Informasi sebagai Pengesampingan Peluang

Di bawah ini adalah teori William Dembski tentang informasi. Menurut saya teori ini masih dapat diformulasikan dengan lebih tajam lagi. Namun tujuan ditampilkan di sini adalah untuk menunjukkan tentang arti penting logika (seperti yang selama ini memang beta selalu tekankan) dalam teori informasi (dan juga pembelajaran).

Terjemahan ini diambil dari Bab 3 buku Being as Communnion, versi ebooknya.

Bab 3. Informasi sebagai Pengesampingan/Penyingkiran Peluang

cover…Dalam kehidupan sehari-hari informasi dihubungkan dengan agen cerdas yang menyusun pernyataan untuk mengungkap satu makna. Dengan demikian, agen cerdas menyatakan informasi kepada agen cerdas lainnya melalui pernyataan yang bermakna dalam sebuah sistem bahasa. Karena itu lazimnya informasi mempraanggapkan/memprasyaratkan kecerdasan, bahasa, dan semantik. Karena banyak yang harus dipraanggapkan, maka tidaklah mengherankan jika kaum penganut materialisme menganggap materi sebagai titik tolak yang lebih sederhana untuk memahami realitas daripada informasi (berdasarkan prinsip kesederhanaan/parsimony).[1]

Namun demikian, informasi bisa mempraanggapkan lebih sedikit proposisi dan tidak serumit gambaran di atas. Memang benar, agen cerdas mampu saling mengkomunikasikan informasi di antara mereka dengan menggunakan bahasa. Namun gagasan inti yang mendasari informasi cukup sederhana. Kita dapat memahami hal ini dengan mengamati penggunaan bahasa manusia serta memperhatikan hal penting dari penggunaan bahasa tersebut. Andaikan Alice berkata kepada Bob, “Di luar hujan atau di luar tidak hujan.” Dalam kasus ini Alice jelas telah mengemukakan sebuah pernyataan dan pernyataan tersebut memiliki makna. Namun demikian, mungkin kita akan berkata bahwa ketika mengemukakan pernyataan tersebut Alice belum benar-benar memberi tahu Bob tentang apapun, dan pernyataannya tidak informatif. Mengapa demikian? Alasannya adalah karena pernyataannya bersifat tautologis. Mengapa tautologi merupakan masalah dalam penyampaian informasi? Karena merupakan keharusan/ketidaterelakanan, tautologi tidak menyingkirkan mengesampingkan apapun. Kita tidak perlu diberi tahu tautologi karena kita dapat mengetahui sendiri. Bob dapat mengetahui sendiri, tanpa diberitahu Alice, bahwa hanya ada dua kemungkinan, yaitu di luar hujan atau di luar tidak hujan.

Namun bagaimana jika Alice menyatakan kepada Bob, “Di luar hujan.”? Sekali lagi Alice sudah mengemukakan sebuah pernyataan dan pernyataan tersebut memiliki makna. Jika Bob belum melihat kondisi cuaca di luar, maka setelah diberitahu Alice, ia mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak ia ketahui, yaitu bahwa di luar hujan. Dalam hal ini, Bob mengetahui sesuatu karena klaim Alice bahwa di luar hujan mengesampingkan / menyingkirkan peluang bagi klaim sebaliknya, yaitu bahwa di luar tidak hujan. Jadi dengan mengatakan kepada Bob bahwa di luar hujan dan karena pernyataan tersebut mengesampingkan peluang bahwa di luar tidak hujan, maka Alice sudah informatif (tidak seperti dalam kasus tautologis dimana Alice tidak informatif).

Alice masih bisa lebih informatif lagi. Ia dapat saja mengatakan kepada Bob, “Di luar hujan dengan intensitas lebih dari dua setengah centi meter per jam.” Yang menjadikan pernyataan ini lebih informatif daripada pernyataan sederhana “Di luar hujan” bukanlah kalimatnya yang panjang atau maknanya yang lebih kaya, tetapi kenyataan bahwa kalimat tersebut mengesampingkan/menyingkirkan lebih banyak peluang. Tentu saja pernyataan, “Di luar hujan dengan intensitas lebih dari dua setengah centi meter per jam atau dengan intensitas tidak melebihi dua setengah centi meter per jam” lebih panjang dan lebih kaya secara semantik dari pernyataan “Di luar hujan dengan intensitas lebih dari dua setengah centi meter per jam.” Namun pernyataan pertama kurang informatif dibanding pernyataan kedua. Pernyataan pertama malah hanya seinformatif pernyataan sederhana “Di luar hujan” karena keduanya hanya menyingkirkan/mengesampingkan kemungkinan yang sama yaitu, keadaan tidak hujan. Sebaliknya, pernyataan “Di luar hujan dengan intensitas lebih dari dua setengah centi meter per jam” tidak hanya mengesampingkan / menyingkirkan kemungkinan ketiadaan hujan tetapi juga menyingkirkan kemungkinan hujan lemah dan hujan normal.

Secara umum, informasi ada kaitan dengan realisasi sebuah kemungkinan atau peluang melalui pengesampingan peluang atau kemungkinan lain. Kalau tidak ada peluang/kemungkinan yang dikesampingkan/disingkirkan, maka tidak ada informasi yang dikemukakan. Kalau kita katakan “Hari hujan atau hari tidak hujan” maka kita tidak informatif karena pernyataan ini tidak mengesampingkan/menyingkirkan peluang/kemungkinan apapun. Sebaliknya, kalau kita katakan “Hari hujan” maka peluang atau kemungkinan untuk pernyataan “Hari tidak hujan” disingkirkan sehingga ada informasi yang diberikan. Karena mustahil salah, maka tautologi tidak memberi informasi. Demikian pula, pasangan pernyataan kontradiksi, tidak mungkin memberi informasi karena tidak mungkin benar. Kita tidak perlu diberitahu tentang keduanya karena keduanya dapat kita ketahui sendiri. Informasi mempraanggapkan setidak-tidaknya dua peluang bermakna, dan setidaknya ada satu peluang yang dikesampingkan/disingkirkan. Dalam konteks komunikasi antar manusia, Robert Stalnaker menuliskan demikian:

Belajar sesuatu, memperoleh informasi, adalah mengesampingkan peluang/kemungkinan. Memahami informasi yang dikemukakan dalam sebuah komunikasi adalah mengetahui peluang/kemungkinan apa yang kebenarannya dikesampingkan/disingkirkan oleh kebenaran informasi yang dipelajari.[2]

Manusia tidaklah sendiri dalam hal kemampuan untuk mengesampingkan/menyingkirkan kemungkinan atau peluang. Alam secara keseluruhan (dan manusia adalah bagian dari alam) mampu mengesampingkan/menyingkirkan peluang atau kemungkinan. Contoh kemampuan alam menghasilkan informasi adalah orbit bulan. Karena bulan menempati orbit yang stabil mengelilingi Bumi, maka musim dan pasang surut juga stabil. Namun ada peluang bahwa ketika bulan terbentuk dan mulai mengelilingi Bumi, bulan menempati orbit yang tidak stabil. Kalau demikian, Bumi akan menjadi tempat yang berbeda sama sekali dari pada yang kita kenal. Dengan dikesampingkannya orbit yang tidak stabil, maka alam dapat menghasilkan informasi. Alam menghasilkan informasi ketika sampai pada satu sisi atau sisi lain dari kontingensi (sebuah kejadian bersifat kontingen jika kejadian itu berpeluang terjadi tetapi tidak harus terjadi. Dengan kata lain, jika kejadian itu berpeluang terjadi, maka alterntif dari peluang tersebut juga bisa terjadi). Dalam kasus orbit bulan, alam bisa saja berada pada keadaan dimana orbit bulan tidak stabil, tetapi itu tidak terjadi.

Salah satu contoh lain dimana alam memilah kontingensi untuk menghasilkan informasi adalah seleksi alam. Seleksi alam lebih merupakan pengesampingan/penyingkiran sifat maladaptif yang tidak menguntungkan dari pada pemilihan sifat adaptif yang menguntungkan, dimana kelemahan maladaptif disingkirkan dari pohon evolusi. Seleksi alam sebenarnya adalah pengesampingan peluang atau kemungkinan, sehingga menghasilkan informasi dalam struktur dan organisme yang dipertahankannya. Kontroversi yang berkelanjutan dalam biologi adalah sejauh mana seleksi alam mampu meningkatkan informasi baru yang dibutuhkan untuk menggerakkan evolusi kehidupan. Sebagian pakar memandang seleksi alam sebagai sumber utama informasi.[3] Sedangkan yang lainnya memandang potensi kreatifnya untuk menghasilkan informasi cukup terbatas.[4]

Tidak semua orang menerima pandangan bahwa alam, tanpa adanya kecerdasan atau pikiran, dapat menghasilkan informasi. John Horgan misalnya, memandang informasi sebagai sesuatu yang mempersyaratkan/mempraanggapkan pikiran:

Konsep informasi tidak masuk akal kalau tidak ada sesuatu yang akan diinformasikan—yaitu, suatu pengamat sadar yang mampu memilih, atau memiliki kehendak bebas (maaf, saya tidak bisa menahan dorongan untuk berkata bahwa kehendak bebas sebenarnya adalah sebuah obsesi). Jika semua manusia di dunia ini lenyap esok hari, maka semua informasi juga akan hilang. Ketiadaan pikiran untuk mengetahui kejutan dan perubahan, mengakibatkan buku dan televisi serta komputer akan sama bodohnya dengan batu. Fakta ini tampaknya sesuatu yang sangat jelas, tetapi sepertinya banyak orang yang antusias terhadap informasi mengabaikannya.[5]

Horgan benar bahwa jika kita membatasi informasi (dan kata ‘jika’ itu penting tetapi tidak pasti) sebagai sesuatu yang secara inheren bersifat semantik, maka perlu ada pikiran untuk mengestrak maknanya. Namun jika sebenarnya informasi merupakan masalah kontingensi, yaitu pengesampingan sejumlah peluang untuk merealisasi peluang lain, maka informasi bisa ada walaupun pikiran tidak ada. Tentunya orang dapat dapat saja berpegang pada pandangan bahwa alam adalah produk pikiran, sehingga informasi tidak pernah sepenuhnya dapat dipisahkan dari pikiran. Namun dalam dialektika dengan pandangan materialisme, orang harus menggunakan definisi informasi yang kaum materialis dapat terima. Tidak seperti konsepsi semantik Horgan tentang informasi, pendefinisian informasi sebagai sesuatu yang terkait dengan kontingensi dan pengesampingan peluang/kemungkinan lebih netral secara metafisik, kalau tidak dapat dikatakan dapat diterapkan secara lebih luas.

Seperti yang akan kita lihat nanti, informasi bersifat relasional dan holistik. Sebaliknya, materi bersifat individualistik dan isolatif. Terkait materi, tidak penting berapapun banyaknya repetisinya, setidaknya menjadi tidak penting bagi identitasnya sebagai jenis materi tertentu. Jika alam semesta hanya dipandang sebagai materi murni, maka kalau alam semesta mengandung lebih sedikit atau lebih banyak elektron daripada yang sekarang dimilikinya, tidak ada yang secara mendasar berubah. Ya, obyek materi berinteraksi satu dengan yang lain. Namun obyek materi mempertahankan identitasnya saat materi lain ditambahkan atau dihilangkan darinya.[6] Hal ini membantu menjelaskan dorongan bagi kaum materialis untuk menganalisa materi berdasarkan konstituen yang jauh lebih kecil, sehingga konstituen-konstituen tersebut kemudian dapat diteliti secara individu. Karena itu, saat ini akselerator partikel merupakan sesuatu yang keramat bagi kultus materialisme. Karena itu pula ada begitu banyak kegembiraan saat penulisan buku ini terkait dengan penemuan Higgs Boson di Mekah-nya materialisme, yaitu, CERN (the European Organization for Nuclear Research). Memang demikianlah, apa lagi alasannya sehingga para penganut materialis merujuk Higgs boson sebagai “the God particle/partikel Allah”?[7]

Di atas saya sedikit bercanda, namun dengan maksud yang serius untuk menggarisbawahi perbedaan antara informasi dan materi. Informasi sangat berbeda dengan materi. Secara mendasar, materi adalah urusan bottom-up. Entah orang memandang materi sebagai partikel, bidang, string, brane, atau struktur gabungan bahan/energi manapun, dari sudut pandang materialis, materi harus dipahami berdasarkan konstituen mendasar tersebut, yang darinya dunia atau realitas hanyalah merupakan aglomerasi. Pada dasarnya materialisme adalah urusan penyusunan ulang, yaitu memecah realitas menjadi bagian-bagian dasarnya dan kemudian membangunnya kembali. Sebagai sebuah latihan intelektual, proyek seperti itu memang sangat menarik. Tetapi orang harus bertanya apakah yang dibangun kembali itu realitas atau bayang-bayang realitas. Minuman sarapan yang bernama Tang menghancurkan jeruk menjadi serbuk yang tersusun oleh “padatan jus jeruk,” (apapun yang dimaksud ungkapan tersebut), yang kemudian dibangun kembali. Namun Tang tidak pernah dianggap sama dengan jeruk segar. Namun demikian, dunia materi, kalau dipandang dari sudut pandangan materialis, terus-menerus dicampuradukkan dengan realitas.

Namun, kita sudah berbicara terlalu jauh. Fokus kita di sini adalah tentang informasi, dan hal yang harus diakui adalah informasi tidak masuk akal kalau dipandang sebagai urusan bottom-up, yang memecah-mecah materi menjadi bagian mendasarnya serta kemudian menyusunnya kembali. Seperti telah saya katakan, informasi adalah masalah pengesampingan/penyingkiran peluang/kemungkinan. Namun informasi tidak dibangun atas dasar peluang-peluang individu seperti halnya materi dibangun dari bagian-bagian materi yang mendasar. Sebaliknya, peluang-peluang atau kemungkinan-kemungkinan yang terkait dengan informasi tidak memiliki peluang di tingkat paling mendasar atau peluang tingkat sangat tinggi (tentunya asalkan kita mengabaikan tautologi dan kontradiksi). Peluang/kemungkinan selalu dapat diperbesar atau diperkecil dengan meningkatkan atau mengurangi resolusi yang kita gunakan untuk menilai sebuah obyek yang dipelajari.

Jadi dalam hal informasi, selalu ada peluang untuk melakukan perbesaran (seperti halnya saat kita menggunakan mikroskop) demi mencari tahu peluang/kemungkinan yang lebih tajam. Demikian pula terkait informasi, kita dapat melihat menggunakan ujung teleskop yang salah dan melihat peluang-peluang buram. Pernyataan “di luar hujan,” misalnya dapat ditajamkan menjadi “di luar hujan dengan intensitas dua setengah centi meter per jam” atau dapat diburamkan menjadi “Di luar basah.” Tidak seperti materialisme, yang memandang bernilai untuk memecah-mecah materi menjadi konstituen mendasarnya, dari sudut pandang teoritik informasi tidak harus memecah-mecah peluang-peluang/kemungkinan-kemungkinan menjadi peluang-peluang yang lebih mendasar.

Tetapi tidak berarti bahwa peluang atau kemungkinan tidak dapat dianlisa menjadi sub peluang (peluang memperoleh angkat genap dengan melempar sebuah dadu dadu ideal dapat dianalisa berdasarkan peluang masing-masing angka genap yaitu dua, empat, atau enam). Namun terkait informasi, intinya bukanlah memecah dan terus memecah sampai orang mencapai dasar analisa yang tak dapat dipecah lebih lanjut berupa seluruh peluang-peluang mendasarnya. Sebaliknya, inti dari informasi adalah untuk menemukan tingkat analisa yang tepat demi memperoleh pengetahuan/pemahaman dari sebuah penyelidikan. Jika misalnya, orang bermain craps, maka tingkat analisa yang tepat adalah melihat permukaan atas yang ditunjukkan oleh sepasang dadu. Pada tingkat analisa ini, orang tidak perlu mencatat dadu yang mana yang menghasilkan angka berapa (tidak perlu membedakan kedua dadu dalam permainan craps). Orang juga tidak perlu mencatat lokasi persis jatuhnya kedua dadu di atas meja. Informasi tambahan demikian terlalu mubazir untuk penyelidikan yang kita lakukan.

Penyelidikan menempatkan peluang dalam sebuah kelas peluang referensi, dimana kelas referensi itu sendiri disesuaikan dengan penyelidikan yang dilakukan. Dalam kasus permainan craps, misalnya, kelas referensinya adalah semua peluang/kemungkinan hasil pelemparan dari kedua dadu yang digunakan, dan mengabaikan urut-urutan permukaan dadu yang muncul. Pendekatan demikian merupakan pendekatan top down, yaitu: peluang hanya masuk akal dalam sebuah kelas referensi peluang yang lebih besar.

[1] Namun perhatikan bahwa prinsip kesederhanaan/parsimony sudah disalahgunakan. Tak dapat disangkal bahwa penjelasan harus menghindari entitas yang tak perlu dan mubazir/berlebihan. Tetapi pembatasan itu juga berlaku untuk hal yang hendak dijelaskan. Einstein berkata, “Hampir tak dapat disangkal sama sekali bahwa tujuan utama semua teori adalah menjadikan elemen-elemen dasar yang tak dapat direduksi sesedarhana dan sesedikit mungkin tanpa harus mengabaikan representasi memadai dari satu datum tunggal pengalaman.” (dari Einstein’s Herbert Spencer Lecture at Oxford, June 10, 1933, dikutip dalam Alice Calaprice, The Ultimate Quotable Einstein [Princeton, N.J.: Princeton University Press, 2011], 384–5, penekanan ditambahkan penulis buku ini.) Pernyataan ini sering diparafrase menjadi “Segala sesuatu harus dijadikan sesederhana mungkin, tetapi tidak lebih sederhana,” yang dianggap sebagai pernyataan Einstein, tetapi belum tentu benar. Apapun itu, desideratum prinsip parsimony perlu selalu dikontraseimbangkan dengan kualifikasi seperti kualifikasi Einstein, dengan kata lain, “tanpa harus mengabaikan representasi memadai dari datum tunggal pengalaman.” Sejauh penjelasan gagal menjelaskan sejumlah fakta penting, maka penjelasan tidak lengkap dan parsimony/kesederhanaannya tidak dapat lagi dianggap sebagai aset. Memang, seperti yang akan kita lihat, kesederhanaan materialisme, adalah kesederhanaan yang diperoleh dengan menyalahpahami realitas.
[2] Robert Stalnaker, Inquiry (Cambridge, Mass.: MIT Press, 1984), 85.
[3] Richard Dawkins, Kenneth Miller, dan Thomas Schneider masuk dalam kelompok ini. Karena mengasumsikan kemampuan seleksi alam menciptakan informasi, see Richard Dawkins, The Blind Watchmaker: Why the Evidence of Evolution Reveals a Universe without Design (New York: Norton, 1987), 47–50, dimana ia menggambarkan eksperimen terkenalnya yaitu WEASEL. Lihat juga Kenneth R. Miller, Only a Theory: Evolution and the Battle for America’s Soul (New York: Viking, 2008), 77–8 and Thomas D. Schneider, “Evolution of Biological Information,” Nucleic Acids Research 28(14) (2000): 2794–9.
[4] Dengan mengabaikan intelligent design, kritikan tajam tentang kemampuan seleksi alam untuk menciptakan informasi biologis telah diperhatikan secara luas. Sebagai contoh, buku James Shapiro, Evolution: A View from the 21st Century (Upper Saddle River, N.J.: FT Press Science, 2011) serta buku Susan Mazur, The Altenberg 16: An Exposé of the Evolution Industry (Berkeley, Calif.: North Atlantic Books, 2010). Gagasan yang dinyatakan dalam buku-buku tersebut memang bersifat evolusioner tetapi evolusi pasca-Darwinisme (bukan neo-Darwinisme). Dalam bab 19 buku ini saya akan menjelaskan keterbatasan-keterbatasan inheren yang dihadapi seleksi alam untuk menghasilkan informasi.
[5] John Horgan, “Why Information Can’t Be the Basis of Reality,” Scientific American, blog entry (March 7, 2011), http://blogs.scientificamerican.com/cross-check/2011/03/07/why-information-cant-be-the-basis-of-reality (last accessed June 5, 2013).
[6] Interaksi kuantum tampaknya menjadi pengecualian terhadap pandangan isolatif terhadap materi karena teori kuantum dapat ditafsirkan sebagai memberi peluang pada tindakan/aksi dari jarak tertentu, sehingga memperkenalkan sebuah holism dan keterkaitan pada materi, yang tidak ada dalam pandangan partikulat konvensional terhadap materi (dimana interaksi materi terjadi secara eksklusif melalui tumbukan, tolak-menolak, dan tarik-menarik). Sejumlah pemikir memandang fitur kuantum ini sebagai sesuatu yang merubah dan membantah materialisme konvensional yang isolatif. Perhatikan misalnya, David Bohm,  dalam Wholeness and the Implicate Order (London: Routledge & Kegan Paul, 1980) dan F. David Peat, Synchronicity: The Bridge Between Matter and Mind (New York: Bantam, 1987). Para pemikir ini berharap bahwa dengan memasukkan materi dalam sebuah dunia kuantum yang holistik, maka segala sesuatu mulai dari kesadaran sampai pengalaman mistis dapat dipulihkan. Menurut saya, gagasan seperti ini terlalu membenani teori kuantum, yang dalam dirinya sendiri, sama sekali tidak menjelaskan mengapa informasi di alam mengasumsikan bentuk khas yang diasumsikannya (teori kuantum kompatibel dengan alam semesta tak hidup yang tak menarik sama sekali). Bagaimanapun, materialis yang keras kepala dengan serta-merta berpegang pada teori kuantum, dengan melihat efek kuantum yang terutama berlaku untuk tingkat mikro, tetapi kemudian dirata-ratakan pada tingkat makro, sehingga memberi justifikasi terhadap pandangan konvensional bahwa obyek materi mempertahankan identitas dan integritasnya dari onyek materi lainnya.
[7] Nobelis Leon Lederman pertama-tama menyebut kepada Higgs boson sebagai “the God particle” dalam buku yang diterbitkan tahun 1993 book: Leon Lederman dan Dick Teresi, The God Particle: If the Universe Is the Answer, What Is the Question? (New York: Doubleday, 1993). Sejumlah pakar fisika tidak menyukai istilah ini karena menganggap istilah ini sebagai penyebab salah paham dan hanya bersifat sensasional.

Pos ini dipublikasikan di Being as Communion, Filosofi, Logika, Terjemahan, William Dembski. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s