Awas ada Penipu!

Eeee.. ketahuan deh bohongnya

Si pengeritik tulisan saya selama ini telah memutakhirkan tulisannya di sini untuk menanggapi tulisan saya di sini. Dalam pemutakhiran tulisan itu, kembali lagi si pengeritik tidak tahu malu dengan bermulut tajam dan melakukan berbagai blunder logika. Semoga kita belajar dari kebodohan ini.

Si pengeritik mengatakan bahwa pernyataan saya (yang didukung argumen) bahwa dia melakukan kesalahan lama yang dilakukan terus-menerus sebagai sesuatu yang subyektif. Kita lihat bagaimana dia menjawab argument saya yang menunjukkan kesalahan logika yang dia lakukan.

Pada saat diminta untuk menunjukkan bagian mana dari Markus 10 : 18 yang membedakan antara Allah dan Yesus seabagai dua pribadi yang berbeda, dia tidak menunjukkan itu tetapi mengklaim bahwa diskusi di Internet sudah menunjukkan itu. Perhatikan bagaimana si pengeritik tidak bisa menunjukkan bagaimana ayat yang dimaksud itu mengharuskan posisi yang dia maksudkan. Dia ngalor ngidul tanpa menunjukkan sama sekali sesuatu yang dia klaim. OK. Kalau mau main klaim, siapa yang tidak bisa? Saya mau mengklaim bahwa dalam Surat Mariam diajarkan bahwa Yesus adalah Tuhan yang suci. Kalau si pengeritik bertanya, bagaimana sampai ke kesimpulan seperti itu atau kalau dia berargumen menunjukkan bahwa apa yang saya katakan tidak benar, saya dengan mudah dapat mengatakan bahwa diskusi di internet sudah menunjukkan bahwa surat Mariam memang mengajarkan bahwa Yesus adalah Tuhan yang suci. Kalau si pengeritik mau menerima itu, yaa berarti dia konsisten. Kalau dia tidak menerima itu maka dia tidak konsisten dan karena ketidakonsistenan adalah tanda argument yang gagal, maka jelas dia sebenarnya tidak punya argument. Sesederhana itu dan dia tidak paham. Memang menggelikan. Catat baik-baik, ini adalah kesalahan logika yang bernama red herring.

Beginilah kira-kira diskusi ini selama ini

Lalu kemudian untuk membela penulis Kuran yang tidak paham ajaran Kekristenan tentang Trinitas, dia mengatakan bahwa memang pada awalnya Trinitas itu mengajarkan bahwa Trinitas terdiri dari Bapa, Maria, dan Anak. Nah, buktinya apa? Apakah dia sudah membaca dokumen dari Kristen mula-mula sehingga mengatakan demikian? Tidak. Buktinya katanya adalah ada patung Maria yang menggendong bayi yang ditaruh dalam Kabah. Dan segala sesuatu yang berada dalam Kabah pra Muhammad disembah sebagai Tuhan. Lagi-lagi sumber informasi si pengeritik dari mana? Tidak jelas dan tidak dapat diverifikasi. Dengan demikian, yang diinginkan oleh si pengeritik sebenarna bukan untuk berargumentasi tetapi agar yang membaca tulisannya  percaya saja apa yang dia katakan. Ok. Kalau demikian, maka saya sebenarnya tidak perlu berargumentasi dengan dia. Saya hanya mengharuskan dia untuk percaya bahwa sebenarnya dalam Kuran diajarkan bahwa Allah itu sebenarnya adalah Trinitas. Tidak perlu argumentasi! Catat, ini adalah mere assumption!

Kalaupun benar bahwa ada patung Maria menggendong bayi ada dalam Kabah, siapa yang menaruh di sana? Orang Kristen? Kita tidak diberi tahu oleh si pengeritik. Kita diminta untuk berasumsi bahwa orang Kristenlah yang menaruh patung-patung itu di sana untuk disembah. Kenapa tidak mungkin bahwa patung-patung dengan cara tertentu itu jatuh ke tangan orang kafir jaman itu dan menaruhnya dalam Kabah? Lagi-lagi si pengeritik tidak memberi informasi dan hanya mengharapkan kita mempercayai apa yang dikatakan tanpa mempertanyakannya sama sekali. Kesalahannya: Mere assumption!

Lalu kalau memang ada orang yang mengaku Kristen yang menaruh patung-patung itu di sana, dengan standar apa orang ini dan penulis Kuran mengatakan bahwa mereka Kristen? Kalau memang penulis Kuran itu hanya menyerang orang Kristen yang mempercayai Trinitas sebagai Bapa, Maria, dan Yesus (dan ajaran itu benar-benar ada), maka jelas ajaran Trinitas yang tidak seperti itu pastilah ajaran yang benar. Kalau muslim mengatakan bahwa semua ajaran Trinitas tidak benar, maka menunjukkan bahwa dia tidak paham kekristenan. Mengapa dia tidak mengatakan bahwa semua bentuk ajaran Trinitas tidak benar? Apakah penulis Kuran begitu bodohnya sehingga dia tidak tahu bahwa Muslim seperti pengeritik hanya mau sesuatu yang eksplisit? Jelas bahwa mengasumsikan apa yang dikatakan Kuran sebagai benar sama dengan bunuh diri intelektual. Catat berapa kesalahan logikanya sekarang.

Terlepas dari itu semua, kekristenan sudah mempercayai Trinitas jauh sebelum Muhammad. Mereka mempercayai Trinitas sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Bahkan dalam Perjanjuan Barupun sudah ada ajaran itu. Nah, si penulis Kuran kok bisa tidak tahu? Tidak ada satupun dokumen Kristen yang mengajarkan bahwa Trinitas itu adalah Bapa, Yesus, dan Maria. Itu hanya khayalan penulis Kuran dan orang-orang yang secara membabi-buta mengikuti kata-kata penulis Kuran. Dengan kata lain si pengeritik menipu dengan cara mengemukakan fakta yang tidak mengharuskan kita berkesimpulan bahwa orang Kristen mempercayai Trinitas versi Kuran.

Lalu menjawab tantangan saya untuk menunjukkan bukti bawa ayat yang mengandung makian yang dia katakan itu memang ada dalam Alkitab, dia tidak bisa dan dia kembali ke serangan Ad hominem dengan mengajukan pertanyaan retoris “mana ada maling mengaku maling”? Kemudian atas klaim saya bahwa sebelum tahun 1915 ada ayat Kuran yang mengajarkan bahwa Yesus adalah satu-satunya Juruselamat dia mengatakan bahwa tidak pernah ada kejadian demikian. Terhadap hal seperti ini dengan mudah saya dapat menggunakan logical ad hominem dan mengatakan “Mana ada maling mengaku maling?” Selesai persoalan dan memang benar dalam Kuran sebelum tanun 1915 ada ayat yang mengatakan bahwa Yesus adalah satu-satunya Juruselamat. Kalau dia menolak apa yang saya  katakan, maka dia inkonsisten atau standar ganda. Itu juga kesalahan logika.

Dia juga mengklaim bahwa tidak ada ulama yang mengubah Kuran. Well, silahkan baca di sini yang mendokumentasikan berbagai perubahan dalam Kuran. Jadi karena premisnya salah, maka kesimpulan salah bahwa Kuran tidak mungkin dirubah.

Lalu tentang hubungan antara dicobai Iblis dengan kebaikan seseorang. Well, fakta bahwa seseorang dicoba Iblis tidak menunjukkan bahwa dia buruk. Bahkan Iblispun mencobai Tuhan Allah. Tetapi mencobai Tuhan Allah tidak sama dengan Tuhan Allah kalah. Di sini si pengeritik menyamakan (equivokasi) antara “dicobai” dengan “dikalahkan” sehingga pada saat Yesus dicobai oleh Iblis maka itu artinya Iblis mengalahkan/berkuasa atas Yesus. Mengherankan bahwa masalah bahasa sesederhana itu tidak dia pahami.

Lalu tentang tuduhan bahwa Yesus Poligami, si pengeritik menyuruh membaca tulisan Barbara Thiering. Siapa Barbara Thiering? Menarik membaca tentang Barbara Theiring. Karena si pengeritik tidak mengemukakan bagaimana argumen Thiering mendukung pandangannya bahwa Yesus poligami dan hanya mengarahkan ke google, maka saya juga hanya mengemukakan bunyi literature yang mengatakan bahwa pandangan dan metode Barbara Thiering tidak diteria oleh sarjana-sarjana terpelajar.

Di sini saya kutipkan apa yang dikatakan Geza Vermes seorang penganut Yudaisme / bukan orang Kristen yang pakar sejarah Kristen dan Yudaisme seperti dikutip Wikipedia:

“Professor Barbara Thiering’s reinterpretation of the New Testament, in which the married, divorced, and remarried Jesus, father of four, becomes the “Wicked Priest” of the Dead Sea Scrolls, has made no impact on learned opinion. Scroll scholars and New Testament experts alike have found the basis of the new theory, Thiering’s use of the so-called “pesher technique”, without substance.”[2]

Atau terjemahan bebasnya:

“Reinterpretasi Professor Barbara Thiering terhadap Perjanjian Baru dimana seorang Yesus yang menikah, bercerai, dan menikah kembali, ayah empat orang anak, dan menjadi “Wicked Priest” dari the Dead Sea Scrolls, tidak memiliki dampak terhadap pandangan [orang] terpelajar. Ahli naskah [Laut Mati] maupun ahli Perjanjian Baru tidak melihat adanya dasar bagi teori baru tersebut, penggunaan apa yang disebut “pesher technique” oleh Thiering,adalah tanpa dasar sama sekali.”[2]

Jadi, apakah kita mau mempercayai si pengeritik sebagai lebih pakar dari pakar Naskah Laut Mati dan pakar Perjanjian baru? Mmmm..

Satu hal lagi yang patut dipertimbangkan adalah, sudah sekitar dua puluhan tahu (atau mungkin lebih) teori seperti ini ada dan tidak ada seorangpun pakar yang setuju dengan dia, kecuali orang seperti pengeritik yang sengaja mencari-cari alasan untuk menolak Yesus Kristus. Menarik khan?

Lalu kemudian saat diarahkan untuk menunjukkan bukti bahwa ayat yang dikatakannya memang berasal dari Alkitab, si pengeritik bukan menunjukan bukti bahwa ayat Alkitab yang ada makiannya itu memang ayat Alkitab yang dihapus, dia malah mengemukakan Red Herring lagi dengan berbicara tentang orang Kristen mengajarkan berzinah sebagai bukan dosa, dll, dst. Itu tidak perlu ditanggapi karena hanya Red Herring. Kalau ada pembaca yang mau menanggapi, mungkin juga baik.

Saat saya mengekspose ketidakmampuan si pengeritik memahami tulisan saya bahwa saya tidak menggunakan ayat Kuran untuk membuktikan kebenaran ajaran Alkitab, dan bahwa saya hanya mengangkat satu proposisi yang sama dengan yang ada dalam Alkitab yang implikasi logisnya adalah seperti pandangan saya, si pengeritik bukannya menanggapi saya tetapi menunjuk kepada situs-situs orang Kristen yang katanya menggunakan ayat Kuran mendukung kebenaran Alkitab. Sekali lagi kita melihat bagaimana si pengeritik mengalihkan pembicaraan. Siapa yang peduli dengan tulisan di situs Kristen lain (kalaupun itu benar – walaupun saya tidak melihat salahnya dimana), itu bukan point saya. Kok itu yang diangkat? Hmmm menarik memang melihat gaya jumpalitan si pengeritik satu ini.

Lalu untuk membela standar ganda pengeritik yang dengan pongah menyalahgunakan ayat Alkitab menyerang ajarak Kristen, dia mengatakan bahwa alasannya untuk standar ganda adalah karena Alkitab tidak secara terang-terangan menjelaskan bahwa Yesus adalah Tuhan sedangkan Kuran menerangkan secara jelas bahwa Yesus hanyalah manusia. Tidak jelas menurut siapa? Alkitab hanya tidak jelas mengajarkan bahwa Yesus adalah Tuhan bagi orang yang tidak mau menggunakan akalnnya. Orang yang tidak mau deduksi. Atau orang munafik menerima pura-pura deduksi kalau tersudut tetapi tidak konsisten menerapkannya. Singkatnya Alkitab tidak jelas mengajarkan Yesus sebagai Tuhan hanya bagi orang yang beraspirasi menjadi sapi atau binatang lain karena hanya sapi dan binatang lain yang tidak bisa menghubungkan antar proposisi. Lalu kalau orang tidak mampu menalar secara konsisten menganggap orang lain yang pikirannya jalan mulus sebagai bodoh, yang bodoh sebenarnya siapa? Silahkan menjawab!

Lalu menjawab komentar saya  bahwa si pengeritik tidak paham bahwa saya hanya menunjukkan bahwa ada proposisi dalam Kuran yang sesuai dengan yang ada dalam Alkitab (dengan demikian mengkonfirmasi kebenaran Roma 1 : 18 – 19), si pengeritik mengatakan bahwa itu hanya sekedar comot. OK, kita lihat di bawah ini (kalau dia tanggapi tulisan saya) apakah memang sekedar comot atau tidak. Dengan kata lain dia tidak menjawab apa yang saya kemukakan dan point saya valid bahwa si pengeritik tidak paham apa yang saya tuliskan.

Lalu menanggapi point saya bahwa surat Maryam mengajarkan tentang kesucian Yesus, bukan hanya pada saat Dia bayi si pengeritik mengatakan bahwa bahwa di sana anak artinya bayi karena di sana sedang berbicara tentang kelahiran dari seorang wanita yang hamil. Apa memang benar demikian? Si Malaikat yang dikatakan menemui Maria tidak berbicara tentang kelahiran di sana. Yang dia katakan sederhana saja. Dia mengatakan bahwa Tuhan akan memberikan seorang anak yang suci. Disitu si malaikat tidak katakan bahwa Maria akan mengandung dan melahirkan seorang bayi yang suci. Dengan kata lain si pengeritik sedang memelintir ayat kitabnya sendiri supaya bertentangan dengan apa yang dikatakan Alkitab. Menarik.

Andaikatapun misalnya benar bahwa Yesus suci karena memang semua bayi suci, maka si Alloh pastilah sesuatu entitas yang mubazir. Masa, semua orang yang saleh sudah tau kok bahwa bayi itu suci, kenapa lagi musti diberitahukan bahwa Yesus suci? Apa bedanya bayi Yesus dengan bayi lain?

Andaikatapun saya setuju dengan si pengeritik bahwa yang dinyatakan Suci dalam ayat itu hanya Yesus pada saat Dia bayi, maka permintaan saya adalah: “Silahkan tunjukkan ayat dalam Alkitab bahwa Yesus berdosa setelah dia dewasa!” Saya mau tau! Silahkan tunjukkan!

Lalu menanggapi komentar saya bahwa tanpa menggunakan ayat Kuranpun premis saya tetap benar dan argument saya tetap valid, si pengeritik tidak menjawab itu atau mempertanyakan itu tetapi berbicara tentang Yesus yang poligami (yang saya tunjukkan bahwa itu didasarkan pada pandangan seorang ahli yang tidak diakui di antara para pakar), dll dst. Dengan kata lain si pengeritik melakukan kesalahan logika yang bernama Red Herring. Silahkan dicatat sudah berapa kesalahan yang anda lakukan hai pengeritik.

Juga pada saat saya mengungkapkan kesimpulan saya bahwa isi Kuran tidak valid, si pengeritik tidak menjawab argumentasi saya tetapi berbicara sekali lagi tentang pokok favoritnya bahwa Yesus poligami. Dimana ayat yang mengatakan bahwa Yesus pernah meminta pengikut-Nya untuk menyembah Dia, dst dst. Inikah yang disebut intelektualitas itu? Apakah mungkin si pengeritik sudah lupa bahwa itu semua sudah dijawab? Tentang poligami sudah dijawab di atas dan tentang Yesus mengatakan Aku adalah Tuhan dan Sembahlah aku sudah saya bahas juga di sini

Lalu menjawab pertanyaan retorika saya tentang kesalahan logika yang saya bukan hanya klaim tetapi saya tunjukkan dalam berbagai kesempatan, si pengeritik tidak membantah argument saya tetapi hanya menyangkal, menyangkal, menyangkal tanpa argumentasi. Kalau memang itu standar dalam diskusi, maka terhadap semua yang dia katakan, saya tinggal menyangkal karena itu standar. Tetapi itu bukan standar, dalam diskusi, kalau lawan mengeluarkan argument, maka anda harus membantah dengan argument, bukan hanya asal menyangkal. Semua orang bisa menyangkal. Tetapi mengemukakan argument membantah argumen lawan hanya khusus buat orang cerdas.

Tentang kesimpulan saya (yang saya tunjukkan dengan argument dan disampaikan dalam bentuk pertanyaan retorika) bahwa si pengeritik hanya bisa memutarbalikkan pandangan lawan bicara, si lawan bicara tidak bantah tetapi berkoar-koar (sekali lagi tanpa bantahan terhadap argumen saya) bahwa saya memutarbalikkan Alkitab. Nah, sudah saya tunjukkan (dengan argument) dalam diskusi ini, bahwa si pengeritiklah yang memutarbalikkan Alkitab. Kalaupun andaikata benar saya memutarbalikkan Alkitab, apakah si pengeritik menjadi benar karea saya salah? Tentu saja tidak. Si pengeritik harus menjawab argument lawan. Bukan hanya muncul menampilkan mulut tajam dan kecerdasan tumpul dengan main maki. Itu namanya kesalahan logika Tu Quoque. Silahkan catat berapa kesalahan logika yang pengeritik lakukan sampai saat ini.

Atas kesimpulan saya (yang saya sampaikan dalam bentuk pertanyaan retoris) bahwa si pengeritik hanya pintar melakukan ad hominem tanpa justifikasi, si pengeritik tidak menjawab dan mengatakan bahwa saya memutar balikkan ayat-ayat Matius 7 yang anehnya dia tidak bisa bantah secara berarti sampai saat ini. Sekali lagi ini adalah kesalahan logika Red Herring karena si pengeritik berbicara tentang hal yang lain sama sekali yang tidak nyambung dengan apa yang saya katakan. Intelektualitas Kristen yang dia hina-hina ternyata lebih mampu berpikir lurus dari pada yang dia sendiri. Mmmm… berhentilah bersembunyi

Untuk pertanyaan retoris saya yang mempertanyakan perilaku pengeritik melarang orang lain melakukan yang dia sendiri lakukan seenaknya, alias saya mempertanyakan standar ganda yang diterapkan si pengeritik, si pengeritik mengatakan bahwa di semua perdebatan islam menang, dan sudah empat thread yang dia ikuti dan aktif partisipasi di faithfreedom yang ditutup. Alasannya? Menurut si pengeritik, alasannya adalah karena sudah tidak ada lagi yang berani beradu komentar dengan dia. Haa??? Hubungan dengan apa yang saya katakan dimana? Dalam diskusi di blog ini sudah saya bongkar semua kebohongan dan kesesatan logika yang dia lakukan dan dia hanya bisa melarikan diri dan bersembunyi dibalik segala macam irasionalitas. Ini yang katanya menang di Faithfreedom? Hei pengeritik, melihat komentar anda di sini, hampir pasti bahwa orang tidak menanggapi komentar anda karena ketiadaan mutu argumen anda. Tidak ada guna menyombongkan diri di sini. Ingat, anda pernah melarang saya untuk tidak membalas tulisan anda di blog lain selain di blog anda. Itu bagi saya sudah cukup untuk membuktikan bahwa anda ketakutan untuk dibongkar kebodohannya.

Menjawab argumen saya tentang implikasi dari anggapan bahwa pernyataan eksplisit adalah satu-satunya yang menjamin kebenaran satu posisi atau proposisi, si pengeritik mengatakan bahwa dia berbicara untuk meminta ayat. Yang patut dipertanyakan adalah apa hubungan komentarnya dengan point yang saya angkat? Rupanya dia tidak berpikir terlalu jauh dan hanya bersandar pada apa yang eksplisit tanpa menghubungkan proposisi-proposisi yang sudah diketahui. Yang diabaikan oleh si pengeritik yang sok tahu ini adalah bahwa dalam kehidupan sehari-hari dan dalam sains serta filsafat dan berbagai bidang ilmu kita secara dapat menggunakan deduksi untuk sampai kepada kebenaran, mengapa kalau sudah urusan agama, kok otak dishut down? Mengapa kita menjadi bodoh dan hanya mengharapkan pernyataan eksplisit tanpa menghubungkan antara proposisi yang benar untuk sampai kepada kebenaran yang belum terformulasi? Mengapa hai si pengeritik? Mengapa? Tolong jawab! Apakah memang Islam (setidaknya islam menurut pandangan si pengeritik) pantas untuk disebut agama candu dimana otak ditinggalkan saat berhadapan dengan agama? Puji Tuhan saya tidak menjadi anggota dari agama yang seperti itu.

Menjawab kritikan saya tentang si pengeritik yang melupakan semua perbedaan Yesus dan Gubernur sehingga menggunakan analogi Gubernur dan menerapkan kesimpulannya tentang Gubernur pada Yesus, si pengeritik mengatakan bahwa Yesus dan Guberrnur sama-sama pembuat hukum. Ya… Yesus membuat Hukum tetapi bukan hanya pembuat Hukum da nada begitu banyak hal lain dimana Yesus berbeda dari gubernur, Hakim dan lainnya. Dengan mengatakan seperti ini si pengeritik sama saja dengan memaksa jeruk untuk sama dengan nangka karena keduanya sama-sama manis. Karena jeruk manis dan nangka manis, maka si pengeritik mengeluh panjang pendek sampai mulut berbusa mengapa nangka itu kok berduri. Yaaa… memang keduanya berbeda. Lo aja yang kecerdasannya kurang untuk memahami bahwa memang keduanya berbeda.

Menjawab pertanyaan retoris saya yang mempertanyakan siapa yang melarang Yesus melakukan yang Diia lakukan, si pengeritik mengatakan bahwa dialah yang melarangnya karena muslim itu orang berakal. Heeehh?? Berakal dari mana? Dari Hongkong? Kesalahan logika demi kesalahan logika dilakukan tanpa merasa malu, itu disebut berakal? Saya setuju kalau dia berakal, tetapi berakal seperti keledai.

Menjawab argumen saya bahwa Yesus punya alasan mengharapkan orang yang percaya kepada-Nya menghubungkan semua proposisi yang Dia ucapkan menjadi kesimpulan yang valid, si pengeritik mengeritik kata “mengharap” yang saya gunakan. Si pengeritik menyangka kata itu berarti bahwa Dia tidak tahu apa yang akan terjadi. Si pengeritik lupa bahwa orang berbicara orang bisa menulis dengan menggunakan eufimisme dimana sebuah kata digantikan dengan kata lain yang artinya tidak setajam apa yang diungkapkan. Apakah intelektual islam tidak tahu apa itu gaya bahasa? Memprihatinkan! Saya mencoba memancing dengan gaya bahasa seperti ini saja sudah terpancing dan menunjukkan kebodohannya. Andaikatapun saya mengakui bahwa saya salah tulis dan mengganti kata “mengharapkan” dengan kata “mengharuskan” dalam konteks ini, maka kritikan si pengeritik langsung kehilangan taji alias memble. Menarik memang!

Lalu tentang argumen saya bahwa Yesus berbeda dengan Gubernur karena Yesus punya kuasa untuk memampukan orang pilihan-Nya memahami apa yang Dia katakan, si pengeritik mengatakan bahwa Yesus pilih kasih. Lha.. kalau Dia Tuhan dan Dia bersama dengan Bapa memiliih orang tertentu menjadi umat Pilihan-Nya, apa yang hendak dikatakan si pengeritik? Apakah pengeritik mau menempatkan diri sebagai Tuhan? Woooiii hati-hati syrik.

Tentang perbedaan lain antara Gubernur dan Yesus sehingga analogi pengeritik antara Yesus dan Gubernur tidak pas, saya kemukakan bahwa Yesus bukan hanya Tuhan tetapi Guru yang Agung sehingga Dia tahu bahwa mengajar dengan mencekoki orang dengan informasi bukan cara mengajar yang baik. Si pengeritik mengatakan bahwa Budha juga Guru dan Muhammad adalah Guru Agung jadi tidak ada perbedaan antar semuanya. Well, Budha dan Muhammad hanya guru dan bukan Tuhan. Yesus adalah guru dan Tuhan. Masa seperti itu saja tidak mengerti? Lalu si pengeritik sekali lagi berkanjang dalam kebodohannya dan mengajukan keberatan basi dari orang tidak cerdas bahwa Yesus tidak menyatakan diri secara eksplisit sebagai Tuhan. Sekali lagi membuktikan bahwa muslim (setidaknya si pengeritik) menjadikan agama sebagai candu sehingga segalam macam fakultas (kemampuan otak ditutup pada saat berhadapan dengan hal yang berbau agama)

Karena pada point ketiga dimana saya mengemukakan perbedaan antara Yesus dan gubernur yang mengakibatkan perbandingan antara gubernur dan Yesus tidak valid, si pengeritik mempertanyakan kenapa hanya dua point. Well, hanya dua point tetapi tidak bisa dijawab. Kasian orang yang menjawab kalau dikasih lebih banyak lagi. Dua point saja sudah tidak mempu menjawab. Tidak malu apa?

Untuk point saya bahwa tidak ada jaminan orang akan mempercayai Yesus sebagai Tuhan walaupun dia mengatakan secara eksplisit bahwa Dialah Tuhan dan semua orang harus menyembah Dia, si pengeritik bertanya apa jaminan bahwa Yesus itu Tuhan. Lho selama ini berbagai argumen yang dia tidak jawab dia lupakan. Kebodohan pengeritik yang tidak menerima hasil deduksi yang valid dari Firman Tuhan dia lupakan sama sekali lalu berpura-pura sok intelek dengan menanyakan “dus apa jaminan bahwa Yesus adalah Tuhah?” Hanya seperti ini inteleknya: mengasumsikan diri sebagai Tuhan dan memaksa Tuhan bekerja sesuai dengan keinginan pengeritik dan juga menghina akal budi dengan hanya menerima pernyataan eksplisit sebagai benar. Dengan kata lain si pengeritik sedang mengatakan “Aku mau jadi sapi saat beragama. Tolong aku untuk tidak memaksa diri menggunakan akal budi dalam hal beragama.” Menarik untuk diamati si pembohong satu ini!

Sekali lagi kita melihat si pengeritik menggunakan berbagai tameng untuk menyembunyikan kebodohannya. Ada berapa banyak kesesatan berpikir yang dia lakukan dalam diskusi ini? Saya hanya berharap dia rajin menghitungnya dan menjawab argumen lawan bicara serta berhenti mengatakan klaim tanpa dasar bahwa pernyataan saya sangat subyektif kalau mengatakan bahwa dia melakukan kesalahan logika yang berulang-ulang.

Satu hal yang jelas, Saat pandangannya dibedah dengan pisau logika, si pengeritik berlindung di balik sepotong kotoran sapi dan menganggapnya sebagai benteng kuat. Atau juga si pengeritik seperti burung unta yang badannya besar yang karena ketakutan menyembunyikan kepala di dalam pasir padahal dia lupa bahwa badan dan pantatnya yang besar menjadi sasaran lawan. Huuhh.. Semoga Roh Kudus mencerahkan hati orang ini sehingga menggunakan logika secara lebih konsisten dan pada saat Yesus sang Logos datang dalam kemuliaan-Nya dia tidak dihanguskan.

Pos ini dipublikasikan di Ad Hominem, Belajar Lagi ya.., Irrelevant Evidence, Islam, Memang Bodoh, Polemik, Red Herring, Strawmen Argument. Tandai permalink.

10 Balasan ke Awas ada Penipu!

  1. Ping balik: Ecxuse Bodoh, Atau Mengada-ada Part 2 « True Islam In The Air!!!

  2. Ping balik: Maaf! Pikiran Anda Terlalu Tumpul! | Futility over Futility

  3. Ping balik: Saat Setitik Kotoran Kecoak dianggap Benteng Teguh | Futility over Futility

  4. buren berkata:

    kalau anda mampu sebaiknya anda bantah saja di portal islamthis, jangan kekana-an begini cuma bs curhat di portal anda sendiri.

    • admin berkata:

      Sudah dan anda tidak mampu membantah bantahan saya.

      • buren berkata:

        sy adalah salah satu pengunjung baru di portal islamthis, dari ratusan portal yang sy kunjungi, portal islamthis adalah portal yg paling favorit menurut saya, disana sangat lengkap treadnya, siapapun termasuk anda saya rasa diperkenankan bebas ngemeng apa saja (termasuk meludah), kalau anda sanggup bantah aja disana, silakan buktikan kl yesus itu tuhan, kalau anda tidak mau kesana, silakan anda curhat sendiri disini di portal anda sendiri tanpa pengunjung sambil menghibur diri berpanjang-panjang ria berputar lidah ala jurus filosofi di portal sepi begini.

        • admin berkata:

          Ummmmmm……. Jadi benar tidaknya sesuatu dinilai dari banyaknya tulisan dan banyaknya pengunjung? Bagus juga, kalau anda senang dengan standar seperti itu, Ya.. saya juga tidak bisa bilang apa-apa selain selamat menikmati standar anda.

  5. it8 berkata:

    Link ut liat “ulama menghapus tulisan Yesus di Kuran” udah di blokir bang

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s