Aspek-Aspek Metode Filsafat

Berikut adalah tiga aspek metode filosofis. Tidak berarti bahwa hanya para filsuf yang menggunakannya, tetapi hal ini ditekankan oleh para filsuf.

Mendefinisikan Istilah/Terminologi. Seorang filsuf yang baik selalu peduli untuk mendefinisikan istilah. Hal ini tidak hanya menjadikan konsep utamanya jelas dan dapat dibedakan orang, tetapi juga mencegah perdebatan yang sekedar perdebatan verbal. Filsuf pragmatis Amerika, William James, mengisahkan sebuah pengalaman yang menggambarkan hal ini.6 Ketika berkemah bersama dengan teman-temannya, ia pergi berjalan-jalan sendiri selama beberapa saat dan setelah pulang ia mendapati teman-temannya terlibat dalam perdebatan yang panas. Hal yang diperdebatkan adalah pengalaman yang sebagian besar kita pernah alami. Andaikata seorang lelaki mencoba melihat seekor tupai dari dekat, namun si tupai bersembunyi di balik sebatang pohon. Ketika orang itu mengitari pohon, tupai juga mengitari pohon, sehingga selalu ada pohon yang menghalanginya dari si lelaki. Dalam pembicaraan teman-teman James, pertanyaan yang muncul adalah: “Apakah si lelaki mengelilingi tupai atau tidak?” Karena opini terbagi rata antara dua posisi, mereka meminta James untuk memecahkan kebuntuan tersebut. Tanggapan James adalah: Jawabannya tergantung pada apa yang dimaksud dengan “mengelilingi” tupai. Kalau yang dimaksud adalah berjalan dari utara, ke timur, kemudian ke selatan dan kemudian ke barat si tupai, maka ya, si lelaki mengelilingi tupai. Tetapi jika yang dimaksud adalah berjalan dari depan, ke kiri, ke belakang, dan ke kanan binatang tersebut, maka jelas si lelaki tidak mengelilingi tupai. Dengan demikian, hal ini menunjukkan kepada teman-temannya bahwa mereka digantung oleh definisi istilah dan sama sekali tidak memperdebatkan isu substantif. Perdebatan mereka hanyalah perdebatan verbal.

Tidak hanya pendefinisian istilah mencegah perdebatan tak penting seperti itu, tetapi juga membawa kejelasan dalam perdebatan yang penting seperti perdebatan tentang moralitas aborsi dan perang sampai pertanyaan tentang kebebasan manusia dan natur Tuhan. ….. Apabila kita tidak mendefinisikan secara seksama istilah yang kita gunakan, maka kita hampir tidak mungkin memahami pertanyaan-pertanyaan filosofis, apalagi mencapai jawaban-jawaban yang dapat dipercaya.

Menggunakan Argumen. Para filsuf secara khusus menekankan upaya mendukung klaim kebenaran dengan bukti/petunjuk. Setiap orang memiliki berbagai jenis keyakinan. Kita semua memiliki kepercayaan tertentu tentang keberadaan Allah, jiwa/roh manusia, kehidupan pasca kematian, benar atau salahnya hukuman mati, serta isu-isu lainnya. Namun yang membedakan kita adalah bagaimana rasional kepercayaan kita jika dilihat dari apakah kepercayaan kita didasari pada alasan yang kuat. Apa pun yang Anda percaya terkait isu-isu di atas, apakah Anda dapat memberikan dasar yang masuk akal bagi kepercayaan Anda? Mendukung sebuah klaim kebenaran dengan alasan yang kuat berarti menyediakan argumen untuk klaim tersebut. Kita menggunakan istilah argumen dalam pemahaman bidang logika, bukan dalam pengertian pertengkaran atau perselisihan yang panas. Memang sehat untuk memiliki perasaan yang kuat terhadap komitmen kepercayaan seseorang, dan para filsuf begitu bersemangat terhadap kepercayaannya, seperti halnya orang lain yang bukan filsuf. Namun emosi terkadang dapat mengacaukan penilaian kita dan mengganggu penyelidikan seksama terkait hal-hal penting. Karena itu kendali-diri penting dalam berfilsafat, dan filsuf yang baik terlatih untuk membatasi emosinya saat membahas isu-isu.

Sayangnya banyak aspek budaya kita tidak menghargai penalaran yang seksama atau kendali diri. Kenyataannya, dari Hollywood sampai Saks Fifth Avenue (Tempat Belanja mewah), pesan yang terus-menerus disampaikan adalah perasaan harus menjadi penentu mutlak bagaimana kita berpikir dan bertindak. Bahkan terkait keputusan paling penting dalam hidup, mulai dari karir sampai pernikahan, kita sering kali diberi tahu untuk “lakukan sesuai dengan yang dirasa benar” atau “ikuti hatimu.” Walaupun ungkapan-ungkapan seperti itu memiliki rasa positif, tetapi berbahaya kalau diikuti secara konsisten. Keputusan terbesar dalam hidup harus didasari pada alasan yang baik. Hal yang sama berlaku bagi semua kepercayaan kita terkait hal-hal penting….

Identifikasi Praanggapan Dasar (Presuposisi). Dua paragraf sebelumnya mengandung argumen tentang pentingnya argumen. …. Argumen menyimpulkan dari premis menuju poin utama atau kesimpulan. Walaupun kesimpulan kita, yaitu kepercayaan harus didasari pada alasan yang kuat, dinyatakan secara eksplisit, sebagian dari premis kita tidak dinyatakan secara eksplisit. Bahkan sebenarnya, kita malah mengasumsikan beberapa fakta dan nilai dalam kedua paragraf di atas. Sebagai contoh, kita mengasumsikan bahwa tidaklah baik kalau penilaian seorang dikacaukan emosi, kita mengasumsikan bahwa kata-kata lazim yang dikutip berbahaya; dan, kita mengasumsikan bahwa seolah-olah dengan sindiran bahwa tidaklah bijak untuk hidup berdasarkan ungkapan lazim tersebut. Semua klaim kebenaran yang diasumsikan tanpa argumen disebut presuposisi/praangapan dasar. Walaupun kita dapat berargumen mendukung setiap praanggapan dasar di atas, setiap argumen yang kita gunakan akan menggunakan beberapa praanggapan dasar/presuposisi. Pada gilirannya kita dapat mengemukakan argumen untuk mendukung presuposisi-presuposisi tersebut, dan seterusnya. Namun demikian, proses ini tidak dapat berlanjut selamanya. Hal ini menunjukkan bahwa kita tidak dapat menghindar dari pranggapan dasar. Namun yang menjadi ciri khas seorang pemikir yang baik adalah kemampuannya mengidentifikasi praanggapan dasar, baik dalam sendiri maupun dalam argumen orang lain.

Pada awal abad kedua puluh, matematikawan Kurt Gödel (1906—1978) membuktikan “teorema ketidaklengkapannya,” yang menunjukkan bahwa semua sistem rasional wajib tak lengkap. Seberapapun seksamanya orang berupaya mencoba membuktikan semua klaimnya, akan selalu ada asumsi yang tidak dibuktikan. Dengan demikian, pertanyaannya bukan apakah kita memiliki praanggapan dasar tetapi apakah kita menyadarinya serta mengapa kita menggunakan praanggapan dasar tersebut dan bukan yang lain. Filsuf yang baik memiliki kesadaran yang sehat akan praanggapan dasarnya dan mereka sering kali mampu menjelaskan mengapa mereka menerima praanggapan dasar tersebut.

The Love of Wisdom, Robert Cowan and James Spiegel

 

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Logika. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s