Bertrand Russel tentang Metode Ilmiah

bertrand-r-young

Bertrand Russel

Keterbatasan metode ilmiah dapat dibagi menjadi tiga kelompok utama: (1) keraguan akan validitas induksi; (2) kesulitan yang dihadapi oleh penarikan kesimpulan dari apa yang dialami tentang apa yang tidak dialami; dan (3) kalaupun dapat diterima untuk menarik kesimpulan tentang apa yang tidak dialami, kenyataannya kesimpulan demikian bersifat sangat abstrak, sehingga memberikan lebih sedikit informasi daripada yang terasa ketika diungkap menggunakan bahasa lazim.

(1) Induksi.—Semua argumen induktif pada akhirnya dapat direduksi menjadi bentuk berikut: ‘Jika ini benar, maka itu benar. Itu benar. Jadi ini benar.’ Argumen tersebut tentu saja cacat secara formal. Andaikan saya berkata: ‘Jika roti adalah batu dan batu menyehatkan, maka roti ini menyehatkan saya. Roti ini menyehatkan saya, jadi roti adalah batu dan batu menyehatkan.’ Seandainya saya mengemukakan argumen seperti itu, maka saya pasti dianggap bebal. Namun argumen tersebut tidak berbeda secara mendasar dengan argumen yang mendasari semua hukum-hukum sains. Dalam sains kita selalu berargumen bahwa karena fakta-fakta yang kita amati tunduk pada hukum-hukum tertentu, maka fakta-fakta lain dalam bidang yang sama akan tunduk pada hukum yang tersebut. Kita dapat memverifikasi hal ini kemudian dalam bidang yang lebih luas atau Baca lebih lanjut

Iklan
Dipublikasi di Filosofi, Logika, Uncategorized | Meninggalkan komentar

Logika yang Dikambinghitamkan

Beberapa orang, entah karena pemahaman tentang logika yang kurang bagus, atau karena kebingungan tentang berbagai definisi logika, atau karena ada agenda tertentu untuk membodohi orang lain, mencoba membuat orang merasa bahwa hal-hal seperti mekanika kuantum (tergantung interpretasi), orang yang terbang di Alor (kalau benar), dan keanehan-keanehan lain seperti adanya tumbuhan monokotil yang bisa bercabang, dll membatalkan logika. Tidak jarang ada pendeta yang berkhotbah “Secara logika, si A yang hidup mapan tidak mungkin meninggalkan hidup berkecukupan dan melayani kaum terpinggirkan di daerah pedalaman yang fasilitasnya serba kekurangan. Kalau mau ikut logika, maka orang tidak bisa meninggalkan kehidupan yang mapan dan terjun ke dalam pelayanan. Tetapi kita tidak hidup berdasarkan logika.” Saya juga pernah membaca tulisan di sebuah forum diskusi para Marxis yang menyerang dan merendahkan logika. Serangan terhadap logika bukan hanya berasal dari satu golongan atau ideologi, tetapi berbagai golongan dan ideologi, baik yang bersifat ateis maupun teis. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Filosofi, Logika | Meninggalkan komentar

Iman, Logika, dan Reformasi

Dalam Injil Matius 15 : 22 – 28 dikisahkan tentang seorang Perempuan Kanaan yang datang kepada Yesus untuk meminta Yesus menyembuhkan anaknya dari kerasukan setan. Alih-alih bersedia menyembuhkan anaknya, Yesus tidak mau melakukannya dengan alasan bahwa si perempuan tidak pantas mendapatkan kebaikan tersebut. Alasan tersebut dinyatakan melalui sebuah analogi, yaitu bahwa anjing tidak berhak mendapat makanan anak-anak.

Si perempuan ini seorang brilian, paling tidak dia paham tentang argumen. Bukannya marah pada Yesus, dia malah menerima apa yang dikatakan lalu menggunakan apa yang dikatakan oleh Yesus sebagai premis yang menyangkali pandangan Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Filosofi, Logical ad Hominem, Logika | Meninggalkan komentar

Jonathan Edwards dan Pelajaran dalam Berdebat

Beberapa saat lalu beta dengar podcast dalam tautan ini (tujuannya antara lain supaya beta pung bahasa Inggris sonde mengalami pembusukan. Kalau teman-teman dorang mau belajar bahasa Inggris – listening, sebaiknya rajin mendengar podcast yang ada hubungan dengan bidang minat atau bidang studi teman-teman dorang). Bagian pertama podcast yang beta dengar ini menghadirkan Thaddeus Williams untuk membahas buku R-E-F-L-E-C-T karyanya; buku yang Pengantarnya sempat beta terjemahkan beberapa saat lalu.

Ada satu hal yang menarik beta pung perhatian dari podcast ini, selain isi buku, yaitu ketika Williams berbicara tentang Jonathan Edwards (dalam kaitan dengan buku Williams yang lain, yaitu Love, Freedom, and Evil.

Jonathan Edwards adalah seorang filsuf dan teolog dari aliran Kavinis. Ia merupakan seorang jenius yang masuk Harvard pada umur 12 tahun (dengan kemampuan berbahasa Yunani, Ibrani, dan Latin). Pencapaian teologisnya antara lain adalah, ia merupakan tokoh utama Kebangunan Rohani Besar pertama di Amerika Serikat. Pencapaian Edwards lain (yang banyak) dapat dibaca pada buku karya George MarsdenBaca lebih lanjut

Dipublikasi di Filosofi, Logika | Meninggalkan komentar

Bagaimana Bertemu Diri Masa Depan Anda

 

… mereka … mempunyai mulut, tetapi tidak dapat berkata-kata, mempunyai mata, tetapi tidak dapat melihat, mempunyai telinga, tetapi tidak dapat mendengar, mempunyai hidung, tetapi tidak dapat mencium, mempunyai tangan, tetapi tidak dapat meraba-raba, mempunyai kaki, tetapi tidak dapat berjalan, dan tidak dapat memberi suara dengan kerongkongannya. Seperti itulah jadinya orang-orang yang membuatnya, dan semua orang yang percaya kepadanya..

— MAZMUR 115:5–8

Bayangkan Anda diantar melewati sebuah laboratorium bawah tanah ke sebuah mesin kontroversial. Anda memasuki sebuah kubus besar berwarna perak dan diminta untuk memikirkan apapun yang Anda paling kasihi di dunia ini Sebuah dinding kaca kemudian muncul dari lantai dan memisahkan kubus yang Anda tempati menjadi dua bagian yang ukurannya sama. Setelah itu segala sesuatu menjadi gelap. Ingatan terawal Anda diproyeksi satu per satu ke kaca tersebut. Semua hal pertama Anda serta semua hal favorit Anda, tawa yang paling bahagia, sukacita yang paling membuat jantung Anda berdegup kencang, penolakan paling berat yang Anda pernah rasakan — semua itu ditampilkan ke layar dari dalam inti kesadaran Anda. Pada sisi berlawanan semua bayangan dari kesadaran Anda mulai berkumpul dan mengambil bentuk. Saat semua gagasan, perasaan, dan pilihan paling penting Anda bergerak melewati gelas, diri masa depan Anda perlahan-lahan terbentuk di ruang sebelah. Kemudian kamar menjadi terang, dinding gelas turun, dan Anda berdiri di sana berhadapan langsung dengan diri masa depan Anda.

  1. HUKUM EMERSON

Yang berkedip di depan Anda adalah orang yang akan menjadi diri Anda jika semua cinta kasih, kebencian, kekuatan, kekurangan, kebiasaan, dan ketakutan Anda berlangsung seperti saat ini. Yang Anda hadapi bukanlah gambar dua dimensi yang dipoles dengan filter pujian. Yang Anda hadapi adalah pribadi yang nyata, darah dan daging yang akan menjadi diri Anda di masa depan, yang entah demi kebaikan atau sesuatu yang buruk, menatap balik ke Anda. Memperhatikan diri masa depan Anda dalam mesin tersebut, apakah Anda menyukai orang yang dihasilkan karakter dan pilihan Anda pada masa depan? Apakah yang sedang menatap Anda itu seorang yang berjiwa besar, peduli/perhatian, penuh semangat, ataukah seorang berjiwa kerdil, berpusat pada diri sendiri, dan putus asa? Seorang yang berkembang atau seorang yang hancur berantakan? Seorang yang berkepribadian luhur atau kejam? Seorang yang tulus/berpikiran mendalam atau membosankan? Anda sedang menjadi seperti apa?

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Filosofi, Praktis | Meninggalkan komentar

Aspek-Aspek Metode Filsafat

Berikut adalah tiga aspek metode filosofis. Tidak berarti bahwa hanya para filsuf yang menggunakannya, tetapi hal ini ditekankan oleh para filsuf.

Mendefinisikan Istilah/Terminologi. Seorang filsuf yang baik selalu peduli untuk mendefinisikan istilah. Hal ini tidak hanya menjadikan konsep utamanya jelas dan dapat dibedakan orang, tetapi juga mencegah perdebatan yang sekedar perdebatan verbal. Filsuf pragmatis Amerika, William James, mengisahkan sebuah pengalaman yang menggambarkan hal ini.6 Ketika berkemah bersama dengan teman-temannya, ia pergi berjalan-jalan sendiri selama beberapa saat dan setelah pulang ia mendapati teman-temannya terlibat dalam perdebatan yang panas. Hal yang diperdebatkan adalah pengalaman yang sebagian besar kita pernah alami. Andaikata seorang lelaki mencoba melihat seekor tupai dari dekat, namun si tupai bersembunyi di balik sebatang pohon. Ketika orang itu mengitari pohon, tupai juga mengitari pohon, sehingga selalu ada pohon yang menghalanginya dari si lelaki. Dalam pembicaraan teman-teman James, pertanyaan yang muncul adalah: “Apakah si lelaki mengelilingi tupai atau tidak?” Karena opini terbagi rata antara dua posisi, mereka meminta James untuk memecahkan kebuntuan tersebut. Tanggapan James adalah: Jawabannya tergantung pada apa yang dimaksud dengan “mengelilingi” tupai. Kalau yang dimaksud adalah berjalan dari utara, ke timur, kemudian ke selatan dan kemudian ke barat si tupai, maka ya, si lelaki mengelilingi tupai. Tetapi jika yang dimaksud adalah berjalan dari depan, ke kiri, ke belakang, dan ke kanan binatang tersebut, maka jelas si lelaki tidak mengelilingi tupai. Dengan demikian, hal ini menunjukkan kepada teman-temannya bahwa mereka digantung oleh definisi istilah dan sama sekali tidak memperdebatkan isu substantif. Perdebatan mereka hanyalah perdebatan verbal. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Filosofi, Logika | Meninggalkan komentar

Keb’ao Ha’e Moto, Profesor Bumi Datar

kebaoAda seorang profesor dari provinsi saya. Saya tidak sebutkan namanya tetapi akan menyebutnya dengan profesor Keb’ao Ha’e Motor atau disingkat Keb’ao (sesuai dengan istilah yang dikemukakan oleh beberapa teman FB). Profesor Keb’ao adalah seorang yang paling anti terhadap segala sesuatu yang berbau Ahok. Status-statusnya selalu memuntahkan argumen-argumen sok logis, tetapi sebenarnya tuna logika untuk menyerang Ahok. Banyak argumennya menyembunyikan proposisi yang membantah pandangannya (cherry picking) dan hanya mengemukakan proposisi yang mendukung pandangannya.

Dalam contoh terbaru postingannya ia memberi petunjuk siapa dia sebenarnya. Awalnya si Keb’ao  mengatakan bahwa ia sudah tersentuh rasa prihatin pada Ahok. Setelah itu, ia menganulir pernyataan pembuka yang kelihatan simpatik tersebut, dan berargumen bahwa mengingat ada orang pendukung Ahok yang berargumen secara tidak valid bahwa ‘statistik menentukan kebenaran’ (=banyaknya orang yang mendukung satu orang/pandangan berarti bahwa orang/pandangan tersebut benar), maka ia menjadi tidak prihatin lagi. Ia justru menjadi muak terhadap Ahok. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar