Keharusan Logika Tidak Sama Dengan Berargumen Untuk Membebaskan Diri Dari Dosa

Ketika Paulus menulis Roma 1:16-32, atau lebih luas lagi, ketika penulis Alkitab menuliskan ayat manapun dalam Alkitab, maka para penulis mempraanggapkan bahwa hukum kontradiksi berlaku.

Hukum kontradiksi ini berimplikasi bahwa ketika digunakan dalam kalimat-kalimat yang ditulis, kata-kata memiliki arti tertentu dan tidak bisa berarti apa saja.

Bagaimana kalau hukum ini tidak berlaku! Kalau hukum ini tidak berlaku, maka ketika Paulus menulis, “Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya” kalimat itu bisa berarti “Injil bukanlah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya” atau “Injil adalah kutukan Allah yang menghukum setiap orang yang percaya” atau “Bhuku adalah seorang pintar yang menyelamatkan setiap orang yang percaya” “Semua yang tidak percaya Bhuku akan masuk dalam neraka kekal”, dll dst tak terhingga banyaknya makna.

Memang benar logika tidak disebutkan secara eksplisit dalam ayat-ayat Kitab Suci tersebut. Tetapi tidak disebutkan secara eksplisit tidak sama dengan logika tidak penting. Ketika saya mengajak orang “Mari berangkat dari Kupang ke SoE menggunakan mobil!”, ada hal yang tidak dikatakan alias hal yang diasumsikan sebagai benar. Hal yang diasumsikan itu adalah bahwa ada kemungkinan bagi orang berangkat dari Kupang ke SoE menggunakan mobil. Mungkin pernyataan bahwa “ada kemungkinan bagi orang berangkat dari Kupang ke SoE menggunakan mobil” tidak dinyatakan secara eksplisit. Kalaupun tidak dinyatakan secara eksplisit, tetapi hal itu sangat penting. Bayangkan jadinya kalau hal itu tidak benar!

Bayangkan apa jadinya kalau tidak mungkin berangkat dari Kupang ke SoE menggunakan mobil! Kalau sampai terjadi demikian dan masih ada orang yang mengajak orang lain berangkat dari Kupang ke SoE menggunakan mobil, maka orang yang mengajak itu kemungkinan hanya bercanda dan perjalanan ke SoE tidak bisa dilakukan.

Contoh lain hal yang harus dipraanggapkan sebagai benar tetapi tidak dinyatakan secara eksplisit adalah ketika orang menasehat orang lain yang sedang kesulitan untuk berdoa meminta tolong kepada Tuhan. Di balik nasehat itu ada asumsi bahwa Tuhan ada dan Tuhan akan memberi pertolongan. Bisa jadi hal itu tidak dinyatakan secara eksplisit, tetapi harus benar. Kalau tidak benar atau kalau tidak dianggap benar, maka nasehat itu menjadi tidak bermakna.

Di samping itu, kepercayaan akan esensialnya logika tidak sama dengan meminta orang untuk berargumen demi mengeluarkan diri/membebaskan diri dari dosa. Itu adalah dua hal berbeda. Tetapi tanpa logika, tidak ada dosa, tidak ada keselamatan, tidak ada Allah, tidak ada manusia, tidak ada apa-apa.

 

Pos ini dipublikasikan di Injil, Logika. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s