Sudah Mulai, Tetapi Tidak Akan Berkembang

Berikut adalah diskusi saya dengan seorang muslim yang mencoba logis. Sesuatu yang patut diacungi jempol. Tetapi kelogisannya tidak sampai seberapa langkah karena buru-buru dia membatasi logika dengan mengatakan bahwa aspek tertentu tentang Alllah bisa tidak logis (yaitu aspek yang tidak ketahui). Aspek-aspek tersebut tidak logis karena kita tidak mengetahuinya. Kalau yang jeli bisa langsung melihat invaliditas argumennya di sana.

Perhatikan juga betapa walaupu orang yang berdiskusi dengan saya ini muslim tetapi pandangannya tentang Allah sama dengan beberapa orang kristen Reformed tertentu.

Ini diskusinya:

Bhuku: Inti dari semua ini adalah logika.

Fach Rudin: Logika dalam melihat suatu hal maka akan bersifat relatif atas kebenaran yang ada,karena hal itu dipengaruhi oleh interpretasi masing”.tidak semua bisa dilogikan apalagi berkenaan tentang jati diri Tuhan itu sendiri secara komprehensif.

Bhuku: Jadi menurut Fach, Tuhan tidak logis? Atau coba kau jelaskan dulu maksudmu. Pada saat yang sama, coba Fach jelaskan dulu apa hukum kontradiksi sehingga Allah dapat dikatakan tidak logis.

Fach Rudin: Kelogisan tentang Tuhan,bukan saja akan membicarakan tentang perbuatan Tuhan itu sendiri,melainkan pula tentang wujud Tuhan,bagaimana dan melalui apa Tuhan berbuat,bagaimana kita tahu apa yang kita lakukan itu Tuhan meridhoi setiap perbuatan kita.memandang/membicarakan ttg Tuhan,kita tidak akan bisa sepenuhnya menggunakan logika,yang semuanya harus dan perlu dijabarkan secara logika.

Bhuku: Ya… jadi menurutmu kalau kita tidak punya informasi tentang Tuhan, maka itu artinya Tuhan tidak logis. Begitu kah? Apakah ketika kita berbicara tentang Tuhan dan andaikan Ia telah menyatakan diri kepada manusia, pernyataan itu tidak mengikuti kepada hukum kontradiksi? Ataukah hanya hal-hal yang kita tidak ketahui tentang Tuhan yang tidak logis?

Fach Rudin: Hukum kontradiksi menyatakan bahwa tidak ada sesuatu apapun yang dapat sekaligus benar dan salah pada saat yang sama dan tempat yang sama. Rumusan Aristotle terhadap hukum ini menyatakan bahwa satu atribut tidak dapat dimiliki dan tidak dimiliki oleh satu subyek pada saat yang sama dan dalam hubungan yang sama: tidak mungkin a dan bukan-a (sekaligus).hal itu bisa kita lihat contoh hukum kontradiksi pada mat 3:16-17.

Bhuku: Teruskan.

Fach Rudin: Apakah informasi yang anda dapat tentang Tuhan,semua bya didapatkan secara komprehensif? Jika kebenaran logika bersifat mutlak dalam menangkap informasi ttg Tuhan,maka tidak akan mungkin ada pihak tertentu yang menolak ttg tuhan yang kita percayai, silahkan anda jelaskan apa yang qt bahas dan semoga karakter anda bisa berubah atas gaya bahasanya

Bhuku: Siapa yang mengatakan bahwa kita mengetahui tentang Tuhan secara komprehensif? Pertanyaan saya adalah apakah informasi tentang Tuhan yang tidak ketahui juga mengikuti hukum kontradiksi? Ataukah hanya informasi yang kita ketahui saja yang mengikuti hukum kontradiksi?

Saya tidak berbicara tentang komprehensif tidaknya pengetahuan kita tentang Tuhan. Justeru pertanyaan saya adalah apakah hal-hal yang tidak kita ketahui tentang Tuhan tidak mengikuti atau tidak sesuai dengan hukum kointradiksi?

Dengan demikian, pertanyaan tentang apakah kita mengetahui segala sesuatu tentang Tuhan atau mengetahui semua informasi komprehensif tentang Tuhan, kurang dipertimbangkan dengan matang karena jawabannya sudah implisit dalam komentar saya.

Fach Rudin: Jika anda meyakini tuhan itu logis,maka jelas pertanyaan saya u
tadi untuk anda.jika memang menurut anda tuhan itu logis,berarti apa yang saya pertanyakan anda akan bisa menguraikannya.jika cuma mendapatkan serpihan informasi tentang tuhan saja maka satu sisi bisa dikatakan bahwa ada sisi sisi lain darj tuhan yang tidak bisa dilogikakan

Bhuku: Bisa menguraikan sesuatu atau tidak bisa menguraikan sesuatu tidak berarti hal yang diuraikan itu logis atau tidak logis. Penalaran anda terlalu dangkal kalau anda menyatakan bahwa apakah sesuatu itu bisa dijelaskan atau tidak menentukan apakah dia logis atau tidak. Argumen anda tidak valid.

Ketidakmampuan kita menjelaskan sesuatu, bisa diakibatkan karena kita tidak tahu saja. Ketidaktahuan kita tidak sama dengan ketidaklogisan obyek yang hendak kita jelaskan.

Kalau orang-orang pada jaman Yunani kuno bangkit saat ini dan melihat berbagai kemajuan teknologi, mereka tidak akan bisa menjelaskannya. Bahkan banyak orang yang tidak berpendidikan atau pura-pura berpendidikan saat ini yang tidak bisa menjelaskan tentang teknologi yang kamu dan saya gunakan. Tetapi apakah itu masalahnya pada tidak logisnya teknologi? Atau masalahnya ketidaktahuan akan informasi?

Fach Rudin: kedangkalan dan tidak komitnya anda pada suatu teori,bisa dilihat ketika saya memberikan contoh kongkritnya pada mat 3:16-17.jika anda fair dan loyal atas apa yang anda sampaikan,maka akan ada sebuah penjelasan dari anda atas apa yang saya pertanyakan.tapi sayang…anda cuma sebatas teori,tapi dalam hal aplikasinya bisa dikatakan nol.

Pembahasan yang kita bahas,saya kerucutkan dalam hal masalah ketuhanan seperti awal saya koment,bukan secara general yang terlihat daya tangkap anda sempit atas apa yang saya paparkan yang mengakibatkan apa yang anda bahas anda generelisasikan sendiri padahal saya sudah menekankan bahwa apa yang saya bahas tidak general tetapi membahas dalam hal logika dan tuhan,bukan masalah teknogi atau tetek bengek lainnya

Bhuku Tabuni: He he he he… anda terus saja melakukan Red Herring. Di sini kita berbicara tentang apakah hal tidak kita ketahui tentang Tuhan mengikuti hukum kontradiksi atau tidak. Tetapi kemudian anda komplain bahwa Matius 3 : 16 – 17 bertentangan dengan logika. Itu adalah masalah lain yang harus dibahas setelah diakui apakah framework logika berlaku mutlak atau tidak mutlak. Yang anda angkat adalah pembahasan tentang implikasi sebuah framework yang telah diakui sebagai benar terhadap interpretasi anda akan ayat tersebut.

Sementara itu Saya sedang berbicara tentang framework dan anda tidak punya argumen lagi membantah framework daya. Saya sudah tunjukkan di atas bahwa ketidakmampuan untuk menjelaskan satu obyek pengetahuan tidak berarti bahwa obyek tersebut tidak dapat dipahami atau tidak logis.

Kalau misalnya saya mengikuti kerangka anda bahwa aspek tertentu dari Allah tidak logis, maka Matius 3 : 16 – 17 tidak membawa masalah apapun. Hanya mungkin (penekanan pada mungkin karena belum tentu juga demikian) membawa masalah kalau sendainya kerangka yang saya ajukan benar.

Jadi sekarang apakah anda setuju dengan saya bahwa Tuhan logis? Atau anda masih tidak setuju dengan saya?

Pos ini dipublikasikan di Islam, Islam - Kristen, Polemik. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s