Menghindari Sesat Pikir

Beberapa waktu lalu dalam diskusi dengan seorang yang mengaku muslim (walaupun saya meragukannya – karena alasan-alasan tertentu, yang mungkin saya akan ungkap kalau sudah ada petunjuk yang lebih baik) bernama Fach Rudin, ia mengeritik saya karena dalam pembicaraan tentang Tuhan saya mengangkat contoh dari masalah teknologi (sudah diposting di sini sebelumnya). Dia menganggap hal tersebut tidak logis. Dia menganggap bahwa saya tidak konsisten. Selama ini saya banyak berbicara tentang logika, tetapi dalam pelaksanaannya, saya tidak konsisten.

Saya tidak tahu apa yang ada dalam benak Fach Rudin waktu itu. Yang jelas pembicaraan tentang hal lain yang berbeda dari pokok yang dibicarakan bisa jadi merupakan sesat pikir. Sesat pikir yang dimaksud adalah sesat pikir Red Herring dan dalam beberapa kasus bisa jadi juga Straw Man, tergantung dari naturnya.

Tetapi pembicaraan tentang hal lain yang tidak ada kaitan langsung dengan topik yang dibahas bisa jadi juga bukan sesat pikir. Hanya orang yang punya pemahaman dangkal tentang logika yang akan mengatakan bahwa setiap kita mengangkat hal lain yang tidak ada hubungan langsung dengan topik yang dibahas, maka itu pasti Red Herring atau Straw Man.

Bisa terjadi bahwa argumen dari bidang lain yang diangkat hanya merupakan argumen analog dengan argumen yang dikemukakan. Content/isi dari argumen yang diangkat itu memang berbeda tetapi bentuknya sama sehingga kalau satu argumen tidak valid, maka keduanya tidak valid. Jadi membandingkan kedua argumen berbeda isi tersebut demi menunjukkan bahwa keduanya tidak valid, bukan sebuah masalah logika.

Berikut adalah kutipan dari buku “Pengantar Logika” tulisan Elihu Carranza (Terjemahan Dhan, Rony dan Bhuku) yang membahas masalah yang diangkat pada judul tulisan ini (lihat link: https://terjemahanbukulogicprimer.wordpress.com/). Di bawah ini adalah tulisan dimaksud. Secara khusus perhatikan pembahasan tentang contoh Presiden Kennedy dan Presiden Johnson.

Menghindari Sesat Pikir

Seperti yang telah kami sarankan di bagian lain, konteks tidak boleh diabaikan ketika menilai sebuah sesat pikir. Demikian juga, konteks tidak boleh diabaikan saat menentukan apakah kita harus memberi label sebuah penalaran sebagai sesat pikir informal. Sebagai contoh, ketika orang tidak menganggap sebuah ungkapan emosional sebagai suatu kesimpulan yang tak terhindarkan, maka tidak pada tempatnya kita menuduh orang tersebut melakukan sesat pikir informal. Demikian juga, ketika semua pendekatan logis telah gagal untuk meyakinkan seorang penentang yang secara sadar dan sengaja tidak mengindahkan kebenaran dan lebih memilih kesalahan, maka apa lagi yang tersisa selain ad hominem (bukan ad hominem abusif/hinaan yang yang adalah sesat pikir)? Bungkam? Mungkin demikian. Namun tak dapat diragukan juga bahwa ada saat-saat dimana kita harus berterus-terang. Bahkan ad baculum bisa menjadi satu-satunya alternatif; misalnya ketika seorang polisi dihadapkan dengan seorang penjahat bersenjata.

Ad hominem tidak boleh dicampuradukkan dengan ad hominem yang bersifat abusif/menghina. Ad hominem adalah sebuah bentuk argumen yang mengasumsikan proposisi-proposisi yang dipegang orang lain sebagai benar demi menghasilkan kesimpulan yang kontradiktif atau kesimpulan-kesimpulan yang tak dapat diterima oleh orang yang berpegang pada proposisi-proposisi tersebut.

Namun terdapat keadaan khusus yang mengharuskan kita mengemukakan pertanyaan bermuatan pada orang lain. Contoh: Pertanyaan “Dimana kamu sembunyikan mayat itu?” atau “Apakah kau sadar apa hukuman untuk sumpah palsu?” merupakan pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat digolongkan sebagai sesat pikir informal, kalau dasar penggunaannya sudah kuat. Konteks merupakan hal yang penting dalam menilai pemakaian bahasa.

Apa yang dapat dilakukan untuk menghindari sesat pikir informal? Harusnya jelas bahwa menyatakan kepada seseorang bahwa dia sedang melakukan penalaran ad hominem abusif/hinaan tidak selalu memberi efek yang diinginkan yaitu orang tersebut berdiam diri dan merenungkan penalarannya. Orang tersebut mungkin tidak mengetahui apa yang Anda maksud dengan ad hominem, atau sesat pikir informal. Jika sudah demikian, apa lagi yang dapat dibuat? Bukankah kita harus berputus asa karena kejadian tersebut? Namun, identifikasi argumen palsu menggunakan nama yang tepat adalah langkah awal yang penting. Langkah kedua membutuhkan definisi yang jelas dari istilah yang bermakna ambigu atau samar-samar. Pada langkah ketiga, kita boleh mengemukakan contoh yang bertentangan, namun sepenuhnya analog dengan sesat pikir informal yang dikemukakan dimana premis-premisnya jelas-jelas benar dan kesimpulannya jelas-jelas salah.

Sebagai contoh, misalkan seseorang berargumen:
“Jika Presiden Kennedy dibunuh, maka ia mati. Nah, semua orang setuju bahwa Kennedy sungguh telah mati. Oleh karena itu, Presiden Kennedy pasti dibunuh.”

Argumen ini keliru secara formal, karena merupakan Sesat Pikir Mengakui Konsekuen. Namun demikian, cara lain untuk mendemonstrasikan sesat pikir yang mungkin lebih efektif dibanding menggunakan metode-metode formal, adalah dengan mengemukakan kontra argumen yang jelas-jelas keliru.

Hal yang diperlukan dalam menyusun sebuah kontra argumen yang mengeksplisitkan sebuah penalaran yang keliru adalah (1) proposisi-proposisinya memiliki bentuk yang sama dengan bentuk proposisi argumen yang hendak ditunjukkan kesalahannya, (2) formatnya identik dengan proposisi argumen yang hendak ditunjukkan kesalahannya, dan (3) premis-premisnya benar dan kesimpulannya salah.

Sebuah kontra argumen terhadap argumen di atas dapat disusun seperti di bawah ini:
“Anda juga bisa berargumen bahwa Jika Presiden Johnson telah dibunuh, maka ia mati. Nah, Presiden Johnson mati. Oleh karena itu, Presiden Johnson telah dibunuh.”

Jelas, kesimpulan kontra argumen tersebut tidak diharuskan oleh premis-premisnya yang benar. Dengan demikian, kesimpulan argumen yang sebelumnya juga tidak diharuskan oleh premis-premisnya.

Pos ini dipublikasikan di Elihu Carranza, Filosofi, Logic Primer, Logika, Sesat pikir, Sesat Pikir Informal dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s