Anies B, Pakar yang Paling Banyak Diplagiat Karyanya

Pasti Plato meniru Anies B! Plato mengatakan bahwa dunia empiris adalah refleksi tak sempurna dari Dunia Bentuk (atau yang secara kurang tepat diterjemahkan sebagai Dunia Ide).

Jauh sebelum Plato, Anies B sudah menunjukkan bahwa Rumah 350 juta di Jakarta ada dalam Dunia Bentuk. Tetapi untuk membidaninya dari Dunia Bentuk agar termanifestasi dalam dunia empiris yang tak sempurna ini, adalah sesuatu yang hampir pasti mustahil. Apalagi dengan adanya orang-orang yang tak punya kerjaan lain selain saban hari kritik Anies B. Itu menjadikan situasi tambah runyam. Baca lebih lanjut

Iklan
Dipublikasi di Humor, Sarkasme | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Apa yang Dapat Kita Pelajari dari Logika Yesus?

Oleh Thaddeus Williams 

Yesus di Yerusalem

Kita mulai di Yerusalem di jalan setapak Bait Suci. Waktu itu adalah hari Selasa sore sebelum Yesus dieksekusi. Seorang pengacara meminta-Nya mendefinisikan hukum terbesar/terutama dari ke-613 perintah dalam Hukum Yahudi. Yesus menjawab, “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan segenap akal budi/pikiranmu.”1 Yesus peduli tentang pikiran/akal budi kita sehingga Ia menjadikannya sebagai bagian dari hukum terutama yang pertama.

Namun apa artinya mengasihi Allah dengan segenap akal budi/pikiran kita? Jonathan Edwards menyediakan petunjuk penting untuk menjawab pertanyaan ini. Dalam Yesus, kata Edwards, “kita temukan roh ketaatan terbesar pada perintah dan hukum Alllah yang pernah ada di alam semesta.”2 Yesus tidak hanya berbicara tentang hukum yang terutama, tapi Ia melaksanakannya dengan lebih baik dari siapapun. Karena itu, perintah terbesar/terutama paling baik dipahami bukan sebagai prinsip abstrak tetapi sebagai darah daging Yesus saat Ia berada di dunia ini. Lalu bagaimana seorang yang paling taat terhadap hukum Allah yang terbesar/terutama mengasihi Allah dengan pikiran-Nya?

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Filosofi, Injil, Logika | Meninggalkan komentar

Kesombongan Kronologis vs Inferioritas Kronologis

Menarik ketika ada orang yang mengatakan bahwa teologi A, B, dan C yang sudah lama tidak boleh dipegang secara ketat, padahal ia sendiri berpegang pada salah satu dari teologi (setidaknya metode/kerangka berteologinya) yang lama yang tadi dikatakan tidak boleh dipegang secara ketat tersebut, tetapi dengan proposisi yang baru.

Yang lebih menarik lagi adalah orang itu lupa bahwa masing-masing teologi dan cara berteologi tersebut punya praanggapan sendiri-sendiri dan kadang-kadang praanggapan dasar A dan B sama, tetapi praanggapan dasar A dan B berbeda (malah bertentangan) dari C. Seandainyapun si orang ini menggabungkan teologi A, B, dan C, atau menambahkan proposisi baru dalam teologinya, maka jelas dia punya praanggapan dasar sendiri ketika melakukan itu. Tapi saya tidak yakin orang-orang dari golongan tersebut akan berani mengungkap praanggapan dasarnya, apa lagi menilainya. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Filosofi | 2 Komentar

Berperang Tanpa Tahu apa Tujuannya

Ada satu akun FB yang bernama Indra Atmowoloto (sekarang sudah tidak aktif atau sudah memblokir saya) yang pernah berkoar-koar bahwa saya tidak logis dan seterusnya. Saya sangka dia semacam aktivis.  Kalau dia katakan bahwa saya tidak logis, seharusnya dia tahu apa itu ‘logis’ dan apa itu ‘tidak logis’. Karena itu, saya tanyakan apa yang dimaksud dengan ‘logis’. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Filosofi, Logika | Meninggalkan komentar

Kafir Mengkafirkan – Masalah Sepele yang Dibesar-besarkan

Masalah kafir-mengkafirkan sudah sering terjadi di Indonesia sehingga beberapa orang tidak tersinggung lagi karena kelaziman tersebut, walaupun pada awalnya mungkin wajahnya merah juga ketika dikatai ‘kafir’. Ada juga yang sebenarnya tersinggung, tetapi menyerahkannya kepada Tuhan karena menurut ajaran agama yang dipercayainya, orang yang memusuhi harus didoakan. Namun ada yang tidak pernah selesai tersinggungnya kalau disebut kafir.

Ada satu kesamaan antara ketiga golongan tersebut, ketiganya setidaknya pernah tidak suka disebut kafir. Ketiganya pernah merasa tidak adil disebut kafir.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Filosofi, Logika, Sesat pikir | Meninggalkan komentar

Sulitnya Belajar Ketrampilan Baru Kalau Otak ke Robot.

Tontonan ini tidak disarankan bagi mereka yang otaknya kayak robot. He he he he

Dipublikasi di Humor | Meninggalkan komentar

Penggunaan perbedaan I – thou dan I – It yang tak bertanggung jawab

I – thou atau I – It (entah apa persisnya makna yang digunakan), tanpa justifikasi dipakai oleh beberapa pihak (yang mengaku beragama kristen) untuk mendukung pendapat bahwa kebenaran sebuah proposisi tergantung pada hubungan/sikap pihak yang mengeluarkan proposisi. Tapi secara logis (dan teologis) hubungan antar subyek yang berpegang pada sebuah proposisi sikap seorang subyek yang berpegang pada proposisi tidak mempengaruhi benar tidaknya sebuah proposisi. Dalam logika, anda sedang melakukan sesat pikir ad hominem kalau anda mempersalahkan sebuah proposisi karena faktor lain di luar proposisi tersebut. Pandangan seperti itu juga membawa kepada kebebalan dan ketidakmampuan belajar dalam segala waktu.

Tetapi harus diakui bahwa I – thou atau I – It mempengaruhi cara sebuah gagasan diterima atau ditolak. Terus-terang saya tidak suka dikritik secara tajam, apalagi di depan umum. Tetapi walaupun tidak suka, kalau yang dikatakan benar, saya akan sadari itu dan melakukan perubahan secara diam-diam. Sebaliknya kalau sebuah konsep salah, walaupun yang mengungkap konsep tersebut sopan, saya tetap tidak menerimanya – walaupun mungkin masih berteman baik dan penolakan diberikan dengan sopan. Tetapi kalau sejak awal sudah menyalahkan pembawa berita karena cara bawanya yang dianggap tidak benar, maka berharaplah akan tercipta generasi yang bebal.

Nilai kebenaran sebuah proposisi tidak dipengaruhi cara orang mengungkapnya atau tidak dipengaruhi oleh apakah orang yang menyatakannya melakukan berita yang dibawa atau tidak. Tapi memang benar bahwa sebisa mungkin kita mengungkap sebuah kebenaran dengan cara yang elegan. Tetapi tidak harus selalu demikian.

Tuhan Yesus pernah mengatakan kepada orang di jamannya bahwa mereka boleh mengikuti apa yang dikatakan oleh para orang Farisi dan Ahli Taurat (yang benar) tanpa mengikuti apa yang mereka lakukan. Tuhan Yesus menolak perilaku para Farisi dan Ahli Taurat, tetapi menerima sebagai benar apa yang benar yang mereka katakan.

Paulus juga melakukan demikian dan tampaknya tidak peduli dengan I – thou atau I – It yang diekstrapolasi terlalu luas. Ia menulis: …..tetapi yang lain karena kepentingan sendiri dan dengan maksud yang tidak ikhlas, sangkanya dengan demikian mereka memperberat bebanku dalam penjara. Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita,

Konsep I – thou atau I – It memang mungkin bermanfaat, tetapi jangan terlalu diperluas secara tidak bertanggung jawab.

Dipublikasi di Filosofi, Logika, Praktis | Meninggalkan komentar