Penggunaan perbedaan I – thou dan I – It yang tak bertanggung jawab

I – thou atau I – It (entah apa persisnya makna yang digunakan), tanpa justifikasi dipakai oleh beberapa pihak (yang mengaku beragama kristen) untuk mendukung pendapat bahwa kebenaran sebuah proposisi tergantung pada hubungan/sikap pihak yang mengeluarkan proposisi. Tapi secara logis (dan teologis) hubungan antar subyek yang berpegang pada sebuah proposisi sikap seorang subyek yang berpegang pada proposisi tidak mempengaruhi benar tidaknya sebuah proposisi. Dalam logika, anda sedang melakukan sesat pikir ad hominem kalau anda mempersalahkan sebuah proposisi karena faktor lain di luar proposisi tersebut. Pandangan seperti itu juga membawa kepada kebebalan dan ketidakmampuan belajar dalam segala waktu.

Tetapi harus diakui bahwa I – thou atau I – It mempengaruhi cara sebuah gagasan diterima atau ditolak. Terus-terang saya tidak suka dikritik secara tajam, apalagi di depan umum. Tetapi walaupun tidak suka, kalau yang dikatakan benar, saya akan sadari itu dan melakukan perubahan secara diam-diam. Sebaliknya kalau sebuah konsep salah, walaupun yang mengungkap konsep tersebut sopan, saya tetap tidak menerimanya – walaupun mungkin masih berteman baik dan penolakan diberikan dengan sopan. Tetapi kalau sejak awal sudah menyalahkan pembawa berita karena cara bawanya yang dianggap tidak benar, maka berharaplah akan tercipta generasi yang bebal.

Nilai kebenaran sebuah proposisi tidak dipengaruhi cara orang mengungkapnya atau tidak dipengaruhi oleh apakah orang yang menyatakannya melakukan berita yang dibawa atau tidak. Tapi memang benar bahwa sebisa mungkin kita mengungkap sebuah kebenaran dengan cara yang elegan. Tetapi tidak harus selalu demikian.

Tuhan Yesus pernah mengatakan kepada orang di jamannya bahwa mereka boleh mengikuti apa yang dikatakan oleh para orang Farisi dan Ahli Taurat (yang benar) tanpa mengikuti apa yang mereka lakukan. Tuhan Yesus menolak perilaku para Farisi dan Ahli Taurat, tetapi menerima sebagai benar apa yang benar yang mereka katakan.

Paulus juga melakukan demikian dan tampaknya tidak peduli dengan I – thou atau I – It yang diekstrapolasi terlalu luas. Ia menulis: …..tetapi yang lain karena kepentingan sendiri dan dengan maksud yang tidak ikhlas, sangkanya dengan demikian mereka memperberat bebanku dalam penjara. Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita,

Konsep I – thou atau I – It memang mungkin bermanfaat, tetapi jangan terlalu diperluas secara tidak bertanggung jawab.

Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Logika, Praktis. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s