Kesombongan Kronologis vs Inferioritas Kronologis

Menarik ketika ada orang yang mengatakan bahwa teologi A, B, dan C yang sudah lama tidak boleh dipegang secara ketat, padahal ia sendiri berpegang pada salah satu dari teologi (setidaknya metode/kerangka berteologinya) yang lama yang tadi dikatakan tidak boleh dipegang secara ketat tersebut, tetapi dengan proposisi yang baru.

Yang lebih menarik lagi adalah orang itu lupa bahwa masing-masing teologi dan cara berteologi tersebut punya praanggapan sendiri-sendiri dan kadang-kadang praanggapan dasar A dan B sama, tetapi praanggapan dasar A dan B berbeda (malah bertentangan) dari C. Seandainyapun si orang ini menggabungkan teologi A, B, dan C, atau menambahkan proposisi baru dalam teologinya, maka jelas dia punya praanggapan dasar sendiri ketika melakukan itu. Tapi saya tidak yakin orang-orang dari golongan tersebut akan berani mengungkap praanggapan dasarnya, apa lagi menilainya.

Pertanyaannya adalah dari mana dia tahu bahwa praanggapannya benar? Kemungkinan besar akan dia menilai benar salahnya praanggapan dasarnya dari kemampuan cara berteologinya menyentuh kehidupan sehari-hari sehingga lebih baik. Tetapi masalahnya adalah cara berteologi yang lain juga menyentuh kehidupan sehari-hari, walaupun dengan cara yang berbeda dari cara berteologinya atau cara yang dia inginkan menyentuh kehidupan sehari-hari. Atau bisa saja orang yang berteologi secara berbeda tersebut belum sempat menjabarkan teologinya untuk menyentuh kehidupan sehari-hari dengan cara yang dia (si pengeritik) mau.

Ketika teori heliosentris dikemukakan (atau lebih tepatnya diangkat kembali oleh Kopernikus – karena teori tersebut sudah ada sejak jaman Yunani kuno), teori tersebut tidak serta-merta berguna untuk memprediksi gerak planet tertentu. Malah teori geosentris (yang adalah kontradiksinya) sangat bermanfaat saat itu. Tetapi apakah teori heliosentris dibuang begitu saja karena tidak ada manfaat? Kalau misalnya kita menggunakan pandangan orang yang disebut di atas, maka tentunya harus dibuang karena tidak ada guna sama sekali.

Kemudian ada teori Lamarck yang disingkirkan Darwinisme. Tetapi sekarang-sekarang tampaknya teori Lamarck lebih koheren menjelaskan fenomena tertentu yang tidak diketahui jaman Darwin.

Pertanyaan untuk orang ini adalah kalau saya mau mengadposi cara berpikir atau berteologi anda, apa dasar saya untuk percaya bahwa cara berteologi anda benar. Saya yakin ia tidak dapat memberikan alasan (setidaknya sejauh yang saya bisa lihat) dan akan bersembunyi di balik kemanfaatan bagi kehidupan sehari-hari.

Atau mungkin dia akan menjadikanya sebagai aksioma. Tetapi itu untuk pembahasan lain.

Intinya, sebuah pandangan lama tidak selalu tak benar atau tak bermanfaat. Tetapi hak itu juga tidak berimplikasi bahwa pandangan lama pasti benar dan bermanfaat. Jangan terjatuh ke dalam kesombongan kronologis ataupun inferioritas kronologis.

Pos ini dipublikasikan di Filosofi. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s