural, maka kata semua bukan tunggal neuter, sehingga maknanya menjadi jelas.

Teolog-teolog liberal seringkali menggunakan ambiguitas, baik ekuivokasi maupun amfibologi untuk mengacaukan doktrin alkitabiah. Mereka menggantikan kata atau frasa yang univokal dengan kata atau frasa yang samar-samar. Univokal berarti memiliki satu makna. Sebagai contoh, kita berbicara tentang pengorbanan Kristus di atas kayu salib. Memang benar yang terjadi adalah pengorbanan tetapi bukanlah pengorbanan dalam pengertian yang sama dengan bunt dalam bisbol. Sebuah bunt atau pukulan melayang (sacrifice fly) dalam bisbol memang merupakan pengorbanan dan pengorbanan penggantian atau penebusan, karena yang dikorbankan adalah pemukul demi meloloskan pelari/runner. Pengorbanan Kristus juga adalah pengorbanan penggantian atau penebusan. Jadi pada titik tertentu terdapat tumpang tindih makna antara pengorbanan Kristus dan pengorbanan pemukul pengganti. Namun demikian, maknanya tidak identik. Pengorbanan Kristus merupakan korban pendamaian dengan Allah yang murka. Menggunakan istilah korban dan menyembunyikan pendamaian manusia dengan Allah saat berbicara tentang ajaran Alkitab, sama saja dengan melemahkan injil melalui ekuivokasi. Gagasan tentang korban pendamaian dan keadilan Allah merupakan gagasan yang paling dibenci oleh para teolog liberal. Karena itu, ketika menterjemahkan Alkitab, kata korban pendamaian diganti dengan kata yang lebih umum dan ambigu. Hal itu terjadi dalam Terjemahan New International Version. Versi ini menggunakan frasa korban penebusan. Namun demikian, ada banyak bentuk penebusan. Pendamaian adalah salah satu di antaranya. Namun masih banyak bentuk yang lain. Sebagai contoh, orang biasa mengatakan bahwa seorang penjahat membayar/menebus hutangnya kepada masyarakat dengan cara menjalani masa hukuman selama setahun di penjara. Orang tersebut mungkin telah menebus dosanya, tetapi ada kemungkinan bahwa hal itu tidak mendamaikannya dengan sang korban. Akibat dari fraseologi yang samar-samar seperti itu adalah mereka yang duduk di bangku jemaat yang tidak memiliki cukup kepekaan logis akan menerima terjemahan baru tetapi masih mempertahankan pemahaman tentang pendamaian. Tetapi mungkin dalam waktu yang tidak terlalu lama mereka juga akan cepat melupakannya dan generasi berikutnya yang tidak diajarkan tentang korban pendamaian lagi, tidak akan memiliki gagasan mengenai korban pendamaian. Dengan demikian, Injil memudar dari pikiran orang.

Hal ini kiranya cukup untuk menunjukkan kepada pembaca bahwa logika bukanlah sesuatu yang remeh dan hanya terkait dengan ilustrasi atau contoh yang dibuat-buat. Buku-buku logika memang memiliki kelemahan. Contoh yang dikemukakan buku-buku logika biasanya remeh dan dibuat-buat. Jika yang diangkat merupakan contoh yang bersifat historis, maka pada umumnya contoh tersebut tidak relevan dengan kehidupan kita. Kata-kata Benjamin Franklin memang jenaka, namun kita tidak akan menjadikannya sebagai dasar untuk menandatangani deklarasi kemerdekaan Amerika dan mempertaruhkan hidup kita. Namun demikian, ambiguitas terus-menerus terjadi dan pembelajaran tentang contoh-contoh historis, atau contoh yang dibuat-buat serta dangkal akan mengingatkan kita bahwa ada kemungkinan terjadi ambiguitas dalam situasi apapun yang kita hadapi. Sebuah buku pegangan tidak mungkin memprediksi kesulitan yang akan dihadapi esok hari atau bagaimana televisi menipu kita dengan propaganda. Tetapi cukuplah bagi sebuah buku pegangan untuk mengingatkan dan membuat kita siap siaga akan adanya kemungkinan hal yang sama terjadi dalam kehidupan kita.

Jenis sesat pikir berikutnya disebut komposisi. Contoh pertama mungkin dangkal, tetapi bukan contoh yang dibuat-buat, serta bisa saja terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Kita andaikan sekolah atau perguruan tinggi anda memiliki sebuah tim bola basket. Anda ingin membela reputasi tim sekolah atau universitas anda di depan lawan bicara. Untuk meyakinkan lawan bicara, anda berbicara tentang kehebatan tim yang anda dukung dengan menunjuk kepada fakta bahwa pemain A adalah pemain yang sangat baik, pemain B luar biasa, dan pemain C adalah pemain tanpa tandingan, demikian dan seterusnya sampai pemain E. Karena alasan itu, anda menyatakan kepada lawan bicara anda bahwa tim yang anda dukung tersebut merupakan tim terbaik saat ini. Argumen seperti ini disebut sesat pikir komposisi. Alasan logis kasus ini disebut sesat pikir adalah bahwa karakteristik atau ciri dari komponen tidak selalu dan tidak harus mencerminkan karakteristik keseluruhan. Alasan praktisnya adalah, walaupun mereka semua pemain terbaik, bisa jadi mereka tidak bisa saling bekerja sama satu dengan yang lain serta tidak memiliki semangat tim sehingga lebih banyak kalahnya daripada menang.

Contoh ini dapat dibawa ke arena politik. Coba andaikan bahwa anda hendak menunjukkan betapa bodohnya lawan politik anda. Anda ingin mengungkap ketidaktepatan argumennya. Kalau misalnya dia berargumen bahwa Senat Amerika adalah senat paling bijak karena semua senator di Amerika bijaksana, anda dapat mengatakan bahwa walaupun para senator bijaksana, tetapi bisa jadi Senat Amerika adalah lembaga paling tolol sedunia. Atau kalau dia berargumen bahwa karena para senator di Amerika memilki keterbatasan sehingga Senat Amerika adalah senat paling buruk, maka anda dapat menjawab bahwa walaupun para senator memiliki keterbatasan, namun kemampuan mereka dapat digabungkan sehingga mungkin saja Senat merupakan lembaga yang mendekati ketidakbersalahan.

Dalam bidang Kimia terdapat contoh lain lagi. Khlor merupakan racun. Demikian juga halnya dengan Sodium karena kalau anda menaruhnya di lidah, maka kedua bahan itu akan melubangi lidah anda. Karena itu anda menyimpulkan bahwa kalau anda menggabungkan keduanya untuk menghasilkan NaCl atau Sodium Klorida, maka daya racunnya menjadi dua kali lipat sehingga tidak boleh ditambahkan pada telur (untuk dimakan). Tetapi ingat bahwa kualitas atau sifat komponen tidak harus atau tidak selalu seperti sifat keseluruhan. Demikian pula sifat dari keseluruhan tidak selalu atau tidak harus seperti sifat komponen-komponennya. Mungkin anda tidak menyukai Kimia. Tetapi berhati-hatilah dengan sosiologi karena di sana ada banyak sekali pembicaraan tentang keseluruhan.

Sebagian besar contoh dalan buku pegangan logika hanyalah contoh yang dibuat-buat, tetapi contoh-contoh itu biasanya lebih sederhana sehingga mudah dipahami. Bahkan contoh dari bidang Kimia di atas walaupun bukan contoh karangan, tetaplah merupakan contoh yang sederhana. Contoh yang dikemukakan untuk para pembelajar logika haruslah sederhana, setidaknya kalau baru mulai belajar. Tetapi harus diingat bahwa dalam kehidupan sehari-hari, sesat pikir yang ditemui biasanya kompleks dan tidak mudah dikenali. Contoh berikut berasal dari dunia filsafat. Salah satu teori tentang alam semesta menyatakan bahwa bahan penyusun alam semesta pada dasarnya terdiri dari atom-atom. Atom adalah benda yang sangat kecil, keras, serta tidak dapat ditembusi. Teori ini disebut materialisme. Seorang filsuf Jerman bernama Leibniz tidak menyukai materialisme. Dia berpendapat bahwa materialisme tidak dapat menjelaskan kerja pikiran manusia. Karena itu dia mengemukakan gagasan bahwa bahan dasar alam semesta adalah pikiran yang memiliki esensi yang mirip dengan pikiran Sang Pencipta. Tentu saja pikiran adalah hal rohani, bukan hal materi karena tidak menempati ruang. Leibniz menyebut unsur dasar tersebut sebagai monad yaitu realitas berpikir yang tak dapat dibagi menjadi lebih kecil lagi. Sebagian lawan Leibniz membantah dengan menyatakan bahwa jika materialisme tidak dapat menjelaskan pikiran, maka lebih sulit lagi bagi pikiran untuk menjelaskan materi karena kalau kita menggabungkan banyak obyek yang tidak menempati ruang, maka kita tidak akan mendapatkan obyek yang menempati ruang (yaitu materi). Dikatakan bahwa kasusnya sama seperti kalau kita menambahkan berapapun banyaknya nol, tidak akan menghasilkan angka yang lain. Bantahan terhadap Leibniz ini adalah sebuah sesat pikir. Sesat pikir dimaksud adalah sesat pikir komposisi karena karakteristik atau sifat komponen tidak harus dan tidak selalu merupakan sifat keseluruhan atau gabungan dari komponen-komponen. Dengan kata lain, biasanya ada karakteristik keseluruhan yang tidak ditemui dalam karakteristik komponen-komponennya.

Sebuah contoh lagi perlu dibahas. Ketika Bonnie Prince Charlie, pewaris Stuart di tahta Inggris, mencoba untuk menyingkirkan George II pada tahun 1754 dan mengembalikan Roma Katolik ke Inggris dan Skotlandia, dia menggunakan prajuritnya yang berasal dari Skotlandia Highland. Mungkin benar bahwa prajurit dari daerah tersebut lebih gagah berani atau lebih tegas dibanding dengan prajurit Inggris. Pasukan Highland mengalahkan pasukan Inggris pada pertempuran pertama. Namun walaupun prajurit Skotlandia lebih banyak dan lebih berani, hal itu tidak cukup menandingi pasukan Inggris. Pada pertempuran kedua, pasukan Highland diusir sebelum pertempuran benar-benar berlangsung dengan sengit. Setiap prajurit Skotlandia bisa jadi lebih baik daripada prajurit Inggris. Namun secara keseluruhan, pasukan Inggris jauh lebih baik daripada pasukan Skotlandia Highland. Pembaca mungkin bisa mengangkat contoh dari dalam Kitab Perjanjian Lama atau mencoba mencari contoh lain dari bidang Kimia.

Sesat pikir lain atau nama lain berbahasa Latin yang diberikan kepada sejumlah sesat pikir disebut petitio principii. Dalam bahasa Inggris, sesat pikir ini disebut begging the question atau penalaran melingkar. Pada dasarnya sesat pikir ini berarti bahwa salah satu premis yang digunakan untuk mendeduksi kesimpulan adalah kesimpulan itu sendiri yang sedikit dikaburkan atau dirubah rumusannya. Harus dicatat bahwa argumen seperti ini sebenarnya valid. Secara ketat logis, kesimpulannya diharuskan oleh premis dan memang harus demikian adanya karena premis adalah kesimpulan itu sendiri dan setiap proposisi berimplikasi pada dirinya sendiri. Tetapi argumen tersebut tidak berguna sebagai bukti untuk meyakinkan orang lain. Orang dapat berkata bahwa catur adalah bentuk rekreasi yang lebih baik daripada sepakbola karena sepakbola bukan bentuk rekreasi yang sebaik catur. Tentu saja demikian karena kedua pernyataan tersebut ekuivalen, sehingga kalau yang satu benar, maka yang lain benar. Namun tidak ada pemain sepakbola yang akan terkesan oleh argumen demikian.

Begging the question biasanya tidak sejelas contoh karangan di atas. Coba pikirkanlah apakah argumen Thomas Aquinas untuk mendukung keberadaan Allah berikut ini merupakan petitio principii atau tidak. Thomas yang disanto-kan menulis: “Apapun yang digerakkan harus digerakkan oleh yang lain. Jika yang menggerakkan juga digerakkan, maka yang menggerakkan itu pasti digerakkan yang lain lagi. Namun [rangkaian ini] tidak bisa berlanjut sampai tak terhingga karena kalau demikian tidak mungkin ada penggerak pertama dan [karena kalau tidak ada penggerak pertama maka] tidak akan ada penggerak yang lainnya mengingat penggerak hanya bergerak sejauh mereka digerakkan oleh penggerak pertama. …… Karena itu, kita harus memiliki penggerak pertama yang tidak digerakkan oleh apapun. Orang mengenal penggerak pertama ini sebagai Tuhan.”

Dalam contoh ini, bahasa Yunani tidak ambigu seperti bahasa Inggris. Dalam bahasa Inggris kata untuk ‘menggerakkan’ dan ‘bergerak’ hanya satu yaitu move. Dalam bahasa Yunani[6], dua hal berbeda itu diungkapkan dengan dua kata. Terlepas dari masalah ambiguitas tersebut, dapatkah pembaca mendeteksi adanya begging the question dalam argumen Thomas?

Ada satu jenis sesat pikir lain yang sering diangkat dalam buku-buku pelajaran logika. Sesat pikir tersebut dikenal sebagai argumen ad hominem. Sesat pikir ini merujuk kepada karakter, situasi, kepercayaan atau prasangka orang yang kita coba yakinkan [akan kebenaran pandangan kita] dan tidak membahas hal yang diangkat jadi bahan pembicaraan. Sebagai contoh, seorang mungkin terkesan dengan pandangan Aristotel bahwa jiwa atau roh adalah bentuk dari tubuh organik. Kemudian pendetanya mengatakan kepadanya, “Kamu percaya Alkitab. Alkitab mengajarkan bahwa jiwa itu tetap ada walaupun tubuh mengalami kerusakan setelah kematian. Karena itu kamu seharusnya menolak pandangan Aristotel dan menyangkali bahwa jiwa dan tubuh merupakan kesatuan seperti yang dikatakan Aristotel.

Masalah dengan argumen di atas adalah kepercayaan seseorang pada Alkitab tidak membuktikan adanya kehidupan setelah kematian. Premis yang dibutuhkan adalah: Alkitab benar. Namun demikian, ada kemasukakalan dalam argumen tersebut karena kepercayaan kepada Alkitab berimplikasi kepercayaan akan adanya kehidupan pasca kematian. Orang yang menerima imortalitas jiwa yang sesuai ajaran alkitab sekaligus menerima pandangan Aristotel adalah orang yang kebingungan dan menerima kontradiksi.

Contoh lain bisa berlaku dua arah. Seorang calon anggota DPR berargumen: kamu harus memilih aku karena aku akan menaikkan tarif proteksi. Tarif proteksi baik untuk negara ini karena kamu adalah produsen. Seringkali argumen ad hominem ini muncul terbalik seperti ”Tidak mengherankan bahwa kau percaya bahwa tarif proteksi baik untuk negara ini. Kau seorang produsen, bukan? Ini bisa disebut ad hominem hinaan.

Terdapat banyak jenis dan variasi sesat pikir informal. Sesat pikir informal ini tidak dapat dikelompokkan secara rapi. Tidak ada aturan yang secara otomatis mendeteksinya. Sesat pikir ini begitu tumpang tindih satu dengan yang lain sehingga satu contoh bisa mengandung dua atau tiga, bahkan empat sesat pikir sekaligus. Salah satu kategori yang sering diangkat dalam buku logika jaman dulu adalah ignoratio elenchi. Ungkapan Latin ini diterjemahkan sebagai, ketidaktahuan tentang bantahan. Buku-buku moderen menterjemahkannya secara tidak literal sebagai ‘kesimpulan yang tidak relevan’. Namun penamaan ini kurang tepat karena semua sesat pikir adalah contoh kesimpulan yang tidak relevan dan ketidakrelevanan itu muncul dalam berbagai bentuk dan ukuran.

Dalam Apology-nya, Sokrates yang melakukan pembelaan di depan para hakim Atena untuk membantah bahwa dia pantas dihukum mati, dengan gagah berani menolak hal yang digunakan penjahat yaitu membawa anak dan istrinya ke pengadilan lalu mengatakan, “Siapa yang nanti akan menjaga anak dan istriku, jika aku dihukum mati?” Permohonan seperti itu bukan bukti ketidakbersalahan, sehingga termasuk sesat pikir yang disebut argumentum ad misericordiam.

Dalam karya Shakespeare, berjudul Richard III, setelah membunuh semua pewaris tahta, Richard mengemukakan argumen ad populum. Ini mungkin bukan contoh yang sangat baik karena tidak membangkitkan antusiasme.

Sesat pikir berikut yang dapat dibedakan dari sesat pikir lain adalah sesat pikir pertanyaan kompleks. Sesat pikir ini digunakan dalam pertanyaan yang sangat terkenal seperti, Sudah berhentikah kamu memukul istrimu? Biasanya sesat pikir ini tidak sejelas contoh tersebut.

Sesat pikir lain yang cukup terkenal disebut post hoc ergo propter hoc. Pembaca harus selalu menggunakan frasa Latin ini supaya terlihat berilmu. Terjemahan frasa tersebut adalah, “Setelah ini terjadi, karena itu penyebabnya adalah ini.” Pada akhir tahun 70-an Internal Revenue Service (IRS[7]) mengusik sekolah-sekolah Kristen. Sebelum itu Badan Pendidikan di Ohio menuntut sebuah sekolah Kristen. Di Kentucky dan Nebraska, orang tua sampai dipenjarakan karena menyekolahkan anaknya di sekolah Kristen. Dalam kasus lain, pemerintah secara paksa memisahkan anak dari orang tuanya dan menempatkannya di rumah orang tua asuh. Kemudian IRS ikut campur dan mencoba untuk menghilangkan status tak kena pajak sekolah-sekolah Kristen dan menganggapnya bersalah akibat diskriminasi ras, kecuali sekolah-sekolah tersebut bisa membuktikan diri tidak bersalah, melalui sebuah proses yang di beberapa tempat mustahil dilakukan. Salah satu argumen IRS adalah bahwa sekolah-sekolah Kristen didirikan persis setelah ditetapkannya undang-undang anti diskriminasi. Ini jelas post hoc ergo propter hoc. Salah satu pembelaan yang diberikan orang Kristen adalah bahwa sekolah-sekolah Kristen didirikan setelah Mahkamah Agung melarang adanya Alkitab dan doa di sekolah-sekolah. Perlu ditambahkan pula bahwa sekolah-sekolah Kristen didirikan setelah kekerasan, obat-obatan terlarang dan seks di sekolah-sekolah pemerintah tidak terkendali. Anggota Badan Pendidikan di Atlanta, Georgia, mendapatkan surat pengunduran diri seorang guru karena salah seorang murid mengancam untuk menggoroknya dengan pisau kalau si guru tidak mengganti nilai D-nya menjadi B. Dalam situasi seperti itu, siswa yang tidak suka melakukan kekerasan akan terancam, sehingga orang tua lebih memilih sekolah yang lebih aman bagi putra putrinya. Setelah mengabaikan semua ini, IRS kemudian menetapkan aturan yang tidak memiliki semangat Amerika yaitu aturan yang menetapkan bahwa anda dinyatakan bersalah selama anda tidak dapat membuktikan bahwa anda tidak bersalah, dan mendukungnya dengan argumen ad baculum yaitu: lakukan yang aku katakan atau aku hancurkan kamu.

Terdapat nama-nama lain yang digunakan untuk merujuk sesat pikir, tetapi nama-nama yang berbeda itu tidak selalu merujuk kepada sesat pikir yang berbeda, karena kategorisasinya ceroboh dan saling tumpang tindih. Karena itu, bab ini akan diakhiri dengan sesat pikir kebetulan/accident. Sesat pikir ini terjadi saat faktor-faktor kebetulan yang tidak relevan dengan sebuah argumen dijadikan sebagai faktor esensial dalam argumen tersebut. Contohnya berasal dari kehidupan kalangan kerajaan di Jerman pada abad pertengahan.

Seorang bangsawan mengundang seorang tamu terhormat untuk makan malam. Untuk menghormati sang tamu, tuan rumah menyuruh juru masaknya menyajikan bangau panggang. Si tukang masak adalah tukang masak ulung dan dia memanggang bangau tersebut dengan sempurna. Saking enaknya aroma panggangan, si tukang masak tidak dapat menahan diri lalu memotong salah satu kakinya dan memakannya. Kemudian dia mengatur penyajian panggangan bangau sedemikian sehingga yang tampak dari atas adalah bagian sisinya. Si bangsawan mencoba tetap tenang dan mengabaikan mutilasi yang dialami bangau, lalu melayani tamu seperti biasanya. Namun dia berjanji dalam hati untuk membuat juru masaknya bingung setelah tamu pergi.

Keesokan harinya dia membawa juru masaknya keluar ke halaman istana lalu menunjukkan seekor bangau yang sedang berdiri di sana untuk mengajarnya. Dia berkata kepada si juru masak, “Coba kamu lihat! Bangau punya dua kaki. Kamu apakan kaki bangau yang satunya tadi malam?” Si juru masak kemudian membalas, “Tapi bangau cuma punya satu kaki. Coba liat itu!” Seperti kebiasaan bangau pada umumnya, bangau itu sedang berdiri dengan satu kaki saja. Merasa dia sedang dikerjain dan demi mengalahkan tipuan si juru masak, sang bangsawan bertepuk tangan dan bangau itupun menurunkan kaki yang satunya lalu terbang. Si bangsawan berkata, “Lihat sendiri, bangau punya dua kaki!” Si juru masak membalas, “Tapi tadi malam tuan tidak bertepuk tangan.”

[1] Penterjemah: Contoh yang dikemukakan Clark dalam buku asli kurang cocok dengan konteks Indonesia karena sesat pikir ini adalah masalah bahasa.
[2] Penterjemah: Media online adalah tambahan penterjemah
[3] Penterjemah: Kata “hang together” bisa berarti (1) bersatu atau bisa diartikan sebagai (2) digantung bersama-sama. Konteks saat itu sebenarnya adalah makna (1), tetapi pada anak kalimat kedua Franklin mengemukakan kontradiksi dari makna (2), yaitu digantung sendiri-sendiri.
[4] Penterjemah: Pertanyaan ini bisa berarti, “Apa tujuan utama hidup manusia?’ atau “Apa ujung atas tubuh manusia.”
[5] Penterjemah: Facebook adalah tambahan penterjemah
[6] Penterjemah: Seperti halnya bahasa Indonesia
[7] Penterjemah: Lembaga negara di Amerika Serikat yang menarik pajak dan mengatur tentang penarikan pajak

Catatan: Diterjemahkan dari buku Logic, karya Gordon H. Clark oleh Ma Kuru. Informasi tentang terjemahan ini dapat dilihat di sini. Sampel buku ini dapat diperoleh secara gratis dengan mengklik tautan ini.

Untuk mempelajari lebih lanjut secara mendalam tentang sesat pikir informal, silahkan melihat-lihat buku Detektif Sesat Pikir dari tautan ini.

Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Gordon H. Clark, Logic, Logika, Sesat Pikir Informal, Terjemahan. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s