Bagaimana Bertemu Diri Masa Depan Anda

 

… mereka … mempunyai mulut, tetapi tidak dapat berkata-kata, mempunyai mata, tetapi tidak dapat melihat, mempunyai telinga, tetapi tidak dapat mendengar, mempunyai hidung, tetapi tidak dapat mencium, mempunyai tangan, tetapi tidak dapat meraba-raba, mempunyai kaki, tetapi tidak dapat berjalan, dan tidak dapat memberi suara dengan kerongkongannya. Seperti itulah jadinya orang-orang yang membuatnya, dan semua orang yang percaya kepadanya..

— MAZMUR 115:5–8

Bayangkan Anda diantar melewati sebuah laboratorium bawah tanah ke sebuah mesin kontroversial. Anda memasuki sebuah kubus besar berwarna perak dan diminta untuk memikirkan apapun yang Anda paling kasihi di dunia ini Sebuah dinding kaca kemudian muncul dari lantai dan memisahkan kubus yang Anda tempati menjadi dua bagian yang ukurannya sama. Setelah itu segala sesuatu menjadi gelap. Ingatan terawal Anda diproyeksi satu per satu ke kaca tersebut. Semua hal pertama Anda serta semua hal favorit Anda, tawa yang paling bahagia, sukacita yang paling membuat jantung Anda berdegup kencang, penolakan paling berat yang Anda pernah rasakan — semua itu ditampilkan ke layar dari dalam inti kesadaran Anda. Pada sisi berlawanan semua bayangan dari kesadaran Anda mulai berkumpul dan mengambil bentuk. Saat semua gagasan, perasaan, dan pilihan paling penting Anda bergerak melewati gelas, diri masa depan Anda perlahan-lahan terbentuk di ruang sebelah. Kemudian kamar menjadi terang, dinding gelas turun, dan Anda berdiri di sana berhadapan langsung dengan diri masa depan Anda.

  1. HUKUM EMERSON

Yang berkedip di depan Anda adalah orang yang akan menjadi diri Anda jika semua cinta kasih, kebencian, kekuatan, kekurangan, kebiasaan, dan ketakutan Anda berlangsung seperti saat ini. Yang Anda hadapi bukanlah gambar dua dimensi yang dipoles dengan filter pujian. Yang Anda hadapi adalah pribadi yang nyata, darah dan daging yang akan menjadi diri Anda di masa depan, yang entah demi kebaikan atau sesuatu yang buruk, menatap balik ke Anda. Memperhatikan diri masa depan Anda dalam mesin tersebut, apakah Anda menyukai orang yang dihasilkan karakter dan pilihan Anda pada masa depan? Apakah yang sedang menatap Anda itu seorang yang berjiwa besar, peduli/perhatian, penuh semangat, ataukah seorang berjiwa kerdil, berpusat pada diri sendiri, dan putus ada? Seorang yang berkembang atau seorang yang hancur berantakan? Seorang yang berkepribadian luhur atau kejam? Seorang yang tulus/berpikiran mendalam atau membosankan? Anda sedang menjadi seperti apa?

Tidak perlu menunggu teknologi refleksi diri di masa depan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Terdapat satu pertanyaan yang dapat Anda ajukan pada diri sendiri, yang kalau dijawab secara jujur, dapat mengungkap tentang keadaan masa depan Anda. Pertanyaan itu, singkatnya adalah: Apa yang hidup Anda ungkap tentang hal paling penting bagi keberadaan Anda? Jika Anda harus berhenti sebentar dan melakukan penilaian yang jujur terhadap diri sendiri, apa saja pilihan sehari-hari Anda dalam menggunakan napas dan energi Anda, gagasan apa saja yang menguasai sebagian besar pikiran Anda di dunia — apa yang paling mampu menggerakkan Anda? Coba renungkan tentang itu. Jujurlah dengan diri sendiri. Dengan mengetahui sesuatu yang mutlak itu, akan memperjelas tentang orang seperti apa Anda nantinya di masa depan. Penyair Ralph Waldo Emerson membantu kita memahami alasannya:

Bahwa orang akan menyembah sesuatu, itu tidak dapat diragukan lagi. Kita boleh berpikir bahwa penghormatan kita dilakukan di tempat tersembunyi, jauh dalam lubuk hati kita. Tapi semua itu akan terungkap. Apa yang mendominasi imajinasi dan pikiran kita akan menentukan apa yang kita cintai dan karakter kita. Karena itu, kita perlu hati-hati tentang apa yang kita sembah, karena kita akan menjadi seperti apa yang kita sembah.1

Ada dua pengamatan tajam dari Emerson dalam kutipan tersebut. Pertama, semua orang menyembah sesuatu; dan kedua, bahwa ilah-ilah tersebut akan menentukan identitas kita. Novelis Amerika terkenal David Foster Wallace menggemakan hal yang sama: “Dalam biduk kehidupan orang dewasa, sebenarnya tidak ada yang namanya ateisme. Tidak ada yang namanya tidak menyembah. Semua orang menyembah. Satu-satunya pilihan adalah apa yang disembah.”2 Selama masa kerjanya sebagai seorang pakar ekonomi, Bob Goudz-waard juga sampai pada kesimpulan bahwa setiap orang “memutlakkan” sesuatu. Kita semua melayani tuhan (tuhan-tuhan), mengambil rupa tuhan-tuhan tersebut, kemudian membangun masyarakat sesuai dengan gambaran kita (yaitu gambaran dari tuhan-tuhan kita tersebut).3Jauh sebelum Emerson, Wallace, dan Goudzwaard adalah Paulus, sang teolog, yang membuka surat terkenalnya kepada Jemaat di Roma dengan penegasan bahwa setiap orang menyembah, entah itu Pencipta ataupun ciptaan.

Bagi sang penyair, penulis novel, ekonom, dan sang teolog di atas, pertanyaannya bukanlah apakah kita menyembah. Mereka memandang itu sebagai fakta tak terbantahkan. Pertanyaan sebenarnya adalah apa yang kita sembah. Dengan tangan gemetaran karena rasa hormat kita menaruh sesuatu di altar kosong yang ada di dalam diri kita masing-masing. Pribadi-pribadi dengan pandangan yang berbeda-beda di atas memiliki pandangan yang sama dalam hal ini dan mendorong kita memilih sesuatu yang dihormati dengan sangat hati-hati karena, entah ke arah yang lebih baik atau yang lebih buruk, sesembahan kita pasti akan membentuk kita.

  1. TEIS DAN ATEIS DALAM HATI MASING-MASING ORANG

Sekarang mari kita sebut formulasi berikut sebagai Hukum Emerson: ilahi yang kita sembah akan menentukan identitas kita. Kita menjadi seperti apa yang kita paling kasihi. Obyek penghormatan kita menentukan lingkup dan kontur pembentukan (atau penghancuran) jiwa. Coba renungkan beberapa contoh berikut:

jika “kita menyembah produk,” seperti hasil pengamatan Alexander Solzhenitsyn pada budaya konsumen di Amerika,4maka perlahan-lahan kita sendiri menjadi seperti produk yang kita sembah. Mengikuti tren mainan terbaru, kita kehilangan ketulusan/kedalaman wawasan, kebermaknaan, serta kehadiran kita yang membawa makna bagi jiwa sesama. Kita menjadi dibuat-buat, dipoles dan mudah terombang-ambing. Jika kita menyembah partner romantis kita (pacar, kekasih, dll), maka kita cenderung kehilangan identitas dan perlahan-lahan berubah menjadi klon yang tak berdaya imajinasi dari partner kita. Jika kita menyembah anak-anak kita, maka perlahan-lahan kita menjadi kekanak-kanakan dan kehilangan kebijakan dan otoritas yang seharusnya dipunya seiring umur dan status sebagai orang tua. Jika kita menyembah opini orang lain, maka perlahan-lahan kita kehilangan diri dan menjadi persis sama dengan apa yang kita pikir orang inginkan dari kita. Jika kita menyembah dorongan-dorongan biologis untuk seks demi dorongan-dorongan itu sendiri, dan mereduksi orang lain hanya sebagai sasaran fisik untuk memenuhi dorongan-dorongan tersebut, maka kita semakin tidak berjiwa, serta tidak mampu berhubungan serta mengasihi orang lain secara bermakna demi orang tersebut. Jika kita menyembah ikon-ikon seksual yang muncul di layar pendar, sehingga menjadi pecandu pornografi yang memperlakukan orang lain secara dangkal, maka kita sendiri hanya akan mendangkal.

Namun demikian, timbul pertanyaan: Bagaimana dengan mereka yang mengklaim tidak mempercayai sesuatu yang ilahi sama sekali? Bukankan orang-orang di seluruh dunia yang tidak menyembah sesuatu tersebut menjadi bukti hidup yang membantah Hukum Emerson?

Pertanyaan bagus (dan saya senang Anda mengajukannya). Renungkan bagaimana kita mengekspresikan dorongan untuk menyembah, kalaupun kita berupaya menjadi orang yang paling anti agama. Adalah orang-orang Paris yang anti agama dari gerakan Pencerahan Perancis yang memanfaatkan jasa seorang gadis berumur 14 tahun bernama Mademoiselles Candielle untuk didandani dan berperan sebagai Dewi Akal Budi. Pada musim semi tahun 1792, dengan mengenakan pakaian terbaik, mereka berpawai mengiringi gadis muda yang tersipu tersebut sepanjang tepi Sungai Seine menuju ke Katedral Notre Dame. Mereka menyanyikan lagu pujian bagi ilah yang baru saja mereka angkat dalam sebuah ritual suci yang dengan cepat menjalar ke seluruh Perancis. Agama tidak memudar. Sorotan jiwa manusia beralih ke obyek penyembahan yang baru. Akal Budi tidak membantah Allah, tetapi Akal Budi menjadi “Allah.”

Baca karya Carl Sagan, seorang astronom cemerlang yang tidak malu-malu mengaku diri sebagai ateis. Dalam karyanya Anda akan bertemu dengan seorang lelaki taat, yang berlutut menyembah Kosmos/Alam Semesta (yang ditulis dengan huruf besar oleh Sagan). Ia menulis buku-buku ilmu pengetahuan yang terbaca seperti buku-buku pujian — penuh gairah, pemujaan, dan puitis. Voyager Golden Recorddan Pioneer Plaque dari Sagan dengan salam dari bumi dan petunjuk arah menuju ke bumi, diikat kuat pada pesawat luar angkasa dan meluncur ke angkasa seperti doa. Sagan sangat berharap untuk mendapatkan jawaban dari seseorang di luar “titik biru pucat” yang kita diami. Kosmos menjadi ilah fungsional, sesosok “Allah” bagi Sagan, tempat ia mencari makna tertinggi dan keselamatan.

Dalam pengertian yang bermakna, pada saat yang sama setiap orang adalah ateis sekaligus teis.

Renungkan tentang rejim yang paling anti agama dalam sejarah, yaitu Uni Soviet di bawah pimpinan Joseph Stalin. Himpunan Orang-orang Tak Bertuhan (juga dikenal dengan Liga Ateis Militan) terbentuk. Gereja-gereja dan sinagoga-sinagoga di Rusia diratakan dengan buldozer.5 Ateisme menjadi dogma yang ditegakkan negara. Apakah ini menghasilkan utopia tak bertuhan yang diimpikan para pimpinan Soviet? Sebaliknya, penyembahan dialihkan kepada ilah yang baru — Tuhan Stalin — sedangkan sepuluh juta penganut ajaran sesat yang menolak tunduk tidak diberi makan dan dibunuh. Himpunan Orang-Orang Tak Bertuhan tidak dapat disebut tak bertuhan sama sekali. Seperti hasil pengamatan G. K. Chesterton, “Ketika kita meninggalkan Tuhan, pemerintah menjadi tuhan.”6 Keyataannya, dengan menghapus agama dalam pengertian tradisional, natur sejati kita terungkap dan menjadi jelas bagi orang lain (seandainya tidak jelas bagi diri kita sendiri) bahwa kita tetap berlutut, entah kepada Akal Budi, Kosmos, Negara, atau yang lain.

Selain kasus-kasus anti keagamaan di atas, kita bisa tambahkan, secara bermakna, bahwa setiap orang adalah ateis sekaligus teis. Saya adalah ateis terhadap Kali, sang dewi kehancuran dalam agama Hindu, seperti halnya para penyembah Kali ateis terhadap Allah yang saya sembah. Ada penguntit yang menyembah selebriti yang mereka taksir, kaum materialis yang menyembah mobilnya, kaum narsis yang menyembah gambarannya di cermin, dan penduduk Korea Utara yang menyembah pimpinan tertingginya. Sebagian besar kita, saya sangka, merupakan ateis terhadap hal yang mendapat penghargaan tertinggi mereka. Mereka menyembah sesuatu yang kita tidak sembah, seperti juga hal yang paling penting buat kita tidak relevan menurut mereka.

Saya telah mengajar kuliah-kuliah seperti Sejarah Ateisme selama hampir lebih dari satu dasa warsa. Saya telah berdiskusi dengan ratusan ateis. Teman-teman saya banyak yang mengaku diri sebagai ateis atau agnostik dan saya hormati dan kasihi mereka. Namun demikian, tidak ada seorang pun yang saya kenal yang tidak berlutut menyembah sesuatu atau satu sosok. Saya juga ateis terhadap hal yang menurut banyak teman saya paling penting, seperti halnya mereka ateis terhadap apa (atau tepatnya siapa) yang paling berarti buat saya .

Cara pandang seperti ini membawa kita lebih maju daripada catatan perdebatan antara teis dan ateis tentang keberadaan Allah/Tuhan. Terdapat banyak hal yang dapat dipelajari dari perdebatan yang terus terjadi tersebut (khususnya kalau memang terjadi percakapan dan bukan adu mulut/adu suara nyaring). Tetapi segera setelah kita mengakui bahwa kita semua adalah teis sekaligus ateis, bahwa kita mempertaruhkan makna kita di tempat yang orang lain tidak pertaruhkan, maka semakin kita maju untuk berpikir bersama tentang mana dari berbagai macam ‘tuhan’ ini yang mewujudkan sifat yang paling buruk dan paling baik dari manusia.

  1. NASIB TAK BAHAGIA CHARLES DARWIN

Jika ada di antara Anda yang merasa terganggu ketika saya menyebut obyek yang menjadi pengabdian tertinggi Anda sebagai “tuhan,” dan jika menyebut tindakan pengabdian tersebut dengan kata “menyembah” mengganggu Anda, maka tidak masalah juga. Kita juga tidak mau ada perdebatan semantik yang merusak. Pembaca yang merasa terganggu dapat mengganti kata yang dimulai dengan huruf T tersebut dengan kata apapun untuk merujuk kepada sesuatu yang paling penting bagi mereka, yang paling mampu menggerakkan mereka dari dalam, yang menjadi prioritas tertinggi Anda, atau kasih terdalam Anda. Kita bisa melanjutkan pembahasan tentang hal yang lebih mendalam yang dikemukakan Emerson, yaitu, bagaimana sesuatu yang paling penting tersebut membentuk diri kita masing-masing secara signifikan.

Coba renungkan Hukum Emerson dalam kehidupan dua orang lelaki. Charles Darwin merupakan seorang berbakat yang perlahan-lahan berubah seturut apa yang dia anggap paling penting dalam kehidupan. “Kenikmatan tertinggi dan satu-satunya buatku sepanjang hidup” tulis Darwin, “adalah karya-karya dalam bidang sains.”7 Terhadap karya-karya ini, tambah Darwin, “Aku tidak pernah diam,” karena merupakan “satu-satunya hal yang menurutku menjadikan hidup ini layak dijalani.”8 Seorang pakar mengamati bahwa, “Darwin menjadi apa yang dalam bahasa modern disebut gila kerja. Ia merasa aman secara emosional hanya kalau ia bekerja.”9 Apa dampak dari meninggikan karya-karya sains menjadi yang paling utama terhadap Darwin di masa depan? Renungkan sendiri kata-kata dalam otobiografi Darwin:

Dalam segi tertentu, pikiranku telah berubah dalam dua puluh atau tiga puluh tahun terakhir. Sampai kurang lebih umur tiga puluh tahun, puisi jenis apapun … memberikan kenikmatan yang besar kepadaku, dan ketika masih jadi siswa aku sangat bersuka cita membaca karya Shakespeare. … Tetapi sekarang selama bertahun-tahun aku bahkan tidak bisa tahan membaca satu baris puisi saja: akhir-akhir ini aku mencoba membaca karya Shakespeare, namun karya-karya itu begitu hambar rasanya sampai-sampai membuatku muak.10

Darwin kemudian memberikan gambaran tentang dirinya di kemudian hari dengan kata-kata yang terasa berat dan berisi penyesalan: “Pikiranku tampaknya telah menjadi sejenis mesin untuk menggiling sekumpulan fakta menjadi hukum-hukum yang umum,” ujarnya. “Kehilangan rasa ini merupakan kehilangan kebahagiaan, dan mungkin juga telah mencederai intelek, dan lebih mungkin lagi telah merusak karakter moralku, dengan memperlemah bagian diri yang bernama emosi.”11

Kita bisa menangisi Darwin. Seorang yang berbakat luar biasa berubah menjadi sebuah “mesin” yang memproses data-data menjadi hukum-hukum ilmiah, lelaki yang cintanya pada puisi berubah menjadi rasa muak, lelaki yang hatinya perlahan-lahan membatu bagi seni dan musik. Betapa sebuah mimpi buruk untuk hidup dengan emosi, karakter moral, dan intelek yang sedang membatu. Darwin tidak lagi memandang dirinya sebagai jiwa yang kuat penuh dengan kehidupan, kedewasaan, kebijakan, dan sukacita, tetapi sebagai, apa yang dia sebut sebagai, “sepucuk daun yang layu dalam semua bidang, kecuali dalam sains” (dan ia pandang hal itu sebagai “kejahatan besar”).12 Seandainya Darwin muda masuk ke dalam mesin kita dan bertemu dengan “mesin”, ”daun layu”, dan lelaki tak bahagia yang muncul di sisi lain mesin, apakah ia akan menyusun ulang prioritas-prioritasnya? Kita hanya bisa bertanya-tanya.

Bandingkan Hukum Emerson yang bekerja tetapi dengan hasil yang berbanding terbalik pada kehidupan seorang berbakat lain, seorang lelaki yang disebut sebagai “Filsuf pertama dan terbaik yang dihasilkan Amerika.”13 Sang filsuf yang masyhur ini (yang namanya tidak akan diungkap saat ini) menuliskan catatan otobiografi berikut tentang bagaimana pengaruh obyek penyembahannya terhadap jiwanya seiring dengan bertambahnya waktu: “[Ia] memberikan kemurnian, kecerahan, kedamaian dan kesukaan yang tak terkatakan bagi jiwa. Dengan kata lain, Ia menjadikan jiwaku seperti padang atau taman.”14

Dua orang yang sama-sama berbakat. Seorang menjadi “sepucuk daun layu” sedangkan yang lain menjadi “taman.” Dari mana orang berbakat yang disebut terakhir mendapatkan kenikmatan utamanya? Apa yang ia sembah? Apakah obyek pengabdian tertinggi yang berbeda ada kaitannya dengan perbedaan antara dua orang yang sama-sama berbakat ini?

  1. PEMBALASAN MANTAN PLANET YANG DISELIMUTI ES

Kita bergerak maju untuk lebih memahami tentang Hukum Emerson (dan hasil yang saling bertolak belakang yang dapat dihasilkannya) dengan bantuan kata lama yaitu “kemuliaan.” Makna kata itu telah mengalami pendangkalan dalam jaman kita. Ketika orang Yahudi di Timur Dekat berbicara tentang “kemuliaan” (atau kavod, dalam Bahasa Ibrani), mereka berbicara tentang bobot/beban, kepenuhan, dan substansi.15Karena itulah Yesaya, sang nabi Ibrani, berbicara tentang sesuatu yang “susut,” “rumput layu,” “debu di neraca,” dan “angin kosong,” sebagai lawan dari kemuliaan.16 Karena itu Paulus berbicara tentang “kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar….”17

Sementara kavod berarti beban/bobot — yaitu lawan dari ringan — orang pada jaman kuno menggunakan “kemuliaan” hampir sinomim dengan “cahaya.” Nabi Yahudi, Yehezkiel melihat Bait Allah “dipenuhi dengan sinar kemuliaan TUHAN,” dan Yesaya menanti hari ketika “matahari tidak lagi menjadi penerang pada siang hari – tetapi TUHAN menjadi penerang abadi bagimu dan Allahmu akan menjadi keagunganmu/kemuliaannmu.”18 Bagi para penulis Alkitab ini, Allah bukanlah gagasan yang berkedip jauh, tetapi pribadi yang sangat nyata, bercahaya, dan berseri-seri.

Bagaimana kata tua — kavod — membantu kita memahami berbagai cara di mana yang dipandang ilahi membentuk kita saat ini? Coba pikirkan sesuatu yang berat dan sekaligus bercahaya yang saat ini dapat dilihat setengah dari penduduk dunia — yaitu matahari. Matahari memiliki cukup kavod, cukup bobot dan terang, untuk menjadi pusat tata surya kita. Matahari memiliki cukup bobot untuk mempertahankan gerak bumi dan planet-planet lain berputar pada orbitnya. Matahari juga cukup terang untuk menjaga agar planet biru kita tetap penuh kehangatan, keindahan dan kehidupan.

Namun bayangkan apa yang terjadi kalau Pluto, tidak puas dan sakit hati dengan keputusan International Astronomical Union tahun 2006 yang menyingkirkan haknya sebagai planet, dan melakukan aksi balas dendam pada tata surya dan berupaya menggulingkan matahari dari tempatnya! Kudeta kosmik Pluto akan menjadi bahaya besar. Dengan permukaan yang 98%-nya merupakan nitrogen beku dan massa yang kurang dari seperempat massa bumi, Pluto tidak ada bandingan dengan kavod matahari. Pergantian dari sistem yang berpusat pada matahari dengan yang berpusat pada Pluto akan mengakibatkan planet-planet lain berputar keluar jalur sehingga terjadi kekacauan. Kurangnya massa dan cahaya dari mantan planet dengan permukaan es tersebut akan menjadikan bumi sebagai bulatan dingin dan tanpa kehidupan yang hanyut melalui ruang angkasa yang sepi.

Wawasan ini menjadi jelas kalau kita berpindah dari astronomi ke psikologi, dari ruang di sekitar kita ke ruang di dalam kita. Jika kita menempatkan sesuatu yang terlampau kecil dan terlampau suram di pusat kehidupan kita, yaitu sesuatu yang tidak memiliki kavod, maka planet-planet di dalam tata surya jiwa kita (kreativitas, intelek, penilaian moral, hubungan-hubungan, dll) akan mengarah ke kekacauan dan ketiadaan kehidupan. Kurangnya bobot akan menyebabkan planet-planet tersebut hanyut ke angkasa yang hampa, sedangkan ketiadaan cahaya mengakibatkan setiap keindahan planet-planet tersebut menjadi seperti daun yang layu.

Namun jika pusat jiwa kita, sesuatu yang paling kita hargai memang sesuatu yang agung mulia, maka obyek penyembahan kita cukup besar untuk menarik semua bulatan-bulatan beragam dari natur manusia tersebut ke dalam orbit yang seimbang. Juga akan ada cukup cahaya untuk menerangi berbagai bulatan dalam jiwa kita (yaitu kreativitas, intelek, emosi, penilaian moral, rasionalitas dst) menjadi planet-planet yang penuh dengan taman, penuh kehidupan dan warna.

  1. TIGA TANDA KAVOD

Jika kita menggabungkan Hukum Emerson dan gagasan Ibrani kuno tentang kavod, maka kita mendapatkan yang demikian: setiap orang hidup seperti sesuatu yang paling berbobot dan bersinar di alam semesta. Jika sesuatu itu memang kenyataannya berbobot dan bersinar, maka hidup kita akan mencerminkan daya tarik dan sinar yang sama. Namun jika kita memuliakan hal-hal yang hina, maka kita sendiri menjadi lebih tanpa bobot dan jadi bayangan, lebih mirip seperti hantu. Pernahkah Anda bertemu dengan hantu di kehidupan nyata? Dalam pengertian tertentu kita pernah bertemu dengan hantu. Terdapat orang-orang yang gaya hidup dan semangatnya yang dapat Anda lambaikan tangan Anda melewatinya tanpa terasa apapun yang padat.

Mereka adalah orang yang tembus pandang dan Technicolor, dengan ribuan bayangan ataranya. Orang yang paling bersemangat dan berbobot yang pernah Anda temui tidak tertidur satu malam dan tiba-tiba bangun pagi dan sudah jadi orang berhikmat. Selalu ada cerita di latar belakang setiap orang yang terbaik dan terburuk. Jika Anda mengikuti cerita latar secara cukup seksama, Anda akan temukan sesuatu yang mulia yang mulai membentuk jiwa yang teguh dan sesuatu yang hina yang merupakan ‘inti’ dari setiap ‘hantu’. Lalu apa saja yang menjadikan sesuatu itu mulia sehingga patut menjadi pusat bobot dan cahaya dalam kehidupan kita, dibanding sesuatu yang tidak memiliki kavod? Renungkanlah tanda-tanda kemuliaan yang berikut.

Hal yang mulia adalah hal yang utama, bukan sekunder

Renungkan perbedaan antara hal utama dan sekunder. Seorang yang suka pesta-pora misalnya, yang menjadikan “penyesuaian diri” sebagai hal pertama baginya, begitu disibukkan dengan penampilan sosialnya. Apakah menurut Anda ia akan cocok dengan lingkungannya? Tentu saja tidak. Analisis diri sendiri yang terus-menerus akan meninggalkannya di belakang pesan sosial. Teman kita yang suka berpesta berubah menjadi orang aneh yang ia takutkan. Upayanya untuk menyesuaikan diri menjadikan “penyesuaian diri” menjadi mustahil. Mengapa? Ia menganggap hal sekunder sebagai hal utama; menganggap produk sampingan sebagai tujuan. Seandainya ia menjadikan hal lain sebagai hal utama/pertama, seperti peduli terhadap orang lain di sekitarnya, sebegitu rupa sehingga ia lupa untuk mengkhawatirkan diri, maka kemungkinan ia akan mendapatkan dirinya cocok tanpa mencoba menjadi cocok.

Kehidupan penuh dengan paradoks. Orang yang paling memprihatinkan adalah orang-orang yang sering kali menggunakan sebagian besar tenaganya untuk menjadi bahagia. Orang yang paling beracun dalam hubungan biasanya adalah mereka yang hiper-obsesif untuk menemukan pasangan yang sempurna. Orang yang menggunakan semua energi pikirannya untuk membuat orang lain menyukainya justru menjadi orang yang kesepian, terlalu tenggelam dengan diri sendiri sehingga tidak bisa menjadi teman baik. C. S. Lewis menunjukkan kepada kita prinsip di balik paradoks-paradoks ini: “Setiap pilihan terhadap kebaikan kecil untuk menggantikan kebaikan yang lebih besar, atau kebaikan parsial untuk menggantikan kebaikan total, berakibat hilangnya kebaikan kecil atau parsial yang untuknya pengorbanan dilakukan. … Anda tidak bisa mendapatkan hal sekunder dengan menjadikannya hal utama. Anda mendapatkan hal sekunder hanya dengan mengutamakan hal yang utama.”19

David Foster Wallace membantu membumikan abstraksi Lewis ke dalam dunia nyata, dengan mengemukakan daftar hal-hal sekunder yang populer yang menjadi dewa penghancur:

Jika kamu menyembah uang … kamu tidak akan pernah punya cukup uang. … Menyembah daya tarik tubuh dan kecantikan serta seks dan kamu akan selalu merasa berparas buruk. … Menyembah kekuasaan, dan kamu akan berakhir dengan merasa lemah dan takut. … Menyembah intelekmu, dipandang cerdas, dan kamu akan berakhir dengan merasa bodoh, curang, dan selalu hampir terbongkar kedoknya.20

Penjelasan ini membawa kita kepada tanda kavod yang kedua.

Hal-hal Mulia Tak Dapat Dihancurkan, bukan Sesuatu yang Rapuh

Saya sering berpandangan bahwa lagu-lagu gereja di mana Anda dapat mengganti kata Tuhan dengan ‘sayang’ merupakan bukti romantisme cengeng dalam tradisi iman saya. Bisa jadi itu ada benarnya. Namun, dapat saling menggantikannya “Tuhan” dan “sayang” dalam lagu-lagu gereja lebih banyak bicara tentang lagu-lagu cinta tersebut daripada tentang gereja, dan lebih banyak bicara tentang kecenderungan yang lebih luas dalam gereja dan dalam kebudayaan secara umum untuk menjadikan mitra romantis kita seperti Tuhan daripada gereja yang menjadikan Tuhan seperti manusia. Perhatikan lirik-lirik berikut:

Gonna build my whole world around you (Kan kubangun duniaku mengitarimu). …

You’re all that matters to me (Kau satu-satunya yang penting bagiku).

— The Temptations, “You’re My Everything”

You know it’s true, everything I do I do it for you.(Kau tahu, segalanya kulakukan untuk mu.)

— Bryan Adams, “Everything I Do”

If we believe in each other [there’s] nothing we can’t do. (Kalau kita saling percaya, tak ada yang tak dapat kita lakukan)

— Celine Dion, “Love Can Move Mountains”

You’re my religion, you’re my church. (Kaulah agamaku, kaulah gereja ku)

You’re the holy grail at the end of my search.(Kaulah cawan suci, akhir pencarian ku)

— Sting, “Sacred Love”

She tells me, “Worship in the bedroom.” (Ia katakan’ “Sembahlah di kamar tidur.”

The only heaven I’ll be sent to is when I’m alone with you. (Satu-satunya surga yang ke dalamnya aku akan masuk adalah ketika aku sendiri bersamamu)

— Hozier, “Take Me to Church”

Pada masa pendidikan pasca S1, aku bertemu dengan “Jane.” Jane sedang menikmati hubungan romantis baru. Ia adalah seorang yang selalu berpacaran, namun dengan daftar mantan yang tidak pernah berakhir seperti ucapan terima kasih pada film karya sutradara Peter Jackson. Setelah mendengar satu demi satu cerita putusnya yang brutal, saya melihat ada cahaya harapan di matanya saat ia menggambarkan pacar barunya. Ia terdengar seperti pemazmur yang memberi gambaran tentang Yahweh: “Ia sempurna dalam segala jalan. Ia baik padaku. Ialah gunung batuku, napas hidupku, segalanya bagiku.”

Tiba-tiba menjadi jelas bagi saya. Jane tidak sedang berada dalam hubungan pacaran; tetapi ia sedang dalam sebuah agama. Ia memandang pacarnya bukan sebagai seseorang yang memenuhi kebutuhan yang sebesar pacarnya, tetapi ia ingin pacarnya mengisi kebutuhan yang sebesar Tuhan. Ia mencari sesuatu yang mutlak sempurna, dan ia yakin bahwa ia telah menemukannya. Namun demikian, apa yang terjadi ketika realitas mengerdilkan patung tanpa cela tersebut, dan akhirnya menghancurkan patung pacarnya yang lebih besar dari kehidupan, yang ia bangun dalam khayalannya? Jane akan hancur, bukan karena pacarnya mengecewakannya, tetapi karena “tuhannya”, yaitu ilah fungsionalnya, telah mengecewakan dia. Seluruh identitasnya yang dibangun seputar berhalanya yang rapuh runtuh. Pacarnya sendiri (dibanding dengan yang berada dalam khayalan Jane) juga mungkin akan merasa hancur di bawah beban harapan supra manusia yang dibebankan pada bahunya.

Kita berbicara tentang proporsi. Ketika kita melihat orang sebagai orang dan bukan Tuhan, maka kesalahan mereka akan tampak setara dengan ukurannya sebagai manusia, yaitu sebagai kesalahan manusia. Jika dalam khayalan kita, kita mengembungkan orang menjadi seukuran dengan Tuhan, maka bagi kita, apa yang sebenarnya kesalahan yang terbatas ukurannya akan kelihatan sebagai kesalahan yang tidak terbatas. Kesalahan yang sebenarnya hanya melukai kita, justru menghancurkan kita tanpa ampun. Manusia super yang sering kita lihat pada diri orang lain merupakan alasan orang beralih dari mendewakan menjadi menjelek-jelekkan pasangan romantis, anak, dan bahkan selebritas (dan itulah yang dilakukan Jane terhadap pacar barunya, yang harus ditambah ke dalam daftar kreditnya).

Sesuatu yang pantas disembah haruslah supra manusia dan tidak dapat dihancurkan, bukan hanya dalam khayalan kita, tetapi dalam kenyataan. Jika kita mempunyai obyek penyembahan yang memenuhi ukuran kebutuhan hati kita, maka orang-orang dalam kehidupan kita akan menyusut kembali ke proporsi sebenarnya, demikian juga celah dalam karakternya. Jane yang gelisah yang berada dalam kita akan mendapatkan kebebasan untuk mencintai/mengasihi orang secara realistis — sebagai orang — dan menderita luka yang terbatas, bukan kehancuran tak terbatas saat (bukan seandainya) mereka mengecewakan kita. Kita juga akan membebaskan orang yang kita sayang/peduli untuk benar-benar menyayangi kita, tanpa dibebani gravitasi/gaya tarik dari harapan kita yang tak terbatas. Kembali ke kategori-kategori Lewis, kita temukan sukacita sebenarnya dalam hal-hal sekunder hanya kalau kita mendapatkan makna terdalam kita dari hal yang utama. Hal ini membawa kita kepada tanda ketiga dari sesuatu yang memiliki kavod yang cukup untuk disembah.

Hal-hal yang mulia adalah matahari, bukan lampu sorot

Lampu sorot mengeluarkan cahaya berbentuk kerucut sempit, sehingga semua orang yang berada di luar kerucut tersebut tetap berada dalam kegelapan. Namun matahari mengeluarkan cahaya ke semua arah secara simultan. Sebagian dari hal yang kita pilih untuk sembah lebih mirip seperti lampu sorot daripada matahari. Jadikan pencapaian akademis sebagai pusat dari hidup Anda, maka intelek Anda akan terang, tetapi emosi dan hubungan Anda akan tetap dalam kegelapan. Kalau menyembah mitra romantis maka gairah akan terang, tetapi intelek akan tertinggal dalam kegelapan dan kebingungan. Ketika kita merubah hal yang baik menjadi hal yang mutlak, maka ruang penting dalam hidup kita akan tetap dalam kegelapan.

Hal ini membantu kita untuk lebih memahami Hukum Emerson. Jika kita menyembah uang, tidak berarti kita akan menjadi berwarna seperti uang dan kusut, tetapi uang tidak memiliki sifat-sifat yang diperlukan untuk menerangi ruang intelek, emosi, dan hubungan-hubungan dalam hidup kita. Uang begitu tidak berpikiran, tidak berhati, dan tidak berkasih. Sembah dia untuk waktu yang cukup lama dan hal terbaik yang ada dalam kita akan tetap dalam kegelapan, dan perlahan-lahan kita akan kelihatan bodoh dan tak punya kepedulian serta sedingin uang=.

Jika kita katakan bahwa penyembah produk menjadi seperti produk yang disembah, lebih plastik, maka yang dimaksud dengan plastik sebenarnya adalah ungkapan singkat tentang tidak adanya cahaya intelek, emosi dan hubungan. Produk konsumen adalah ilah yang tidak cukup memadai karena tidak punya kuasa untuk menerangi yang terbaik dalam diri manusia. Ketika mal-mal menjadi gereja kita dan hal-hal materi menjadi perhatian mutlak kita, maka hal terbaik dalam kita akan tetap dalam kegelapan. Para pembelanja yang masuk dalam kultus konsumerisme mulai lebih kelihatan seperti mannequin yang mereka cari untuk mendapatkan makna (mereka juga menjadi semenarik mannequin untuk diajak berbicara). Dalam dunia pengalaman, doktrin imago Dei bukan sebuah pilihan. Orang akan menjadi gambar dari sesembahannya, entah ke arah yang lebih baik maupun lebih buruk, atau, seperti teolog Israel kuno katakan, umat “mengikuti ilah-ilah palsu dan menjadi palsu.”21

Coba pikirkan kemampuan Anda bernalar, merasa, mencapai kebesaran moral, mengasihi orang dengan baik, membantu mereka yang butuh, dan menciptakan keindahan! Bayangkan semua kekuatan kemanusiaan Anda diatur/disusun seputar sumber cahaya yang utama dalam hidup Anda. Apakah sumber cahaya itu seperti lampu sorot dengan kerucut tunggalnya yang tidak berubah posisi, sedangkan bagian lainnya tetap berada dalam kegelapan? Atau apakah obyek sembahan Anda seperti matahari yang menyinarkan kehangatan, kejelasan, dan makna dalam keseluruhan keberadaan Anda dan tidak membiarkan apa pun dalam kegelapan?

Terjemahan Ma Kuru dari bagian Pengantar Buku REFLECT, karya Thaddeus Williams.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Praktis. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s