Keb’ao Ha’e Moto, Profesor Bumi Datar

kebaoAda seorang profesor dari provinsi saya. Saya tidak sebutkan namanya tetapi akan menyebutnya dengan profesor Keb’ao Ha’e Motor atau disingkat Keb’ao (sesuai dengan istilah yang dikemukakan oleh beberapa teman FB). Profesor Keb’ao adalah seorang yang paling anti terhadap segala sesuatu yang berbau Ahok. Status-statusnya selalu memuntahkan argumen-argumen sok logis, tetapi sebenarnya tuna logika untuk menyerang Ahok. Banyak argumennya menyembunyikan proposisi yang membantah pandangannya (cherry picking) dan hanya mengemukakan proposisi yang mendukung pandangannya.

Dalam contoh terbaru postingannya ia memberi petunjuk siapa dia sebenarnya. Awalnya si Keb’ao  mengatakan bahwa ia sudah tersentuh rasa prihatin pada Ahok. Setelah itu, ia menganulir pernyataan pembuka yang kelihatan simpatik tersebut, dan berargumen bahwa mengingat ada orang pendukung Ahok yang berargumen secara tidak valid bahwa ‘statistik menentukan kebenaran’ (=banyaknya orang yang mendukung satu orang/pandangan berarti bahwa orang/pandangan tersebut benar), maka ia menjadi tidak prihatin lagi. Ia justru menjadi muak terhadap Ahok.

Memang benar bahwa argumen yang dikemukakan pendukung Ahok tersebut tidak valid. Hanya karena banyak orang mendukung seseorang atau satu pandangan, tidak berarti bahwa orang atau pandangan itu benar. Sebaliknya bahwa banyak orang mendukung seseorang atau satu pandangan, tidak berarti bahwa orang atau pandangan itu pasti salah. Kesalahan seperti ini biasa secara umum disebut, “Statistical Fallacy” Jadi, kritikan si profesor memang sudah pada tempatnya.

Bahwa Keb’ao bisa secara tepat menilai kesesatan bernalar pendukung Ahok tersebut, memang sesuatu yang harusnya terjadi, mengingat dia seorang profesor. Apalagi ia adalah tamatan luar negeri lagi. Tetapi yang lebih menarik adalah apa yang dia lakukan terhadap identifikasi kesalahan bernalar tersebut. Kita harapkan bahwa setelah mengidentifikasi sesat pikir orang lain, kita tidak terjatuh dalam sesat pikir juga.

Tetapi apa yang terjadi dalam postingan ini, Keb’ao melakukan sesat pikir juga. Ia menyerang sesat pikir orang lain, tetapi ia dengan senang hati menceburkan diri ke dalam sesat pikir. Karena ada pendukung Ahok yang berargumen secara tidak valid, maka Keb’ao berkesimpulan bahwa Ahok menjadi pasti bersalah dan tidak perlu mendapat rasa prihatin.  Si profesor mengaku diri Kristen. Bayangkan berapa banyak orang Kristen yang argumenya memuakkan untuk mendukung kepercayaannya. Karena itu kalau mengikuti kerangka penalaran si profesor, Yesus Kristus bukan tokoh yang dapat dihormati. Ia harus disalahkan. Ia berdosa. Apakah si profesor berani melakukan itu? Saya ragu. Jadi ada pertunjukkan sesat pikir skala kosmik oleh si profesor.

Hal lain lagi yang terlihat dari status si profesor Keb’ao adalah kelicikan. Ia memulai dengan mengemukakan pandangan yang simpatis. Pandangan yang simpatis gampang untuk membuat orang punya perasaan hangat terhadap seseorang. Dan biasanya (tidak selalu, tetapi kebanyakan demikian) kalau perasaan seorang sudah hangat, ia akan sulit bersifat kritis.  Kalau tidak kritis, maka ide yang dikemukakan berikutnya akan dengan mudah diterima lawan bicara. Saya sudah berulang-ulang menyaksikan trik seperti ini dilakukan banyak penipu dengan berbagai manifestasi, seperti para salesman/women di mall-mall, atau para politikus jahat, atau para pimpinan agama yang licik (tidak semua), atau pihak-pihak yang suka mengeksploitasi orang lain demi keuntungan sendiri.  Trick yang sama diterapkan si Keb’ao dalam dalam status yang dibahas.

Ada dua kemungkinan: si profesor Keb’ao memang sebenarnya tuna logika, atau sebenarnya dia paham logika dan hanya licik. Mana yang benar? Saya tidak tahu pasti, tetapi saya cenderung berpandangan bahwa Keb’ao campuran antara keduanya, ada unsur liciknya tetapi juga kemampuan berlogikanya/analisisnya kurang baik. Jadi dapat dikatakan bahwa dia adalah seorang Profesor Bumi Datar

Catatan:

  1. Keb’ao Ha’e Motor adalah frasa bahasa Sabu untuk Kerbau Naik Motor. Frasa yang diangkat oleh teman-teman untuk merujuk kepada orang yang memang berpendidikan tetapi sok pintar, dan argumen yang dikemukakan sampah ketika berbicara di luar bidang keilmuannya. Di sebut juga Profesor Sirkus atau “professore de circo”. 🙂
  2. Fakta bahwa saya mengeritik Keb’ao dalam hal ini tidak menjadikan idenya dalam bidang ilmunya menjadi salah. Saya tertarik dengan salah satu idenya mengenai kristal air untuk pertanian. Ide yang menarik. Tetapi karena dia hebat dalam hal-hal tersebut, tidak otomatis semua pandangannya menjadi benar. Si profesor Keb’ao hanya perlu kembali ke habitatnya dan berkarya dari sana.
Iklan
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s