Pembaharuan Seorang Yahudi Pemberontak – Kesaksian Richard Ganz

rich-13Aku menjalani masa mudaku dengan cara yang tidak menyebabkan rasa iri di antara teman-temanku. Setiap sore selama lima hari dalam seminggu, aku belajar Kitab Suci Ibrani di Sekolah Ibrani. Tempat yang luar biasa untuk menghabiskan masa mudaku bersama dengan Tuan Katz and Tuan Bugatch! Tampaknya mereka berpandangan bahwa belajar Bahasa Ibrani bukanlah hukuman yang cukup memadai, sehingga mereka merasa perlu menambah kenikmatan sadistik mereka pada penderitaan kami yang tampaknya abadi itu. Tiap Hari Jumat malam dan Hari Sabtu, aku berada di Sinagoge untuk penyembahan. Setelah itu, seiring dengan bertambahnya usiaku, aku melakukan penyembahan setiap hari di sinagoge. Setiap hari, aku bangun sebelum fajar menyingsing, dan sebelum kebaktian pagi, mengenakan tefillin (yaitu kotak yang berisi Hukum-Hukum Tuhan) di dahi dan lenganku, sesuai tradisi rabinik Yahudi.

Kemudian pada satu malam cerah di musim dingin, hidupku berantakan. Ayahku mengalami serangan jantung yang fatal dan aku mencari rasa nyaman dan harapan di tempat yang ku pikir aku akan mendapatkannya – yaitu sinagoge. Pintu-pintu tertutup dan saat aku menghantam pintu-pintu tersebut aku memandang ke langit yang dingin dan cerah serta penuh bintang di Kota New York, dan aku mengutuk Allah. “Aku tidak punya urusan dengan-Mu lagi!” kataku. Malam itu, saat aku memalingkan diri dari Allah Israel, Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, tidak ku sadari bahwa Dia tidak meninggalkan aku. Dua belas tahun berikutnya hidupku tidak lagi dijalani di sinagoge. Dalam pemberontakanku melawan Allah, aku sampai melepaskan nama perjanjian yang diberikan padaku saat sunat, yaitu Elkanah. Aku merubah sedikit dengan alasan yang bagiku tampak baik. Aku bukan lagi Elkanah, tetapi Kanah.

Dalam Alkitab, nama bukanlah sesuatu yang acak. Abram berarti, “bapa yang agung.” Nama yang dia dapatkan dari Allah adalah, Abraham, yang berarti, “bapa dari banyak bangsa.” Ketika Abraham berumur 99 tahun dan istrinya Sarah berumur 89 tahun, mereka dijanjikan seorang anak oleh Allah. Menanggapi itu, mereka menertawakan Allah. Setahun kemudian, Sarah melahirkan seorang anak lelaki. Mereka menamai dia Ishak, yang berarti, “tertawa.”

Contoh lain akan betapa pentingnya nama dalam Alkitab adalah tentang Esau dan Yakub. Ketika Yakub dan Esau lahir, Yakub menarik (seolah merampas) tumit kakaknya. Diapun diberi nama Yakub karena apa yang dilakukannya itu. Nama Yakub berarti, “perampas” dan seluruh hidupnya dijalani dengan perampasan. Yakub merampas hak kesulungan. Yakub hidup sesuai dengan namanya ketika dia bertemu dan bergumul dengan Allah. Dia berkata pada Allah, “Aku menginginkan berkat-Mu.” Allah menjawab, “Siapa namamu? Kau menginginkan berkat hai, Perampas? Baiklah. Inilah berkatmu. Namamu tidak akan lagi disebut Perampas. Kau bergumul dengan Allah dan manusia. Kau memang. Namamu bukan lagi Yakub, si Perampas. Kaulah Israel, karena kau bergumul dengan Allah dan menang.”

Nama Ibrani Elkanah berarti, “Milik Allah.” Aku merubahnya menjadi Kanah. Kalau dialihkan ke dalam bahasa Inggris, nama ini adalah Cain (Kain). Artinya “dikuasai.” Selama dua belas tahun berikutnya, aku dikuasai dunia ini serta semua yang ditawarkannya. Aku begitu terobsesi dengan Rich Ganz. Aku menjalani kehidupan yang tampaknya terpuji. Aku melakukan apa yang aku ingin lakukan. Aku tamat universitas dan pendidikan lanjutan. Aku selalu berada di urutan atas. Aku tamat dengan prestasi teratas di angkatanku, dan menyelesaikan gelar Master dan Ph.D serta magang, hanya dalam tiga tahun, bukan seperti biasanya yaitu tujuh tahun.

Kalian tidak bisa keluar dari Athena
Satu waktu dalam pertemuan staf ketika aku menjalani studi pasca doktoral, aku sadar bahwa psikoanalisis, yang selama itu menurutku memberi jawaban bagi kehidupan, sebenarnya murni omong-kosong. Sampai saat itu, aku mencari-cari sejenis terapi – entah individu, kelompok, hipnoterapi, atau jenis terapi lainnya – yang dengannya aku dapat menemukan tujuan kehidupan; yaitu siapa kita sebenarnya serta mengapa kita ada. Alih-alih mendapat jawaban, aku mendapati bahwa semua itu sampah. Namun demikian, aku tidak lagi mencari jawaban akan kehidupan di tempat lain. Secara sinis aku katakan pada diri sendiri bahwa walaupun psikoanalisis tidak bermakna, aku akan menjadi sangat kaya karena jadi praktisi psikoanalisis. Jika kehidupan itu tanpa makna, pikirku, setidaknya aku dapat bersenang-senang karena kaya walaupun kehidupan tak bermakna. Aku hanya perlu duduk di sebuah kursi, mendengarkan pasienku, mengangguk setiap sekian menit, dan meminta bayaran $75 (sekitar Rp. 1 juta) per jam (yaitu tarif tahun 1970-an).

Setelah studi pasca doktoral, aku mendapatkan posisi mengajar, memberi pelatihan, dan membuka praktek psikoterapi di pusat medis sebuah universitas besar di Amerika Serikat. Untuk merayakan terpilihnya aku dari antara 212 pelamar, Nancy dan aku merencanakan sebuah perjalanan. Dua tahun sebelumnya kami bertemu di Venice, Italia. Nancy merencanakan perjalanan ke Yunani. Aku sudah pernah ke Yunani sebelumnya. Musim panas itu, ketika kami bertemu, Nancy tidak sempat ke Yunani. Jadi aku mau membawa, Nancy ke tempat yang dia ingin kunjungi sebelumnya. Kami telah membeli tiket ke Atena, tetapi malam itu ketika hari berikutnya kami akan mengambil tiket, tiba-tiba Nancy terbangun dari sebuah mimpi buruk dan terduduk tegak di tempat tidur. Dia terus saja mengulang-ulang, “Kita tidak bisa keluar dari Atena! Kita tidak bisa keluar dari Atena!” Esok harinya ketika kami pergi mengambil tiket harga mahasiswa yang kami pesan, agen tiket pergi ke kantor lain dan kembali dengan keadaan frustrasi. Dia katakan pada kami bahwa tiket kami bahwa tiket itu akan membawa kami ke Atena, dan dia melanjutkan dengan mengatakan, “Aku tidak dapat membawa kalian kembali dari Atena.” Ternyata semua tiket harga mahasiswa telah dibooking semuanya, sehingga kami tidak mungkin mendapat tiket PP dalam waktu yang dekat dengan saat aku mulai praktek di pusat medis tersebut. Aku sudah berhutang dan tidak punya uang. Pada saat itu aku malah tidak berani berpikir untuk membeli tiket harga penuh.

Nancy mendengarkan tanggapan agen tiket dan menjadi ketakutan. Menurutnya, dia berada dalam kegamangan. Dia percaya bahwa ada sesuatu yang supranatural yang telah terjadi dengan mimpinya dan respon agen tiket tersebut. Satu-satunya interpretasi yang dapat dia berikan adalah bahwa ada sesuatu yang jahat. Dalam tekanan itu, seperti ada yang memaksa sehingga rencana kami berubah sama sekali dari rencana semula tanpa dapat dijelaskan.

Nancy dan aku akhirnya tiba di sebuah kota kecil di Belanda dan mencari-cari tempat penginapan. Setiap penginapan yang kami temui penuh. Tidak ada seorangpun yang kami temui yang mengetahui ada kamar kosong. Kami berada di tepi sungai Rhine, malampun sudah tiba, suhu menjadi dingin, dan Nancy menjadi ketakutan. Kemudian dia melakukan sesuatu yang dia tidak pernah lakukan lagi sejak kecil. Dia berdoa. Doanya sangat sederhana: “Tuhan, jika Engkau ada, tolong tunjukkan kami tempat untuk menginap.” Saat itu, dari kegelapan gang, berjalanlah sesosok orang yang tingginya rata-rata, berwarna berkulit sangat cerah, berambut panjang serta bermata biru. “Tanya dia,” kata Nancy.

Katakan Pada Mereka bahwa Bucks Yang Menyuruh kalian
rich-15Aku benar-benar frustrasi dengan orang-orang di kota itu. Aku lelah bertanya-tanya dimana bisa menginap. Dengan nada hampir marah aku bertanya pada orang itu, “Kamu tahu tempat aku bisa menginap?” Dia menjawab, “Tentu saja. Jalan saja tiga blok ke arah sana, kemudian belok kanan, lanjutkan tiga blok lagi, dan di sana adalah tempat dimana kamu harusnya menginap.” Kami mulai berjalan. Namun aku sadar bahwa aku belum mengetahui nama orang yang menyuruh kami ke tempat tersebut. Aku berlari kembali bertemu orang itu dan bertanya, “Nanti kami bilang siapa yang menyuruh kami ke sana?” “Katakan saja bahwa Bucks menyuruh kalian,” jawabnya. Semuanya tampak aneh, tapi kami mengikuti arah yang dia tunjuk sampai kami tiba di sebuah rumah yang aku tahu sebagai tempat dimana kami seharusnya menginap. Pada saat itu, sepasang orang muda berjalan ke arah kami dan berbelok ke rumah itu. Aku bertanya pada mereka apakah kami bisa menginap di sana malam itu. Mereka mengatakan, “Tentu saja, masuklah.” Hal yang paling menarik terkait dengan undangan mereka adalah bahwa mereka sendiri tidak tinggal di sana! Kami tidak pernah melihat mereka lagi selama sepuluh hari kami menginap di rumah ini. Sekitar sepuluh siswa dari sekolah pengolahan emas dan perak terakhir di Eropa tinggal di rumah ini. Kami menginap di sana selama sepuluh hari.

Selama sepuluh hari di sana, kami bertemu dengan semua orang yang pernah mengatakan kepada kami bahwa tidak ada tempat menginap. Semua orang itu berteman dengan para orang muda yang tinggal di rumah itu. Hanya ada satu orang yang kami tidak pernah lihat sama sekali saat itu. Selama sepuluh hari, kami mencari-cari Bucks. Tidak ada seorangpun di rumah itu dan di kota itu yang pernah mendengar atau mengenal orang yang kami ceritakan. Satu malam diadakan sebuah pesta sekolah dan tidak ada seorangpun di antara para siswa yang pernah bertemu orang muda aneh itu. Lebih dari setahun kemudian aku masih menerima surat dari para siswa yang masih mencoba mencari namun tidak pernah bertemu Bucks.

Pada satu hari, Nancy dan aku memutuskan untuk pergi. Kami juga memutuskan untuk tidak memberi tahu siapapun tentang kepergian kami. Ketika kami membuka pintu, sepasang orang muda sudah berdiri di depan pintu. Pasangan itu adalah pasangan yang mengundang kami menginap di sana sepuluh hari sebelumnya. Mereka memberiku sepucuk kertas dengan alamat tertulis di atasnya, dan mengatakan pada kami “kalian akan bertemu dengan orang yang sangat baik hati” di sana.

Kami tidak tahu nama tempat yang akan kami tuju. Kami berulang-ulang menumpang mobil orang. Akhirnya, kami berjalan kaki di sebuah padang rumput setelah sebuah perjalanan panjang. Aku berteriak, “Kau mau bawa aku kemana?” Nancy memadangi aku dan berkata, “Aku tidak membawamu kemana-mana. Aku bahkan tidak ingin datang ke sini.” Ku katakan padanya, “Aku bukan berbicara padamu.” Dia menatapku dengan gugup. “Lalu kau berbicara dengan siapa?” Yang aku bisa katakan hanyalah, “Aku tidak tahu.”

Kami tiba di alamat yang di atas kertas yang diberikan sekitar jam 5 sore pada Hari Sabtu. Aku telah mempersiapkan penjelasan yang sangat seksama tentang alasan kami tiba ke tempat itu. Namun demikian, sebelum aku mengatakan apapun, pintu terbuka dan kami disapa: “Selamat Datang. Kalian telah tiba.”

Mekanika Kuantum dan Hubungannya dengan Allah
rich-11Kami berjalan masuk ke sebuah rumah dan diarahkan ke dalam sebuah ruang tempat sebuah kuliah baru saja dimulai. Dosennya adalah seorang profesor fisika teoritis dari M.I.T. Penterjemahnya adalah seorang pakar terkenal dari Free University di Amsterdam. Judul kuliah tersebut adalah Mekanika Kuantum dan Hubungannya dengan Allah. Aku tidak tau apa yang mereka sedang bicarakan. Aku justeru lebih paham bahasa Belandanya daripada Bahasa Inggrisnya! Satu hal yang aku sadari dari kuliah tersebut adalah: Setidaknya ada sejumlah orang Kristen yang tidak sebodoh seperti aku sangka.

Setelah kuliah tersebut, seorang pemuda menghampiri kami dan bertanya, “Bagaimana kalian sampai di L’Abri?” Aku bingung, sehingga bertanya, “Apa itu L’Abri?” Dia menjawab, “Inilah L’Abri.” Kemudian dia bertanya bagaimana aku dan Nancy tiba di sana. Aku beritahu sebagian cerita rinci perjalanan kami. Matanya membelalak lebar dan satu-satunya yang dia katakan adalah, “Puji Tuhan.” Saat itu ku pikir apa yang dia katakan tidak bermakna.

Hari demi hari Nancy dan aku menginap di sana. Makanannya enak. Kami tidak perlu membayar untuk menginap di sana. Paling menarik lagi adalah diskusi yang terjadi. Beberapa hari berikutnya sangat menarik. Penuh dengan pembicaraan filosofis dan religius. Sebagai seorang yang tidak memiliki pikiran dan perasaan tentang adanya Tuhan, Aku memandang diriku tidak lebih dari akumulasi acak dari molekul-molekul di dalam sebuah dunia yang konyol dan tak bermakna. Aku mendengar dan berbicara serta mengajukan pertanyaan dan mengejek kepercayaan mereka. Kemudian, pada satu hari, Hans Van Seventer menanyakan apakah dia boleh membaca Alkitab untukku. Aku setuju dan ini yang dia baca:

Sesungguhnya, hamba-Ku akan berhasil, ia akan ditinggikan, disanjung dan dimuliakan. Seperti banyak orang akan tertegun melihat dia–begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi–demikianlah ia akan membuat tercengang banyak bangsa, raja-raja akan mengatupkan mulutnya melihat dia; sebab apa yang tidak diceritakan kepada mereka akan mereka lihat, dan apa yang tidak mereka dengar akan mereka pahami. Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, dan kepada siapakah tangan kekuasaan TUHAN dinyatakan? Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya. Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan.

Sebelumnya aku pernah mendengar ungkapan, “seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan”, namun aku tidak yakin dimana aku mendengarnya. Saat itu, aku tiba-tiba paham apa yang terjadi. Hans membacakan padaku tentang Yesus. Aku berpikir, “Apakah dia tahu apa yang sedang dia lakukan? Berani-beraninya dia membaca ajaran Kristennya pada seorang Yahudi!” Namun aku mencoba bersabar.

Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.

Gambaran lukisan jaman Renaisans muncul di benakku. Aku bukan orang Yahudi kebanyakan. Aku punya gelar doktor. Aku orang berbudaya. Aku pernah melihat lukisan yang ada salib sebelumnya. Aku juga tau bahwa lelaki yang bernama Yesus ini juga dipukul. Hans mencoba membacakan padaku cerita tentang Yesus, dan aku merasakan kemarahan besar mulai muncul di benakku.

Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.

Jadi Yesus yang menanggung dosa kita! Aku sudah mulai tidak tahan. Cara yang begitu tidak bertanggung jawab untuk keluar dari kesalahan. Cara murahan untuk dibanding dengan perawatan psikoanalisa jangka panjang. Bagiku, Hans sedang memberitahu apa yang aku kenal sebagai “Cara Katolik.” Sejak umur tujuh tahun, ketika aku masuk ke sebuah gereja Katolik, dan hal itu terpatri dalam benakku. Aku percaya Yesus adalah seorang Katolik: Skandinavia, sangat lembut, tinggi, kurus, sedikit anoreksia, dengan rambut pirang sutera yang panjang serta pandangan mata biru yang menusuk. Aku sampai di serambi dari Gereja Katolik tersebut dan aku memandangi salah satu patung tersebut serta berpikir bahwa tanah akan terbuka menelanku bulat-bulat. Ku pikir aku akan terkutuk selamanya hanya karena melihat patung. Aku berlari delapan blok untuk menghindarkan diri dari apa yang menurutku dosa yang tak dapat diampuni. Namun orang-orang “Katolik” ini tidak apa-apa. Tidak ada terapi jangka panjang. Yesus membayar dan mereka bebas. Kesepakatan yang luar biasa!

Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya. Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil, dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya? Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup, dan karena pemberontakan umat-Ku ia kena tulah. Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat (dalam bahasa Inggris bukan penjahat, tetapi orang kaya)…

Saat Hans membacakan ini padaku, aku mengingat gambar Yesus di kayu salib, serta dua penjahat di masing-masing sisi-Nya. Tiga salib. Aku tahu semua itu. Aku tidak akan tertipu.

…sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya. Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya.

Orang-orang ini tidak berhenti. Mereka berbicara tentang mitos kebangkitan. Mengapa mereka tidak menerima kenyataan bahwa kalau orang mati, maka dia mati? Dewasalah sedikit! Singkirkan syaraf kalian yang kekanak-kanakan itu dan sadarilah bahwa ketika kalian mati, ya..kalian mati. Itu saja. Pikirku.

Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas; dan hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul. Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan, yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak.

Hans menyelesaikan bacaannya. Dia memandangi aku dan berkata, “Menurutmu bagaimana?”

Saat itu tentu saja aku sudah lebih dari siap untuk mengajar mereka. Jelas si Hans mengutip dari Alkitab kaum kafir. Tanpa ragu-ragu aku menjawab: “Siapapun yang berada di dekat salib saat itu dapat menuliskan kata-kata yang kau baca! Tulisan itu tidak membuktikan apa-apa.”

Hans menyodorkan Alkitab itu padaku, dan dalam waktu seperseribu detik setelah menerimanya, hidupku benar-benar hancur. Nama yang muncul di atas halaman itu adalah Yesaya! Hans rupanya membacakan padaku dari Kitab Suciku sendiri, Kitab Suci Orang Ibrani, dan aku merasa seolah-olah ada yang memegang pedang dan membabat aku berkeping-keping. Kemudian Hans berkata padaku, ketika mataku masih terpaku pada nama, Yesaya, “Tulisan itu dibuat 700 tahun sebelum Yesus lahir.” Aku merasa seolah-olah aku sudah dibunuh mati. Aku merasa diriku mengeluh. Mengapa itu bukan Krishna? Mengapa itu bukan Buddha? Mengapa harus Dia? Aku tahu saat itu juga bahwa Yesus menulis sejarah tentang diri-Nya sendiri dalam Alkitab, dan bahwa jika Allah kaum kafir adalah Allah Orang Yahudi dan Dia benar-benar Allah, maka aku harus menyerahkan segala sesuatu pada Dia sepanjang umurku. Dengan keyakinan seperti inilah aku meninggalkan L’Abri. Aku tidak meragukan Yesus. Namun aku ketakutan akan implikasi hal ini bagiku.

Sekilas Tentang Alkitab
Selama menginap di L’Abri, ada orang yang memberikan Nancy sebuah tape berisi rekaman suara Edith Schaeffer berjudul, Sekilas Tentang Alkitab. Tape ini merupakan gambaran umum tentang tema Alkitab – yaitu Anak Domba Allah – mulai dari Kejadian sampai Wahyu. Sejak awal Nancy, sampai peneguhannya, dia sangat familiar dengan frasa, “Lihatlah Anak Domba Allah.” Dia selalu bertanya dalam hati mengapa Yesus diberi nama tersebut. Seperti halnya aku belajar dari Yesaya bahwa Mesias harus dikorbankan karena dosa, Nancy juga menemukan kebenaran yang sama dari julukan yang diberikan pada Yesus. Setelah mendengar tape itu, Nancy keluar ke perkebunan apel di L’Abri dan menyerahakan hidupnya pada Yesus Kristus.

Vital Addendum
rich-14Aku kembali ke Amerika Serikat dengan semangat yang berkobar-kobar bagi Yeshua, walaupun masih ada yang masih aku tahan. Nancy dan aku menemukan sebuah kelompok kecil yang melakukan pertemuan di dekat rumah kami. Pikiran untuk masuk ke gereja membuatku merasa sakit secara fisik. Namun gagasan untuk melakukan pertemuan di rumah orang, tidak bermasalah buatku. Tampaknya tidak Kristen berada di Katedral dengan patung-patung, serta cara yang Kafir.

Pengajar utama dalam kelompok tersebut mengunjungi Nancy dan aku satu malam dan berbicara padaku tentang apa yang aku sadari saat nama Yesaya muncul dari Alkitab yang menurutku Kitab Orang Kafir. Aku percaya segala sesuatu yang ditulis dalam Tanach tentang Yesus. Yang aku perlu lakukan hanyalah tidak membiarkan ketakutanku membiarkan apapun dalam hidupku menghalangiku dari Dia. Aku bergumul tentang implikasi penyerahan diri selama berbulan-bulan setelah mendengar bacaan dari kitab Yesaya.

Saat kemudian di malam itu, 16 Oktober 1972, Tuan dan Nyonya T. E. Koshy hadir bersama dengan Nancy. Aku bersujud dengan wajah sampai ke lantai ruang tamu kami. Alunan musik yang luar biasa terdengar di latar belakang, saat aku berkomitmen untuk tidak menahan apapun dalam hidupku dari Yeshua.

Catatan: Radio kami dibiarkan nyala. Musik di radio terus beralun sepanjang waktu aku bergumul dan akhirnya tunduk serta bangun kembali. Hal itu begitu mengganguku, sehingga hari berikutnya aku menelepon stasiun radio tersebut untuk mencari tahu lagu apa yang mereka mainkan pada saat itu. Lelaki dari stasiun radio yang memainkan musik itu, mengatakan kepadaku bahwa yang diputar saat itu adalah adalah simfoni kedelapan Gustav Mahler. Aku bertanya, “Apa itu simfoni delapan?” Dia menjawab, “Judulnya Seribu Malaikat.” Aku bertanya lagi, “Seribu apa?” Dia menjawab, “Seribu malaikat.” Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa Mahler, seorang komposer Yahudi, merujuk pada Kitab Suci Perjanjian Baru yang berbicara tentang seribu malaikat di surga yang bersukacita ketika salah satu orang berdosa beriman kepada Yesus. Dia mengatakan bahwa karena alasan tertentu, dia memilih untuk memainkan bagian dari simfoni Mahler tersebut tiga kali berturut-turut malam itu. Saat musik itu dimainkan, merupakan waktu ketika mulai aku bersujud sampai bangkit lagi sebagai seorang manusia baru.

Teman-teman, itulah akhir dari yang lama dan awal dari yang baru.

Diterjemahkan Ma Kuru dari http://richardganz.com/rich-ganz-testimony.php

Pos ini dipublikasikan di Kesaksian Richard Ganz, Terjemahan. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s