Maaf! Pikiran Anda Terlalu Tumpul!

Beberapa saat yang lalu saya perhatikan bahwa si pengeritik yang selama ini mengkritik tulisan saya sudah posting sebuah tulisan yang katanya menyanggah argumentasi saya di sini. Dia menuliskan jawabannya masih di tempat yang sama yakni di sini. Tetapi jawabannya yang saya tanggapi dalam tulisan ini ada di sini. Apakah dia benar-benar menanggapi tulisan saya atau menyanggah tulisan saya seperti yang dia katakan? Ataukah dia kembali ke trik lama berupa berbagai kesalahan logika seperti ad hominen, strawmen, Red Herring, dan berbagai kesalahan logika yang lain? Mari kita simak!

Si pengeritik mengawali dengan mengatakan bahwa dia sudah berketetapan hati untuk menghentikan diskusi dengan saya. Lalu apa alasannya untuk melakukan itu? Alasan yang dikemukakan si pengeritik adalah dia sudah memperhatikan saya dan dari hasil pengamatannya tersebut dia berkesimpulan bahwa saya tidak lebih dari pada seorang yang merasa diri pintar padahal sebenarnya tidak ada apa-apanya. Penilaian yang benar-benar akan menghancurkan saya kalau memang itu terbukti benar. Lalu apakah si pengeritik akan membuktikan apa yang dia katakan tentang saya? Semoga. Dan kalau dia membuktikan itu, apakah argumennya valid dan kesimpulannya benar? Sekali lagi kita berharap demikian. Karena kalau tidak, maka sekali lagi membuktikan bahwa si pengeritik hanyalah manusia sebenarnya tidak tahu apa yang dia katakan atau yang tidak memikirkan baik-baik apa yang dia katakan/tuliskan. Dengan kata lain lagi, si pengeritik hanyalah orang yang memiliki ciri yang dituduhkan kepada saya.

Alasan lain yang dikemukakan adalah bahwa si pengeritik juga mengelola blog lain sehingga tidak efisien kalau terus meladeni saya. Komentar saya sederhana saja, “Biasa aja kali yee.” Semua orang juga sibuk. Saya juga sibuk. Kesibukan saya tidak ada hubungan dengan yang saya la kukan yaitu apologetika Kristen. Gak usahlah diangkat. Siapa yang bangga dengan anda kalau anda mengelola banyak blog? Siapa yang peduli anda membalas atau tidak? Tidak ada gunanya untuk khalayak ramai kalau mutu tulisan anda tidak lebih baik dari tulisan seorang anak TK. Hanya akan membodohi saja. Mungkin orang yang setuju dengan anda akan memuji-muji anda bahwa anda hebat bla bla blab la.. tetapi itu tidak punya arti apa-apa sama sekali. Anda tidak membalas tulisan saya pun justeru lebih terhormat, karena kalau apa yang anda lakukan dalam diskusi berlanjut, maka jawaban yang anda kemukakan sebenarnya bukan jawaban sama sekali. Untuk membuktikan saya benar atau tidak kita lanjut dengan apa yang ditanggapi oleh si pengeritik.

Tetapi sebelum lanjut ke tanggapan si pengeritik, ada satu hal lagi yang saya perhatikan dari si pengeritik. Si pengeritik pernah melarang saya untuk menanggapi tulisan dia di blog yang lain. Apa alasan yang dikemukakan si pengeritik sebagai alasan? Tidak ada! Lalu hampir semua link yang saya taruh di bagian komentar di tulisan di blog si pengeritik dihapus. Memang ada beberapa yang tidak dihapus karena terlewatkan. Juga pingpack[1] dari blog saya tidak dia tampilkan di blognya. Apa alasan semua ini? Tidak jelas! Dia tidak mengatakan apa-apa. Hanya main hapus aja! Mentalitas yang persis sama dengan Tifatul Sembiring yang main blok dan main hapus aja. Dalam diskusi, ini adalah tindakan bodoh. Kalau memang si pengeritik fair, biarkan link-linknya muncul dan biarkan pembaca membandingkan argumen kedua belah pihak dan menentukan pendirian.

Mungkin juga dia tidak mau blog orang lain lebih banyak pengunjung dari blog dia. Semakin banyak pengunjung ke satu blog, maka akan makin di atas urutan blognya saat ada orang yang mencari kata-kata yang ada dalam blog tersebut dengan mesin pencari seperti Google, Yahoo, Bing, dll. Mungkin saja si pengeritik takut blog yang Kristen berada pada urutan pertama saat ada orang yang melakukan pencarian kata-kata yang terkait perdebatan Kristen dan Islam.

Mari kita lanjutkan melihat tanggapan si pengeritik.

Setelah pembukaan seperti di atas, si pengeritik mengeluh panjang–pendek bahwa saya tidak bersedia menjawab pertanyaan “Benarkah sejarah kekristenan dipenuhi dengan kekerasan dan kesadisan?” Padahal yang pertama bertanya bukan dia tetapi saya. Saya yang pertama mengajukan keberatan ke blog si pengeritik. Keberatan saya adalah bahwa si pengeritik hanya mengemukakan abusive ad hominem dalam tulisan tersebut. Saya katakan dia melakukan abusive ad hominem karena dalam tulisan tersebut dia hanya menulis tentang kejahatan-kejahatan yang katanya dilakukan oleh orang yang katanya pula Kristen dan tidak menunjukkan (dengan mengutip ayat Alkitab misalnya) bahwa memang kekristenan mengajarkan kekerasan. Perhatikan komentar pertama di sini, kalau si ngeritik tidak menghapus. Soalnya si pengeritik ini hobi hapus menghapus juga seperti Tifatul Sembiring. Si pengeritik tidak terima kritikan saya dan membantah mati-matian bahwa dia melakukan abusive ad hominem. Tetapi dalam proses lebih lanjut, tanpa minta maaf dan tanpa mengaku salah si pengeritik mengatakan bahwa dia tidak perlu mengemukakan ayat Alkitab. Dengan demikian secara implisit dia mengakui bahwa dia melakukan abusive ad hominem. Satu point untuk saya: si pengeritik munafik dan penipu.

Karena terdesak, si pengeritik akhirnya mengemukakan ayat-ayat yang menurut dia menunjukkan bahwa kekristenan mengajarkan orang Kristen untuk melakukan kekerasan. Saya tanggapi tulisan tersebut dan tidak ada lagi tanggapan balik. Padahal katanya si pengeritik begitu hebatnya sehingga dua thread di situs Faith Freedom harus dihentikan karena tidak ada yang bisa membalas argument si pengeritik. Lhaaaa.. sekarang.. dia yang mau berhenti diskusi. Dia yang tidak mau menjawab tulisan saya di sini. Dengan kata lain terbukti si pengeritik hanya besar mulut tanpa ada isinya sama sekali.

Nah, dengan keadaan seperti itu saat ini si pengeritik memutar lidah dan mengatakan sayalah yang tidak menjawab pertanyaan dia. Sangat lihai menipu tetapi saat dibedah dengan pisau logika, semuanya terbongkar dan sekarang dia lari terbirit-birit dengan berbagai alasan untuk melindungi dirinya. Haaah… kasian. Kasian sekali!

Si pengeritik mengemukakan sebuah klaim bahwa saya tidak mau menjawab pertanyaan tentang kekerasan yang dilakukan orang Kristen karena saya hanya sibuk untuk memurtadkan dia. Kita lihat di sini, setelah memutarbalikkan apa yang terjadi, si pengeritik lalu menyerang pemutarbalikkan itu seolah-olah pemutarbalikkan itu benar dan saya salah. Apakah ada hal yang lebih sia-sia dari ini? Apakah si pengeritik tahu bahwa dia melakukan kesalahan logika yang bernama Strawmen Argument? Saya agak skeptis karena selama ini dia tidak menunjukkan pemahaman sama sekali tenang argumentasi dan diskusi yang logis.

Tentang memurtadkan. Apa definisi yang anda gunakan untuk “memurtadkan” hai si pengeritik? Apa salahnya dengan memurtadkan? Apakah karena saya mebongkar kebodohan anda, maka itu menjadi memurtadkan? Apakah kalau saya menunjukkan segala macam kesalahan logika yang anda lakukan, maka itu memurtadkan? Kalau itu dianggap memurtadkan maka saya merasa lebih terhormat untuk disebut sebagai sedang memurtadkan daripada menganggap diri tidak memurtadkan tetapi sedang berusaha menipu orang lain supaya mengikuti ajarannya yang tidak beres-beres itu. Kalaupun memurtadkan itu salah, lalu yang kau lakukan selama ini apa kalau bukan memurtadkan orang lain dari agamanya? To hell hey Hypocrite!

Tentang argumen saya yang meminta si pengeritik untuk menunjukkan bahwa Patung Maria yang menggendong anak yang katanya ada dalam kaabah memang dimasukkan oleh orang Kristen ke sana dan disembah orang Kristen si pengeritik mengatakan tidak masalah apakah memang orang Kristen yang menaruhnya di sana. Mungkin tidak apa-apa menurut dia dengan kecerdasannya yang di bawah standar, tetapi itu sangat penting karena dalam Kuran diajarkan bahwa Trinitas definisinya adalah Bapa, Anak, dan Maria dan orang Islam mengatakan bahwa itu adalah Trinitas yang dipercaya orang Kristen. Kalau bukan orang Kristen yang membawa patung itu ke sana dan kalau bukan orang Kristen yang menyembah patung itu, maka kritikan orang Islam itu menjadi tidak ada guna untuk Trinitas. Implikasi dari fakta kalau misalnya bukan orang Kristen yang membawanya ke sana dan bukan orang Kristen yang menyembahnya adalah bahwa penulis Kuran tidak paham apa-apa. Kalau memang dia mau menyerang Trinitas Kristen dia seharusnya mengemukakan bahwa dalam Kristen ada berbagai macam ajaran tentang Trinitas dan dia menyerang semuanya (kalau memang semuanya salah). Tetapi apa yang terjadi? Si penulis Kuran yang seperti katak dalam tempurung itu, tidak menyebutnya sama sekali. Karena itu, kalau benar bahwa yang diserang itu bukan Trinitas Kristen dan berdasarkan standar si pengeritik bahwa segala sesuatu harus eksplisit disebutkan baru benar, maka pasti ajaran Trinitas Kristen pasti tidak salah karena dalam Kuran tidak ada menyebutkan bahwa Trinitas Kristen (Bapa, Anak, dan Roh Kudus) sebagai salah. Itu tidak dipahami oleh si pengeritik sehingga mempertanyakan arti pentingnya bukti? Sulit dibayangkan betapa rendahnya kecerdasarn orang ini.

Setelah itu si pengeritik kemudian mengutip dari situs www.answeringislam.org bahwa memang di dalam Kabah ada Icon Maria yang menggendong bayi. Lalu memaki-maki saya dan menyuruh saya untuk mengunjungi situs itu dan belajar lebih banyak. Saya hanya tersenyum melihat tingkah lakunya. Saya mengajar dia untuk mengutip sumber untuk membuktikan poinnya dan dia patuh melakukan itu tetapi kok setelah belajar dia marah-marah sama saya? Hmmm.. Harusnya terima kasih dong! Dia harusnya berterima kasih karena saya sudah mengajar dia dan saat dia melakukan yang saya minta, dia mendapatkan jawaban.

OK. Tetapi apakah kalau memang ada ada patung seperti itu dalam Kabah, maka itu lantas berarti bahwa Kristen mengajarkan Trinitas versi Kuran? Ho ho.. itu masih jauh. Jauh sebelum Muhammad Trinitas yang diajarkan oleh sekte itu sudah dikutuk – dan seharusnya penulis Kuran berbicara tentang hal itu kalau memang benar seperti klaim muslim bahwa Kuran itu Firman. Nyatanya Kuran tidak berbicara tentang hal itu dan muslim mati-matian mengatakan bahwa Trinitas Kristen salah. Implikasinya? Sederhana dan tidak ada petantang-petenteng. Penulis Kuran bukan Alloh atau kalau si Alloh yang tulis, maka dia tidak maha tahu. Kemungkinan implikasi lain adalah orang Islam melakukan sesuatu yang bertentangan dengan Kuran karena menyerang Trinitas yang dipercaya Kristen atas dasar ajaran Kuran tentang Trinitas yang sebenarnya bukan ajaran Kristen. Dengan kata lain muslim melakukan non sequituur! Pilihan dilematis untuk muslim: kuran adalah Firman Alloh dan Alloh tidak maha tahu; atau Kuran bukan Firman Alloh seperti yang digembar-gemborkan; atau muslim harus bertobat karena menyerang Kristen karena ketidakpahaman tentang Trinitas. Mau pilih yang mana hai pengeritik?… Oooo… dia tidak mau menjawab lagi. Yaa sudah… apapun pilihannya, itu akan menyakitkan bagi dia. Atau kalau anda merasa saya sedang mengemukakan False Dilemma dalam paragraf ini, saya mau tau.

Kemudian si pengeritik mengemukakan argumen yang menggelikan demikian untuk menunjukkan bahwa memang orang Kristenlah sebenarnya yang menaruh patung Maria di dalam Kabah:

  1. Berbagai suku ingin menaruh patungnya di sana
  2. Nyawa adalah taruhan untuk menaruh patung di Kabah
  3. Karena itu pasti orang Kristen sendiri yang menaruh patung Maria di sana.

Perhatikan baik-baik bagaimana tidak validnya argumen ini. Dalam premis si pengeritik berbicara tentang suku tetapi dalam kesimpulan si pengeritik berbicara tentang orang beragama tertentu (yaitu orang Kristen) – yang tidak ada dalam premis. Sebuah argumen valid kalau term yang ada dalam kesimpulan ada dalam premis. Kalau tidak demikian, maka argumen tidak valid. Dengan kata lain, si pengeritik yang sok cerdas, harus pontang-panting berjumpalitas sana-sini sampai akhirnya dia  menemukan sepotong kotoran sapi (yaitu argumen yang tidak valid) dan menganggapnya sebagai benteng kokoh yang tidak ada tandingannya. Perhatikan bagaimana dia berkoar-koar menganggap argumen yang tidak valid seperti itu sebagai benteng tidak mempan senjata. Dia katakan

“Kira-kira nanti apa ya komen dia membaca penjelasan saya ini?? AH! paling juga tidak lain excuse bodoh seperti seorang emak yang kowar-kowar bahwa anaknya lah yang paling ganteng, ngalahin Keanu Reeves!”

Apakah demonstrasi bahwa argument anda tidak valid adalah sebuah ekscuse bodoh hai si pengeritik? Hati-hatilah kau berhadapan dengan Sang Logos yang adalah Tuhannya orang Kristen.

Setelah mengemukakan sebuah argumen yang tidak valid (yang ironisnya dia anggap sebagai benteng tiada tandingan), si pengeritik mengalihkan pembicaraan (Red Herring) dari benar tidaknya Trinitas dalam Kuran adalah Trinitas Kristen menjadi benar tidaknya ajaran Trinitas. Mmmmm… orang yang berakal tidak akan habis pikir bagaimana si pengeritik ini bermulut tajam mengata-ngatai orang lain dengan sangat kasar dan menganggap orang lain kurang cerdas dari dia, tetapi dia terus-menerus melakukan berbagai macam kesalahan logika. Baik, kalau memang si pengeritik mau mengalihkan pembicaraan, berarti issue resolved! Memang benar bahwa Kuran mengajarkan Trinitas yang tidak Kristen, Kuran tidak menyerang ajaran Trinitas Kristen dan hanya muslim yang reseh yang mengatakan bahwa Trinitas Kristen yang benar itu sebagai salah.

Btw, ada yang lucu di sini. Si pengeritik menggunakan kata “dus”. Saat membaca kata ini dalam benak saya adalah seorang tua yang sok otoritarian yang sebenarnya tidak paham apa yang dia katakan dan hanya menggunakan kata itu untuk mengintimidasi lawan bicara dengan sok pintar. Menarik! Ini gak usah ditanggapi yaaahh. Ini hanya pengungkapan perasaan saya sajah. Tidak dimaksudkan untuk menanggapi argumen anda. Hanya untuk menjadi tidak datar saja. Selama ini saya hanya menggunakan strict logika dan anda anggap itu datar. OK buddy?

Setelah melakukan Red Herring, seperti yang diharapkan, dia terus melanjutkan kesesatan berpikirnya. Kali ini dia menanggapi posisi saya bahwa dicobai Iblis dan tetap baik. Saya sudah katakan bahwa ada perbedaan antara dicobai Iblis dengan kalah terhadap iblis dengan hanya dicobai Iblis. Dicobai iblis dan kalah, berarti tidak baik. Dicobai iblis dan kalah (malah sampai dikuasai secara total oleh iblis) seperti Muhammad saat mengucapkan ayat-ayat iblis adalah tidak baik. Manusia saja mencobai Tuhan saat mereka melakukan dosa padahal mereka tahu bahwa Tuhan murka terhadap dosa. Apakah Tuhan menjadi tidak baik? Tidak! Si pengeritik mengatakan bahwa apa yang saya katakan tidak benar. Dia mengungkapkan itu dengan gaya sok pintarnya dan mengatakan “Gila apah!!!?????” Apa justifikasi terhadap pandangan seperti itu? Si pengeritik tidak memberi tahu. Dengan kata lain di sini dia hanya klaim asal klaim tanpa argumentasi pendukung. Ini bukan diskusi namanya. Di sini kita kembali ke masalah standar ganda. Apakah saya diperbolehkan untuk asal klaim oleh si pengeritik? Tentu saja tidak! Karena kalau iya, maka dia akan menerima semua yang saya katakan walaupun saya misalnya tidak mengemukakan justifikasi.

Lalu tentang ayat Alkitab yang penuh makian yang si pengeritik angkat yang katanya dulunya berada dalam Alkitab, dari mana si pengeritik mendapatkan informasi itu? Si pengeritik mengarahkan saya ke seorang di Facebook yang bernama Kevin yang katanya dulu Katolik dan sekarang menjadi mualaf (tidak main-main: sekeluarga lagi!) dan di sana si pengeritik mendapatkan informasi yang dia pake untuk menyerang saya. Mmmm… hanya seperti itu??? Di jaman seperti sekarang, siapa yang tidak bisa menulis apapun seenaknya di internet. Apa jaminan bahwa yang dikatakan si Kevin itu benar? Sekali lagi kita tidak tahu. Siapa Kevin? Hanya karena dia berkata dia katolik itu berarti bahwa dia benar-benar katolik? Hanya karena benar dia pernah menjadi katolik berarti dia paham apa Alkitab? Tidak ada jaminan. Dengan kata lain, ini adalah argumen tidak valid. Kesimpulan tidak diharuskan oleh premis. Lihat  saja si Mokoginta, katanya pernah katolik, tetapi argumennya amburadul kayak orang yang tidak pernah membaca itu Alkitab.

Lalu tentang Barbara Theiring yang mengatakan bahwa Yesus itu poligami, saya tunjukkan bahwa di antara para ahli, pendapat Barbara Theiring tidak mendapat tempat. Para pakar mengatakan bahwa cara Thiering menafsirkan Alkitab tidak punya dasar sama sekali. Apa yang dikatakan si pengeritik? Apakah dia berhenti dari kesesatan berpikir yang dia sudah lakukan selama ini? TIDAK! SEKALI LAGI TIDAK! Dia menyerang saya karena menggunakan paparan ilmiah untuk membenarka apa yang saya percaya. Eiiitttssss… kedengarannya orang satu ini beraspirasi jadi filsuf dadakan tetapi dia salah kaprah dan sekali lagi menunjukkan bahwa dia tidak paham apa yang sedang terjadi saat saya menggunakan argument seperti itu. Dengar baik-baik penjelasan saya hai calon filsuf. Saya tidak percaya bahwa ilmiah membuktikan kebenaran ajaran agama manapun atau ajaran filsafat manapun. Paling banter yang bisa dilakukan sains hanyalah mengkonfirmasi, bukan membuktikan. Gw bukan evidensialis. Lo ngerti gak evidensialis? Kalau lo gak ngerti, silahkan baca tentang perbedaan evidensialis dan presupposisionalis. Atau mungkin kalau lo mau lebih paham perbedaan ini dalam ranah filsafat, silahkan pahami perbedaan antara Aristoteles dan Plato.

Nah gw menggunakan argumen seperti yang lo bantah itu karena gw sedang melakukan reductio ad absurdum. Loe ngerti nggak reductio ad absurdum coy? Masa gak ngerti? Gw anggap aja loe ngerti karena loe tu bermulut tajam terhadap gw. Tetapi masalah gw adalah apa yang loe lakukan tidak mencerminkan bahwa lo paham. Karena itu gw terpaksa berkesimpulan bahwa loe sebenarnya gak tau apa-apa. Percuma dikusi sama lo. Yesus mengatakan “Jangan memberikan mutiara ke mulut babi.” Jadi gak apa-apa sih kalau loe gak mau lagi diskusi ama gw.

Lalu tentang tuduhannya bahwa kekristenan mengajarkan zinah, pesta telanjang, dll saya minta buktinya dimana. Apa yang si pengeritik katakan untuk menjawab ini? Dia bilang ITU TIDAK PERLU DITANGGAPI. Kalau si pengeritik cerdas, maka setidaknya dia bisa mengangkat ayat Alkitab yang mengajarkan dosa-dosa seperti itu. Tetapi apa yang dilakukan si pengeritik? Dia tidak mau membuktikan apa-apa. OK. Karena dia tidak mau membuktikan apa-apa, maka saya dengan kepala tegak dapat mengatakan bahwa ajaran Islam yang benar sebenarnya tidak mengakui Muhammad sebagai nabi karena dia melakukan segala macam kejahatan moral baik kepada perempuan maupun kepada manusia secara keseluruhan. Dan kalau si pengeritik meminta saya membuktikan apa yang saya katakan, saya tidak mau membuktikan itu karena saya mengikuti standar yang sudah ditetapkan oleh si pengeritik.

Selanjutnya si pengeritik mengangkat komentar saya di tulisan dia di sini dimana saya mengemukakan argumen yang eliptis. Saya katakan “Isu tentang ayat-ayat tentang kekerasan bukan inti di sini” Saya menulis seperti itu untuk menilai sampai dimana dia mau diskusi. Kalau orang mau diskusi dan bertemu dengan argumen elips, dia akan mempertanyakan apa artinya dan bagaiama hubungannya dengan yang dibicarakan. Tetapi bagaiamana dengan si pengeritik? Tidak ada pertanyaan. Pernyataan itu langsung dianggap sebagai upaya supaya dia tidak membahas ayat yang ada dalam Alkitab tentang kekerasan. Padahal di sana yang dimaksudkan adalah bahwa ayat tentang kekerasan bukan isu, tetapi yang menjadi isu adalah apa yang diajarkan oleh ayat tentang kekerasan tersebut.

Setelah itu saya tunjukkan penipuannya. Pertama dia paham tentang definisi abusive ad hominem. Tetapi fakta bahwa dia hanya berbiara tentang kekerasan yang dilakukan oleh “orang-orang Kristen” tanpa mengemukakan bahwa Alkitab mengajar orang Kristen tetapi mati-matian tidak melakukan abusive ad hominem hanyalah penipuan atau munafik – karena pada dasarnya itulah yang dia lakukan. Apa yang si pengeritik katakan dalam balasannya di sini? Dia heran kenapa saya kok minta tidak berbicara tentang kekerasan. Sekali lagi orang satu ini seperti orang yang sangat hijau yang ingin menjadi filsuf tetapi pengetahuannya belum sampai. Menyerang apa yang dilakukan penganut satu isme atau satu agama tanpa menunjukkan bahwa pandangan yang dianut itu memang berimplikasi pada apa yang dilakukan pengikutnya, adalah sebuah kesesatan berpikir yang bernama abusive ad hominem. Harap diperhatikan, bahwa ini seringkali terjadi. Bukan hanya Islam yang melakukan itu, tetapi Kristenpun melakukan abusive ad hominem. Karena itu adalah abusive ad hominem, maka itu bukan isu sehingga tidak pantas dibahas. Masa sesederhana itu tidak paham?

Nah, terhadap kedua pernyataan saya itu si pengeritik mengatakan bahwa saya menolak membahas kekerasan yang dilakukan oleh orang Kristen karena memang orang Kristen penuh kekerasan. Tidak ada pernyataan yang lebih salah dari itu. Saya baru menjelaskan alasan saya. Saya menyuruh dia mengutip ayat Alkitab yang mengajar orang Kristen melakukan kekerasan dan dia mengangkat itu. Saya sudah bahas ayat-ayat itu di sini, tetapi tidak ada balasan sama sekali. Apakah akan ada balasan dari si pengeritik? Dia bilang dia sudah selesai diskusi.

Lalu si pengeritik menanggapi argumen saya bahwa tuntutan bahwa agar segala sesuatu harus secara eksplisit dikemukakan baru benar adalah upaya menjadi sapi dan binatang lain yang tidak berakal. Apakah dia punya argument? Nihil. Yang dia lakukan hanyalah menggunakan Kuran sebagai contoh lalu berasumsi bahwa karena Kuran mengemukakan sesuatu secara eksplisit maka baru benar, maka Alkitabpun harus melakukan itu. Jadi karena dalam Kuran manusia diperlakukan seperti sapi yang tidak bisa menghubungkan proposisi, maka Alkitabpun harus menjadi seperti Kuran. Itu inti argumennya. Lalu apakah saya harus menghargai sesuatu kitab yang memperlakukan saya sebagai manusia yang berakal atau menghargai sebuah kitab yang menganggap saya sebagai sapi atau binatang lain? Silahkan anda pilih!

Baiklah kita gunakan sebentar reductio ad absurdum. Kita coba menerapkan standar muslim kepada mereka sendiri. Kita lihat apa yang mereka katakan. Muslim mengatakan bahwa Trinitas Kristen itu salah. Masalahanya yang dimaksud dengan Trinitas dalam Kuran itu adalah Trinitas yang tidak Kristen yaitu Bapa, Maria, dan Yesus. Maka saya menuntut muslim untuk menunjukkan ayat dalam Kuran yang mengatakan bahwa Trinitas Kristen (Bapa, Anak, dan Roh Kudus) adalah salah. Saya mau tau. Kalau Islam tidak bisa menunjukkan bukti itu, maka berdasarkan standar mereka sendiri, apa yang mereka ajarkan itu salah. Monggo! Saya tunggu ayatnya! Saya mau petikan tuhannya muslim, bukan petikan manusia. OK?

Kemudian ada argumen saya bahwa si pengeritik memelintir ayat Kuran yang sesuai dengan ajaran Alkitab. Secara khusus saya bantah (dengan argument) yang si pengeritik katakan bahwa Surat Maryam ayat 19 hanya mengajarkan bahwa Yesus itu suci waktu lahir.  Apa jawab si pengeritik? Dia tidak mempertanggung jawabkan apa yang dia lakukan tetapi dia melarikan diri dan berbicara tentang hal lain yaitu bahwa Kuran tidak bertentangan dengan Alkitab. Siapa yang berbicara tentang Kuran bertentangan dengan Alkitab atau tidak? Saya sedang berbicara tentang fakta bahwa ada sebuah ayat Kuran yang ajarannya sama dengan Alkitab bahwa Yesus suci (bukan hanya waktu bayi) yang kemudian di plintir oleh si pengeritik sehingga bertenganan dengan Alkitab. Jadi argumen saya adalah si pengeritik yang membuat Kuran bertentangan dengan Alkitab. Masa hal sesederhana ini saja tidak paham? Sudah begitu pake tajam mulut lagi bilang-bilang orang sebagai otak tidak mampu dan nurani tidak mampu. Kalau si pengeritik mau mendefinisikan pintar sebagai tidak tunduk pada logika, maka saya tidak mau disebut pintar dengan definisi tersebut. Silahkan dia makan itu “pintar” ala dirinya sendiri biar puas.

Lalu ada argumen saya bahwa si Alloh adalah entitas mubazir karena semua orang sudah kok (ini kalau saya berasumsi bahwa ajaran muslim benar lo ya) kalau bayi itu suci, kenapa harus diberitahukan lagi kepada Maria? Dia mengatakan bahwa itu salah dan si Alloh waktu itu sedang menggunakan gaya bahasa apresiasi. Well, silahkan tunjukkan di Kuran bahwa Si Alloh sedang menggunakan gaya bahasa apresiasi. Itu kata-kata manusia. Kuran tidak mengatakan bahwa si Alloh sedang menggunakan gaya bahasa appresiasi. Itu hanya ajaran manusia saja. Saya tidak mau percaya. OK? Ingat saya sedang menggunakan standar muslim ya bahwa segala sesuatu harus eksplisit.

Menanggapi argumen saya bahwa saya sedang menggunakan gaya bahasa eufimisme saat menggunakan kata mengharapkan karena sebenarnya yang dimaksudkan adalah mengharuskan, si pengeritik menjadi heran. Lalu? Apakah saya tidak boleh menggunakan gaya bahasa? Apa dasarnya? Apakah hanya si Alloh yang boleh menggunakan gaya bahasa? Tunjukkan ayat Kurannya supaya saya percaya bahwa hanya si Alloh yang boleh menggunakan gaya bahasa! Kalau tidak ada dalam Kuran yang mengatakan demikian, maka saya tidak terima. Saya tunggu pembuktiannya.

Lalu si pengeritk wanti-wanti bahwa yang Yesus harus menyatakan persis seperti ini “Akulah Yesus, sembahlah Aku.” Sekali lagi, siapa yang Tuhan? Yesus atau si pengeritik? Kalau yang Yesus mau adalah umat-Nya menggunakan kemampuan akal yang ada padanya (yang diberikan Yesus) untuk mengambil kesimpulan valid dari setiap proposisi yang dia sudah katakan dan tidak menjadi sapi atau keledai seperti si pengeritik yang hanya harap pernyataan eksplisit (bukan hanya sekedar penyataan eksplisit tetapi pernyataan eksplisit yang kata-katanya persis seperti yang dia mau), lalu apa urusan pengeritik? Dia Guru yang Agung harus tunduk kepada sapi yang hanya tunggu pernyataan eksplisit? Yesus yang mana yang patut disembah? Yesus yang tunduk kepada manusia berperilaku sapi atau binatang? Atau Yesus yang menetapkan standar pengajaran tinggi sehingga manusia bisa belajar lebih baik? Si pengeritik, mau Yesus yang tunduk kepada manusia berperilaku sapi atau binatang. Good luck deh! Saat Yesus yang sejati datang, Engkau akan tahu bahwa Dialah yang harus-nya disembah.

Akhirnya si pengeritik berbicara ngalor-ngidul yang tidak jelas seolah-olah orang Kristen mengambil alih tugas Tuhan. Ok. Saya paham sekarang. Menurut islam (atau setidaknya islam pengeritik saya ini) tugas Tuhan adalah berpikir dan tugas manusia adalah menjadi sapi atau keledai yang tidak berpikir. Baguslah. Semakin jelas alasan mengapa dalam tulisan-tulisannya si pengeritik hanya melakukan berbagai kesesatan berpikir dan tidak pernah menyadarinya. Memang dia sudah ditetapkan untuk tidak berpikir dan hanya si Alloh yang boleh berpikir. Tuhan macam apa yang seperti ini? Saya katakan bahwa itu bukan Tuhan tetapi setan yang menyamar menjadi Tuhan.

Jadi kita kembali ke pernyataan si pengeritik bahwa “saya tidak lebih dari pada seorang yang merasa diri pintar padahal sebenarnya tidak ada apa-apanya.” Sudah jelas ini bukan kesimpulan yang dapat ditarik dari apa yang dituliskan si pengeritik. Apa yang dikatakan si pengeritik itu lebih cocok dialamatkan kepada si pengeritik sendiri karena dalam tanggapannya tidak ada satupun argumennya yang valid. Penuh dengan kesalahan logika, dan tidak ada perbaikan. Sejak pertama diskusi selalu seperti ini. Singkatnya kesimpulannya yang dikemukakan di awal tulisan bukanlah kesimpulan yang valid. Anehnya kesimpulan yang tidak valid seperti ini dianggap sebagai benteng yang tidak bisa ditembusi. Saya katakan, bahwa orang Kristen mampu meruntuhkan tembok apapun, karena tembok-tembok itu pada dasarnya hanyalah kotoram sapi yang ditumpuk-tumpuk sehingga saat dihantam oleh penghancur yang dari Sang Logos akan menjadi rata dengan tanah. Di sini saya sedang berbicara dengan gaya bahasa metafora.


[1] Pingback adalah tautan/link dari sebuah tulisan yang menanggapi tulisan asli yang ditempatkan di tulisan asli. Link ini dibuat otomatis oleh blog-blog seperti wordpress. Setiap kali ada tulisan yang ditanggapi dan dalam tulisan yang menanggapi ada link ke tulisan yang ditanggapi, maka otomatis akan ada pingback yang dimintakan kepada pemilik tulisan yang ditanggapi untuk menampilkannya.

Pos ini dipublikasikan di Ad Hominem, Argumen Bunuh Diri, Belajar Lagi ya.., Injil, Memang Bodoh, Polemik, Red Herring, Validitas. Tandai permalink.

7 Balasan ke Maaf! Pikiran Anda Terlalu Tumpul!

  1. Ping balik: Ahhh… Mana Dasarmu? | Futility over Futility

  2. Jason XSuicide berkata:

    “Saat Yesus yang sejati datang, Engkau akan tahu bahwa Dialah yang harus-nya disembah.” darimna kamu tau kalo yesus akan datang? kapan datangnya? datang darimna? Selama ini emang dimna? mohon dijawab, aku haus akan kebenaran…….

  3. sumin berkata:

    sepertinya anda ini seorang yg punya pengetahuan filsafat, , ketuhanan/trinitas/penebuasan sangat menyesatkan. dan orang-orang yang mempertahankan formula trinitas adalah karena adanya back up argumen dari orang-orang filsafat. kenapa konsep tuhan kristen tidak logis? aneh tidak pernah diajarkan nabi2 terdahulu? bagaimana anda jelaskan?

    • admin berkata:

      Ummmmm……. apa maksud anda dengan ‘tidak diajarkan nabi-nabi terdahulu’? Apakah maksud anda ‘tidak dikatakan secara eksplisit oleh para nabi terdahulu’ ataukah ‘tidak ada indikasi sama sekali dari para nabi terdahulu akan kebenaran ajaran Trinitas’? Silahkan jelaskan!

  4. rubenonsu berkata:

    Blog ini dangkal banget…isinya pembenaran pendapat pribadi…jadi malas brkunjung

    • admin berkata:

      Ahh…. saya juga mungkin tidak pernah tahu dan tidak akan peduli jika ada orang yang mau mengunjungi blog saya atau tidak mau. Memangnya saya yang pernah memaksa anda mengunjungi blog saya? Tapi ada kemungkinan juga sih anda sudah terpengaruh sama blog saya sehingga untuk menutup malu karena tidak punya argumen, anda memilih mengemukakan apa yang anda kemukakan dalam komentar anda.

      Mungkin lain kali kalau anda datang lagi ke sini, bisa datang dengan argumen.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s