Analisa Clark Mengenai Pandangan Bertrand Russel Tentang Bahasa

coverDi bawah ini adalah terjemahan analisa Gordon H. Clark terhadap pandangan Bertrand Russel tentang bahasa dan logika. Tulisan ini sangat bagus karena Clark menganalisa pandangan Russel bahwa bahasa biasa tidak memadai dan perlu ada bahasa baru. Terjemahan ini adalah revisi dari versi sebelumnya, tetapi tidak menutup kemungkinan masih ada kesalahan yang terlewatkan. Bagian ini adalah Bab 2 dari buku Language and Theology, karya Clark.

BAB 2

Bertrand Russell

Kesulitan Dalam Memahami Russel
Walaupun dari segi kronologis serta karena kurangnya materi yang konsisten, Bertrand Russell (1872-1970), lebih tepat disebut sebagai pendiri filsafat bahasa moderen daripada kelompok Wina, sehingga perlu mendapat perhatian besar, namun hampir mustahil untuk membuat tulisan yang akurat dan lengkap tentang posisi yang dipegang Russel.

Alasan pertama adalah kontribusinya yang besar serta sangat rinci. Begitu rincinya karya Russel sehingga informasi yang lengkap terhadap karyanya akan lebih tebal dari karya Russel sendiri. Alasan kedua adalah ia terlalu sering merubah pandangannya. Mungkin hal ini merupakan bentuk penghormatan atas kejujuran sehingga ia mengakui kesalahan dan mengoreksinya demi menjawab bantahan-bantahan, yang seringkali merupakan bantahan Russel sendiri. Namun hal ini membebani kritikus untuk menulis bab atau buku tentang Russel I, Russell II, sampai Russell IX. Alasan ketiga yang paling menjengkelkan adalah pengakuannya sendiri bahwa ia belum atau tidak dapat menyatakan apa yang ia maksudkan. Ketika menanggapi Bradley, dalam kaitan dengan kesatuan dan hal sederhana (simples), Russell menyatakan bahwa “topik ini adalah topik yang tidak pantas untuk dibahas mengingat natur bahasa. Karena itu saya harus meminta pengertian pembaca jika yang saya katakan tidak persis sama dengan apa yang saya hendak katakan, dan mencoba memahami apa yang saya maksudkan walaupun ada halangan bahasa yang tak dapat dihindari untuk mengungkapnya dalam pernyataan yang jelas.”1 Sekali lagi, kita patut menghormati kejujurannya, tetapi hal ini bisa menjadi petunjuk bahwa Russel telah terantuk pada sebuah tugas yang mustahil untuk dilaksanakan.

Walaupun ada banyak penegasan yang rendah hati tentang kesementaraan pandangannya, Russell cukup tegas “berupaya sampai kapanpun untuk menjadikan pandangan yang saya pegang sebagai hasiltak terelakkan dari data yang mutlak tak terbantahkan.”2 Setelah itu ia menambahkan penegasan singkat, “data yang tidak dapat disangkal sebenarnya selalu kabur dan ambigu.” Bagaimana mungkin ada hal yang dihasilkan secara tidak terelakkan dari sesuatu yang kabur dan ambigu? Pada halaman berikutnya ia mengakui bahwa “ketika anda beralih dari yang kabur kepada yang jelas/seksama menggunakan metode yang saya bicarakan, selalu ada resiko kesalahan tertentu…. Saya akan terus mengambil banyak resiko besar dan kemungkinannya besar bahwa pernyataan yang jelas yang saya keluarkan tidak benar sama sekali.”

Tulisan lain juga menunjukkan bahwa Russell tidak memahami makna kata yang ia tulis; dan berdasarkan keyakinan dirinya sendiri, pasti tidak ada seorangpun yang mengetahui apa yang ia maksudkan.

Ketika seorang menggunakan satu kata, yang ia maksudkan tidak sama dengan yang orang lain maksudkan…. Adalah sesuatu yang fatal jika yang seorang maksud sama dengan yang dimaksudkan semua orang lain….Makna yang anda lekatkan pada kata yang anda gunakan pasti bergantung pada natur dari obyek yang anda kenal, sehingga karena tiap orang mengenal obyek yang berbeda, maka mereka tidak mungkin dapat berbicara dengan orang lain kecuali mereka melekatkan makna yang berbeda pada kata-kata yang mereka gunakan [195].

Perhatikan bahwa Russell tidak mengatakan bahwa terkadang orang menggunakan kata dengan makna yang berbeda; ia mengatakan selalu(secara implisit). Mungkin ia berpandangan bahwa pernyataan “tidak ada orang yang menggunakan satu kata dengan makna yang sama” merupakan datum tak terbantahkan. Namun demikian, ada peluang satu atau dua orang cukup berani menyangkali penegasan tersebut.Bagaimanapun, berdasarkan prinsip Russell sendiri, tidak seorangpun pembahas tulisannya yang mengetahui apa yang Russel maksudkan.

Mungkin terkadang Russell mengetahui apa yang ia maksudkan; namun terkait dengan hal-hal yang sangat mendasar seringkali ia tidak mengetahui apa yang ia katakan. Setelah mengemukakan sebuah “definisi sementara,” ia menambahkan, “[Definisi] ini tidak mutlak benar, tetapi akan memampukan anda memahami makna yang saya gunakan” (196). “Semua kata kita bersifat ambigu” (197).

Ada kesulitan lain lagi yang seorang kritikus hadapi ketika membahas tulisan Russel. Kadang-kadang Russell mengeluarkan pernyataan yang ia tarik kembali pada halaman-halaman berikutnya. Karena itu kritikus harus membaca ulang halaman atau bab sebelumnya untuk memeriksa apakah penegasan di bagian setelahnya merubah kekuatan argumen awal. Meskipun bukan sesuatu yang mustahil untuk dilakukan, tetapi hal ini cukup menjengkelkan. Sebagai contoh, Russel katakan “Tetapi sebuah kepercayaan bisa benar atau salah seperti halnya sebuah proposisi bisa benar atau salah, sehingga anda memiliki fakta-fakta [kepercayaan ini] dalam dunia, yang bisa benar atau salah. Saya pernah katakan sebelumnya bahwa dalam fakta tidak ada perbedaan antara benar atau salah. Namun dalam kelompok fakta khusus yang kita sebut ‘kepercayaan,’ ada perbedaan [antara benar dan salah].” (227). Di bagian lain Russel menulis, “Supaya ringkas, saya telah berbicara seolah-olah terdapat berbagai hal berbeda. Tentu saja, yang saya katakan itu tidak bermakna” (265). Ijinkan saya mengemukakan lagi referensi terakhir mengenai hal ini, yang berbunyi: “Dalam pengertian tertentu, karya saya yang diterbitkan dan membahas hal-hal di luar logika matematika, sama sekali tidak sepenuhnya mewakili kepercayaan atau pandangan umum saya.”3

Dilihat secara sangat ketat, referensi-referensi ini memustahilkan seorang kritikus menganalisa pandangan Russel serta kalaupun dilakukan analisa, mustahil analisa itu bermanfaat. Tampaknya ini merupakan kesimpulan yang ekstrim dan kurang ada rasa hormat. Namun demikian Max Black, dalam volume Schilpp (229-231), mengatakan hal yang sama dengan yang penulis katakan, namun Black menggunakan kata-kata yang lebih halus. Akan tetapi, Max Black dan penulis dengan senang hati mengakui bahwa Russell I sampai Russell IX dapat memberi masukan pemikiran yang berharga, bukan bagi kritikus atau sejarawan seperti yang dikatakan tadi, tetapi bagi pemikir konstruktif untuk mengembangkan posisinya sendiri, asalkan si pemikir konstruktif tersebut dengan sepenuh hati menolak proposisi Russel bahwa tidak ada dua orang yang menggunakan kata [yang sama] dengan makna yang sama.

Perlunya Sebuah Bahasa Baru
Eksposisi terhadap filsafat Russell dalam tulisan ini, harus seerat mungkin kaitannya dengan pandangannya tentang bahasa. Namun setiap teori bahasa akan segera akan bercampur dengan psikologi, logika, dan mungkin juga metafisika, dan terlebih lagi epistemologi. Semua bidang ini tentu saja menggunakan bahasa, dan sebagian besar filsuf menulis dalam bahasa Inggris, Perancis, Jerman, atau Yunani. Bahasa Yunani yang Aristotle gunakan sedikit bersifat teknis, sedangkan Bahasa Yunani yang digunakan Plato adalah “bahasa biasa,”walaupun gaya bahasanya bersifat sastra. Namun Russell memandang bahasa biasa sebagai sebuah kebingungan yang membingungkan sehingga bisa membawa malapetaka bagi filsafat. Karena itu perlu ada bahasa baru.

Sebagai contoh, Russell menyatakan,
Sangat sulit menjelaskan hal ini selama orang berpegang pada bahasa biasa, karena bahasa biasa berakar dalam perasaan tertentu tentang logika, yaitu perasaan tertentu yang dimiliki nenek moyang kita di jaman purba, dan selama anda tetap mempertahankan bahasa biasa [yang pada saat tertentu Russel dapat gunakan dengan efek sastra yang luar biasa], maka anda akan sangat kesulitan untuk melepaskan diri dari bias yang dipaksakan/ditanamkan kepada anda melalui bahasa.4

Kalimat panjang ini menyinggung psikologi dari orang-orang jaman purba, yang mengakibatkan bias mereka dalam asal-usul bahasa dan dalam konteks ini dalam kaitan antara fungsi proposisi dengan proposisi dan individu. Pada titik ini kutipan di atas hanya untuk menunjukkan penolakan Russel terhadap bahasa biasa dan keinginannya untuk menciptakan bahasa ideal artifisial. Dia menekankan hal ini dalam paragraf berikut dengan mengatakan, “Menurut saya tak terkira banyaknya filsafat palsu yang muncul akibat ketidaksadaran tentang makna dari kata ‘keberadaan’.” Di antara kedua kalimat tersebut ia mengatakan, “Satu-satunya cara anda dapat menyatakannya secara tepat adalah dengan menciptakan ad hoc bahasa baru ….”

Sekali lagi, pada bagian “Logical Atomism” dalam tulisan berjudulLogical Positivism (A.J. Ayer, editor, 36), Russell mengatakan, “argumen ontologis dan sebagian besar bantahan terhadapnya bergantung pada tata bahasa yang buruk” (lihat Principia Mathematica,14). Tentu saja Russel tidak bermaksud mengatakan bahwa Anselmus menggunakan split infinitives atau Kant gagal menyesuaikan bentuk kata sifat dengan jenis subyek. Namun bagi Russell Tata Bahasa lebih dari sekedar tata bahasa, karena kata-kata bahasa biasa tidak seksama. Di tempat lain dia menunjukkan betapa membingungkannya kalau dikatakan, “Scott adalah penulis Waverley,” dan “semua manusia adalah makhluk fana.” Namun apa yang diungkap di sini kiranya cukup untuk menunjukkan bahwa Russel ingin menciptakan bahasa artifisial dan menghindari paradoks bahasa ibu.

Kesulitan Bahasa Biasa
Penegasan-penegasan di atas akan perlunya bahasa ideal yang baru dan artifisial membawa kita kepada substansi dari argumennya. Pertanyaan pertama adalah, paradoks apa tepatnya yang membutuhkan solusi? Setiap orang mengetahui bahwa bahasa dan ungkapan penuh dangan ambiguitas dan kesalah-pahaman. Hal ini terjadi setiap hari. Namun tidak berarti bahwa setiap kasus seperti ini merupakan kunci, atau gembok bagi masalah besar metafisika yang lebih mendalam. Setidaknya ada kemungkinan bahwa berdasarkan pemeriksaan lebih lanjut, sebagian dari yang Russel angkat sebagai kesulitan hanyalah masalah sepele. Sebagian lagi sudah diketahui sebagai sulit dan bahkan memalukan. Orang yang sudah mempelajari filsafat abad pertengahan, atau yang memahami tentang sejarah logika, mengetahui tentanginsolubilia – yaitu masalah yang begitu sulitnya sehingga mustahil ada solusi. Russell percaya bahwa masalah-masalah tersebut dapat dipecahkan. Namun pengeritik Russel bertanya, tidak dapatkah masalah itu dipecahkan menggunakan bahasa biasa? Apakah mungkin untuk menyingkirkan bahasa biasa? Jika kedua pertanyaan ini berturut-turut dijawab dengan, “Tidak” dan “Ya”, maka masih ada pertanyaan terakhir, yaitu Apakah bahasa artifisial Russell berhasil memecahkannya? Pembahasan berikut bisa mengindikasikan bahwa pada saat tertentu bahasa Russel justeru lebih buruk dari bahasa yang dia singkirkan.

Mari kita perhatikan sejumlah kesulitan spesifik, mulai dariinsolubilia standar abad pertengahan yang Russell sebutkan, yaitu masalah Orang Kreta Pembohong. Masalah ini mengasumsikan bahwa orang Kreta tidak pernah jujur sama sekali. Semua yang mereka katakan adalah bohong. Tetapi kita bertemu dengan seorang Kreta yang berkata, “Aku adalah Pembohong.” Kalau pernyataan ini benar, seperti biasanya diasumsikan, pastilah pernyataan ini salah. Lebih buruk lagi, jika salah, maka pasti pernyataan ini benar, karena jika si pembohong berbohong, berarti dia mengatakan kebenaran.

Pembohong biasa, terkadang berbicara benar/jujur; dan ketika orang seperti itu mengatakan, “Aku pembohong,” maka dia sedang menyatakan kebenaran yang tidak paradoks. Namun kita sudah berasumsi bahwa Orang Kreta hanya mengatakan kebohongan. Sebelum kita melihat solusi Russell, dan membahas kesulitan lain, perlu ditunjukkan bahwa bahasa biasa mampu menjawab masalah ini: Kalau diasumsikan bahwa Orang Kreta hanya bisa berbohong, maka mustahil ada Orang Kreta berkata, “Aku pembohong.” Yang disebut paradoks ini hanya bisa terjadi kalau si pembuat paradoks menegaskan dua pernyataan kontradiktif. Mustahil kedua pernyataan itu benar. Karena itu, jika orang yang ingin membuat kita bingung tersebut mengatakan sesuatu yang bermakna, maka dia harus memilih antara menegaskan bahwa Semua Orang Kreta hanya menyatakan kebohongan dan menegaskan bahwa ada satu orang Kreta yang berkata, “Aku pembohong.” Hukum logika, khususnya hukum kontradiksi, tidak memperbolehkan penganut insolubilia mengemukakan kedua pernyataan tersebut bersama-sama. Jika tidak mengemukakan kedua pernyataan tersebut bersama-sama, maka tidak ada kesulitan. Singkatnya: Tidak ada orang Kreta yang hanya bisa berbohong yang akan mengakui bahwa dia adalah pembohong.

Di samping itu ada juga teka-teki cerdas tentang tukang cukur yang hanya bisa mencukur semua orang yang tidak mencukur diri sendiri. Apakah tukang cukur ini mencukur diri sendiri atau tidak? Tentu saja kalau dia mencukur diri sendiri, maka dia tidak dapat mencukur diri sendiri, karena dia hanya mencukur orang-orang yang tidak mencukur diri sendiri. Tetapi kalau dia tidak mencukur diri sendiri, dia pasti mencukur diri sendiri, karena dia mencukur semua orang yang tidak mencukur diri sendiri. Russell mengakui bahwa teka-teki ini tidak terlalu sulit untuk dipecahkan; namun bagi penulis ada solusi lain yang lebih mudah daripada solusi yang ditawarkan Russell. Seperti halnya teka-teki Orang Kreta Pembohong, teka-teki inipun merupakan kasus kontradiksi yang disamarkan. Asumsi-asumsinya atau persyaratan-persyaratannya secara logis tidak saling kompatibel. Tidak ada paradoks. Yang dilakukan orang yang mengemukakan teka-teki ini hanyalah mengemukakan dua pernyataan kontradiktif yang tidak mungkin sama-sama benar. Karena itu, tidak perlu ada bahasa artifisial ideal yang penuh dengan rumus yang rumit. Namun Russell ingin menghubungkannya dengan bentuk-bentuk lain yang mirip dengan argumen “Orang Ketiga”-nya Plato.

Sebelum masalah kuno dan lebih rumit ini dibahas, akan dikemukakan beberapa bahan pertimbangan awal sebagai materi persiapan. Setiap materi ini selangkah demi selangkah membawa kita ke materi yang lebih teknis. Materi ini terkait dengan “bentuk murni dari semua proposisi umum” – yang dikembangkan Russel. Sebuah proposisi yang sepenuhnya umum adalah proposisi yang hanya mengandung variabel. Russell mengemukakan sejumlah generalisasi berurutan berikut:

Socrates mengasihi Plato.
x mengasihi Plato.
x mengasihi y.
x Ry.

Seperti halnya x yang bisa berarti siapapun atau apapun, R pun bisa berarti hubungan apapun. Bentuk akhirnya begitu umum sehingga disebut bentuk murni dari semua proposisi umum. Russel kemudian melanjutkan, “Andaikan saya katakan: ‘x R y berimplikasi bahwa xadalah bagian dari domain R….’ anda mungkin berpikir bahwa bentuk itu memiliki kata-kata seperti ‘bagian’ dan ‘domain’ [dan kita juga bisa menambahkan ‘berimplikasi’]. Tetapi sebenarnya tidaklah demikian. Kebiasaan menggunakan bahasa biasalah yang membuat kata-kata ini muncul [dalam pikiran kita]. Kata-kata itu tidak benar-benar ada di sana.”5 Orang mungkin dapat dimaafkan kalau berpikir bahwa kata-kata itu ada di sana; namun kita perlu mempertimbangkan hal lain sebelum mulai mengeritik hal ini.

Contoh kebingungan lain akibat bahasa biasa dibahas dalam Kuliah VI, “Descriptions and Incomplete Symbols.” Russell ingin membedakan antara nama dan penggambaran. Terdapat beberapa contoh yang diangkat; misalnya, “Romulus sebenarnya bukan nama, tetapi merupakan sejenis gambaran/deskripsi yang terputus / tak lengkap.” Namun lebih banyak perhatian diberikan kepada “Scott,” yang jelas terkadang merupakan sebuah nama, dan “penulis buku Waverley,” yang jelas merupakan sebuah penggambaran atau deskripsi. Alasan bahwa frasa ini bukan nama adalah orang yang memahami kata bahasa Inggrisnya secara terpisah juga segera memahami frasa ini. Tetapi kata “Scott” tidak memberikan informasi sama sekali. Dengan kata lain, masing-masing kata dalam frasa “penulis buku Waverley,” sudah memiliki makna tetap sendiri yang tertanam dalam bahasa biasa, sebelum digabungkan menjadi frasa ini. Namun walaupun semua kata Bahasa Inggris lain memiliki makna tetap, tetapi tidak bisa menyediakan makna bagi “Scott.”

Tidak ada yang mengejutkan maupun bermanfaat dari pembedaan antara nama dari frasa, kecuali Russell ingin melanjutkan analisa terhadap pernyataan “Scott adalah penulis buku Waverley.” Di satu bagian dalam analisanya, ia mengatakan: Terdapat sebuah entitas c sedemikian hingga pernyataan “x menulis buku Waverley,” benar jika xadalah c dan salah jika sebaliknya; serta c adalah Scott. Bagi mereka yang awam, ini kedengaran meragukan, dan tentu kelihatan janggal. Tentu saja pernyataan itu bukanlah perbaikan terhadap bahasa biasa. Namun ada hal yang tidak janggal maupun sepele adalah kesimpulan Russel bahwa yang dikemukakannya memperjelas kebingungan yang sudah berlangsung selama dua ribu tahun mulai dari Theaetetus-nya Plato, terkait “keberadaan”.

Perlu pembahasan lebih lanjut tentang Sir Walter untuk menjelaskan tentang bagaimana konsep keberadaan muncul dalam pembicaraan ini. Perlu juga untuk menjelaskan makna kata adalah (is). Dalam “ Logical Atomism” Russel mengeluh bahwa bahasa-bahasa di Barat dikonstruksi dalam bentuk subyek-predikat. Bahasa Non-Arya tidak memerlukan subyek dan predikat, kecuali dalam hubungan dengan teologi Budhisme.6 Inilah yang bertanggung jawab bagi adanya logika subyek-predikat dan metafisika substansi-atribut dalam filsafat Yunani.

Sebelum kembali ke Scott, mungkin perlu dicatat bahwa si Sokrates tua yang malang mengalami kesulitan menjelaskan kepada sesama orang Yunani tentang perbedaan antara sesuatu yang universal dan satu individu. Bahkan setelah Hippias mengakui bahwa keadilan, hikmat, dan kebaikan adalah “sesuatu,” dan bahwa kecantikan adalah “sesuatu yang nyata,” dia menjawab pertanyaan yang berbunyi , “Apa itu keindahan – bukan apa itu hal yang indah?” (ού τι έστι χαλον αλλ ό τι έστι το χαλον), dengan jawaban “gadis cantik” (Greater Hippias, 287c-3). Tidak mungkinkah bahwa sebenarnya rasionalitas manusialah yang mengakibatkan manusia menggunakan subyek dan predikat, dan bukannya subyek dan predikat yang telah menipu kita terkait dengan hal yang universal?7

Karena itu Sir Walter Scott, serta keberadaan dan analisa proposisi, harus terus dibahas. Pembuktian Russel bahwa frase bukanlah nama adalah sebagai berikut: “Dalam ‘Scott adalah penulis Waverley,’ kata ‘adalah’ jelas menyatakan identitas, yaitu entitas yang namanya adalah Scott identik dengan penulis Waverley. Namun ketika saya katakan ‘Scott adalah makhluk fana’ kata ‘adalah’ di sini merupakan ‘adalah’ predikasi, yang berbeda dari kata ‘adalah’ identitas.”8

Hal berikut yang akan dibahas di antara beberapa hal ini, yang semuanya saling terkait satu dengan yang lainnya, adalah pembedaan yang Russell lakukan antara kata kerja dan kopula. Logika tradisional mereduksi kalimat yang mengandung kata kerja seperti, “Manusia berpikir,” menjadi “Manusia adalah pemikir.” “Manusia” adalah subyeknya, dan “pemikir” adalah predikatnya. Karena itu semua argumen dapat disimbolkan dan diuji validitasnya dengan menyusun bentuk seperti “A(ba) A(cb) berimplikasi A(ca).” Bagi Russell skema subyek-kopula-predikat (kalau tidak secara valid, setidaknya secara psikologis) telah membawa para filsuf ke dalam kebingungan substansialisme. Jika kesalahan tersebut hanya bersifat psikologis, maka kesalahan tersebut menjadi tidak relevan. Setiap orang melakukan kesalahan. Russell seharusnya menegaskan bahwa skema subyek-kopula-predikat memaksakan metafisik Aristotel pada mereka yang menggunakannya. Pernyataan ini tidak kredibel. Namun demikian, bagaimanapun keadaannya, masalah yang lebih luas membawa perhatian kita pada sebuah pertanyaan yaitu apakah proposisi selalu memiliki predikat, atau apakah terkadang kata kerja biasa tidak dapat direduksi menjadi predikat.

Salah satu contoh Russell dimana analisa kopula-predikat tidak cocok adalah hubungan “lebih besar dari”, misalnya; “tiga lebih besar daripada dua.” Contoh ini dikutip dalam sebuah paragraf yang membantah teori hubungan internal Hegel yang menyeluruh. Hubungan simetris diadikmemang dapat direduksi menjadi kesamaan predikat; namun hal itu mustahil dilakukan dalam hubungan asimetris. Kemustahilan ini, menurut Russel, “merupakan hal yang sangat penting … karena banyak filsafat tradisional bergantung pada asumsi bahwa setiap proposisi sebenarnya memiliki bentuk subyek-predikat, padahal asumsi itu tidaklah tepat” (Marsh, 207).

Untuk memberi penawar pada penegasan Russell tersebut, akan dikemukakan contoh hubungan asimetris yang direduksi menjadi skema subyek-kopula-predikat. Kita ambil contoh penarikan kesimpulan ini: Tiga adalah lebih besar daripada dua, dua adalah lebih besar dari pada satu, karena itu tiga adalah lebih besar daripada satu. Kata “adalah” di sini bukanlah kopula, tetapi bagian frasa “adalah lebih besar daripada.” Penarikan kesimpulan ini tidak bersifat silogistik karena jika kita menaruh kopula sehingga menjadi,

(Tiga) adalah (lebih besar daripada dua)
(Dua) adalah (lebih besar daripada satu)

maka tidak ada term tengah. Namun demikian, hal ini tidak berarti mustahil mengemukakan argumen tersebut dalam bentuk silogistik, yaitu,

Semua tiga adalah lebih besar daripada dua;
Semua yang lebih besar daripada dua adalah lebih besar daripada satu;
Karena itu, semua tiga adalah lebih besar dari satu.

Seperti dikatakan sebelumnya, salah satu alasan Russell berkeinginan menggunakan kata kerja menggantikan kopula adalah bahwa bentuk kopula membawa kita ke konsep Aristotle mengenai substansi. Namun tidak jelas bagaimana hal itu benar. Aristotle sendiri memperbolehkan kuantitas, kualitas, hubungan, dan kategori-kategori lainnya menjadi konsep subyek dalam proposisi; dan hal ini tidak menjadikan kualitas menjadi substansi. Dalam salah satu silogisme Aristotle, kelap-kelipnya bintang merupakan subyek, sedangkan kelap-kelip sebenarnya masuk ke dalam kategori aksi atau tindakan. Karena itu, kalau menggunakan ungkapan yang tidak kasar, kita katakan bahwa argumen Russell tidak berhasil membantah logika tradisional.

Terkait dengan pembahasan ini adalah argumen “Orang Ketiga”-nya Plato. Parmenides memerinci sebuah bantahan terhadap teori Gagasan yang dikembangkan Plato, yaitu: Jika kemiripan antara Sokrates dan Crito mengharuskan kita mempercayai Gagasan, yaitu Manusia, maka demikian pula kemiripan Socrates-Crito dan Manusia mengharuskan adanya Gagasan-primer, atau Orang Ketiga. Karena hal ini mengakibatkan regresi tak terbatas, maka teori tentang Gagasan tidak dapat dipertahankan. Dari tujuh keberatan terhadap pandangannya, Plato membiarkan semuanya tak terjawab kecuali satu; dan keberatan yang tak dijawab itu bukan keberatan argumen Orang Ketiga ini. Tetapi tidakkah kelihatan aneh bahwa orang sejenius Plato membiarkannya tak terjawab, kecuali ia percaya bahwa jawabannya dengan mudah diketahui, khususnya karena dia terus membahas teori Gagasan dalam dialog-dialog selanjutnya? Dalam Parmenides ia mengakhiri tulisannya demikian

seorang pemikir yang sangat brilian akan mampu memahami bahwa ada genus untuk setiap hal dan realitas mutlak per se…. Tetapi kalau ada orang yang menyangkali Gagasan tentang keberadaan segala hal, karena bantahan di atas dan bantahan sejenisnya[!],… dia tidak akan mengetahui bagaimana berpikir … sehingga akan menghancurkan peluang untuk berargumentasi.

Russell Versus Logika
Tentu saja hal ini tidak menghalangi Russell untuk mencoba berargumentasi. “Anda bisa memulai,” kata Russell (Marsh, 259), “dengan pertanyaan apakah ada atau tidak ada bilangan pokok terbesar.” Kalau dijawab dengan tidak, maka akan mengakibatkan rasa penasaran mengapa ada lebih banyak bilangan dari hal lain di dunia. Ketidakberhinggan memang menimbulkan rasa penasaran bagi sejumlah orang; tetapi sedikit pemahaman terhadap ilmu hitung menunjukkan bahwa selalu memungkinkan untuk menambahkan satu dalam satu rangkaian bilangan, sehingga rangkaian tersebut menjadi tak rangkaian terhingga. Tentu saja, jika hal lain (Russell menghilangkan kata ‘lain’) ternyata juga tak terhingga, bukan terhingga seperti yang tampaknya diam-diam diasumsikan Russel, maka jumlah bilangan pokok dan hal lain akan sama, sehingga yang satu tidak lebih banyak dari pada yang lain. Tanpa memperhitungkan kesalahan kecil ini, karena hanya mengherankan bagi pemula yang punya rasa ingin tahu, Russell berargumen bahwa yang partikular (hal-hal individu?) dan kelas tidak ada dengan makna yang sama. Alasannya adalah bahwa dunia yang terdiri dari tiga partikular akan menghasilkan delapan kelas (ab, ac, cd, abc, serta a, b, c sendiri dan nol), sehingga dunia tersebut memiliki sebelas hal (existent?). Tetapi ketika ia menyimpulkan, “Bahwa, pada pandangan pertama, hal ini tampaknya membawa kepada kontradiksi” (260), kita dapat mengagumi sindirannya bahwa, “Terdapat lebih sedikithal di bumi dan di langit daripada yang diimpikan dalam filsafat kita,” tetapi kita tidak dapat menerima pemikirannya karena bukan keharusan dari informasi yang ada. Pemikirannya masih bukan keharusan, setidaknya menurut penulis, kalaupun semua ambiguitas dalam tanda kurung dihilangkan.

Namun jika ada orang yang merasa bahwa argumen Russel valid atau setidaknya bisa masuk akal, maka hal ini dapat ditentukan dengan melakukan analisa terhadap penjelasan Russel lebih lanjut. Russel meminta kita merenungkan tentang kelas/kelompok yang bukan merupakan anggota dari dirinya sendiri. “Anda pada umumnya akan berkata bahwa anda tidak mengharapkan satu kelas menjadi bagian dari dirinya sendiri. Sebagai contoh, jika anda berbicara tentang kelas semua sendok teh [Manusia] di dunia, kelas itu sendiri bukanlah sebuah sendok teh [seorang manusia].”9 Dalam bahasa kuno, hal ini berarti bahwa individu sensasi inderawi, kalau memang ada, bukanlah sebuah Gagasan. Namun Russell tampaknya beralih secara tidak sengaja ke masalah lain. Alih-alih melanjutkan dengan invidu sensasi inderawi, pembahasannya beralih menjadi pembahasan tentang hubungan antar kelas. Seperti halnya dengan tukang cukur, Russel bertanya, ‘Apakah kelas dari kelas-kelas yang bukan anggota dirinya sendiri merupakan anggota diri sendiri atau tidak?

Andaikan bahwa kelas itu adalah anggota kelas itu sendiri. Dalam kasus demikian, maka kelas itu adalah salah satu dari kelas-kelas yang bukan anggota diri mereka sendiri, yaitu., kelas itu adalah bukan anggota dirinya sendiri. Mari kita andaikan bahwa kelas itu bukan anggota dari dirinya sendiri. Kalau demikian, maka kelas itu bukanlah kelas yang merupakan anggota dari dirinya sendiri, yaitu., salah satu kelas yang merupakan anggota dari dirinya sendiri, yaitu, kelas itu adalah anggota dari dirinya sendiri, dst.[261].

Penulis berpandangan bahwa setiap kelas adalah anggota dari kelas itu sendiri. Kalau tidak demikian, maka logika merupakan kemustahilan. Kenyataannya, Russell sendiri mengatakan demikian. Logika simbolis yang dia ingin gantikan bahasa biasa, tergantung pada aksioma, a < a. Semua a adalah a. Satu termasuk dalam satu dan nol termasuk dalam nol. Pilihan lain selain itu kata Parmenides, “sepenuhnya menghancurkan peluang untuk berargumentasi.”

Masih ada satu atau dua pembahasan terakhir terkait dengan bahasa ideal artifisial, yang dapat ditunda sampai selesainya pembahasan mengenai Wittgenstein, karena pembahasan tersebut juga berlaku untuk Wittgenstein. Namun pembahasan tersebut dapat dilakukan di sini karena terkait dengan kalimat dalam Pengantar Russel untuk Tractatus(terjemahan Pears dan McGuiness, halaman x). Russell menyatakan, “Kalau berbicara tentang sebuah ‘kompleks’, seperti yang tampak kemudian, kita berdosa melawan aturan tata bahasa filosofis, namun ini tidak terhindarkan sejak awal.”

Di sini Russel mengakui bahwa bahasa biasa adalah sebuah keharusan. Tidak ada bahasa artifisial yang dapat dikonstruksi tanpa bahasa biasa. Di samping itu – yang Russell tidak katakan adalah – bahasa artifisial bukanlah sesuatu yang harus ada. Secara ketat, formal, dan seksama [bahasa artifisial] bukan sebuah keharusan.

Logika simbolis, seperti halnya aritmetika dan aljabar, merupakan teknik yang bermanfaat. Peradaban moderan tidak mungkin berkembang tanpa keduanya. Namun tidak berarti bahwa bahasa biasa dapat dibuang atau disingkirkan. Sebaliknya, bahasa biasa bukan hanya merupakan sebuah keharusan untuk konstruksi simbolisme; tapi symbolisme selalu dapat diterjemahkan balik ke bahasa biasa. Sebagai contoh: dari persamaan a2 + 2ab + b2 = 0, nilai a ditentukan oleh aturan-aturan quadratik. Kita pasti menolak mengerjakan rumus ini tanpa aturan-aturan itu; dan bisa jadi solusinya tidak dapat ditemukan tanpa simbolisme tersebut. Tetapi bisa jadi pula solusinya dapat ditemukan; dan persamaan tersebut dikemukakan dalam bahasa biasa yang mungkin terasa janggal. Dalam bahasa, biasa persamaan tersebut dinyatakan sebagai : Sebuah bilangan dikalikan dengan dirinya sendiri, ditambah dengan dua kali dari perkaliannya dengan sebuah angka lain, dan kemudian ditambahkan dengan angka lain tersebut yang dikalikan dengan dirinya sendiri, sama dengan nol. Tidak ada seorangpun yang ingin menyatakannya dengan cara demikian. Jauh lebih mudah untuk menulis satu baris simbol singkat dibanding menulis tiga baris menggunakan bahasa biasa. Namun hal filosofis yang hendak diungkapkan adalah bahwa tidak hanya persamaan dapat dinyatakan dalam bahasa biasa, tetapi juga tanpa bahasa biasa persamaan tersebut tidak pernah akan bisa dipahami. Tanda tambah, pangkat, perkalian,tanda sama dengan harus dimulai dari bahasa biasa. Bahkan pada saat inipun ada bahasa biasa yang muncul di sana-sini untuk menyatakan makna dari rumus.

Argumen-argumen ini tampaknya cukup memadai untuk membantah tesis bahwa bahasa biasa harus ditinggalkan dan diganti dengan bahasa simbolisme. Namun demikian, masih ada dua hal yang harus dilakukan. Pertama, terdapat asumsi metafisik dan linguistik yang mendasari keinginan untuk menyusun sebuah bahasa ideal. Kedua, logika simbolis itu sendiri, yang kesempurnaannya patut dievaluasi.

Pertama, biografi intelektual singkat pada permulaan bagian ini mencatat bahwa awalnya Russel meninggalkan Hegelianisme dan menjadi penganut empirisime. Perubahan ini dimulai oleh serangan terhadap teori Bradley dan Hegel tentang hubungan internal dan penggantiannya dengan teori atomik dari hubungan eksternal. Teori yang disebut pertama berpandangan bahwa segala sesuatu terimplikasi dalam segala sesuatu, sehingga menghasilkan monisme absolut. Definisikucing misalnya, merupakan bagian dari definisi anjing, dan juga definisi Betelgeuse (nama bintang). Bagi Russell, hubungan-hubungan bersifat eksternal terhadap subyek terkait. Hubungan-hubungan ini, walaupun terasa aneh untuk dikatakan, ditangkap melalui persepsi inderawi langsung. Hal ini kedengaran aneh karena sulit mengetahui apa warna di atas dan ke arah kiri, atau mendengar suara macam apa yang dihasilkan oleh paman dan lebih besar dari. Tetapi demikianlah adanya atom-atom dalam dunia Russell.

Sejalan dengan ini, proposisi-proposisi benar secara terpisah. Sebuah proposisi benar jika berkoresponden dengan fakta atomik atau kombinasi dari fakta atomis. “Mobil itu (adalah) benda dalam garasi” benar jika kita melihat sebuah mobil, sebuah garasi, sebuah benda, dan sebuah dalam. Dengan demikian, bahasa terdiri dari kata-kata yang masing-masing menunjuk pada satu invidu sensasi inderawi.

Agar adil terhadap Russell, harus diakui bahwa di kemudian waktu dia memodifikasi kekonyoloan seperti itu. Ia meragukan realitas dariadalah dan itu, dan mungkin juga dalam. Semua non-realitas ini dijelaskannya seperti kemudian dijelaskan oleh penganut Positivisme Logis, yaitu sebagai bagian dari kerangka logis tanpa rujukan. Kerangka ini menjadi logika simbolisnya Russel. Pada bagian yang lebih awal dalam bab ini dicatat bahwa Russell seringkali merubah pendapatnya. Kritikus tidak dapat begitu saja mengatakan, Ini merupakan pandangan Russell. Faktanya, ia bahkan merubah makna kata ini yang digunakannya. Karena itu, kritikus, atau setiaknya kritikus penulis buku ini, hanya dapat berharap bisa memiliki keakuratan yang cukup baik dengan mengulangi sejumlah pandangan Russel dan menganalisa pandangan yang terpilih. Analisa-analisa ini diharapkan membantu kegiatan konstruktif yang pembaca ingin lakukan.

Namun demikian, tampaknya dalam jangka panjang Russell percaya pada independensi logis setiap fakta dan pada teori hubungan eksternal. Sulit untuk memikirkan tentang filsafat empiris yang mempercayai sesuatu yang bertentangan dengan hal itu. Namun demikian, Aristotle si penganut empirisisme, apalagi Hegel dan Bradley, mencatat fenomena yang tidak sesuai dengan atomisme logis. Orang tak berpendidikan berbicara tentang lima indera, dan perabaan adalah salah satu dari kelima indera tersebut. Namun demikian Aristotle mengetahui bahwa apa yang kita sebut perabaan sebenarnya adalah tiga indera berbeda. Ia menjelaskan kesalahpahaman lazim tersebut dengan dasar bahwa kulit sebenarnya bukan organ indera, melainkan medium yang melayani tiga organ berbeda di bawahnya. Jika udara, lanjut Aristotle, merupakan bagian dari tubuh, yang menyelimuti wajah seperti halnya kulit menyelimuti jari, maka kita menduga bahwa pembauan, pengecapan, pendengaran, dan penglihatan adalah satu. Namun demikian, walaupun Aristotle tidak menyebutkannya, kita tidak dapat yakin bahwa penglihatan merupakan sebuah indera tunggal. Mungkin jumlah indera itu sebanyak jumlah sel batang dan sel kerucut di retina. Kesulitannya adalah bagaimana mengidentifikasi sebuah sensasi inderawi atomik/tunggal. Russell sendiri menjawab dengan tidak meyakinkan bahwa hal ini sesederhana ia melakukannya.

Namun demikian, masalah atomisme lebih besar lagi dari masalah itu. Apakah proposisi tertentu benar secara terpisah? Apakah sebuah atom dari dirinya sendiri tetap sama terlepas dari bagaimanapun kondisi dunia berubah? Ada berbagai contoh yang cukup masuk akal untuk menjawab dengan tidak. Ada sebuah batu yang memiliki berat enam kilogram. Jika seorang astronot membawanya ke angkasa, batu berat tersebut akan mendekati nol. Ketika dia menjatuhkannya di bulan, batu itu akan memiliki berat satu kilogram. Kebenaran proposisi-proposisi ini bergantung pada hubungan si batu dengan bagian lain dari alam semesta. Tidak ada kebenaran yang berdiri sendiri. Obesitas dapat disembuhkan dengan pindah ke bulan.

Contoh lain adalah satu kanvas yang setengahnya dilukis dengan warna merah dan setengahnya lagi dengan warna hijau – atau dua warna lainnya sesuka anda. Melewati kedua bagian ini digores garis berwarna abu-abu, yaitu campuran antara warna hitam dan putih. Namun di atas kanvas, garis tersebut tidaklah berwarna abu-abu. Goresan garis tersebut memiliki warna berbeda pada kedua bagian kanvas yang dilukis dengan warna berbeda. Karena segala sesuatu memiliki latar, maka warna merupakan fungsi dari latar. Tidaklah benar untuk mengatakan atom atau hal tertentu tidak berubah walaupun alam semesta berubah.

Berikut adalah satu contoh tambahan. Jika tidak ada indera penglihatan, maka tidak ada indera pendengaran. Jika tidak ada yang keras, maka tidak ada yang halus. Jika tidak ada hewan, maka tidak ada tumbuhan. Alasannya adalah karena istilah-istilah ini mengungkapkan pembedaan dengan lawan darinya. Penglihatan adalah salah satu bentuk non-pendengaran. Seandainya semua sama, kita mungkin punya istilahsensasi inderawi, kedua istilah dengan bermakna sama. Istilah “tumbuhan” dan “hewan” tidak akan merujuk kepada obyek berbeda, jika tidak ada dua obyek berbeda. Bisa jadi memang ada “makhluk hidup,” tetapi tidak ada tumbuhan atau hewan. Demikian pula, tidak ada makhluk hidup, jika tidak ada makhluk/wujud tak hidup. Kiranya hal ini cukup untuk menyingkirkan atomisme logis.

Bagian akhir tentang Russell harus membahas proposisi dasar dari bahasa artifisialnya – yaitu beberapa langkah awal dalam logika simboliknya. George Boole, pencipta logika simbolis, mungkin bertujuan untuk menyatakan logika Aristotelian dengan simbol-simbol. Dapatkah bujursangkar pertentangan, yaitu kontradiksi, kontrari, subalternasi, dan subkontrari, serta obversi, konversi sederhana, dan istilah-istilah mendasar lainnya dipertahankan dalam sistem ini? Bagaimana dengan bentuk-bentuk kategoris? Apa artinya mengatakan bahwa “Semua Orang Athena adalah orang Yunani”? Apa artinyasemua? Namun antara upaya awal George Boole dan Principia Mathematica-nya Russell, para pakar logika menyimpulkan bahwa tidak mungkin mempertahankan semuanya.

Russell menjelaskan bahwa “semua manusia adalah makhluk fana” berarti “jika sesuatu adalah manusia, maka sesuatu itu adalah makhluk fana.” Tidak berarti bahwa manusia memang ada. Namun demikian, frasa, “Sejumlah manusia adalah makhluk fana” berarti “setidaknya ada satu orang dan ia adalah makhluk fana.” Karena itu, jika semua manusia adalah makhluk fana, maka bukanlah hal yang tak terelakkan bahwasejumlah manusia adalah makhluk fana. Jika semua anjing masuk dalam bangsa anjing, maka tidaklah valid kalau disimpulkan bahwa sejumlahanjing, misalnya, bangsa bull dog, adalah bangsa anjing. Yang terjadi adalah dalam simbolisme yang dikembangkan antara 1850 dan 1900, walaupun kontradiksi dan obversi dipertahankan, subalternasi dijadikan sesat pikir.

Sedikit penjelasan mengenai simbolisme akan memperjelas alasannya. Pertama-tama, istilah “nol” dan “satu” diperkenalkan ke dalam simbolisme. Jika dua kelas dapat dikalikan, (dan memang harus bisa dikalikan agar dapat mempertahankan generalitas), yaitu digabungkan menggunakan konjungsi “dan,” seperti pada kasus xadalah anjing dan coklat, maka tidak terhindarkan bahwa perkalian kelas kontradiksi atau kontrari memberikan hasil yang masuk kelompok nol, yaitu kelas yang dikatakan tidak memiliki anggota, termasuk tidak ada apa-apa. Berikutnya, karena dua pernyataan kontradiksi meliputi keseluruhan bidang, maka penambahan atau disjungsi dua kontradiksi menghasilkan angka satu, yaitu semesta, yang dikatakan mencakup segala sesuatu. Sejalan dengan itu, karena setiap kelas harus memiliki kontradiksi, maka demi mempertahankan kontradiksi, kontradiksi dari nol adalah satu. Nol tidak mengandung apa-apa; semesta, atau semesta diskursus, mengandung segala hal: yaitu kelas yang mencakup keseluruhan bidang apapun yang dibahas. Dengan demikian, bukti bahwa subalternasi merupakan sesat pikir adalah sebagai berikut.

A(ab) = a < b {definisi}

Simbol di atas dibaca, kelas a termasuk dalam kelas b. Karena itu, berdasarkan obversi

E(ab) = a < b‘.

Tanda <, kalau digunakan dalam matematika, berarti “kurang dari”; dan ini adalah faktor dalam mengembangkan matematika dari logika simbolis. Demikian pula, tanda tambah dalam matematika mengindikasikan disjungsi dalam logika karena

(a + b)c = ac + bc,

artinya, kucing dan pirang atau hitam sama dengan kucing pirang atau kucing hitam. ac dan bc merupakan contoh perkalian: obyeknya adalah kucing dan obyek hitam.

Berikut adalah bantahan terbadap subalternasi:

Semua a adalah b berimplikasi bahwa Sejumlah a adalah b

A(ab) < I(ab) {substitusi}
(a < b) < (a < b’)‘.

Karena E(ab) adalah (a < b), kontradiksinya I adalah (a < b’)‘. Selanjutnya karena a dan b adalah variabel dan bisa berarti apapun, maka baris berikut adalah kasus khusus dari baris sebelumnya.

(o < o) < (o< o)‘.

Namun kontradiksi dari nol adalah satu; karena itu

(o < o) < (o < i)’.

Karena setiap kelas termasuk dalam dirinya sendiri, (o < o) pastilah pernyataan yang benar. Namun karena semesta mencakup semua kelas, maka nol pastilah masuk dalam semesta. Negasinya salah. Karena itu baris terakhir memiliki premis yang benar dan kesimpulan yang salah. Karena itu semua tidak berimplikasi sebagian/sejumlah.

Dari definisi-definisi tentang bentuk-bentuk kategoris ini adalah memungkinkan untuk mengembangkan logika simbolis yang luas. Namun alih-alih memberikan kita dua puluh empat silogisme valid, logika simbolis hanya memberikan sembilan belas silogisme valid. Tidak ada sesat pikir yang terjadi dalam proses pengembangan ini. Segala sesuatu disimpulkan secara ketat dari definisi awal. Namun sistem ini adalah sistem yang terbatas. Sistem ini mirip geometri yang hanya memiliki tujuh garis dengan tiga titik di masing-masing garis. Teorema-teorema memang dapat dideduksi dari geometri tersebut, tetapi teoremanya terlalu sedikit. Dengan kata lain, logika moderen gagal mengungkap logika Aristotelian dalam bentuk simbolis. Bahasanya tidak dapat mengungkap banyak hal sebanyak yang dapat diungkap bahasa biasa [seperti Bahasa Inggris atau bahasa lain].

Sumber dari cacat ini adalah definisi awalnya. Jika (semua a adalahb) berarti (a termasuk dalam b), maka subalternasi tidak dapat dipertahankan. Namun tidakkah seharusnya hal ini mendorong para pakar logika menemukan rumus untuk semua yang bisa mengungkap makna bahasa biasanya? Lagipula, a < b merupakan pilihan manasuka. Ini adalah pilihan Russel. Orang lain sama bebasnya dengan Russell untuk memilih definisi berbeda. Dengan definisi berbeda semua dapat berimplikasi sejumlah. Definisi tersebut bisa saja seperti ini

(a < b) [(b < a) + (a < b) (b < a)].

Sesuai dengan diagram Euler (bukan dengan diagram Venn), rumus ini akan menghasilkan

AE < o karena itu
A < I

Ada sedikit kesulitan dengan rumus ini. Rumus ini mengharuskan kita memperlakukan nol seperti halnya kita memperlakukannya dalam pembagian aritmetik. Entah ini merupakan kesalahan fatal atau tidak, orang harus memutuskan untuk dirinya sendiri. Namun demikian, terdapat kesulitan mendalam dengan definisi Russell selain naturnya yang manasuka. Ketika Aristotle mengatakan, Semua a adalah b, yang dia maksudkan adalah bahwa setiap a adalah a b. Namun ketika Russell menegaskan (o < i) sebagai definisi semua, ia tidak dapat mengatakan bahwa setiap nol adalah sebuah satu. Dengan demikian, definisi Russel terhadap semua tidak mencerminkan makna bahasa biasa (Inggris atau Indonesia) dari semua. Jika, Russel tidak menggunakan bahasa biasa (Inggris atau bahasa lain), mungkin ketika semua anjing termasuk bangsa anjing, sejumlah anjing bukan bangsa anjing.

Kesimpulannya adalah bahwa bahasa artifisial memiliki tingkat kegunaan tertentu. Namun bahasa biasa adalah sebuah keharusan. Mungkin perlu ditambahkan bahwa orang harus mengatakan apa yang hendak dikatakannya, atau setidaknya menghendaki apa yang dikatakan.

1 Bertrand Russell, “Logical Atomism” (1924), dalam Logical Positivism, A.J. Ayer, editor, 1959, 43.
2 “The Philosophy of Logical Atomism” (1918), dalam Logic and Knowledge, R.C. Marsh, editor, 1956, 178-179.
3 The Philosophy of Bertrand Russell, Paul A. Schilpp, editor, 1944, 16.
4 Philosophy of Logical Atomism, disunting oleh Marsh, 234.
5 The Philosophy of Logical Atomism, disunting oleh Marsh, 238-239.
6 Seorang teman saya yang tinggal di daerah Suku Navajo, dan berbicara menggunakan bahasa Navajo, serta yang telah menterjemahkan buku bahasa Inggris ke dalam bahasa Navajo, mengatakan bahwa dia tidak menemukan perbedaan mendasar dari pemikiran Navajo dengan logika dalam bahasa Yunani dan Inggris.
7 Russell sendiri memang menjawab pertanyaan ini dalam bagian setelahnya; tetapi tampaknya ia merubahnya sedikit sehingga jawaban yang diberikan tidak menjawab pertanyaan tersebut.
8 The Philosophy of Logical Atomism, Marsh, 244ff.
9 The Philosophy of Logical Atomism, Marsh, 260.

Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Fisafat Bahasa, Gordon H. Clark, Language and Theology, Terjemahan. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Analisa Clark Mengenai Pandangan Bertrand Russel Tentang Bahasa

  1. Ping balik: Terlalu Bernafsu | Futility over Futility

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s