Pahami Dulu Apa Yang Anda Hendak Bicarakan

Di bawah ini adalah diskusi saya dengan seorang yang menggunakan nama Khalid Al Walid di salah satu grup diskusi. Perhatikan bagaimana dia mati-matian mau mempertahankan pandangan bahwa 1 + 1 + 1 harus sama dengan 3, tanpa memperhitungkan perbedaan antar term yang dilekatkan pada angka-angka tersebut.

Sementara itu saya berargumen mendukung pandangan bahwa 1 + 1 + 1 bisa jadi sama dengan 1, bergantung pada jenis term yang dilekatkan pada angka-angka yang digunakan. 1 orang + 1 orang + 1 orang = 1 kelompok orang. Dan itu tidak melanggar hukum logika manapun.

Pada awalnya keyakinan si Khalid begitu kukuh akan pandangannya, tetapi kemudian meluruh karena tidak ada argumen pendukung posisinya. Tetapi bukannya berhenti berpegangan pada pandangannya, ia malah mengharuskan saya mengikuti pandangan dia yang tanpa justifikasi itu.

So, ini diskusinya:

Bhuku: http://recordings.talkshoe.com/TC-128517/TS-1042402.mp3

Kutipan Kuliah Ronald Nash tentang pandangan Cornelius van Till tentang logika. Menarik.

Khalid: secara logika 1+1+1= 3

Bhuku: Secara logika 1 + 1 + 1 = 1, asalkan term di masing-masing proposisi berbeda.

Khalid: ya gak bisa gitu kalees… kopi+ gula+ air= kopi gitu…?

Bhuku: Memangnya makna dari kata satu tidak dipengaruhi oleh kata yang ditempelinnya begitu?

Khalid: ya gak bisa gitu kalees… kopi+ gula+ air= kopi gitu…?

Bhuku: 1 orang + 1 orang + 1 orang ndak sama 1 kelompok orang begitu? Hebat yahh.. Kalau nggak bisa.

Khalid: sudah jelas… 1 bapak + 1 anak + 1 burung merpati = oplosan…

Bhuku: Walah…. Sudah jelas kok anda hanya straw Man… Straw man itu istilah lainnya masturbasi intelektual. Sory aja bung. H he

Khalid: begini saja… ente sudah belajar epistemologi belum? … sudah tau sekarang filsafat era apa? bahasan kau basi bngett…. sori aja nak.

Bhuku: He he he nduk,… Emangnya epistemologi mana yang mengharuskan bahwa 1 + 1 + 1 harus 3 tanpa kualifikasi term yang ditempeli?

Waduh nduk, saya nggak belajar filsafat. Makanya saya berpegang pada pandangan bahwa 1 + 1 + 1 bisa 1, tergantung pada term yang ditempelinya.

Jadi tolong kasih tahu saya epistemologi mana yang mengharuskan 1 + 1 + 1 = 3, tanpa memperhatikan term yang ditempelinya. Tolong.

Khalid: sori menyerang pribadi… hanya bcanda..

Bhuku: Maaf juga saya sudah membalas candaannya dengan candaan balik.ūüėÄ

Khalid: secara empiris 1+1+1=3… silahkan buka buku metode penelitian kulitatif… >> sayang di sayang…. ranah teori 1+1+1=1 tidak masuk dalam standard empiris,,, mungkin di buku tafsir mimpi dan ramalan togel teori itu berlaku…

Bhuku: Halah……. Memangnya secara empiris 1 orang + 1 orang + 1 orang tidak sama dengan 1 kelompok manusia, kalau sekelompok manusia berarti kumpulan lebih dari seorang manusia. Lalu kalau anda penggemar empiris, saya coba tanya anda, bagaimana anda tahu 1 secara empiris, tanpa konsep yang sudah anda asumsikan sejak awal.

Khalid: 1 manusia+ 1 manusia + 1 manusia= 3 manusia… >> lah anak kecil aja tau 1… knp di rumit2 kan?

Bhuku: adi, 1 manusia+ 1 manusia + 1 manusia= 3 manusia adalah kontradiksi dari 1 manusia+ 1 manusia + 1 manusia= 1 kelompok manusia manusia, sehingga hanya salah satu yang benar? Hebat sekali. Coba sebutkan epistemologi macam apa yang mengatakan demikian. Empirisisme sudah gagal. Mungkin ada punya epostemilogi lain.

Khalid: 1 mie + 1 bumbu + 1 air panas = 1 mie instan yg nikmat…. itu baru betul…. >>> 1 bangsa aceh+ 1 bangsa batak+ satu bangsa jawa+ …..dst = 1 bangsa Indonesia… itu namanya kesatuan… tidak bisa di bilang ESA

Bhuku: Karena itu 1 + 1 + 1 = 1 bisa jadi proposisi yang benar, tergantung pada term yang ditempelinya. Bagus… Paling tidak anda sudah mengaku.

Khalid: berubah…! atur formasi…. saatnya bersatu! ky’ power ranger aja…hihihi.. hahaha…. sprtinya ente bangga sekali punya teori kesatuan…. uh..

Bhuku: Entah mau kayak Power Ranger atau kayak siapa, itu hak anda menganalogikan. Analogi, sebatas analogi tidak masalah. Tetapi kalau dari analogi dalam aspek tertentu anda menyimpulkan identitas/kesamaan dalam segala hal, baru anda melakukan sesat pikir.

Tapi yaah… anda mau melakukan sesat pikir semau anda, silahkan aja.

Tetapi yang jelas anda sudah membantah teori pertama anda bahwa 1 + 1 + 1 harus 3. Awal yang baik.

Kalau saya bangga, memangnya anda mau apa? Tetapi anda tahu darimana bahwa saya bangga? Dari pernyataan saya di atas?

Hmmm

Khalid: ok kita lanjut… #persamaan 1: 1 ikan + 1 garam + 1 air laut= 1 samudera…#persamaan 2: ikan lebih kecil dari air laut.. #persamaan 3: ikan ada di dalam air laut dan air laut ada di dalam ikan>>> pertanyaanya: 1. apakah ikan= air laut? 2. Apakah ikan = samudera? utk ahli logika soalan sprti ini sangat mudah di jwb…slhkeun

Bhuku: Mengapa harus mengambil contoh 1 ikan + 1 garam + 1 air laut? Mengapa tidak mengambil contoh 1 manusia + 1 manusia + 1 manusia? Apakah 1 ikan + 1 garam + 1 air laut membantah contoh 1 manusia + 1 manusia + 1 manusia? Dengan kata lain apakah kedua contoh itu saling kontradiktif sehihgga kalau satu benar, maka yang lain salah? Kalau saling kontradiktif, silahkan kemukakan kontradiktifnya dimana.

Khalid: klo gak bisa jwb bilang aja… takut banget mkn umpan… wkwkwk…

Bhuku: Walah…. Ternyata tidak seberapa toh….. Kirain tadi lebih baik dari rata-rata.

Mengapa anda hanya mengangkat satu contoh yang mendukung anda dan ketika ditunjukkan Bahwa ada contoh lain yang membantah argumen anda, anda memaksa hanya menggunakan contoh anda? Menarik kan? And melarikan diri dari dari satu perlindungan ke perlindungan lain dikejar-kejar musuh. Ki ki ki ki ki

Khalid: udah…. jawab aje….. malu ya…?

Bhuku: He? He he he… Kacamata kudanya semakin kelihatan ya… Kalau tidak bisa melarikan diri lagi, begini deh jadinya. Jalur yang saya sudah amati sejak lama. Hmmm….

Khalid: Mai ma Nginu ai ko… biar konsentrasi….

Bhuku: Ah… ‘bole rihi ae ne nginu mawo, mi’ji do ‘do kerabba ne penge ne. Masa ta perai we au kalau lawan bantah pendapatnya.

Jadi setelah posisi kacamata kuda bahwa 1 + 1 + 1 harus = 3 dibantah, muncul posisi kacamata kuda lainnya, yaitu 1 di sebelah kiri persamaan haruslah menempeli term berbeda. Setelah ditunjukkan bahwa hal itu tidak ada justifikasi, dan lawan menolak mengikuti pikiran kacamata kuda, maka lawan yang dianggap salah.

Penolakan terhadap penalaran kacamata kuda dianggap sebagai kesalahan.

Kok hebat sekali Ya…. Mungkin dalam agamanya memang logikanya kacamata Kuda ya?

Kisahnya mirip cerita seorang petinju yang bisanya hanya jab. Ketika lawan menahan atau menghindar jabnya, dia protes karena itu adalah satu-satunya senjatanya dan senjata itu sekarang menjadi mandul. Ki ki ki ki…

Khalid: jd ingat sebuah kalimat: Jika orang bijak beperkara dengan orang bodoh, orang bodoh ini mengamuk dan tertawa, sehingga tak ada ketenangan.

Bhuku: Biasalah…. Berperkara dengan orang bebal dia akan menggunakan semua peribahasa yang dalam konteksnya baik, tapi dia gunakan itu untuk menutupi ketidakmampuannya membantah posisi lawan. Terima kasih karena terus – menerus menunjukkan kebodohannya Khalid. Good luck for your next journey.

Khalid: cuma berputar2 di ranah teori…. tapi… tapi… soalan mudah gitu gak berani jwb. sekali kali mampir ke grup OBROLAN SANTAI TENTANG FILSAFAT.. biar wawasan ente terbuka.. oke Nawenni? Orang kita bilang anda ini ba’i ngao kelas kakap… ee ternyata… good luck lah..

Bhuku: He he he… anda pikir ada ranah mudah/praktis tanpa teori? Khalid, belajar lagi nggih….. Anda berputar-putar di dalam teori kacamata kuda dan ketika didesak untuk keluar dari kacamata kudanya, anda merasa hebat dengan kacamata kudanya?

Khalid, anda kan ngomong filsafat terus… jadi tidak berlebihan kalau saya berani katakan bahwa anda ini manusia guanya Plato yang tidak suka dikoreksi atau diberi pencerahan.

Ki era au awe, mai ko we mai pedai ‘jara filsafat. Oke ngalai? ‘Je ‘bole rihi ne kebarro ki do ta itu ko we ta pe abu nga filsafat. Kasia ne pe’delo pa hari-hari dou.

Khalid, saya hanya pembelajar.. kalau anda mau berbicara filsafat silahkan saja. Anda sepertinya hebat sekali filsafatnya…..

Khalid: guanya plato… masih aja filsuf jadul di bawa2… cobalah masuk ke filsafat modern lebih bagus lagi ke post modern…

Bhuku: Khalid, coba jelaskan ke saya pandangan filsafat modern yang membantah apa yang saya katakan.

Khalid: apanya yg perlu dibantah? alur pemikiran anda tidK masuk logika umum… tidak masalah sih… karena logika umum sudah di patahkan berabad-abad yg lalu…>> ngomong2 sejak kpn anda bisa menghitung 1..

Bhuku: Kalau tidak ada yang dibantah, yaa… Berarti anda omdo aja. Pertanyaan yang sama juga berlaku untuk anda, karena anda yang mengangkat isu 1 + 1 +1 di sini. Masa anda yang angkat, saya yang ditanya?

Khalid: ok.. lanjut ke ranah yg lebih praktis… 1 Muhammad+ 1 jibril + 1 Allah = ‚Ķ‚Ķ ??…>> 1 Firman (Al quran) + 1 Muhammad + 1 Ruhul Qudus (Jibril) = ‚Ķ???

Bhuku: 1 Firman (Al quran) + 1 Muhammad + 1 Ruhul Qudus (Jibril) = 1 kumpulan tiga hal berbeda.

 

Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Logika, Polemik, Sesat pikir. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Pahami Dulu Apa Yang Anda Hendak Bicarakan

  1. Ping balik: Diskusi Dengan Orang Yang Merasa Paham Filsafat | Futility over Futility

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s