‘The Dictator’ dan Logika

Beberapa minggu lalu saya menyaksikan film berjudul The Dictator keluaran tahun 2012 di Netflix (yang sekarang sudah diblokir oleh Telk*m). Film tersebut merupakan sebuah film humor yang menayangkan kisah seputar kehidupan seorang bernama AladeenAladeen adalah seorang diktator narsistik dari sebuah negara bernama Wadiya. Si Aladeen adalah seorang yang memiliki selera yang aneh (dan mungkin dapat dikategorikan jahat). Salah satu hal aneh yang ia pernah lakukan adalah mengadakan Olimpiade yang aturannya dia tentukan sendiri. Pada akhir Olimpiade, Aladeen memenangkan 14 medali emas (mungkin memang hanya ada 14 medali emas yang diperebutkan dan ia mencatat berbagai rekor dunia dalam Olimpiada tersebut). Salah satu adegan menunjukkan bahwa dalam sebuah pertandingan lari si Aladeen ikut jadi atlit dan ia sendiri yang memegang pistol tanda perlombaan dimulai. Dia berlari beberapa meter terlebih dahulu sebelum membunyikan pistol tanda perlombaan dimulai. Saat ada pelari yang hendak mendahuluinya, ia menembak kaki pelari tersebut dengan pistolnya. Pada akhirnya tidak ada yang berani mendahuluinya dan ia menjadi pelari pertama yang sampai di garis finish – dan mendapat medali emas.

Masih banyak lagi hal buruk lain yang dia lakukan. Namun ada kelakuan Aladeen yang lain yang terkait dengan logika, yang mungkin dapat menjadi pembelajaran bagi mereka yang menganggap logika tidak penting, atau menolak hukum-hukum logika. Dikisahkan bahwa Aladeen mengganti 300 kata dalam kosa kata bahasa Wadiya dengan satu kata yaitu ‘Aladeen’. Kata-kata yang telah diganti tidak boleh dipergunakan sama sekali. Kata-kata yang diganti itu termasuk kata ‘positif’ dan ‘negatif’.

Dalam satu adegan, digambarkan kebingungan yang diakibatkan perubahan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu rakyat Wadiya pergi ke klinik dan menguji apakah ia positif atau negatif HIV. Namun di negeri Wadiya, apapun hasil ujinya selalu memberi hasil “HIV Aladeen” karena kata ‘positif’ dan ‘negatif’ sudah diganti dengan kata ‘Aladeen’. Orang Wadiya yang malang tersebut hanya bisa bengong ketika mendengar vonis dokter bahwa ia HIV-Aladeen. Harapan untuk mendapatkan informasi yang diinginkan sirna.

Dalam satu adegan lain, Aladeen yang terkadang suka bercanda secara tidak sengaja menembaki pejabat militernya, karena tombol pengaman pistol punya dua opsi yang sama yaitu ‘Aladeen’ dan ‘Aladeen’. Ia sebenarnya tidak sengaja menembak si pejabat. Ia hanya bercanda. Namun karena baik posisi pelatuk terkunci dan tidak terkunci diberi label ‘Aladeen’ (sesuai titah-nya), pistol yang tidak dalam keadaan terkunci ditarik pelatuknya dan si pejabat harus merelakan nyawa.

Hal ini menarik karena menyadarkan kita akan pentingnya hukum-hukum logika dan pentingnya mempelajari logika. Hal yang sangat buruk akan terjadi kalau kita mengabaikan logika, apalagi kalau kita mengabaikan logika dalam hal-hal yang sangat penting. Bayangkan apa jadinya kalau logika diabaikan oleh seorang pilot. Ketika ada perintah dari menara untuk mendarat, dia menganggap bahwa ungkapan “Silahkan mendarat” bisa berarti apa saja dan dia memilih untuk tetap mengudara sampai 4 jam!

Berikut adalah cuplikan salah satu adegan film tersebut:

Pos ini dipublikasikan di Film, Filosofi, Logika dan tag , , . Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s