Berupaya Berargumen a la Sofis, Tapi Tak Kuasa Menahan Beban Logika

Di bawah ini adalah diskusi dengan seorang bernama Khalid al Walid di sebuah grup diskusi. Awal diskusi tersebut adalah terjemahan beberapa argumen Kaum Sofis pada jaman Yunani Kuno yang begitu suka berargumen, tetapi argumennnya menipu. Dalam postingan tersebut saya menegaskan pentingnya belajar logika namun diharapkan untuk berhati-hati kalau belajar logika sehingga tidak sama dengan Kaum Sofis yang suka menipu. Saya juga menekankan bahwa kalau belajar logika, maka argumen menipu a la Kaum Sofis akan dengan mudah dipatahkan.

Si Khalid muncul dan mempertanyakan apa konsekuensinya kalau tidak hati-hati. Belajar dari pengalaman sebelumnya berdiskusi dengan Khalid dimana berulang-ulang dia kedapatan menipu, saya menjawab bahwa kalau tidak hati-hati maka kita akan menipu orang seperti yang Khalid biasa lakukan.

Khalid kemudian mencoba membantah bahwa kalau belajar logika yang adalah produk Barat, maka kita akan berakhir seperti Galileo yang sesat. Implikasinya, tampaknya adalah bahwa dengan belajar logika orang akan sesat. Karena itu logika tidak penting (kalau belajar tentang teologi).

Masalah Galileo adalah masalah rumit yang penuh pro kontra dimana argumen dari berbagai pihak terkait begitu banyak dan kalau saya mengikuti dia, maka akan mengalihkan diskusi dari apa yang saya tegaskan dalam postingan awal saya. Yang dilakukan Khalid adalah contoh klasik sesat pikir Red Herring. Sebuah tipuan murahan dimana orang mengangkat isu lain yang tidak ada hubungan langsung dengan pokok diskusi awal demi menghindari sengatan argumentasi lawan. Kalau kita tidak jeli berdiskusi dengan orang seperti Khalid, maka kita akan terbawa dan isu awal yang kita angkat akan terlupakan. Karena itu saya membelokkan kembali diskusi ke titik awal dan membahas isu yang dia angkat yang terkait dengan postingan awal saya, yaitu pentingnya logika.

Syukurnya si Khalid terpaksa harus meladeni isu yang saya angkat, walaupun pada akhirnya ia enggan melanjutkan pembicaraan dan mengabaikan pertanyaan klarifikasi saya. Tampaknya ia malas berdiskusi secara runut dimana kedua belah pihak harus meminta klarifikasi dari lawan. Gaya yang disukai Khalid adalah gaya diskusi jalanan atau gaya diskusi di TV-TV yang lebih cocok jadi lawakan daripada diskursus serius.

So, ini adalah diskusi saya dengan Khalid dan isu yang dibahas adalah “Apakah logika penting dan apakah logika penting dalam berteologi?” 

Bhuku: Terkadang, sebagai orang yang suka menyebarkan informasi tentang logika, saya takut bahwa usaha ini akan memunculkan kelompok orang seperti Kaum Sofis pada jaman Yunani Kuno. Tetapi karena pertimbangan tertentu, saya putuskan untuk tetap menyebarluaskan informasi tentang logika. Kalau orang belajar logika secara baik, mainannya Kaum Sofis ini tidak laku. Mereka menjadikan argumen yang tidak valid menjadi kedengaran valid.Di bawah ini adalah contoh argumen Kaum Sofis. Kalau anda belajar logika, akan sangat mudah untuk mengetahui kesalahan dalam argumen kaum Sofis.

Khalid: klo tidak hati2 trus knp?

Bhuku: Klau tidak hati-hati yaa…. Jadi sama ke bu to. Argumennya parah.

Khalid: loh knp berpikir harus pake standar barat… justru pikiran2 sesat dan pemikiran yg tidak umum melahirkan banyak produk2 keilmuan baru…contoh’ gereja mengatakan bumi datar tetapi ada orang sesat yg berpikir bumi itu bulat..kemudian dia nekat membuktikannya. Dan sekarang cuba ente lihat siapa yg terbukti benar.

Bhuku: Ooo… Jadi hukum – hukum logika adalah ciptaan orang Barat sehingga tidak dipakai dalam konteks orang Indonesia. Baiklah. Berarti kamu mengharuskan kita menggunakan standar keilmuan Barat. Terima kasih anda sudah mengakuinya.

Khalid: berpikir aja di atur2 apalagi hidup ente..? pastinya hidup ente terkurung dalam segala macam peraturan, dogma dan segala macam teori yg menurut anda benar…padahal tidak ada kebenaran yg mutlak, kebenaran di dunia ini bergerak dinamis searah ritme hukum TUHAN menuju harmoni dan keseimbangan alam semesta.

Bhuku: Berarti anda mengaku bahwa posisi saya benar. Anda mengakui bahwa hidup yang diatur oleh dogma itu benar dan bahwa ada kebenaran mutlak. Teruma kasih sudah menerima pandangan saya.

Anda juga mengakui bahwa hidup anda terkurung dalam dogma yang mengatakan bahwa kita tidak boleh hidup dalam kurungan dogma. Ia eee..🙂

Esra: Hehe….baingao ni ma

Khalid: eh..siapa yg omong bagitu? adoh…

Bhuku: Khalid ni orang yang katong kenal ju tampaknya pak Esra.

Dia menyangkali bahwa logika adalah produk dari Barat sehingga sonde bisa digunakan orang kayak katong dari Timur. Artinya kalau tadi dia sonde pake logika berarti dia mengaku pandangannya salah.

Khalid: #Bhuku.. siapa yg bilang b kenal sama ente…? adoh…. belum ambil hipotesa kok sdh kesimpulan…adoh…!

Bhuku: Katanya logika sonde penting. Logika itu produk dari Barat sana. Untuk apa beta berargumen yang turut logika, demi menyenangkan Khalid? Hmmm…. .. Ataukah logika itu berlaku kalau memuaskan Khalid dan tidak berlaku kalau tidak memuaskan Khalid?

Kalau logika itu produk Barat dan kita dari TImur tidak boleh menggunakannya karena merupakan produk Barat, maka Khalid puas atau tidak puas, bukan masalah. Masa beta harus memuaskan rasa ente?😀

Khalid: kata orang jawa… ente ini “slenco”

Bhuku: Jadi kalau logika tidak berlaku dan orang mengikuti pola penalaran anda bahwa logika tidak berlaku (karena logika adalah produk Barat), maka orang tersebut tidak nyambung. Memang dapat dipahami.

Tetapi tanpa logika, ‘slenco’ juga bisa berarti ‘anda sudah kalah berargumen’ dan hanya sok-sok pintar saja. Semoga anda tidak puas.😀

Tapi sejujurnya yaahhh… anda ini persis seperti Kaum Sofis dalam kutipan di atas. Memang lumayan aneh karena anda mati-matian di atas mengatakan bahwa logika itu produk Barat dan tidak perlu dipatuhi. Tetapi anda patuh dan taat pada standar Sofis. Luar biasa.

Khalid: siapa yg mengatakan logika tidak berlaku..? adoh… jangan menerka nerka sesuatu ky’ peramal… yg pasti2 aja.

Bhuku: Ooohh… bukan Khalid yang bilang logika tidak berlaku. Cuma tadi ada orang yang menyerupai Khalid di atas yang bilang seperti itu. Tulisan di atas berbicara tentang pentingnya logika sehingga balon-balon Kaum Sofis (seperti anda) dapat dengan mudah dibocori. Eh… tidak tahu dari mana tiba-tiba ada seorang yang pake Khalid punya akun dan menolak mengikuti standar logika. Menolak mengikuti standar logika yaaahh… sama dengan logika tidak perlu diterapkan. Logika tidak diterapkan berarti logika tidak berlaku (setidaknya dalam tulisan anda).

Tetapi kalau logika juga harus berlaku dalam tulisan anda, yaahh…. berarti anda omdo aja. He he he… Apa tadi istilahnya? Slenco?

Khalid: Saya emang sedikit slenco tp udahlah..paling gak masih bnyk orang yg lebih parah dari ane…xixixi..Apakah yg logis itu tentu benar? klo tidak knp anda mengikutinya..?

Bhuku: Paling tidak anda mengaku. Lumayan lah…. Paling tidak anda sudah menunjukkan sekali lagi bahwa ketika argumen anda dipatahkan, maka anda mengalihkan pembicaraan sekarang pertanyaannya adalah apakah logis itu pasti benar?

Pertanyaan bagus, tetapi ada pertanyaan yang lebih mendasar dari itu yang kalau anda bisa lewati dengan baik, kita baru akan membahas tentang apakah logis berarti benar. Pertanyaannya adalah ‘Apakah ada hal yang dapat dipahami, kalau logika tidak berlaku’? Atau untuk membawa pertanyaan itu ke level anda, pertanyaannya saya re-formulasi menjadi “Apakah ada kategori ‘benar’ dan ‘salah’ kalau hukum logika tidak berlaku?”

Pertanyaan ini lebih mendasar dari pertanyaan anda karena pertanyaan anda sudah mengasumsikan bahwa ada kategori ‘benar’ dan ‘salah’ yang harus kita pilih. Pertanyaan ini lebih mendasar dari pertanyaan anda karena mempertanyakan apakah ada justifikasi bagi keberadaan kategori ‘benar’ dan ‘salah’.

Silahkan Khalid.

Khalid: 1. Pertanyaannya adalah ‘Apakah ada hal yang dapat dipahami, kalau logika tidak berlaku’? Ada.. comtoh: sewaktu anda TK mama anda bilang..nak ini kerbau (anda tak perlu berlogika macam2.. karena anda punya pengetahuan langsung bagaimana wujud kerbau, bagaimana bulunya, bagaimana aroma ee’ nya dst)…>> jika jwbn saya sudah memuaskan anda maka sila anda jwb pertanyaan saya

Bhuku: Tidak menjawab pertanyaan saya. Pertanyaan saya adalah apakah ada kategori ‘benar’ dan ‘salah’ ketika logika tidak berlaku, Anda melarikan diri dan mengambil contoh dari apa yang anda anggap masa kecil saat ibu saya mengatakan ‘Nak, itu kerbau.’ Anda mengatakan bahwa saya bisa mengetahui proposisi itu karena saya sudah punya pengetahuan tertentu tentang kerbau.

Seperti saya bilang di atas, jawaban seperti ini sedang mengabaikan pertanyaan saya. Anda hanya beralih bidang pembahasan saja dari ‘benar’ dan ‘salah’ menjadi ‘tahu’ dan ‘tidak tahu’. Karena itu pertanyaan saya di atas masih berlaku, tapi perlu direvisi untuk cocok dengan bidang yang anda angkat. Saya tidak tahu apakah setelah ini anda akan melarikan diri lagi atau tidak. Kita akan lihat.

Pertanyaan saya adalah, kalau logika tidak berlaku, karena berasal dari barat, apakah ada kategori ‘kerbau’ dan ‘bukan kerbau’? Apakah ada kategori ‘aroma kerbau’ dan bukan ‘aroma kerbau’? Atau apakah ada kategori ‘bulu kerbau’ dan ‘bukan bulu kerbau’? Apakah ada kategori ‘pantat kerbau’ dan ‘pantat non kerbau, misalnya pantat Khalid’? Bagaimana semua itu bisa ada kalau hukum logika tidak berlaku?

Ataukah saya harus berasumsi bahwa hukum logika berlaku demi memuaskan anda? Tetapi kalau logika tidak berlaku, memuaskan anda sama saja dengan tidak memuaskan anda.😀

Khalid: Adoh..banyak banget pertanyaanya…? >>< sederhana saja… dalam hiduo kira hanya perlu tahu ini kerbau, ini sapi, ini kambing, ini ayam tak perlu berlogika macem macem: kerbau termasuk mamalia…kambing termasuk herbivora… mince termasuk ayam dst. >> tanpa logikapun hidup bisa berjalan… anda tak perlu bertanya: kambing adalah herbivora..apakah bisa makan ikan? itu sebenarnya tak perlu…kasih saja kambing itu dengan ikan.. beres kan.

Bhuku: Jadi tidak bisa jawab. Baguslah. Saya bisa paham kalau anda tidak bisa menjawab. Postingan anda terakhir hanya mengatakan bahwa memang demikianlah adanya dan tanpa logika pembedaan-pembedaan itu tetap ada. Jadi tampaknya di sini saya sedang berbicara dengan centeng pasar yang berpura-pura jadi filsuf. Not bad.

Supaya anda tahu, kalau anda belum tahu, tanpa hukum kontradiksi, maka ‘pantat kerbau’ bisa berarti ‘pantatnya Khalid’ atau ‘pantat kuda’ atau ‘pantat Bhuku’. Tanpa hukum kontradiksi, semua yang anda katakan dan tuliskan bisa berarti apa saja. Ketika anda menolak logika, maka itu artinya anda menerima logika. Ketika anda menolak apa yang saya katakan, itu artinya anda menerima apa yang saya katakan. Logika adalah prakondisi bagi pengetahuan dan bagi semua kategorisasi yang manusia gunakan.

Khalid: Iya silahkan saja.. cuba kau pakai filsafat ente: Bagaimana manusia bisa diangkat jadi TUHAN?.. Padahal Tuhan tidak bisa dijangkau pake’ lohika

Bhuku: Manusia diangkat menjadi Tuhan itu kan ajaran anda. Mengapa anda tidak menjelaskan bagaimana logisnya ajaran tersebut? Apakah anda hanya bisa mempercayai ajaran tersebut tanpa justifikasi, sehingga saya yang diminta untuk memberikan justifikasi?

Sekarang saya tanya anda, memangnya ajaran ‘Manusia diangkat menjadi Tuhan’ itu melanggar hukum logika yang mana?

Khalid: betul sekali…saya sendiri heran knp ibu dan anak yg tidak jelas dimana jasadnya kok dinyatakan oernah hidup… menebus dosa lagi… ado

Bhuku: Memangnya hukum logika apa yang dilanggar oleh kepercayaan seperti itu? Ataukah hukum logika tidak penting? Kalau tidak penting, maka ocehan anda di atas berarti anda mengakui bahwa ada sesosok Anak yang mati demi dosa manusia.

Khalid: saya yakin hukum logika tidak penting dalam mengkaji objek yg diluar indera…

Bhuku: Terus saja melarikan diri. Anda tahu darimana bahwa hanya yang dapat diinderai yang tunduk pada logika? Ketika anda berbicara tentang keadilan dan ketidakadilan, anda sedang brbicara tentang sesuatu yang berada di luar indera. Berarti adil tidak adil tidak ada perbedaan karena semua yang berada di luar indera tidak tunduk pada hukum-hukum logika. Dengan demikian, adil = tidak adil = nafsu = ketiadaan = tuhannya Khalid = kebodohan. Baiklah!

Khalid: Nah klo bisa tolong bagaimana caranya TUHAN bisa punya Anak..?

Bhuku: Anda bertanya tentang cara atau mekanisme, atau anda sedang bertanya bagaimana logisnya pernyataan bahwa ‘Tuhan punya Anak’?

Khalid: xixixi… masa gitu aja sonde bisa jwb

Bhuku: Yaahh… kalau saya menggunakan prinsip anda bahwa logika tidak berlaku, maka bisa jadi pertanyaan tersebut sebenarnya bukan pertanyaan, tetapi pernyataan untuk menyetujui pandangan saya. Terima kasihlah kalau begitu.

Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Logika, Polemik. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s