Kebetulan Atau Rancangan? – Revisi

Di bawah ini adalah versi yang revisi dari tulisan yang diposting sebelumnya. Tulisan ini merupakan terjemahan Bab 1 dari buku One Murder One, karya Tweedy Flinch.

Bab 1 Kebetulan atau Rancangan?

Undi dibuang di pangkuan, tetapi setiap keputusannya berasal dari pada TUHAN. Amsal 16:33

coverSatu hari yang nyaman lagi — ; sinar surya, angin sepoi, awan yang bergerak perlahan, serta pemandangan yang hijau. Tampaknya akan jadi satu hari bermalas-malasan yang penuh percakapan tentang kenangan dan hal lain yang muncul dalam ingatan kami. Dari dapur kecil kami beranjak ke dek, seperti yang telah kami lakukan sejak hari pertama kunjungan ku. Sambil menggeser badan agar duduk dengan baik pada kursi dek yang agak kurang nyaman, kami melanjutkan diskusi waktu makan pagi tentang peranan kebetulan dalam kehidupan. Seperti biasanya, kami berbeda pendapat. Itu sudah sering terjadi. Diskusi ini hampir sama seriusnya dengan diskusi tentang peluang terjadinya badai di Hawaii, tetapi lebih menarik lagi karena merupakan perbedaan pendapat yang ada kaitan dengan kepercayaan dan sikap. Setelah pensiun, kami tidak sering bertemu sehingga peluang untuk tidak saling setuju telah berkurang. Aku bisa merasakan keinginannya yang kuat untuk berkonfrontasi mengingat ia seorang mantan polisi. Wajah merengut dan suara seperti auman yang ia latih saat menjadi penyiar radio membuat banyak orang tertekan.

Logika
“Seperti ku katakan, Buck,” lanjutku, “logika adalah ilmu tentang penarikan kesimpulan yang tak terhindarkan, dan ….”

Ia menyela, “Demikianlah katamu, tetapi kita butuh lebih dari sekedar logika untuk menangkap penjahat-penjahat itu. Logika punya peranan tentunya, tetapi kebetulan atau keberuntungan juga punya peranan — bahkan lebih sering berperanan daripada yang kau bayangkan atau yang banyak detektif bersedia akui. Oh, tapi aku tahu kalian orang Presbyterian tidak percaya pada kebetulan, entah yang baik atau yang buruk.”

“Buck! Sebentar. Apa hubungannya imanku dengan kepercayaanmu akan kebetulan atau keberuntungan? Sementara itu, aku tidak mengklaim bahwa tidak ada kaum Presbiterian yang mempercayai Providensia versimu. Saat ini, ada banyak jenis Presbiterian. Disayangkan bahwa bahkan ada orang Presbiterian pada jaman kita yang bukan Kalvinis. Aku yakin kau tahu itu.”

Ia menarik nafas panjang, hampir mendesah. Sebuah senyum pengakuan menggantikan wajah merengutnya. “Oke, Oke! Ijinkan aku menggunakan kalimat lain: kadang-kadang hal tertentu terjadi begitu saja — terkadang sebuah informasi rinci yang sepertinya tak penting tiba-tiba seperti jatuh dari langit, dan tidak ada seorangpun yang menduga informasi tersebut atau yang pernah menyimpulkan informasi tersebut dari informasi yang sudah ada. Tiba-tiba saja muncul dalam percakapan, atau laporan, atau ingatan seseorang, setelah memeriksa ulang kasus untuk kesekian kalinya. Tidak ada penjelasan logis akan hal ini. Terjadi begitu saja.”

“Tidak ada yang terjadi begitu saja, Buck. Tidak ada sama sekali. Seberapapun tampaknya demikian bagimu, tidak ada hal seperti itu di dunia ini. Tidak ada kejadian yang tanpa penyebab. Kita tidak hidup dalam alam semesta yang diatur oleh nasib. Sebaliknya, kita….”

“Nah, jelas bukan?” ia menyeringai. “Itu ada hubungan dengan imanmu. Kamu tidak percaya kebetulan. Aku percaya ada kebetulan. Sudah terlalu sering aku menyaksikannya sehingga tidak mungkin aku meragukannya. Aku tidak ingat satu kasuspun dimana keberuntungan/kebetulan tidak memainkan peranan dalam menyelesaikannya. Dalam beberapa kasus, malah tanpa kebetulan tidak ada solusi sama sekali. Tidak ada! Kita perlu kebetulan yang buta, dungu, dan bodoh! Tuhan memberkatinya, karena kebetulan adalah teman terbaik seorang detektif — tentunya selain mitranya dan laboratorium kriminal.”

Dengan merujuk pada pengalaman, yang merupakan kriteria ketidakbersalahan penganut empirisisme, ia berhenti sebentar, memutar tubuh berototnya, di atas kursi yang kelebihan beban, dan sengaja memandang ke laut, seolah-olah seperti sedang menuju ke perairan yang tenang.

Itulah Buck Calhoun. Adalah lazim baginya untuk menyatakan bahwa sesuatu tidak mungkin benar, kemudian hening sejenak untuk menunggu jawaban lawannya. Ia tahu lawannya akan memberi sanggahan. Ia puas kalau membangkitkan minat lawan bicara dengan menerapkan sedikit yang ia ingat tentang prinsip verifikasi kaum positivis. Rujukan pada pengalaman sebagai kesimpulan akhir, biasanya cukup membawa hasil baginya di masa lampau. Apa gunanya mendebat keberhasilan? Tekad agresif membentuk pemikiran dan persepsi lawan sesuai dengan kerangka referensinya. Ia akan memaksa anda mengambil peran seorang skeptis saat ia menyerang anda dengan tatapannya yang tajam seperti pedang, dan merujuk kepada pengalaman terdokumentasi. Tak diragukan bahwa ia memang punya pengalaman. Dulunya ia seorang polisi di wilayah Bakersfield di California Tengah. Kalau dihitung dengan masa kerja sebagai detektif, ia bekerja di kepolisian selama 17 tahun, sebelum ia memutuskan keluar dari jalan buntu birokrasi dan mengambil gelar Ph.D. dalam bidang Peradilan Pidana dan mengajar di universitas. Di universitas tempat ia mengajar, mata kuliahnya tentang penyalahgunaan obat-obatan sangat digandrungi. Ia menjadi salah seorang profesor yang paling terkenal dalam jurusan tempat ia mengajar, bahkan di seluruh universitas. Setelah menyelesaikan karier mengajar yang sukes, ia pensiun di Hawaii pada umur 60 tahun. Ia sebenarnya bisa terus mengajar, namun menolak tunduk kepada orang banyak yang cenderung hanya bersikap dan bertindak berdasarkan apa yang tepat secara politik. Namun itu cerita lain yang mungkin ia sendiri akan tulis di kemudian waktu.

“Buck,” kataku, “dengarkan aku. Kau mengabaikan beberapa hal. Aku percaya akan kejadian yang tidak disengaja, tetapi ketidakdisengajaan itu tidak sama dengan ketiadaan penyebab. Aku juga mengetahui bahwa ada hal yang bersifat misteri. Terkadang misterinya begitu mendalam. Tetapi misteri ini bukan sesuatu yang terjadi akibat kebetulan semata. Kita bahkan mungkin tidak mengetahui penyebab dari sejumlah kejadian. Bahkan ada kejadian yang pencarian akan penyebabnya tak berakhir. Bukankah ada kasus yang tak terpecahkan? Namun ketidaktahuan seseorang akan penyebab tidak berarti bahwa dunia ini diatur oleh kebetulan-kebetulan. Tidak ada kejadian yang terpisah atau berada di luar jejaring sebab (dan akibat) yang kita sebut semesta. Kita menyebutnya SE-mesta, bukan? Segala sesuatu saling terkait! Alternatif terhadap pandangan ini bukanlah kebetulan, seperti yang kamu katakan, tetapi kegilaan atau ketidakwarasan. Dengan kata lain bukan kosmos, tetapi kaos.”

Mendengar itu Buck beralih ke kritikan tajamnya favoritnya. “Itu kepercayaanmu, bukan? Itulah yang diasumsikan oleh pandangan duniamu, bukan? Kita hidup dalam sebuah semesta yang diciptakan oleh sesosok Tuhan yang menciptakan segala sesuatu dari ketiadaan — ketiadaan!! Bayangkan itu! Aku tidak dapat membayangkan doktrin yang lebih irasional daripada doktrin yang kau percaya dinyatakan dalam pasal pertama Kitab Kejadian tersebut. Tentu Allahmu itu Pencipta yang rasional. Sudah berapa kali kamu katakan itu padaku, berulang-ulang-ulang, bahwa Allah bukanlah Allah yang tak waras?”

Aku memotong, “Dan apa alternatif begitu mempesona yang harus kita pegang? Kebetulan yang merubah perlahan-lahan sampah yang dibuang dari luar angkasa ke planet kita?” Ia mengabaikan kata-kataku.

Kejadian Kebetulan
Sekarang Buck bertingkah seperti pengkhotbah. “Ya, semesta bisa jadi sesuatu yang waras atau tidak waras. Namun demikian, di alam semesta terdapat kejadian kebetulan, kejadian acak, atau kejadian yang tak terduga yang terkadang membentuk pola penyebab yang pada akhirnya kita ketahui ternyata terkait dengan apa yang teramati. Kalau kita bicara tentang penjahat dan kejahatan, terkadang kombinasi antara kebetulan dan kebodohan kejahatan terjadi bersama-sama sedemikian rupa sehingga seorang penjahat dapat ditahan dan dihukum. Tetapi tolong jangan mulai membahas urusan definisi-mendefinisikan. Ketika ku katakan kebetulan, yang ku maksud adalah hasil yang acak, tak terduga yang tidak seorangpun duga atau deduksi pada saat itu. Ada yang menyebutnya dengan nasib atau nama lainnya. Namun itu adalah kebetulan, seperti halnya lemparan sebuah dadu!”

“Apakah hasil acak yang tak diperkirakan ini membantu menyelesaikan sebuah kasus?” Tanyaku. “Jawabannya ya, bukan? Kalau demikian pasti ada hubungan dengan bukti atau petunjuk lain, bukan? Kalau tidak, kamu pasti tidak akan mengenalinya sebagai sebuah petunjuk. Hubungan inilah yang aku katakan. Segala sesuatu saling terkait; segala sesuatu saling terhubung. Adalah tugasmu untuk menerapkan logika, demi mengembangkan gambaran rasional tentang bagaimana serta siapa yang berada di balik kejahatan tersebut. Apa jadinya denganmu kalau logika tidak ada? Tidakkah kamu memeriksa alibi seorang tersangka menggunakan Hukum Kontradiksi? Apakah pernyataan-pernyataan seorang tentang keberadaannya yang bertentangan dengan laporan saksi tidak membuatmu meragukan alibi yang dikemukakan? Kalau ini bukan logika, lalu apa ini sebenarnya? Kamu tidak bisa mengembangkan teori tentang sebuah kejahatan dan pada bagian tertentu dari teori itu menegaskan bahwa kamu memerlukan sedikit kebetulan. Jika kamu katakan demikian pada atasanmu, ia akan menyuruhmu melakukan penyelidikan ulang dan menemukan jawaban tentang motif, peluang, dan seterusnya. Kebetulan bisa berarti tak diperkirakan, tetapi tidak berarti acak. Kita tidak hidup di sebuah alam semesta yang acak. Alternatif terhadap ciptaan yang teratur adalah kemustahilan mutlak untuk dipahami. Tanpa logika, tidak ada harapan bagimu untuk memecahkan sebuah kasus kejahatan.”

Mendengar itu, ekspresi wajah Buck langsung berubah jadi seperti ekspresi wajah seorang profesor yang serius. Dengan tatapan serius dan tajam, ia mengabaikan kenyamanan kursinya dan menegakkan tubuhnya yang setinggi 1,80 meter itu. Kemudian ia menggelengkan kepalanya perlahan, “Aku belum pernah menyangkali penggunaan logika dalam kasus yang aku telah tangani. Tentu aku menggunakan logika, khususnya Hukum Kontradiksi. Tanpa Hukum itu, tidak ada ketidakkosistenan yang dapat dideteksi, dan ketiadaan ketidakkonsistenan mengasumsikan adanya konsistensi dan pernyataan yang benar. Namun aku menegaskan bahwa logika tidak menyingkirkan kebetulan buta, atau kejadian acak yang terjadi begitu saja tanpa penjelasan rasional pada saat ditemukan. Di kemudian waktu, jika ternyata mempunyai arti penting, tentu saja kejadian-kejadian tersebut akan menjadi bagian dari gambaran keseluruhan. Namun pada saat ditemukan, kejadian-kejadian tersebut hanyalah hasil dari peluang acak!”

“Perhatikan baik-baik!” kataku, “Kamu telah berganti posisi. Sekarang kamu mencoba memberi kualifikasi sehingga kejadian-kejadian tersebut merupakan kebetulan sampai saat terbukti bukan kebetulan. Kamu juga katakan bahwa kamu menggunakan logika, tetapi kadang-kadang kebetulan memberimu hasil logis. Jadi duniamu penuh dengan kejadian-kejadian yang saling terkait dalam jejaring hubungan sebab akibat. Kadang-kadang kamu mendapatkan penyebabnya dari coba-coba, kadang-kadang kamu menggunakan logika, dan kadang-kadang keduanya. Memang begitu pandanganmu?”

Buck mendelikkan matanya ke langit seakan memohon pada Tuhan membantunya dalam tugas yang mustahil dilakukan yaitu mengajar seorang amatiran tentang realitas kejahatan dan penjahat. Pekerjaan, pendidikan, dan karier mengajarnya telah menghadirkan persepsi yang sinis tentang natur manusia ke dalam pemikirannya. Ia mengamati bahwa hanya sedikit sekali yang baik dalam manusia. Pernah ia menyatakan padaku bahwa dunia ini adalah sebuah kacamata ketidaknormalan dimana kenormalan hanya sesekali memunculkan batang hidungnya. Ketika kenormalan memunculkan batang hidungnya, maka itu hanyalah seperti kebetulan aneh di alam yang memecahkan monotonnya kejahatan. Menurutku pandangannya tentang pikiran manusia sangat mirip Freud, yaitu: “Setiap orang mengalami masalah syaraf, dan perjuangan dalam hidup adalah perjuangan menghindari kejatuhan melewati batas-batas kewarasan dan masuk ke dalam kebingungan tak berpikiran dan tak bermakna.” Biasanya ku katakan kepadanya bahwa pandangannya sangat dekat dengan ajaran Kalvinis tentang Kebejatan Total/Total Depravity. Namun ia tidak mendengar aku. Tampaknya ia beranggapan bahwa sedikit saja diberi ruang, akan mengakibatkan lawan memenangkan pertarungan besar. Namun ia belajar dari pengalaman (ia selalu menegaskannya), bukan dari teologi, bahwa manusia tidak dapat dipercaya dalam urusan kekuasaan, uang, dan seks. Terlebih lagi, kalau dibiarkan tak terkendali, dengan tingkat keseringan yang menyedihkan, keinginan-keinginan ini akan membawa kepada tindakan kejahatan, dan bahkan pembunuhan kalau imbalannya memadai dan resikonya dianggap minimal atau tidak ada.

Perilaku Jahat
Aku bisa tahu ia telah memutuskan untuk menghindari pertanyaanku. Ia akan berubah. Bukan merubah topik yang dibahas tetapi merubah strategi.

Dengan alis yang diangkat, ia bertanya apakah aku memperhatikan kasus-kasus pembunuhan terbaru. “Bagaimana dengan anak berumur enam tahun yang hampir saja membunuh seorang bayi yang berada di tempat tidur? Tidak ada pola atau alasan logis bagi berbagai perilaku brutal demikian. Mengapa semua ini terjadi? Pertanyaan tersebut tidak memiliki jawaban logis. Oh, kita akhirnya menemukan bagaimana dan mengapa kejahatan itu terjadi, tetapi penggambaran tersebut bukanlah penjelasan. Kemudian masuklah si pekerja sosial yang selalu ada dimana-mana, serta Si Psikolog yang Abnormal dengan penggambaran masing-masing tentang masa kecil yang mengerikan, pola asuh yang penuh kebencian, lingkungan ghetto, serta persekolahan yang buruk. Kata mereka, kita harus membebankan semua kegagalan ini pada persemaian masalahnya, yaitu: lingkungan yang buruk. Kemudian, mereka memamerkan semua komentar tersebut sebagai penjelasan terhadap penyebab esensial dari pembunuhan brutal, kejam, terencana, dan busuk serta perilaku-perilaku kejahatan lainnya. Ajaibnya, tiba-toba saja si penjahat beralih menjadi korban. Mereka adalah korban masyarakat yang kejam, sehingga tidak hanya berhak, tetapi pantas mendapatkan belas-kasihan. Deskripsi yang menggunakan kata “adalah” dianggap berimplikasi pada “keharusan” bagi sebuah rasa iba. Yang ingin kukatakan di sini adalah bahwa gambaran atau deskripsi, bahkan gambaran ilmiah pun bukanlah resep untuk belas kasihan, ataupun penjelasan material. Deskripsi dari sang ilmuwan sosial hanya penting sejauh membantu merekonstruksi jawaban-jawaban terhadap pertanyaan tentang bagaimana dan siapa. Istilah atau jargon-jargon yang mereka gunakan dianggap memberi penjelasan, walaupun sebenarnya hanya menawarkan ilusi sebuah penjelasan. Bahkan pengetahuan tentang motif, secara praktis tidak memberi kontribusi terhadap jawaban yang sebenarnya untuk pertanyaan ‘mengapa’. Dasar dari semua motif, entah baik atau buruk, merupakan sebuah buku tertutup bagi si ilmuwan sosial, khususnya bagi praktisi behaviorisme. Teori kotak hitam kaum penganut behaviorisme tentang pikiran mengasumsikan bahwa perilaku terjadi berdasarkan kekosongan atau sesuatu yang tidak diketahui atau tidak dapat diketahui. Oh, tapi aku tahu. Ketika orang bertanya, ‘Mengapa dia harus melakukan semua ini?’ kita sedang mencari tahu tentang motif. Aku tidak katakan bahwa motif bagi sebuah perilaku kejahatan tidak penting. Motif penting. Namun, perannya hanya sebagai penggambaran bukan penjelasan. Semua kejahatan bersifat irasional dan bodoh, serta tidak ada penjelasan logis bagi perilaku irasional. Itu dia! Itulah alasanku untuk menyatakan bahwa kebetulan memainkan peranan penting dalam menyelesaikan kasus kejahatan.”
Buck berhenti sebentar untuk melihat bagaimana pengaruh monolognya tersebut kepadaku. Aku terdiam cukup lama. Ia tahu aku sedang mencerna apa yang ia baru katakan. Aku memikirkan tentang jawaban terbaik apa yang perlu ku berikan terhadap argumennya tentang keharusan faktor Kebetulan. Premisnya, yaitu, “Semua kejahatan bersifat tak rasional” tidak berimplikasi pada kesimpulan bahwa “Tidak ada penjelasan logis bagi perilaku tak rasional.” Ada sesuatu yang hilang. Tetapi aku enggan, dan memilih diam sebentar sambil membiarkannya bernafas. Alih-alih mengemukakan argumen bantahan, ku putuskan mengambil jalur yang tidak terlalu konfrontatif.

Profiling
Ia mendehem, yang ku anggap sebagai petunjuk bagiku untuk berbicara. “Bagaimana dengan urusan profiling kepribadian seorang penjahat sebagai alat untuk menyusun hipotesis dan menduga perilaku di masa depan? Sebuah hasil profiling mendasarkan konfigurasinya pada pola perilaku tertentu, kebiasaan berpikir terkait yang dapat diidentifikasi, kebiasaan berpakaian, kesukaan, bahkan kebersihan pribadi yang memampukan penyidik memberikan gambaran umum tentang seorang tersangka. Pola-pola tersebut merupakan konstruksi rasional, bukan irasional. Jika irasional, maka tidak ada seorangpun yang dapat mengklaimnya secara bermakna sebagai pola-pola. Bukan?”

Pertanyaanku bukanlah tanda menyerah, tetapi untuk mengulur waktu. Ada yang salah dengan argumennya, entah dengan salah satu premis atau kesimpulannya. Tetapi ia memotong jalan pikiranku. “Coba perhatikan,” katanya, “Aku tahu tentang profiling. Tentunya profil yang didapatkan itu bermanfaat walaupun didasari pada sebaran peluang. Namun karena pola-pola ini bersifat probabilistik, maka secara definisi unsur kebetulan tidak dapat disingkirkan! Bahkan analisa DNA bersifat probabilistik; dan hasilnya disajikan dalam bentuk probabilitas. Tidak, Tidak. Dalam dunia kejahatan, sepertinya dalam kehidupan sehari-hari, keberuntungan atau kebetulanlah yang merupakan realitas yang tidak terhindarkan; kamu tidak dapat menghindarinya. Teologimu boleh mencoba menghindarinya, atau menjelaskannya seolah tidak benar. Namun demikian, realitas dimana kita hidup dan bergerak serta kita ada tidak akan tunduk pada pelarian ke dunia fantasi teologis.”

“Buck,” kataku, “ketidaktahuan tentang adanya penjelasan tidak berimplikasi bahwa memang tidak ada penjelasan, atau bahwa tidak ada penjelasan logis karena dianggap ada kejadian yang tak berpenyebab serta tak rasional. Salah satu masalah dengan rujukanmu pada kebetulan adalah bahwa bahwa kebetulan berfungsi seperti pagar pelindung di home plate dalam permainan bisbol. Jika si penangkap gagal menangkap bola, masih ada pagar yang membantunya agar tidak banyak pemain lawan yang mendapat skor run. Si Dewi Keberuntungan menjadi pelindungmu. Namun sayangnya si dewi ini tidak hanya menghentikan bola yang terlepas dari tangkapan, tetapi juga menangkap si penangkap bola. Ia memiliki kemampuan khusus untuk menjadi bagian dalam permainan sebagai pemain ekstra, dan bahkan sebagai pemain ekstra yang bernilai. Masalah dengan argumenmu untuk mendukung kebetulan adalah bahwa argumenmu mengasumsikan keberadaannya dalam premis. Karena itu, aku bisa pastikan bahwa keberadaannya dalam kesimpulan bukanlah masalah kebetulan, tetapi masalah logika — atau lebih tepatnya masalah logika yang buruk!”

Temanku itu menghela nafas penuh frustrasi. “Tidak, tidak, tidak; tidak sama sekali, tidak sama sekali! Ku pikir cara terbaik menyelesaikan perbedaan pendapat ini adalah dengan mencoba membicarakan sebuah kasus yang muncul dalam benakku — yaitu kasus seorang perempuan yang ku kira membunuh mantan suaminya. Sesuatu yang murni kebetulan — bukan masalah logika — yang membuat kami mencurigainya. Logika mengkonfirmasi kecurigaan kami, namun sebuah pesan telepon dan peristiwa lain yang bersifat kebetulan yang menjadikan kami curiga. Namun demikian, dia tidak pernah didakwa. Logika semata tidak mungkin meyakinkan Jaksa untuk menuntutnya. Investigasi awal tidak menghasilkan bukti kuat. Mutu bukti tak langsung tidak dapat diandalkan. Oh, dan detektif-detektif itu punya firasat yang sebagiannya di antaranya aku setuju. Namun apa gunanya firasat tanpa bukti? Sebenarnya kasus itu sudah selesai bahkan sebelum berkembang sama sekali. Si perempuan tidak pernah didakwa kejahatan sebelumnya, namun aku tidak akan menganggapnya kejahatan sempurna jika kejahatan sempurna berarti orang yang didakwa melakukan sebuah kejahatan tetapi lolos hukuman. Namun bagaimanapun, ku pikir tidak ada yang namanya kejahatan sempurna — kejahatan yang tak terbongkar ada; tetapi sempurna? Tidak! Sekarang katakan padaku apakah kebetulan memainkan peranan penting atau tidak? Aku tahu teorimu tentang bagaimana asumsi pandangan dunia kita masing-masing menentukan semua pemikiran dan tindakan. Kalau boleh usul, tolong jangan dulu mengkritik dan ijinkan aku mengungkap sedikit penipuan feminim ini untuk menghiburmu, kalau tidak ada alasan lain yang dapat kau terima. Menurutmu bagaimana?”

Tanpa menunggu tanggapanku, dia bangkit dari kursinya menuju ke kulkas di dapur tempat dia menaruh teh herbal khas kesukaannya. Ku harap dia tidak akan menghidangkannya untuk ku. Teh itu kelihatan seperti air kencing yang sudah lama dan baunya seperti kompos. Aku baru saja hampir mengatakan, “aku tidak minum,” tetapi dia sudah membawa dua gelas, mengisinya dengan potongan es batu, lalu menuangkan teh itu ke dalamnya. Saat dia menuangkan teh ke gelasku, dia berkata, “Kamu boleh mengasumsikan beberapa hal sebelum aku mulai. Kamu bisa mengasumsikan bahwa pembunuhan itu berencana, dan sejauh yang aku tahu pelaku lolos jerat hukum.”

Tetapi aku menolak memberinya pijakan. “Aku tidak akan mengasumsikan apapun tentang apapun! Kamu mau mendukung pandangan tentang adanya kebetulan? Silahkan!” Aku hampir mengatakan “mendukung secara logis”, tetapi aku menahan diri. Lagipula aku adalah tamunya, jadi apa lagi yang dapat kulakukan selain memberi persetujuan terpaksa? Firasatku mengatakan, ia akan mengasumsikan hal yang ia ingin buktikan kebenarannya — sebuah sesat pikir yang lazim dilakukan orang. Hal ini mengingatkanku kepada orang-orang yang “membantah” Hukum Kontradiksi, padahal mereka menggunakannya dalam argumen. Jika aku mengasumsikan apapun, pasti yang diasumsikan itu membuat pandangannya jadi dapat diterima. Apapun itu, aku lebih tertarik dengan pembunuhan, khususnya terkait dengan apa yang dianggap kegagalan Peradilan tersebut.

Pos ini dipublikasikan di Elihu Carranza, Filosofi, Logika, One Murder One, Terjemahan. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s