Aspek-Aspek Metode Filsafat

Berikut adalah tiga aspek metode filosofis. Tidak berarti bahwa hanya para filsuf yang menggunakannya, tetapi hal ini ditekankan oleh para filsuf.

Mendefinisikan Istilah/Terminologi. Seorang filsuf yang baik selalu peduli untuk mendefinisikan istilah. Hal ini tidak hanya menjadikan konsep utamanya jelas dan dapat dibedakan orang, tetapi juga mencegah perdebatan yang sekedar perdebatan verbal. Filsuf pragmatis Amerika, William James, mengisahkan sebuah pengalaman yang menggambarkan hal ini.6 Ketika berkemah bersama dengan teman-temannya, ia pergi berjalan-jalan sendiri selama beberapa saat dan setelah pulang ia mendapati teman-temannya terlibat dalam perdebatan yang panas. Hal yang diperdebatkan adalah pengalaman yang sebagian besar kita pernah alami. Andaikata seorang lelaki mencoba melihat seekor tupai dari dekat, namun si tupai bersembunyi di balik sebatang pohon. Ketika orang itu mengitari pohon, tupai juga mengitari pohon, sehingga selalu ada pohon yang menghalanginya dari si lelaki. Dalam pembicaraan teman-teman James, pertanyaan yang muncul adalah: “Apakah si lelaki mengelilingi tupai atau tidak?” Karena opini terbagi rata antara dua posisi, mereka meminta James untuk memecahkan kebuntuan tersebut. Tanggapan James adalah: Jawabannya tergantung pada apa yang dimaksud dengan “mengelilingi” tupai. Kalau yang dimaksud adalah berjalan dari utara, ke timur, kemudian ke selatan dan kemudian ke barat si tupai, maka ya, si lelaki mengelilingi tupai. Tetapi jika yang dimaksud adalah berjalan dari depan, ke kiri, ke belakang, dan ke kanan binatang tersebut, maka jelas si lelaki tidak mengelilingi tupai. Dengan demikian, hal ini menunjukkan kepada teman-temannya bahwa mereka digantung oleh definisi istilah dan sama sekali tidak memperdebatkan isu substantif. Perdebatan mereka hanyalah perdebatan verbal. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Filosofi, Logika | Meninggalkan komentar

Keb’ao Ha’e Moto, Profesor Bumi Datar

kebaoAda seorang profesor dari provinsi saya. Saya tidak sebutkan namanya tetapi akan menyebutnya dengan profesor Keb’ao Ha’e Motor atau disingkat Keb’ao (sesuai dengan istilah yang dikemukakan oleh beberapa teman FB). Profesor Keb’ao adalah seorang yang paling anti terhadap segala sesuatu yang berbau Ahok. Status-statusnya selalu memuntahkan argumen-argumen sok logis, tetapi sebenarnya tuna logika untuk menyerang Ahok. Banyak argumennya menyembunyikan proposisi yang membantah pandangannya (cherry picking) dan hanya mengemukakan proposisi yang mendukung pandangannya.

Dalam contoh terbaru postingannya ia memberi petunjuk siapa dia sebenarnya. Awalnya si Keb’ao  mengatakan bahwa ia sudah tersentuh rasa prihatin pada Ahok. Setelah itu, ia menganulir pernyataan pembuka yang kelihatan simpatik tersebut, dan berargumen bahwa mengingat ada orang pendukung Ahok yang berargumen secara tidak valid bahwa ‘statistik menentukan kebenaran’ (=banyaknya orang yang mendukung satu orang/pandangan berarti bahwa orang/pandangan tersebut benar), maka ia menjadi tidak prihatin lagi. Ia justru menjadi muak terhadap Ahok. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Pahami Prinsip Dasar atau Anda Buang Waktu dan Tenaga

Beberapa tahun lalu beta baca bahwa kehebatan Floyd Mayweather antara lain diakibatkan karena ia menguasai dasar-dasar bertinju yang baik. Dengan dasar yang baik yang ia kuasai, ia bisa menyesuaikan teknik yang akan ia gunakan di dalam pertarungan. Ia bisa memahami dasar permainan lawan dan teknik dasar mana yang cocok untuk menganulir serangan lawan dan menyesuaikan gerakannya dengan gaya yang diadopsi lawan.

Penguasaan akan hal mendasar juga mungkin sangat berpengaruh dalam bidang kehidupan apapun. Kalau orang mau menguasai Bahasa Inggris, ia harus menguasai hal-hal yang mendasar dalam Bahasa Inggris sehingga ketika berhadapan dengan situasi di ‘lapangan’ yang ‘kacau’, yang belum dihadapi sebelumnya, ia tetap bisa menyesuaikan diri. Demikian juga dengan pemrograman komputer, dll. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Filosofi, Logika | Meninggalkan komentar

Anies B dan Sandi U: Cemerlang atau Penipu?

“Plato berkomentar pedas bahwa penganut ajaran Heraklitus mempraktekkan prinsipnya melalui pandangan mereka yang terus berubah. Mereka tidak pernah menjawab pertanyaan yang sama dengan cara yang sama dua kali,” tulis Gordon H. Clark. Bandingkan perilaku ini dengan perilaku Anies B. dan Sandi U. Setiap kali ditanya tentang reklamasi, jawaban yang selalu berbeda. Pertama tidak setuju reklamasi. Konon setelah tahu bahwa reklamasi merupakan kebijakan salah satu bapak penyandang dana, jawaban berubah menjadi ‘yaah.. kita lihat’. Namun pada saat debat terakhir, jawabannya adalah tidak melakukan reklamasi. Jawaban untuk pertanyaan yang sama selalu berubah-ubah.

“Namun Kratylus [penganut ajaran Heraklitus], mampu menghindari celaan Plato. Setiap kali diajukan pertanyaan, apapun pertanyaannya, dia selalu memberikan jawaban yang sama. Namun jawabannya bukan dalam bentuk kata, tetapi lambaian tangan,” lanjut Clark.  Bandingkan ini dengan Anies B. dan Sandi U. Setiap kali ditanya tentang solusi bagi perumahan di Jakarta, jawabannya selalu sama, yaitu ‘perumahan dengan DP Rp. 0,’ walaupun makna dari frasa ‘perumahan dengan DP Rp. 0’ berubah setiap waktu.

Plato bukan seorang sembarangan. Menurut salah seorang filsuf abad ke-20, ‘seluruh sejarah filsafat (Barat) merupakan catatan kaki terhadap karya Plato.’ Saya lupa nama filsuf tersebut, tetapi kalau tidak salah Alfred North Whitehead yang mengatakannya. Plato bukan seorang sembarangan. Jadi kalau ada yang bisa mengakali Plato, dia pasti seorang yang sangat cemerlang. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Filosofi, Logika | Tag , , | Meninggalkan komentar

Anies B, Pakar yang Paling Banyak Diplagiat Karyanya

Pasti Plato meniru Anies B! Plato mengatakan bahwa dunia empiris adalah refleksi tak sempurna dari Dunia Bentuk (atau yang secara kurang tepat diterjemahkan sebagai Dunia Ide).

Jauh sebelum Plato, Anies B sudah menunjukkan bahwa Rumah 350 juta di Jakarta ada dalam Dunia Bentuk. Tetapi untuk membidaninya dari Dunia Bentuk agar termanifestasi dalam dunia empiris yang tak sempurna ini, adalah sesuatu yang hampir pasti mustahil. Apalagi dengan adanya orang-orang yang tak punya kerjaan lain selain saban hari kritik Anies B. Itu menjadikan situasi tambah runyam. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Humor, Sarkasme | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Apa yang Dapat Kita Pelajari dari Logika Yesus?

Oleh Thaddeus Williams 

Yesus di Yerusalem

Kita mulai di Yerusalem di jalan setapak Bait Suci. Waktu itu adalah hari Selasa sore sebelum Yesus dieksekusi. Seorang pengacara meminta-Nya mendefinisikan hukum terbesar/terutama dari ke-613 perintah dalam Hukum Yahudi. Yesus menjawab, “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan segenap akal budi/pikiranmu.”1 Yesus peduli tentang pikiran/akal budi kita sehingga Ia menjadikannya sebagai bagian dari hukum terutama yang pertama.

Namun apa artinya mengasihi Allah dengan segenap akal budi/pikiran kita? Jonathan Edwards menyediakan petunjuk penting untuk menjawab pertanyaan ini. Dalam Yesus, kata Edwards, “kita temukan roh ketaatan terbesar pada perintah dan hukum Alllah yang pernah ada di alam semesta.”2 Yesus tidak hanya berbicara tentang hukum yang terutama, tapi Ia melaksanakannya dengan lebih baik dari siapapun. Karena itu, perintah terbesar/terutama paling baik dipahami bukan sebagai prinsip abstrak tetapi sebagai darah daging Yesus saat Ia berada di dunia ini. Lalu bagaimana seorang yang paling taat terhadap hukum Allah yang terbesar/terutama mengasihi Allah dengan pikiran-Nya?

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Filosofi, Injil, Logika | Meninggalkan komentar

Kesombongan Kronologis vs Inferioritas Kronologis

Menarik ketika ada orang yang mengatakan bahwa teologi A, B, dan C yang sudah lama tidak boleh dipegang secara ketat, padahal ia sendiri berpegang pada salah satu dari teologi (setidaknya metode/kerangka berteologinya) yang lama yang tadi dikatakan tidak boleh dipegang secara ketat tersebut, tetapi dengan proposisi yang baru.

Yang lebih menarik lagi adalah orang itu lupa bahwa masing-masing teologi dan cara berteologi tersebut punya praanggapan sendiri-sendiri dan kadang-kadang praanggapan dasar A dan B sama, tetapi praanggapan dasar A dan B berbeda (malah bertentangan) dari C. Seandainyapun si orang ini menggabungkan teologi A, B, dan C, atau menambahkan proposisi baru dalam teologinya, maka jelas dia punya praanggapan dasar sendiri ketika melakukan itu. Tapi saya tidak yakin orang-orang dari golongan tersebut akan berani mengungkap praanggapan dasarnya, apa lagi menilainya. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Filosofi | 2 Komentar