Pahami Prinsip Dasar atau Anda Buang Waktu dan Tenaga

Beberapa tahun lalu beta baca bahwa kehebatan Floyd Mayweather antara lain diakibatkan karena ia menguasai dasar-dasar bertinju yang baik. Dengan dasar yang baik yang ia kuasai, ia bisa menyesuaikan teknik yang akan ia gunakan di dalam pertarungan. Ia bisa memahami dasar permainan lawan dan teknik dasar mana yang cocok untuk menganulir serangan lawan dan menyesuaikan gerakannya dengan gaya yang diadopsi lawan.

Penguasaan akan hal mendasar juga mungkin sangat berpengaruh dalam bidang kehidupan apapun. Kalau orang mau menguasai Bahasa Inggris, ia harus menguasai hal-hal yang mendasar dalam Bahasa Inggris sehingga ketika berhadapan dengan situasi di ‘lapangan’ yang ‘kacau’, yang belum dihadapi sebelumnya, ia tetap bisa menyesuaikan diri. Demikian juga dengan pemrograman komputer, dll.

Menguasai tidak hanya sekedar mengetahui, tetapi bisa memahami konsekuensi dari prinsip dasar yang diketahui dan mampu menerapkan prinsip dasar pada keadaan ‘lapangan’ yang belum pernah dihadapi sebelumnya.

Tapi beberapa waktu lalu, dalam sebuah forum diskusi filsafat, teologi, dan logika, ada seorang yang katanya sudah belajar logika dan filsafat mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan aturan mendasar logika. Orang tersebut mengklaim bahwa pernyataan (1) “John sedang mandi” dan (2) “John tidak sedang mandi” sudah pasti merupakan pasangan pernyataan yang saling berkontradiksi.

Pernyataan itu cukup mengejutkan karena seharusnya sebagai seorang yang sudah belajar logika dia tahu bahwa yang dibandingkan dalam logika adalah proposisi (dalam pengertian sempit), bukan pernyataan. Proposisi adalah makna dari pernyataan. Dengan kata lain proposisi adalah apa yang dirujuk oleh sebuah pernyataan. Orang boleh mengeluarkan pernyataan yang sama, tetapi proposisinya bisa saja berbeda. Demikian juga orang bisa mengemukakan pernyataan yang berbeda tetapi proposisinya sama. Contoh pernyataan berbeda yang proposisinya sama adalah ketika dua orang mengemukakan pernyataan dalam dua bahasa berbeda yang maknanya sama.

Dalam kasus John di atas, harus dipastikan apakah memang proposisi dari masing-masing pernyataan tersebut pasti harus saling berkontradiksi. Tidak otomatis kedua pernyataan saling bertentangan. Kalau misalnya John dalam pernyataan (1) misalnya bukan John yang dimaksud dalam pernyataan (2), maka jelas itu bukan pasangan pernyataan yang saling berkontradiksi. Bisa saja dalam pernyataan (1) John yang dimaksud adalah John yang tinggal di Oesao dan John yang dimaksud dalam pernyataan (2) adalah John yang tinggal di Oeba.

Pasangan pernyataan tersebut bisa juga bukan merupakan pasangan kontradiksi kalau ‘mandi’ dalam pernyataan (1) berarti mandi dalam pengertian yang berbeda dari ‘mandi’ yang digunakan dalam pernyataan (2). Mandi dalam pernyataan (1) bisa saja berarti ‘mandi’ di pancuran, dan mandi dalam pernyataan (2) berarti mandi kuda alias hanya menyiram badan dengan sedikit air dan selesai. Itu bisa saja terjadi karena penggunaan kata antara bisa bervariasi (ini salah satu alasan orang seperti Bertrand Russel dan para pakar komputer menciptakan Bahasa logika simbolik).

Kebingungan terkait kalimat dan proposisi seperti ini bisa (dan sudah sering) mengakibatkan perdebatan yang tidak perlu. Dalam kasus yang diangkat di atas. tidak terjadi perdebatan yang ketat karena rata-rata tidak paham juga kalau orang yang mengangkat isu itu telah melakukan kesalahan mendasar. Mengingat orang tersebut dominan karena berhasil memberi kesan bahwa ia terpelakar, tidak ada yang terlalu mendebatnya. Namun kalau terjadi perdebatan, perdebatan tersebut hanya membuang waktu dan energi serta tidak membawa manfaat lain selain mungkin memenuhi kebutuhan untuk berdebat.

Yang mengaku-ngaku paham logika, lain kali coba hindari perdebatan yang tidak perlu – kecuali kalau memang hanya mau main-main. Sejujurnya terkadang beta hanya mau main-main sengaja melakukan kesalahan yang sama. Kalau mau serius, sebaiknya jangan jatuh ke dalam kesalahan tersebut.

Catatan: Dengan memahami prinsip dasar, anda juga bisa memahami kalau anda sudah tidak lagi bertindak berdasarkan prinsip dasar yang diakui dan ini bisa menjadi dasar menyesaikan atau memperluas prinsip dasar anda atau menyesuaikan tindakan anda dengan prinsip dasar, atau malah mungkin meninggalkan prinsip dasar yang selama ini dianut, tergantung mana yang tepat.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Logika. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s