Bertrand Russel dan Paradoks

coverDi bawah ini adalah sebagian dari terjemahan Bab 2 buku Language and Theology karya Gordon H. Clark. Bagian yang diangkat di sini adalah pengatar umum tentang tulisan Bertrand Russel dan dan demonstrasi bahwa masalah paradoks yang orang anggap tidak ada penyelesaian (menggunakan bahasa biasa), seperti Paradoks Orang Kreta Pembohong dan Paradoks Tukang Cukur, sebenarnya sangat mudah dipecahkan dengan bahasa biasa.

 

Bab 2. Bertrand Russell

Kesulitan Dalam Memahami Russel
Walaupun dari segi kronologis serta karena kurangnya materi yang konsisten, Bertrand Russell (1872-1970), lebih tepat disebut sebagai pendiri filsafat bahasa moderen daripada kelompok Wina sehingga perlu mendapat perhatian besar, namun hampir mustahil untuk membuat tulisan yang akurat dan lengkap tentang posisi yang dipegang Russel.

Alasan pertama adalah kontribusinya yang besar serta sangat rinci. Begitu rincinya karya Russel sehingga informasi yang lengkap terhadap karyanya akan lebih tebal dari karya Russel sendiri. Alasan kedua adalah ia terlalu sering merubah pandangannya. Mungkin hal ini merupakan bentuk penghormatan atas kejujuran sehingga ia mengakui kesalahan dan mengoreksinya demi menjawab bantahan, dan bantahan tersebut seringkali merupakan bantahannya sendiri. Namun hal ini membebani kritikus untuk menulis bab atau buku tentang Russel I, Russell II, sampai [mungkin] Russell IX. Alasan ketiga yang paling menjengkelkan adalah pengakuannya sendiri bahwa ia belum atau tidak dapat menyatakan apa yang ia maksudkan. Ketika menanggapi Bradley, dalam kaitan dengan kesatuan dan hal sederhana (simples), Russell menyatakan bahwa “topik ini adalah topik yang tidak pantas untuk dibahas mengingat natur bahasa. Karena itu saya harus meminta pengertian pembaca jika yang saya katakan tidak persis sama dengan apa yang saya hendak katakan, dan mencoba memahami apa yang saya maksudkan walaupun ada halangan bahasa yang tak dapat dihindari untuk mengungkap pernyataan yang jelas.”1 Sekali lagi, kita patut menghormati kejujurannya, tetapi hal ini juga bisa menjadi petunjuk bahwa Russel telah terantuk pada sebuah tugas yang mustahil dikerjakan.

Walaupun ada banyak penegasan yang rendah hati tentang kesementaraan pandangannya, Russell cukup tegas “berupaya sampai kapanpun untuk menjadikan pandangan yang saya pegang sebagai hasil tak terelakkan dari data yang mutlak tak terbantahkan.”2 Setelah itu ia menambahkan penegasan singkat, “data yang tidak dapat disangkal sebenarnya selalu kabur dan ambigu.” Bagaimana mungkin ada hal yang dihasilkan secara tidak terelakkan dari sesuatu kabur dan ambigu? Pada halaman berikutnya ia mengakui bahwa “ketika anda beralih dari yang kabur kepada yang seksama menggunakan metode yang saya bicarakan, anda selalu memiliki resiko kesalahan tertentu…. Saya akan terus mengambil banyak resiko besar dan kemungkinannya besar bahwa pernyataan yang seksama yang saya keluarkan tidak benar sama sekali.”

Tulisan lain juga menunjukkan bahwa Russell tidak memahami makna kata yang ia tulis; dan berdasarkan keyakinan dirinya sendiri, pasti tidak ada seorangpun yang mengetahui apa yang ia maksudkan.

Ketika seorang menggunakan satu kata, maka yang ia maksudkan tidak sama dengan yang orang lain maksudkan…. Adalah sesuatu yang fatal jika yang satu orang maksud dengan satu kata sama dengan yang dimaksudkan semua orang lain ketika menggunakan kata tersebut…. Makna yang anda lekatkan pada kata yang anda gunakan pasti bergantung pada natur dari obyek yang anda kenal, sehingga karena tiap orang mengenal obyek yang berbeda, maka mereka tidak mungkin dapat berbicara dengan orang lain kecuali mereka melekatkan makna yang berbeda pada kata-kata yang mereka gunakan [195].

Perhatikan bahwa Russell tidak mengatakan bahwa terkadang orang menggunakan kata dengan makna yang berbeda; ia mengatakan selalu (secara implisit). Mungkin ia berpandangan bahwa pernyataan ‘tidak ada orang yang menggunakan satu kata dengan makna yang sama’ merupakan datum tak terbantahkan. Namun demikian, ada peluang satu atau dua orang cukup berani menyangkali penegasan tersebut. Bagaimanapun keadaannya, berdasarkan prinsip Russell sendiri, tidak seorangpun pembahas tulisannya yang mengetahui apa yang Russel maksudkan.

Mungkin terkadang Russell mengetahui apa yang ia maksudkan; namun terkait dengan hal-hal yang sangat mendasar seringkali ia tidak mengetahui apa yang ia katakan. Setelah meletakkan sebuah “definisi sementara,” ia menambahkan, “[Definisi] ini tidak mutlak benar, tetapi akan memampukan anda memahami makna yang saya gunakan” (196). “Semua kata kita bersifat ambigu” (197).

Ada juga kesulitan lain yang seorang kritikus hadapi kalau membahas tulisan Russel. Kadang-kadang Russell mengeluarkan pernyataan yang ia tarik kembali pada halaman-halaman berikutnya. Karena itu kritikus harus membaca ulang halaman atau bab sebelumnya untuk memeriksa apakah penegasan di bagian setelahnya merubah kekuatan argumen awal. Hal ini tidak mustahil untuk dilakukan, tetapi cukup menjengkelkan. Sebagai contoh, Russel katakan “Tetapi sebuah kepercayaan bisa benar atau salah seperti halnya sebuah proposisi bisa benar atau salah, sehingga anda memiliki fakta-fakta [kepercayaan ini] dalam dunia yang bisa benar atau salah. Saya pernah katakan sebelumnya bahwa tidak ada perbedaan antara benar atau salah di antara fakta, namun dalam kelompok fakta khusus yang kita sebut ‘kepercayaan,’ ada perbedaan [antara benar dan salah]” (227). Di bagian lain Russel menulis, “Supaya ringkas, saya telah berbicara seolah-olah terdapat berbagai hal berbeda. Tentu saja, yang saya katakan itu tidak bermakna sama sekali.” (265). Ijinkanlah saya mengemukakan lagi referensi terakhir terkait dengan hal ini yang berbunyi: “Dalam pengertian tertentu, karya saya yang diterbitkan, dan membahas hal-hal di luar logika matematika, sama sekali tidak sepenuhnya mewakili kepercayaan atau pandangan umum saya.”3

Dilihat secara sangat ketat, referensi-referensi ini menjadikan karya seorang kritikus mustahil serta memustahilkan adanya bermanfaat dari karya kritikus. Tampaknya ini merupakan kesimpulan yang ekstrim dan kurang menyenangkan. Namun demikian Max Black, dalam volume Schilpp (229231), mengatakan hal yang sama dengan yang penulis katakan, tetapi menggunakan kata-kata yang lebih halus. Akan tetapi, Max Black dan penulis dengan senang hati mengakui bahwa Russell I sampai Russell IX dapat memberi masukan pemikiran yang berharga, bukan bagi kritik atau sejarawan seperti yang dikatakan tadi, tetapi bagi pemikir konstruktif untuk mengembangkan posisinya sendiri, asalkan si pemikir konstruktif tersebut dengan sepenuh hati menolak proposisi Russel bahwa tidak ada dua orang yang menggunakan kata [yang sama] dengan makna yang sama.

Perlunya Sebuah Bahasa Baru
Eksposisi terhadap filsafat Russell dalam tulisan ini, harus sedekat mungkin hubungannya dengan pandangannya tentang bahasa. Namun setiap teori bahasa akan cepat bercampur dengan psikologi, logika, dan mungkin juga metafisika, dan terlebih lagi epistemologi. Semua bidang ini tentu saja menggunakan bahasa, dan sebagian besar filsuf menulis dalam bahasa Inggris, Perancis, Jerman, atau Yunani. Bahasa Yunani yang Aristotle gunakan sedikit bersifat teknis, sedangkan Bahasa Yunani yang digunakan Plato adalah “bahasa biasa,” walaupun gaya bahasanya bersifat sastra. Namun Russell memandang bahasa biasa sebagai sebuah kebingungan dan membingungkan sehingga bisa membawa malapetaka bagi filsafat. Karena itu perlu ada bahasa baru.

Sebagai contoh, Russell menyatakan,

Sangat sulit menjelaskan hal ini selama orang berpegang pada bahasa biasa, karena bahasa biasa berakar dalam perasaan tertentu tentang logika, yaitu perasaan tertentu yang dimiliki nenek moyang kita pada jaman purba, dan selama anda tetap mempertahankan bahasa biasa [yang pada saat tertentu Russel dapat gunakan dengan efek sastra yang luar biasa], maka anda akan sangat kesulitan untuk melepaskan diri dari bias yang dipaksakan/ditanamkan kepada anda melalui bahasa.4

Kalimat panjang ini menyinggung psikologi dari orang-orang jaman purba, yang mengakibatkan biasnya dalam asal-usul bahasa dan dalam konteks ini dalam kaitan antara fungsi proposisi dengan proposisi dan dindividu. Pada titik ini kutipan di atas hanya untuk menunjukkan penolakan Russel terhadap bahasa biasa dan keinginannya untuk menciptakan bahasa ideal artifisial. Dia menekankan hal ini dalam paragraf berikut dengan mengatakan, “Menurut saya tak terkira banyaknya filsafat palsu yang muncul akibat ketidaksadaran tentang apa makna dari kata ‘keberadaan’.” Di antara kedua kalimat tersebut ia mengatakan, “Satu-satunya cara anda dapat menyatakannya secara tepat adalah dengan menciptakan bahasa baru ad hoc….”

Sekali lagi, pada bagian “Atomisme Logis” dalam buku Logical Positivism (A.J. Ayer, editor, 36), Russell mengatakan, “argumen ontologis dan sebagian besar bantahan terhadapnya bergantung pada tata bahasa yang buruk” (lihat Principia Mathematica, 14). Tentu saja Russel tidak bermaksud mengatakan bahwa Anselmus menggunakan split infinitives atau Kant gagal menyesuaikan bentuk kata sifat dengan jenis subyek. Namun bagi Russell Tata Bahasa lebih dari sekedar tata bahasa, karena kata-kata bahasa biasa tidak seksama. Di tempat lain dia menunjukkan betapa membingungkannya kalau dikatakan, “Scott adalah penulis Waverley,” dan “semua manusia adalah makhluk fana.” Apa yang diungkap kiranya cukup untuk menunjukkan bahwa Russel ingin menciptakan bahasa artifisial dan menghindari paradoks bahasa ibu.

Kesulitan Bahasa Biasa
Penegasan-penegasan di atas akan perlunya bahasa ideal yang baru dan artifisial membawa kita kepada substansi dari argumennya. Pertanyaan pertama adalah, paradoks apa tepatnya yang membutuhkan solusi? Setiap orang mengetahui bahwa bahasa dan ungkapan penuh dangan ambiguitas dan kesalah-pahaman. Hal ini terjadi setiap hari. Namun tidak berarti bahwa setiap kasus seperti ini merupakan kunci, atau gembok bagi masalah besar metafisika yang lebih mendalam. Setidaknya ada kemungkinan bahwa berdasarkan pemeriksaan lebih lanjut, sebagian dari yang Russel angkat sebagai kesulitan hanyalah masalah sepele. Sebagian lagi sudah diketahui sebagai sulit dan bahkan memalukan. Orang yang sudah mempelajari filsafat abad pertengahan, atau yang memahami tentang sejarah logika, mengetahui tentang insolubilia – yaitu masalah yang begitu sulit sehingga mustahil ada solusi. Russell percaya bahwa masalah-masalah tersebut dapat dipecahkan. Namun pengeritik Russel bertanya, tidak dapatkah masalah itu dipecahkan menggunakan bahasa biasa? Apakah mungkin untuk menyingkirkan bahasa biasa? Jika kedua pertanyaan ini berturut-turut dijawab dengan, “Tidak” dan “Ya”, maka masih ada pertanyaan terakhir, yaitu Apakah bahasa artifisial Russell berhasil memecahkannya? Pembahasan berikut bisa mengindikasikan bahwa pada saat tertentu bahasa Russel justeru lebih buruk dari bahasa yang dia singkirkan.

Mari kita perhatikan sejumlah kesulitan spesifik, mulai dari insolubilia standar abad pertengahan yang Russell sebutkan, yaitu masalah Orang Kreta Pembohong. Masalah ini mengasumsikan bahwa orang Kreta tidak pernah jujur sama sekali. Semua yang mereka katakan adalah bohong. Tetapi kita bertemu dengan orang Kreta yang berkata, “Aku adalah Pembohong.” Namun kalau pernyataan ini benar, seperti biasanya diasumsikan, pastilah pernyataan ini salah. Lebih buruk lagi, jika salah, maka pasti pernyataan ini benar, karena jika si pembohong berbohong, berarti dia mengatakan kebenaran.

Pembohong biasa, terkadang berbicara benar; dan ketika orang seperti itu mengatakan, “Aku pembohong,” maka dia sedang menyatakan kebenaran yang tidak paradoks. Tetapi kita berasumsi bahwa Orang Kreta hanya mengatakan kebohongan. Sebelum kita melihat solusi Russell, dan membahas kesulitan lain, perlu ditunjukkan bahwa bahasa biasa mampu menjawab masalah ini: Kalau diasumsikan bahwa Orang Kreta hanya bisa berbohong, maka mustahil Orang Kreta berkata, “Aku pembohong.” Yang disebut paradoks ini hanya bisa terjadi kalau si pembuat paradoks menegaskan dua pernyataan kontradiktif. Mustahil kedua pernyataan itu benar. Karena itu, jika orang yang hendak membuat kita bingung tersebut ingin mengatakan sesuatu yang bermakna, maka dia harus memilih antara menegaskan bahwa Semua Orang Kreta hanya menyatakan kebohongan dan penegasan bahwa ada satu orang Kreta yang berkata, “Aku pembohong.” Hukum logika, khususnya hukum kontradiksi, tidak memperbolehkan penganut insolubilia mengemukakan kedua pernyataan tersebut. Jika tidak mengemukakan pernyataan tersebut, maka tidak ada kesulitan. Singkatnya: Tidak ada orang Kreta yang hanya bisa berbohong yang akan mengakui bahwa dia adalah pembohong.

Di samping itu ada juga teka-teki cerdas tentang tukang cukur yang hanya bisa mencukur semua orang yang tidak mencukur diri sendiri. Apakah tukang cukur ini mencukur diri sendiri atau tidak? Tentu saja kalau dia mencukur diri sendiri, maka dia tidak dapat mencukur diri sendiri, karena dia hanya mencukur orang-orang yang tidak mencukur diri sendiri. Tetapi kalau dia tidak mencukur diri sendiri, dia pasti mencukur diri sendiri, karena dia mencukur semua orang yang tidak mencukur diri sendiri. Russell mengakui bahwa teka-teki ini tidak terlalu sulit untuk dipecahkan; namun bagi penulis ada solusi lain yang lebih mudah daripada solusi yang ditawarkan Russell. Seperti halnya teka-teki Orang Kreta Pembohong, teka-teki inipun merupakan kasus kontradiksi yang disamarkan. Asumsi-asumsinya atau persyaratan-persyaratannya secara logis tidak saling kompatibel. Tidak ada paradoks. Yang dilakukan orang yang mengemukakan teka-teki ini hanyalah mengemukakan dua pernyataan kontradiktif yang tidak mungkin sama-sama benar. Karena itu, tidak perlu ada bahasa artifisial ideal yang penuh dengan rumus yang rumit. Namun Russell ingin menghubungkannya dengan bentuk-bentuk lain yang mirip dengan argumen “Orang Ketiga”-nya Plato.

Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Gordon H. Clark, Language and Theology, Terjemahan, The Liar Paradox. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s