Diskusi Dengan Orang Yang Merasa Paham Filsafat

Ini adalah diskusi saya dengan Khalid Al Walid, seorang yang merasa diri sudah belajar epistemologi moderen dan menganggap filsafat lama tidak berlaku lagi dan tidak penting. Sayangnya, walaupun katanya sudah belajar teori-teori moderen, kemampuannya tidak seberapa. Pembelajaran teori-teori epistemologi itu hanya membuatnya memiliki kesombongan kronologis dimana teori-teori baru dianggap benar dan teori lama dianggap salah.

Diskusi ini adalah sambungan dari diskusi sebelumnya di postingan sebelumnya.

Satu hal lagi yang dilakukan si Khalid adalah ia hanya pintar klaim dan ketika klaim-klaimnya dipertanyakan, tidak ada jawaban. Dia malah menggunakan jurus psikologis menakut-nakuti saya akan kejatuhan karena sudah terlalu banyak berteori, seolah-olah ia tidak berteori sama sekali atau minim berteori.

Untuk memberi sedikit pelajaran, saya mencoba melakukan yang dia lakukan, yaitu dengan mengemukakan klaim terhadap si Khalid yang dia tidak suka, tetapi saya tidak akan mendukung klaim tersebut demi memberinya racun yang dia sendiri pakai untuk orang lain.

Sebenarnya diskusi ini bisa diperluas ke diskusi mengenai isu-isu filsafat dialektik, dll. Tetapi melihat kemampuan diskusi Khalid yang berada jauh di bawah standar, maka perluasan diskusi hanya membuat diskusi tidak nyambung.  

Berikut adalah diskusi tersebut:

Khalid: ok.. lanjut ke ranah yg lebih praktis… 1 Muhammad+ 1 jibril + 1 Allah = …… ??…>> 1 Firman (Al quran) + 1 Muhammad + 1 Ruhul Qudus (Jibril) = …???

Bhuku: 1 Firman (Al quran) + 1 Muhammad + 1 Ruhul Qudus (Jibril) = 1 kumpulan tiga hal berbeda.

Khalid: nanggung amat jwbnya… ? langsung ke intinya: Bapa+ Anak+ Roh Kudus= 1 kumpulan……?

Bhuku: 1 Allah. Saya menjawab setelah saya cukup menunjukkan kebodohan anda bahwa 1 + 1 + 1 tidak harus = 1. Step by step bro.

Khalid: 1+1+1=3 benar (logika umum)… 1+1+1= 1 benar (logika subjektif)…. filsuf kok menyalahkan…? hadew…. skrg sudah zaman post modern brother… kebenatan itu tidak ada yg mutlak..semua relative..tergantung sudut pandang atau dalam bhs ente kacamata yg dipakai… paham nduk…?

Bhuku: Halah… jadi kalau 1 orang + 1 orang + 1 orang = 1 kelompok orang merupakan logika subyektif? Kau menggunakan epostemologi apa itu? Di atas empirisisme sudah dibantah sebagai dasar. Sekarang pake apa lagi neh? Rasionalisme? Irasionalisme? atau apa ya? Tolong dong dijelaskan?

Tolong jelaskan ke saya apa pandangan post modermisme terhadap hukum-hukum logika. Jangan hanya koar-koar post-modernisme, tetapi gak tahu apa itu post-modernisme.

Silahkan.

Khalid: angka 1 adalah satuan utk mengukur.. misal 1 liter, 1 km, 1 kg… 1kg gula + 1meter papan+ 1 liter air = error! karena ketiganya tidak menggunakan satuan yg sama… >> hal itu berlaku juga pada hal yg tidak bisa di ukur (maha)… misalnya Allah.. berapapun anda menambahkan sesuatu kepada Allah hasilnya tetap 1… tetapi.. hanya orang2 yg tak paham logika saja yg coba menjumlahkan Allah…makanya ilmu penjumlahan itu hanya bisa dinamakan doktrin trinitas… ilmu itu tidak akan masuk ke ranah teori trinitas.. paham gak?

ente mencoba mengkaburkan masalah dengan merubah satuan hitung.. seperti diatas 1 orang+1 orang + 1 orang = 1 kelompok orang..persamaanya spt ini: 1org+1 org+1 org = (1+1+1) orang = 3 orang…

Bhuku: Halah… Teori ngeles. Memangnya Allah itu satu apa sehingga dia tetap dianggap satu walau ditambahkan berapapun? Kata anda 1 itu adalah satuan untuk mengukur. Jadi anda harus kasih tahu ke saya Allah itu satu apa.

Teori anda bahwa 1 + 1 + 1 harus = 3 sudah dibantah dalam ranah empiris, yaitu ranah yang anda mungkin agungkan. Sekarang coba anda coba katakan dalam ranah mana lagi teori anda tidak terbantahkan? Misalnya dalam ranah mimpi atau ranah apa kek. Biar saya paham.

Satu lagi ya. Anda mengatakan bahwa logika umum sudah dibantah. Apa sih logika umum? Apakah hukum kontradiksi masuk logika umum? Kalau ia, bagaimana anda membantah hukum itu tanpa bergantung padanya? Sila……

Khalid: semakin ente merasa di atas angin… jatuhnya akan semakin sakit.. uh!

Bhuku: Jadi itu jawaban terhadap pertanyaan saya. Hanya psikologisasi. Hmmm.. One can only wonder why.

Khalid: semua teori dan semua hasil pemikiran manusia dapat di bantahkan… termasuk segala macam teori anda. Itu terjadi karena ente mendapat ilmu dari prasangka yg di pupuk dengan dogma/doktrin… >> tidak mungkin anda berhasil dalam ranah pengetahuan sebelum anda membebaskan diri dari prasangka, doktrin dan dogma.. tiga unsur itu dibahasakan al kitab dengan sebutan dosa asal.

Bhuku: Jadi yang kau katakan di atas bukan teori buatan manusia sehingga tidak mungkin salah. Kok hebat yaah?

Khalid: semakin anda berteori nanti semakin sakit jatuhnya…

Bhuku: Wah… Lalu di atas anda tidak berteori… Gajah di pelupuk mata tidak dilihat. Ck ck ck

Khalid: saya membenarkan pendapat saya… kebenaran yg saya gunakan adalah kebenaran objektif: sebagian besar orang punya pemikiran yg sama dengan saya> di dunia ini tidak ada kebenaran yg mutlak kecuali 1. setiap mahluk hidup pasti mati… ke 2. (.. rahasia…) >>> perhatikan contoh berikut: Waktu Yesus menyembuhkan orang buta, masyarakat bertanya apakah orang buta sejak lahir ini karena perbuatan dosanya dimasa lalu, atau karena dosa orang tuanya. Kebenaran subyektif, orang buta sejak lahir karena dosa. Kebenaran objectif ” orang ini buta sejak lahir ” Kebenaran realitas : jawaban Yesus ” bukan karena dosanya, bukan pula karena dosa orang tuanya, tetapi karena demikianlah yang tersurat .

Bhuku: Khalid, anda sedang berbicara tentang apa?

Apakah karena sebagian besar orang setuju dengan anda maka artinya apa yang anda anggap benar itu pasti benar? Anda menggunakan ‘sebagian besar’ itu, berdasarkan data statistik dari mana? Hitler merasa bahwa apa yang dia lakukan benar. Mayoritas orang yang dia kenal setuju dengan dia.

Pada jaman Elia, sebagian besar orang setuju dengan Ahab. Tetapi ternyata Elia yang benar.

Sekarang anda mengatakan bahwa sebagian besar orang setuju dengan anda. Lalu apa jaminan bahwa pandangan sebagian besar orang itu berimplikasi kebenaran posisi yang anda anggap benar?

Mimpi? Wahyu? Persaan? Atau apa yang menjadi dasar bagi anda bahwa sebagian besar orang yang setuju dengan anda itu sedang berpegang pada yang benar?

Khalid: saya kasih contoh yg lebih gamblang: Rombongan masa membawa seorang wanita pelacur yang akan menjalani hukuman rajam kehadapan Yesus. Yesus katakan ” siapa diantara kalian yang tidak pernah berbuat salah, dialah yang paling dulu melemparkan batu kepada perempuan ini ” Mereka semuanya saling pandang, lalu pergi satu-persatu, sehingga tinggal pelacur dengan Yesus. Yesus katakan pergilah kamu, jangan berbuat demikian lagi. Kebenaran subyektif adalah wanita itu pendosa, tuna susila, pelacur, dan harus dihukum. Kebenaran itu dibentuk oleh opini masyarakat yang dibangun oleh pemimpinnya berdasarkan pandangan moralitas, budaya, dan ajaran agama mereka. Kebenaran objektif adalah ” prempuan itu mencari nafkah dengan menjual jasa pelayanan sexual” Didalam masyarakat modern,dimana hak azasi manusia dijunjung tinggi, kebenaran objektif berlaku umum. Misalnya wanita Indonesia memakai pakain minim dalam konstes kecantikan, di Indonesia diharamkan karena mereka memandang dari sudut keyakinan mereka. Di dunia barat hal seperti itu biasa-biasa saja, karena berpakain itu merupakan hak asasi manusia, tidak bisa dibatasi oleh keyakinan sesorang atau kelompok mayoritas. Dalam hal moralitas, sasarannya adalah wanita, karean perempuan pihak yang lemah. Kebenaran relitas ialah, Yesus melihat perempuan itu menjalani kehidupannya seperti apa yang tersurat. Kebenaran ini hanya bisa dilihat oleh mereka yang mempunyai penglihatan bathiniah. Perempuan ini sama sekali tidak bersalah, apalagi berdosa, karena dia menjalani program kehidupannya yang diberikan Allah kepadanya. Untuk dapat melihat kebenaran realitas ini, anda harus bisa masuk kedalam alam realitas, pintu masuk kedalam alam realitas adalah bathin anda. Untuk dapat melihat pintu itu bathin anda harus diberishkan.

Bhuku: Contoh Yesus membantah orang yang hendak menghakimi seorang wanita itu adalah contoh yang membuat posisi anda runtuh dengan sendirinya. Anda mengatakan bahwa posisi anda adalah posisi yang diterima sebagian besar orang alias posisi yang obyektif. Posisi orang banyak itu adalah posisi obyektif karena semua orang percaya bahwa perempuan itu harus dirajam. Posisi Yesus adalah posisi minoritas. Tetapi ternyata posisi Yesus adalah posisi yang benar. Dengan demikian, tidak ada jaminan bahwa posisi anda, yang didukung oleh sebagian besar orang pasti benar. Posisi anda terbantahkan.

Anda mengangkat tentang dress code di Indonesia dan di Barat. Memangnya fakta itu, menurut anda, membantah apa? Membantah logika atau membantah argumen? Atau membantah apa?

Khalid: semua wanita yg menjual jasa esek2 adalah pezina… semua pezina harus di hukum mati… kemudian ada wanita yg menjual jasa esek2. Apa keputusan anda: a. mengamggap dia orang suci b. menganggap dia pendosa c.. isi sesuai dengan kemauan anda..

Bhuku: Silahkan anda jelaskan ke saya, apa yang tidak tepat dari argumen tersebut dan bagaimana tidak tepatnya. Coba anda patahkan argumen tersebut. Katanya anda sudah belajar filsafat. Silahkan.

Apakah bentuknya yang salah atau isinya yang salah? Lalu kalau misalnya isinya salah, apakah bentuknya juga salah?

Tetapi seperti saya katakan tadi, kalau anda tidak bisa membedakan antara isi dan bentuk argumen, saya bisa paham dan tidak akan menuntut anda lebih lanjut. Ini cukup untuk saya tahu saja.

Khalid: di tataran teori… semua yg anda bicarakan adalah benar.. artinya kebenaran yg anda miliki adalah subjektif (benar menurut anda…) lebih tepatnya lagi anda melakukan pembenaran. >> Anda melakukan serangan intelektual agar saya juga mempercayai anda benar. Akan tetapi saya berpegang teguh pada kebenaran ilmiah yg sudah di sepakati masyarakat banyak. Walaupun sekeras apa usaha anda tidak akan dpt menyalahkan teori 1+1+1=3… tetapi anda berputar putar dengan opsi lain :1+1+1=1…hmmm..sayang e..di sayang… anda gagal.

Bhuku: Masyarakat ilmiah mana yang terlalu naif untuk mengatakan bahwa 1 + 1 + 1 harus sama dengan 3 dan tanpa peduli term yang diterapkan pada masing-masing angka yang dilibatkan?

Coba anda kutip sebuah hukum dalam dunia ilmiah yang mengatakan hal tersebut. Silahkan kutip sekaligus judul buku atau traktat dan penerbit yang menyatakan demikian.

Anda jangan hanya berkoar-koar sok pintar di sini. Apa anda pikir kita semua di sini tidak paham sesuatu yang ilmiah?

Sekali lagi, silahkan kemukakan buku, traktat, jurnal ilmiah serta penerbit dan tahun penerbitan yang menyatakan demikian. Kalau tidak, minta maaf, saya harus memandang anda sebagai seorang yang kerjanya hanya memaksakan sesuatu yang menurut anda ilmiah dan diterima secara umum tetapi sebenarnya tidak.

Berikutnya, anda membedakan antara teoritis dan nyata. Apakah sesuatu yang teoritis itu disjungsi penuh dengan sesuatu yang pasti benar? Ataukah anda hanya pintar koar saja?

Hal yang anda belum jawab sejak awal adalah apakah 1 + 1 + 1 = 3 merupakan disjungsi lengkap dari 1 + 1 + 1 = 1, ataukah keduanya adalah cara berbeda untuk mengungkap kebenaran yang bisa jadi sama? Coba anda katakan dan berikan justifikasi.

Anda juga pengagum empirisisme, pertanyaan saya adalah darimana anda tahu bahwa emprisisme itu memberikan anda kebenaran? Apakah anda dapat wahyu dari Tuhan? Ataukah ada hanya karena merasa itu benar, maka orang lainpun harus mengakui bahwa itu benar?

Khalid: saya pengagum empirisme… ya… benar. *empirisme adalah sebuah pendekatan kebenaran yg diakui BPOM dan Civitas akademika (Perguruan tinggi)… Mengakui atau tidak empirisme itu hak anda, keyakinan tak pernah bisa di paksakan

Bhuku: Halah…. jadi karena anda pengagum empirisisme maka empirisisme pasti benar karena sebagian besar hasil penerapan empirisisme berguna untuk anda. Kebergunaan = kebenaran. Hebat.

Saya juga tidak memaksa anda untuk berpindah dari gua tersebut… Sejak awal saya sudah bilang, terserah anda.. Anda punya hak untuk melakukan kesesatan apapun dan bahkan menganggap kesesatan itu sebagai bukan kesesatan.

Khalid: saya cuma berkata: empirisme adalah pendekatan kebenaran. *tetapi anda menyimpulkan: jadi karena anda pengagum empirisisme maka empirisisme pasti benar karena sebagian besar hasil penerapan empirisisme berguna untuk anda. Kebergunaan = kebenaran. >> ente berhalusinasi ya….? cepat sekali klimaksnya? ups…

Bhuku: Halah…. kalau anda mengatakan pendekatan terhadap kebenaran, maka anda pasti sudah tahu apa itu kebenaran sehingga anda berani mengatakan kebenaran itu didekati dengan emprisisme. Pertanyaan, apakah anda mengetahui kebenaran dari empirisisme atau dengan cara lain sehingga anda berani mengatakan bahwa empirisisme mendekati kebenaran?

Kalau anda cuma pengagum empirisisme, maka anda tidak valid ketika mengatakan bahwa karena empirisisme anda posisi anda benar (karena banyak orang setuju dengan anda), maka posisi anda pasti benar.

Kalau posisi anda tidak pasti benar, ya weelll.. he he he… isi sendiri.

Khalid: Saya sudah tahu apa itu kebenaran hakiki.. dalam bhs arab namanya Al Haq. Dan saya juga tahu siapa jalan, kebenaran dan hidup. >>> tetapi saya belum memimiliki pengetahuan tentang itu, saya pikir andapun demikian..

Bhuku: Itu menurut anda.. tetapi mengapa saya harus menerima teori anda? Karena anda seorang filsuf dan saya seorang pembelajar, maka seorang pembelajar harus tunduk kepada seorang filsuf?

Dari jawaban anda di atas, jelas anda tidak tahu apa itu kebenaran. Anda mengklaim tahu kebenaran hakiki tetapi tidak tahu tentang kebenaran hakiki. Hebat sekali. Bagaimana anda tahu bahwa yang anda tahu itu kebenaran hakiki kalau anda tidak tahu apa-apa tentang kebenaran hakiki itu?

Tetapi kalau anda tidak tahu itu kebenaran hakiki (entah apapun itu artinya), anda tahu dari mana bahwa empirisisme membawa anda mendekati kebenaran? Anda tidak tahu tujuan anda dimana, tetapi anda mati-matian merasa bahwa kapal yang anda tumpangi sedang mendekati tujuan anda.

Terasa sedikit lucu.

Lalu kalau misalnya yang anda percayai bukan kebenaran hakiki, mengapa anda membantah pandangan saya seolah-olah pandangan anda adalah pandangan yang benar dan pandangan saya adalah pandangan yang salah? Hebat ya

Khalid: siapa yg berkata saya mempercayai empirisme…? #mulai_meramal lagi…ups

Bhuku: Siapa yang mengatakan anda percaya empirisisme? Mungkin mata anda tidak membaca baik-baik sehingga salah baca.😀

Khalid: nih saya copaskan: Lalu kalau misalnya yang anda percayai bukan kebenaran hakiki, mengapa anda membantah pandangan saya seolah-olah pandangan anda adalah pandangan yang benar dan pandangan saya adalah pandangan yang salah?

Bhuku: Nah…. itu khan anda yang salah tulis dan saya tidak perlu justifikasi pandangan saya ini, seperti halnya anda tidak merasa perlu menjustifikasi berbagai pandangan anda di atas.

Aneh juga sekarang anda mencoba memberi justifikasi pada pandangan anda dengan mengutip apa yang saya tuliskan, setelah sebelumnya tidak bisa mempertanggung-jawabkan teori-teori filsafat anda sama sekali.

Bagus…. bagus… ini adalah langkah maju. Semoga ke depan diskusinya lebih baik lagi ya. Semoga anda memberikan justifikasi terhadap posisi anda. Semoga anda tidak hanya berani menjustifikasi hal-hal remeh seperti yang anda lakukan barusan.

Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Logika, Polemik. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s