Iman, Logika, dan Reformasi

Dalam Injil Matius 15 : 22 – 28 dikisahkan tentang seorang Perempuan Kanaan yang datang kepada Yesus untuk meminta Yesus menyembuhkan anaknya dari kerasukan setan. Alih-alih bersedia menyembuhkan anaknya, Yesus tidak mau melakukannya dengan alasan bahwa si perempuan tidak pantas mendapatkan kebaikan tersebut. Alasan tersebut dinyatakan melalui sebuah analogi, yaitu bahwa anjing tidak berhak mendapat makanan anak-anak.

Si perempuan ini seorang brilian, paling tidak dia paham tentang argumen. Bukannya marah pada Yesus, dia malah menerima apa yang dikatakan lalu menggunakan apa yang dikatakan oleh Yesus sebagai premis yang menyangkali pandangan bahwa anaknya tidak pantas mendapatkan kesembuhan. Dalam logika, ini disebut reductio ad absurdum atau ada orang lain yang menyebutnya sebagai logical ad hominem (berbeda dengan abusive ad hominem). Menerima pandangan lawan, lalu menarik kesimpulan valid dari pandangan lawan tersebut yang justeru bertentangan dengan pandangannya tersebut.

Bagi orang tertentu, termasuk seorang yang beberapa teman sebut sebagai Mr. High Level, kisah dalam Matius ini menunjukkan bahwa Yesus bersedia mengubah pikirannya kalau Dia salah. Yesus salah ketika mengatakan orang tersebut tidak pantas mendapatkan berkat kesembuhan bagi anaknya. Karena itu, setelah dikalahkan dengan argumen oleh perempuan Kanaan, Ia langsung merevisi pandangan-Nya.

Masalahnya adalah dalam Kitab Suci, Yesus sering digambarkan sebagai seorang Master. Seorang guru yang punya kecakapan tinggi. Dia mengajar dengan berbagai cara: perumpamaan, argumentasi, demonstrasi empiris, dll.

Saya bukan guru yang sangat mahir mengajar. Tetapi terkadang untuk mengajarkan anak saya, saya mengemukakan argumen yang sangat bodoh untuk memancingnya berpikir. Salah satu bentuk argumen yang saya kemukakan untuk melatih anak saya kecakapan berpikir adalah berargumen secara tidak valid. Skenario yang muncul bisa seperti ini: Saya katakan kepada anak saya “Berapa jumlah kaki ayam?” Dia akan menjawab “dua”. Saya akan katakan “Wah, Oooo.. kalau begitu semua yang berkaki dua adalah ayam.” Tentu saja dia akan protes dan saya akan menanyakan mengapa dia anggap saya salah. Dia pasti akan mengemukakan pendapatnya mengapa saya salah. Bentuk mengajar seperti ini, membantu anak untuk berani mengemukakan pendapat dan membantah orang lain yang mengemukakan sesuatu yang salah.

Apakah tidak mungkin Yesus menggunakan teknik seperti ini untuk mendorong orang menggunakan logika/akal budinya? Apakah tidak mungkin Yesus menggunakan teknik ini untuk menunjukkan bahwa logika tidak bertentangan dengan iman? Sangat mungkin Yesus melakukan demikian dan kalau dibandingkan dengan ayat-ayat lain yang menyatakan bahwa Yesus adalah ilahi, maka ini merupakan satu-satunya cara memaknai kejadian dalam ayat tersebut. Ia maha tahu.

Reformasi lahir ketika Luther (mengikuti para pendahulunya) menyuarakan penolakannya akan kontradiksi ajaran dan praktek dalam gereja pada jamannya. Dengan kata lain mereka sadar bahwa dua pasang proposisi yang saling kontradiksi tidak dapat diterima sebagai benar. Salah satu harus benar dan yang lain salah. Penghargaan akan logika mendorong Luther dan para reformator lainnya untuk memilih salah satu dalam sebuah pasangan kontradiksi.

Mungkin Luther atau Calvin atau siapapun pada jamannya tidak mengatakan persis bahwa mereka menganggap logika penting. Tetapi seandainya mereka tidak menghargai atau setidaknya menganggap penting hukum-hukum logika (setidaknya dalam ajaran yang dianggap penting), maka tidak akan ada reformasi. Tentunya ada yang mengatakan banyak hal tentang faktor pencetus, tetapi apapun faktor pencetusnya, kalau hukum kontradiksi tidak dianggap penting, maka tidak ada perjuangan protes.

Dalam kisah Yesus, Ia tidak memarahi dan menyebut perempuan tersebut terlalu rasional atau terlalu logis. Malah Ia memuji si perempuan itu sebagai seorang yang beriman besar. Yesus tidak mengatakan, “Hei… jangan gunakan logikamu. Beriman saja. Tidak perlu logika segala. Nanti anakmu tidak sembuh kalau kamu terlalu logis!” Yesus tidak mengatakan itu. Para reformator tidak mengabaikan logika. Mereka tunduk pada logika, walaupun mungkin tidak dapat dikatakan bahwa para reformator itu memilki argumen sempurna dalam segala isu; bisa jadi dalam isu-isu tertentu mereka masih menganut pandangan yang saling berkontradiksi. Tetapi setidaknya mereka mengakui pentingnya logika. Mereka tunduk pada logika. Setidaknya sekemampuannya, mereka tunduk pada logika.

Orang beriman punya logika yang tajam? Ini jelas bertentangan dengan pandangan sebagian besar orang Kristen. Bagi banyak orang Kristen, logika adalah sesuatu yang bertentangan dengan iman. Tapi Yesus mengatakan dan bertindak sebaliknya. Luther dan para reformator bertindak dan bersikap sebaliknya. Kalau kita pelajari sejarah gereja, para tokoh penting Kristen sepanjang sejarah menganggap penting logika. Mulai dari abad pertama, kedua, dan seterusnya, selalu ada tokoh-tokoh yang punya logika cemerlang.

Logika bukan sekedar sesuatu yang digunakan dalam adu argumen atau dalam mempertahankan dan meruntuhkan pendapat, walaupun logika harus digunakan situasi tersebut. Logika termasuk bagaimana menyusun sebuah sistem berpikir/filosofis atau teologi, bagaimana memandang sains dan terlibat dalam sains, bagaimana menata kehidupan pribadi, bagaimana berpikir dengan menggunakan berbagai asumsi yang berbeda-beda dalam bersains, bagaimana menyusun sebuah puisi agar tetap menyentuh hati tetapi tidak kehilangan kekritisan, dll, dst, tak terhingga banyaknya aplikasi logika.

Mungkin sudah saatnya kita kembali melihat contoh Yesus Kristus dan para reformator serta para tokoh Kristen pada jaman dulu dan menghargai logika. Selamat Hari Reformasi 2017!

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Logical ad Hominem, Logika. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.