Apa yang Dapat Kita Pelajari dari Logika Yesus?

Oleh Thaddeus Williams 

Yesus di Yerusalem

Kita mulai di Yerusalem di jalan setapak Bait Suci. Waktu itu adalah hari Selasa sore sebelum Yesus dieksekusi. Seorang pengacara meminta-Nya mendefinisikan hukum terbesar/terutama dari ke-613 perintah dalam Hukum Yahudi. Yesus menjawab, “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan segenap akal budi/pikiranmu.”1 Yesus peduli tentang pikiran/akal budi kita sehingga Ia menjadikannya sebagai bagian dari hukum terutama yang pertama.

Namun apa artinya mengasihi Allah dengan segenap akal budi/pikiran kita? Jonathan Edwards menyediakan petunjuk penting untuk menjawab pertanyaan ini. Dalam Yesus, kata Edwards, “kita temukan roh ketaatan terbesar pada perintah dan hukum Alllah yang pernah ada di alam semesta.”2 Yesus tidak hanya berbicara tentang hukum yang terutama, tapi Ia melaksanakannya dengan lebih baik dari siapapun. Karena itu, perintah terbesar/terutama paling baik dipahami bukan sebagai prinsip abstrak tetapi sebagai darah daging Yesus saat Ia berada di dunia ini. Lalu bagaimana seorang yang paling taat terhadap hukum Allah yang terbesar/terutama mengasihi Allah dengan pikiran-Nya?

Beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan si pengacara, Yesus menunjukkan seperti apa sebenarnya pikiran/akal budi yang mengasihi Bapa. Kaum Saduki, yang merupakan orang Yahudi yang cerdas secara politik, menantang Yesus di depan umum/di hadapan orang banyak untuk menguji pikiran-Nya. Seperti dikatakan sejarawan Josephus, Kaum Saduki “menganggap perdebatan dengan para guru filsafat yang sering bertemu dengan mereka sebagai sebuah kebajikan/nilai.”3 Para veteran perdebatan ini mengumpulkan kejeniusan kolektifnya demi menyusun sebuah perangkap cerdas bagi Yesus. Mereka memulainya dengan sebuah kisah sedih. Seorang wanita kehilangan suaminya. Adik suaminya mengawini dan memberi dukungan kepadanya. Suami tersebut juga meninggal, dan kemudian kawin lagi dengan saudara iparnya yang lain. Kisah sedih ini terus berulang sampai giliran adik paling bungsu juga meninggal. Akhirnya si janda meninggal.4 Seperti halnya tragedi dalam cerita tulisan Shakespear, cerita yang dikarang Kaum Saduki ini berakhir dengan semua tokoh meninggal di panggung.

Jesus tidak mundur, menghindar, atau mengancam/menggertak mereka.

Dengan kisah suram tujuh pernikahan dan delapan penguburan, Kaum Saduki telah selesai memasang perangkap logisnya. Langkah berikutnya yang mereka ambil adalah menyodorkan umpan dan secara saksama memasang pelatuk dengan pertanyaan sederhana: “Siapakah di antara ketujuh orang itu yang menjadi suami perempuan itu pada hari kebangkitan? Sebab mereka semua telah beristerikan dia.”5 Untuk memahami betapa terampilnya Kaum Saduki menyusun perangkap intelektual, kita perlu melihat struktur logisnya. Kaum Saduki menggiring Yesus untuk masuk ke dalam sesuatu yang disebut para filsuf sebagai sebuah “dilema destruktif.”6 Penalaran dilema destruktif adalah sebagai berikut:

  1. Jika x benar, maka A atau B pasti benar.
  2. A dan B salah.
  3. Karena itu, x juga salah.

Kalau terlihat terlalu abstrak, dilema tersebut menjadi jelas kalau kita mengisi strukturnya dengan argumen spesifik Kaum Saduki. X yang mereka ingin buktikan bahwa Yesus salah adalah kepercayaan Yesus akan adanya ‘kehidupan setelah kematian’. Seperti yang Josephus beritahukan kita, “Doktrin Kaum Saduki adalah: Jiwa/roh mati saat tubuh mati.”7 Dilema destruktif untuk membantah kepercayaan Yesus tentang kehidupan setelah kematian adalah:

  1. Jika (x) orang meninggal akan bangkit kembali, maka si perempuan akan (A) kawin dengan ketujuh orang saat bangkit, atau (B) hanya akan kawin dengan salah satu dari tujuh bersaudara itu saat bangkit.
  2. (A) salah karena kalau kawin dengan ketujuh bersaudara, maka hal itu akan melanggar hukum pernikahan sebagai sebuah lembaga monogami, dan (B) salah karena merupakan hal yang tak berdasar kalau si perempuan hanya mengawini salah satu dari ketujuh suaminya.
  3. Karena A dan B salah, maka x —yaitu kepercayaan Yesus bahwa orang mati akan bangkit juga salah.

Kaum Saduki mengetahui bahwa kalau Yesus memilih dengan satu jawaban tersebut, yaitu A atau B, maka kredibilitasnya sebagai seorang rabbi akan terkoyak dan berdarah di depan umum. Tampaknya tidak ada jalan keluar terhadap perangkap dilema ini.

Apa yang dilakukan oleh sebuah pikiran yang mengasihi Bapa dalam masalah intelektual seperti itu? Apakah Yesus berkata, “Hei! Coba lihat ke sana!” dan kemudian melarikan diri bersembunyi ke dalam gua terdekat? Apakah Ia menghina mereka dengan mengelus kepala mereka Sambil berkata, “Berhentilah mengajukan pertanyaan bodoh, tutup mata, dan ambillah lompatan iman bersama Aku.”? Apakah Ia mengancam akan menghajar mereka dengan api dari langit karena tega mengajukan pertanyaan kepada-Nya? Tidak semuanya. Yesus tidak mundur, menghindar, atau mengancam.

Ia menjawab, “Karena pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga…”8 Yesus menelanjangi perangkap yang dipasang Kaum Saduki. Ia mengungkap asumsi tersembunyi dalam argumen mereka, serta asumsi mereka yang salah bahwa orang yang bangkit akan kawin. Karena orang yang bangkit tidak kawin dan dikawinkan,” maka tidak perlu khawatir siapa yang akan dipanggil dengan “sayang” oleh perempuan itu dalam kekekalan. Yesus mengemukakan apa yang para filsuf sebut sebagai tertium quid, artinya “hal ketiga,” yaitu bukan A yang jelas salah atau B yang jelas salah, tetapi C yang benar.

Setelah mengungkap sesat pikir yang dilakukan dalam argumen ‘anti kehidupan setelah kematian’ dari Kaum Saduki, Yesus mengemukakan argumen pro kehidupan setelah kematian-Nya sebagai berikut: “Tetapi tentang kebangkitan orang-orang mati tidakkah kamu baca apa yang difirmankan Allah, ketika Ia bersabda: Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup.”9 Yesus mengingat kisah dari Kitab Keluaran di mana Allah bersabda kepada Musa bahwa ia adalah Allah dari ketiga orang yang jantungnya telah lama berhenti berdetak.

Bagaimana hal ini mendukung kepercayaan Yesus bahwa kematian fisik bukan akhir dari kehidupan manusia? Secara singkat, jika Allah orang hidup adalah merupakan Allah Abraham, Ishak, dan Yakub pada masa kini, maka ketiga orang tersebut dalam pengertian tertentu masih hidup. Coba ikuti penalaran Yesus berikut:

  1. Jika (x) “jiwa/roh mati kalau tubuh mati” maka (A) Allah hanya dapat mengatakan bahwa (pada masa lampau) Ia adalah Allah bagi ketiga orang yang telah mati, atau (B) Allah adalah Allah orang mati.
  2. (A) salah karena Allah berfirman dalam Keluaran 3 : 6 bahwa “Akulah” (menggunakan bentuk waktu sekarang) Allah tiga orang yang telah mati, dan (B) salah karena Allah adalah bukan Allah orang mati, tetapi Allah orang hidup.
  3. Karena A dan B salah, maka x—yaitu kepercayaan Kaum Saduki bahwa jiwa/roh mati kalau tubuh mati, juga salah.

Apakah saudara bisa melihat kecemerlangan pikiran yang menaati hukum yang terutama? Yesus menggunakan gaya penalaran yang sama dengan yang digunakan untuk menjebaknya, yaitu dilema destruktif. Namun kali ini tidak ada jalan melarikan diri dari logika/penalaran Yesus tanpa mengakui realitas kehidupan setelah kematian. Para pakar itu pun malu.10 Orang banyak yang para pakar itu harap akan terkesima dengan kesalahan yang dilakukan Yesus, justeru terkesima dangan hal yang berbeda sama sekali, yaitu kecemerlangan Yesus.11

Dallas Willard menulis, “‘Yesus adalah Tuhan merupakan pernyataan yang tidak punya banyak makna dalam kehidupan praktis bagi siapa pun yang harus enggan sebelum berkata ‘Yesus cemerlang.’ Ia tidak hanya baik, tetapi cemerlang.”12 Perdebatan dengan Kaum Saduki ini membantu kita menghargai setidaknya sembilan ciri kecemerlangan Yesus. Saat mengitari jalan setapak Bait Suci bersama Yesus untuk menelusuri pemikirannya, kita melihat sebuah cetak biru tentang bentuk dan dimensi baru dari pikiran yang menyembah Dia.

Dikutip dari buku REFLECT: Becoming Yourself by Mirroring the Greatest Person in History, tulisan Thaddeus Williams, Ph.D. ©2017 Thaddeus Williams; dengan ijin dari Weaver Book Company, weaverbookcompany.com.

Thaddeus Williams, Ph.D., melayani sebagai asisten profesor teologi sistematik di Biola University in La Mirada, California. Ia adalah penulis buku baru berjudul REFLECT: Becoming Yourself by Mirroring the Greatest Person in History.

CATATAN dari bab “Akal Budi: Mencerminkan Pemikiran Yesus yang Mendalam “:

1. Matius 22 : 37

2. Jonathan Edwards, “The Excellency of Christ,” in The Works of Jonathan Edwards, vol. 1 (Peabody, MA: Hendrickson, 2000), 682.

3. Josephus, Antiquities of the Jews, 18.1.4, in Josephus: Complete Works, trans. William Whiston (Grand Rapids: Kregel, 1982), 377.

4. Matius 22:23-27.

5. Matius 22: 28.

6. Bagian ini, khususnya tentang penjabaran argumen Kaum Saduki, didasari karya rekan saya Douglas Groothuis dari Denver Seminary.

7. Antiquities of the Jews, 377.

8. Matius 22 : 30.

9. Matius 22 : 31-32.

10. Lihat Matius 22 : 34.

11. Lihat Matius 22 : 33.

12. Dallas Willard, “Jesus the Logician,” Christian Scholar’s Review, vol. 28, no. 4 (1999): 605–14.

Diterjemahkan Ma Kuru dari: http://www.crosswalk.com/faith/bible-study/what-you-can-learn-from-the-logic-of-jesus.html

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Injil, Logika. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s